Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 10


__ADS_3

Bab10



Esok malamnya ketika Anne tiba di rumah keluarga Cyrus Taylor, dia



merasakan suasana kaku begitu memasuki pintu rumah. Seorang pelayan



bertubuh langsing memandunya ke ruang tamu, tapi saat menaiki tangga,



Anne sekelebat melihat Mrs. Cyrus Taylor menyelinap dari ruang makan



ke dapur sambil mengusap air mata di wajah manisnya yang pucat dan



sedih. Jelas terbaca bahwa Cyrus masih belum 'sembuh' merajuknya.



Dugaan Anne ini dipastikan dengan Trix yang menyelinap ke ruang tamu



dan berbisik gugup.



"Oh, Anne, suasana hati Papa buruk sekali. Pagi tadi dia lumayan ramah,



jadi kami pun berharap segalanya bakal berjalan baik. Tapi siangnya Hugh



Pringle mengalahkan Papa dalam permainan checker dan Papa TAK



TAHAN kalah permainan checker. Kalah di hari yang penting ini pula.



Dia lalu memergoki "Esme mengagumi dirinya di muka cermin", katanya.



Dan seketika itu juga dia mengambil cermin tersebut, mengeluarkan



Eseme dari kamar dan mengunci pintunya. Sebenarnya Esme yang malang



itu hanya berusaha memastikan kalau penampilannya cukup bagus



sehingga bisa menyenangkan Lennox Carter, Ph.D. Bahkan, dia tak



sempat mengenakan kalung mutiaranya. Coba kau lihat diriku. Aku sendiri



takut untuk mengeriting rambutku " Papa tak suka keriting yang tidak



alami " makanya aku kelihatan acak-acakan seperti ini. Tapi bukan itu



masalah besarnya ... aku cuma ingin memberitahumu saja. Yang lebih



parah, Papa membuang bunga yang ditata Mama di meja makan dan



Mama sangat terluka " dia sudah menghabiskan tenaga dan waktu untuk



merangkainya ... Papa juga melarang Mama mengenakan anting-anting



batu merahnya. Belum pernah Papa merajuk separah ini sejak dia pulang



dari Barat musim semi lalu dan menemukan Mama memasang gorden



merah di ruang keluarga, padahal dia lebih suka yang ungu tua. Oh, Anne,



usahakan bicara sebisa-bisanya saat makan malam nanti jika Papa memang



tak mau bicara. Kalau tidak, suasananya nanti jadi SANGAT mengerikan."



"Aku akan berusaha," janji Anne yang selama ini tak pernah mengalami



kebingungan mencari bahan bicara, tetapi dia tak pernah berada dalam



situasi seperti yang dihadapinya kali ini.



Mereka semua berkumpul mengelilingi meja " sebuah meja pilihan



yang sangat indah tapi tanpa rangkaian bunga di tengahnya. Mrs. Cyrus



yang malu-malu mengenakan gaun sutra abu-abu dengan wajah yang lebih



pucat daripada warna gaunnya. Esme, si jelita di keluarga itu ... dengan



kulit putih pucat, rambut pirang, bibir merah jambu, dan mata biru pucat ...



tampak lebih pucat daripada biasanya, sehingga seolah-olah mau pingsan.



Sementara Pringle, yang berusia empat belas tahun, gemuk, mata bulat



berkacamata, rambut pirang yang hampir putih, dan biasanya periang, kini



tampak seperti seekor anjing yang diikat majikannya. Sedangkan Trix



terkesan seperti anak sekolah yang ketakutan.



Dr. Carter, sang asisten profesor di Redmond, adalah pria yang tampan,



terhormat, dengan rambut hitam pendek, mata gelap pintar dan kacamata



bergagang perak, meski menurut Anne pria itu terlihat agak terlalu bangga



diri dan membosankan. Dr. Carter kelihatan tidak begitu nyaman malam



itu, rupanya dia merasakan ada sesuatu yang salah tapi entah di mana.



Sebuah kesimpulan yang masuk akal perasaan, bila kau melihat tuan



rumahmu melangkah dengan kesal di meja makan, langsung duduk dengan



cemberut, tanpa menyapa tamu-tamunya.



Cyrus bahkan tak mau mengucapkan doa sebelum makan. Dengan muka



memerah menahan malu, Mrs. Cyrus menggumam, "Kita bersyukur pada



Tuhan atas apa yang sudah kita terima hari ini." Dan jamuan makan



malam pun mulai dengan kejadian memalukan, yaitu saat Esme yang



gugup tak sengaja menjatuhkan garpunya di lantai. Terperanjatlah setiap



orang, kecuali Cyrus, karena semuanya dicekam gelisah yang memuncak.



Mata biru Cyrus melotot ke arah Esme dalam kebisuan yang meradang.



Sejurus kemudian dia melotot marah ke semua orang dan membuat mereka



semua kelu. Dia memelototi Mrs. Cyrus yang hendak mengambil saus



horseradish dengan sorot mata mengingatkan istrinya akan kerapuhan



perutnya. Setelah itu Mrs. Cyrus tak bisa lagi makan saus tersebut "



meski dia begitu menyukainya. Mrs. Cyrus tak percaya saus itu akan



membuat perutnya sakit. Tapi, karena ketakutan dia akhirnya tak bisa



makan apa-apa, demikian juga Esme. Mereka hanya pura-pura makan.



Jamuan pun berlanjut dalam suasana hening mencekam, hanya sesekali



terdengar obrolan Trix dan Anne tentang cuaca. Dengan sorot mata yang



nyaris putus asa, Trix memohon pada Anne agar menghangatkan suasana,



tapi baru kali ini dalam hidupnya Anne tak bisa berkata apa-apa. Dengan



putus asa Anne merasa dirinya HARUS bicara, tapi yang muncul di



kepalanya malah hal-hal yang paling gila " yang tak mungkin diucapkan



keras-keras. Apakah semua orang di meja ini kena sihir? Mengherankan



sekali efek yang ditimbulkan seorang perajuk pada seluruh keluarganya.



Dan Anne yakin Cyrus Taylor pasti senang melihat bagaimana semua



orang jadi tak nyaman karena dirinya. Pikiran macam apa yang ada di



benaknya? Akankah dia terperanjat bila orang menusukkan peniti



padanya? Anne ingin menempelengnya " memukul pantatnya seperti



anak kecil " menyetrapnya di pojok " memperlakukannya seperti anak



manja yang nakal, meskipun pada kenyataannya Cyrus adalah pria dewasa



yang sudah ubanan dan kumisan. Dan yang lebih mendesak, Anne ingin



sekali Cyrus BICARA. Secara naluriah, dia merasa bahwa di dunia tak ada



hukuman yang paling memberatkan Cyrus kecuali membuatnya terpaksa



bicara saat dia bertekad untuk bungkam.



Bagaimana kalau dia berdiri dan membanting vas bunga kuno besar dan



jelek di meja pojok itu " vas pernak-pernik berisi rangkaian bunga dan



daun yang mudah sekali berdebu tetapi Cyrus memaksa bahwa vas itu



harus selalu bersih berkilat? pikir Anne. Anne tahu semua orang di



keluarga ini membenci vas bunga tersebut, tapi Cyrus tak mau vas bunga



itu digudangkan karena itu adalah warisan ibunya. Anne berpikir, dia tak

__ADS_1



akan berpikir panjang untuk membantingnya kalau vas bunga itu benar?benar bisa membuat Cyrus meledak marah.



Kenapa Lennox Carter tak bicara? Jika dia bicara, Anne pun bisa bicara



dan mungkin saja Trix dan Pringle bebas dari mantra kebisuan yang



membelenggu mereka. Tapi Carter hanya duduk dan makan. Mungkin saja



dia berpikir bahwa itu adalah yang terbaik ... atau bisa saja dia takut



berbicara sesuatu yang nantinya malah menambah marah orangtua



kekasihnya yang jelas-jelas sudah meradang.



"Mau coba acarnya, Miss Shirley?" kata Mrs. Taylor lirih.



Sebuah pikiran jahat hinggap di benak Anne. Dia membungkuk untuk



mengambil acar ... dan juga melakukan sesuatu. Tanpa berhenti untuk



berpikir Anne membungkuk ke depan, bola matanya yang hijau keabu?abuan berbinar nakal, lalu lembut dia berkata, "Mungkin kau akan kaget



mendengarnya, Dr. Carter, bagaimana kalau Mr. Taylor tiba-tiba jadi tuli



sejak minggu lalu?"



Setelah melempar bomnya, Anne lalu bersandar menunggu reaksi. Dia



tak bisa memastikan reaksi apa yang ditunggunya. Jika Dr. Carter



mendapat kesan bahwa tuan rumahnya tuli bukannya merajuk marah,



mungkin saja dia jadi berani bicara. Bagaimanapun, Anne TIDAK



mengatakan kebohongan ... dia tidak mengatakan Cyrus Taylor



MEMANG tuli. Tetapi komentar Anne tadi rupanya gagal memancing



Cyrus Taylor, dia hanya melotot marah ke Anne tanpa berucap sepatah



kata pun.



Namun, omongan Anne tadi membawa akibat pada Trix dan Pringle



yang tak pernah dibayangkan Anne sebelumnya. Trix sedari tadi juga diam



menahan rasa marah luar biasa. Sesaat sebelum komentar Anne, Trix



sempat melihat bulir-bulir air mata menetes dari salah satu mata biru Esme



yang buru-buru disekanya diam-diam. Semua sia-sia " sekarang Lennox



Carter tak bakal melamar Esme " dan peduli apa yang dikatakan dan



dilakukan saat ini. Tiba-tiba saja Trix terbakar keinginan untuk membalas



dendam pada sang ayah. Omongan Anne tadi tiba-tiba memberinya



inspirasi ganjil, dan Pringle, yang selama ini terpaksa menahan semua



perasaannya, mengedipkan bulu mata pirang pucatnya dan mengikuti



pancingan yang dilontarkan Trix. Sepanjang hidup mereka, baik Anne,



Esme, maupun Mrs. Cyrus tak akan pernah melupakan seperempat jam



berikutnya yang terasa sangat menegangkan dan mengerikan.



"Sebuah penderitaan berat bagi Papa yang malang," kata Trix ditujukan



pada Dr. Carter di seberang meja. "Padahal dia baru enam puluh delapan."



Dua gurat kecil muncul di sudut kanan kiri lubang hidung Cyrus "



begitu dia mendengar usianya dilebihkan enam tahun. Tapi dia tetap



bungkam.



"Betapa menyenangkan menyantap jamuan yang enak," kata Pringle



dengan lugas dan jelas. "Apa pendapatmu Dr. Carter tentang orang yang



menghidupi keluarganya dengan telur dan buah-buahan " hanya telur dan



buah-buahan " hanya untuk menuruti keinginannya?"



"Apakah ayahmu "?" kata Dr. Carter bingung.



"Apa pendapatmu tentang suami yang menggigit istrinya karena




desak Trix.



"Sampai berdarah," tambah Pringle penuh duka.



"Kau bermaksud mengatakan bahwa ayahmu "?"



"Apa pendapatmu tentang laki-laki yang memotong-motong gaun sutra



istrinya hanya karena tidak suka dengan desainnya?" kata Trix.



"Apa pendapatmu," sambar Pringle, "tentang laki-laki yang melarang



istrinya memiliki seekor anjing?"



"Padahal dia begitu ingin memiliki anjing," desah Trix sendu.



"Apa pendapatmu tentang laki-laki," lanjut Pringle yang mulai



menikmati permainan mereka, "yang memberi istrinya sepasang sepatu bot



karet sebagai hadiah Natal " tak ada yang lain, cuma sepasang sepatu bot



karet?"



"Sepatu bot karet memang tak terlalu menghangatkan hati istri," aku Dr.



Carter. Matanya bersirobok dengan mata Anne dan dia pun tersenyum.



Anne sadar bahwa dia belum pernah melihat Dr. Carter tesenyum.



Senyuman itu mengubah wajah dan ekspresinya menjadi jauh lebih



menyenangkan. Apa YANG dikatakan Trix tadi? Siapa yang mengira Trix



bisa seusil itu?



"Apakah kau pernah membayangkan, Dr. Carter, betapa mengerikan



hidup bersama laki-laki yang tanpa berpikir ... SAMA SEKALI ...



langsung melemparkan daging panggang ke pelayan, bila daging itu



kurang matang?"



Dr. Carter melirik khawatir ke Cyrus sekilas, seakan-akan cemas kalau?kalau Cyrus akan melempar tulang ayam padanya. Tapi kemudian



sepertinya dia ingat bahwa tuan rumahnya tuli dan tenang kembali.



"Apa pendapatmu tentang laki-laki yang percaya bahwa bumi itu rata?"



tanya Pringle.



Anne mengira Cyrus BAKAL bicara saat itu. Raut mukanya yang



memerah mulai gemetaran, tapi tak sepatah kata pun keluar darinya.



Namun, Anne merasa kumis Cyrus tak tampak segarang sebelumnya.



"Apa pendapatmu tentang laki-laki yang mengirimkan bibinya " satu?satunya bibinya " ke panti jompo?" tanya Trix.



"Dan menggembalakan sapinya di makam?" kata Pringle. "Orang-orang



Summerside masih belum bisa melupakan perbuatannya itu."



"Apa pendapatmu tentang laki-laki yang setiap hari menuliskan menu



makan malamnya di buku hariannya?" tanya Trix.



"Keluarga Pepy yang baik melakukan itu," kata Dr. Carter tersenyum.



Suaranya terkesan seolah-olah dia mau tertawa. Mungkin dia tidak



sesombong penampilannya, pikir Anne " dia hanya masih muda dan



pemalu serta terlalu serius. Tapi Anne benar-benar merasa ngeri. Dia tak



pernah bermaksud segala sesuatunya berjalan sejauh ini. Akhirnya dia



menyadari bahwa memang lebih mudah memulai daripada mengakhirinya.



Trix dan Pringle benar-benar licik. Mereka tidak secara langsung



mengatakan bahwa ayah mereka melakukan semua yang mereka katakan



tadi. Anne bisa bayangkan Pringle, dengan mata bulat melebar dan

__ADS_1



ekspresi polos berkata, "Aku cuma menanyakannya pada Dr. Carter untuk



mendapatkan INFORMASI."



"Apa pendapatmu," lanjut Trix,"tentang laki-laki yang membuka surat



istrinya lalu membacanya?"



"Apa pendapatmu tentang laki-laki yang mengunjungi pemakaman "



pemakaman ayahnya ... dengan memakai celana monyet?" tanya Pringle.



Apa yang akan mereka PIKIRKAN lagi kemudian? Mrs. Cyrus



menangis tanpa malu-malu di hadapan semua orang, sedangkan Esme



hanya diam dengan keputusasaannya. Tak ada yang berarti lagi sekarang.



Dia menatap lurus ke Dr. Carter, yang tak akan bisa dimilikinya lagi.



Sekali dalam hidupnya dia tersengat untuk mengatakan sesuatu yang



benar-benar licik.



"Apa," lirih dia bertanya, "pendapatmu tentang lelaki yang seharian



mencari anak kucing yang induknya mati tertembak semata-mata karena



tak tahan memikirkan anak-anak kucing itu mati kelaparan mati?"



Keheningan yang aneh mencekam ruangan itu. Tiba-tiba Trix dan



Pringle tampak merasa malu sendiri. Lalu Mrs. Cyrus menyambung,



merasa sudah kewajiban seorang istri untuk mendukung pembelaan Esme



terhadap ayahnya.



"Dia bisa menyulam begitu indah " dia membuat hiasan meja terindah



untuk meja ruang tamu musim dingin lalu saat terbaring karena sakit



pinggang."



Setiap orang punya batas kesabaran dan Cyrus Taylor akhirnya sampai



juga pada batas kesabarannya. Dia berdiri tiba-tiba dan mendorong



kursinya ke belakang kuat-kuat hingga kursi itu terjerembap ke belakang



dan menghantam meja tempat vas bunga. Meja terguling dan vas



bunganya pecah berserakan. Cyrus, dengan alis putih tebal berkerut kesal,



akhirnya meledak.



"Aku tidak menyulam, perempuan! Apakah satu sulaman taplak meja



kecil bakal menghancurkan reputasi laki-laki selamanya? Aku begitu



menderita dengan sakit pinggangku sehingga tak tahu apa yang kulakukan.



Dan benarkah aku tuli, Miss Shirley? Aku tuli?"



"Dia tak BERKATA kau tuli, Papa," bela Trix dengan suara keras, yang



tak pernah takut pada ayahnya, ketika dia meledak marah-marah.



"Oh, memang, dia tak mengatakan itu. Tak satu pun dari kalian yang



berkata apa-apa! KALIAN tak mengatakan usiaku enam puluh delapan



padahal sebenarnya usiaku enam puluh dua, ya, kan? KALIAN tak



mengatakan aku melarang ibumu memelihara anjing! Ya Tuhan,



perempuan, kau boleh memelihara empat puluh ribu anjing jika mau dan



kau tahu itu! Kapan pernah kutolak keinginanmu " kapan?"



"Tak pernah, Papa ". tak pernah," Mrs. Cyrus menangis sejadi-jadinya.



"Dan aku pun tak pernah ingin memiliki anjing. Tak pernah tersirat di



benakku untuk memiliki anjing, Papa."



"Kapan kubuka surat-suratmu? Kapan aku pernah menulis buku harian?



Sebuah buku harian! Kapan pernah kupakai celana monyet ke pemakaman



seseorang? Kapan kugembalakan sapi ke tempat makam? Bibiku yang



mana yang ada di panti jompo? Pernahkah aku melempar daging



panggang ke orang? Pernahkah aku menghidupimu hanya dengan buah?buahan dan telur?"



"Tak pernah, " tak pernah Papa," Mrs. Cyrus terus menangis. "Selama



ini kau pemberi nafkah yang baik " paling baik."



"Bukankah kau sendiri yang bilang minta sepatu karet Natal lalu?"



"Iya, oh " iya; benar Papa. Aku yang minta sendiri. Kakiku juga jadi



enak dan hangat sepanjang musim dingin."



"Ya, begitu, dong!" Cyrus melihat seisi ruangan dengan pandangan



penuh kemenangan. Matanya bertatapan dengan mata Anne. Tiba-tiba hal



yang luar biasa terjadi. Cyrus terkekeh. Dan ada lesung pipi di kedua



pipinya. Lesung pipi itu mengubah ekspresinya dengan total, dan



membuatnya terlihat jauh lebih menyenangkan. Cyrus mendirikan



kursinya dan duduk kembali.



"Aku punya kebiasaan sangat buruk, Dr. Carter, yaitu merajuk. Tiap



orang pasti punya kebiasaan buruk " nah, merajuk itu kebiasaan burukku.



Satu-satunya kebiasaan burukku. Sudah, sudahlah " Mama, berhentilah



menangis. Kuakui aku memang pantas menerima semua itu kecuali



leluconmu soal sulam-menyulam. Esme, putriku, aku tak akan lupa kau



satu-satunya anak yang membelaku. Sekarang, panggil Maggie ke sini dan



suruh dia membereskan vas yang berantakan ini " aku tahu kalian semua



pasti senang karena akhirnya vas jelek itu hancur lebur " sekarang bawa



ke sini pudingnya."



Anne tak pernah bisa percaya malam yang diawali dengan begitu



mengerikan akhirnya berakhir dengan begitu menyenangkan. Tak ada tuan



rumah yang bisa seramah dan sebaik Cyrus: dan rupanya tak ada lagi



episode merajuk selanjutnya, karena saat Trix mengunjungi Anne



beberapa malam kemudian, dia membawa kabar baik untuk Anne. Trix



akhirnya memberanikan diri menceritakan soal Johnny pada ayahnya.



"Apakah papamu sangat menakutkan, Trix?"



"Dia " dia sama sekali tidak menakutkan," dengan malu-malu Trix



mengakuinya. "Dia cuma mendengus dan mengatakan sudah waktunya



Johnny mengatakan maksudnya setelah dua tahun nongkrongin aku.



Menurutku Papa merasa kalau dia tak mungkin marah kedua kalinya



sebegitu cepat setelah kejadian itu. Dan tahu tidak Anne, kalau sedang



tidak merajuk, Papa sebenarnya orang yang sangat baik."



"Kurasa dia akan jadi seorang ayah yang lebih baik untuk kalian



daripada sebelumnya," kata Anne, benar-benar seperti Rebecca Dew. "Kau



benar-benar jahat waktu makan malam itu, Trix."



"Yah, kau sendiri kan yang mulai," sanggah Trix. "Dan Pringle yang



baik membantuku. Yah, semua yang baik akan berakhir baik pula ... dan



syukurlah, aku tak perlu membersihkan vas bunga itu lagi."



***


__ADS_1



__ADS_2