
Bab23
Hari Sabtu hingga Senin Green Gables sangat meriah. Puding plum
sudah dibuat dan pohon Natal sudah dibawa masuk. Katherine, Anne,
Davy, dan Dora pergi ke hutan mencarinya . . . sebatang pohon cemara
kecil. Anne dengan berat hati menyetujui Davy menebang cemara itu
karena dia tahu bahwa musim semi depan Mr. Harrison tetap akan
menebangnya untuk membuka ladang.
Mereka berkeliaran, mengumpulkan tanaman rambat dan buah pinus ...
bahkan juga pakis yang tetap menghijau meskipun di tengah musim
dingin, untuk hiasan pohon Natal. Mereka menjelajah hingga menjelang
malam dan kembali ke Green Gables penuh kemenangan . . . untuk
menemui seorang pria bertubuh tinggi bermata cokelat, dengan kumis tipis
yang mulai terlihat, yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dan dewasa,
hingga sesaat Anne terpaku bertanya-tanya apakah dia memang Gilbert
atau orang asing.
Katherine, yang mencoba mengeluarkan senyum kecil sinisnya namun
tak berhasil, meninggalkan Anne dan Gilbert di ruang duduk, dan
menghabiskan waktu bermain di dapur dengan si kembar. Dalam hati, dia
terkagum-kagum sendiri karena menikmati kegiatan itu. Sungguh
menyenangkan bisa turun ke gudang bawah tanah bersama Davy dan
menemukan bahwa masih ada hal-hal indah seperti apel manis di dunia ini.
Katherine belum pernah masuk ke gudang bawah tanah, dan tak menduga
betapa menyenangkan sekaligus menyeramkan ruang bawah tanah yang
hanya diterangi cahaya lilin. Untuk pertama kalinya Katherine bisa
merasakan hidup itu indah bahkan untuk orang sepertinya.
Natal pagi sekali, Davy membuat keributan yang bisa membangunkan
"Tujuh Orang Efesus yang Tertidur" dengan mendentangkan genta sapi
sambil naik turun tangga. Marilla benar-benar terkejut, apalagi sekarang
sedang ada tamu di rumah mereka, tapi Katherine malah tertawa. Entah
bagaimana antara dia dan Davy telah muncul sebuah persahabatan. Diam?diam Katherine bilang pada Anne, bahwa dia tak bisa dekat dengan Dora
yang selalu sempurna, tapi Davy yang nakal justru lebih sesuai dengannya.
Mereka turun ke ruang duduk dan membagikan hadiah-hadiah sebelum
sarapan karena si kembar, bahkan Dora, tak mau makan sebelum
menerima hadiah. Katherine yang tak mengharapkan hadiah dari siapa
pun, atau mungkin hanya sebuah hadiah dari Anne, sangat tergugah ketika
tahu bahwa semua orang memberikan hadiah padanya. Sebuah syal rajut
dari Mrs. Lynde ... sebungkus akar wangi dari Dora ... pisau pemotong
kertas dari Davy ... satu keranjang penuh selai dan jeli dari Marilla ...
bahkan sebuah patung perunggu pemberat kertas berbentuk kucing dari
Gilbert.
Dan, di bawah pohon, meringkuk di atas tumpukan selimut wol hangat,
ada seekor anak anjing kecil lucu dengan kuping berdiri tegak dan ekor
bergoyang-goyang. Selembar kertas terikat di lehernya bertuliskan, Dari
Anne, yang akhirnya, memberanikan diri mengucap Selamat Hari Natal."
Katherine mengangkat dan menggendong makhluk kecil itu dan dengan
suara bergetar berkata. "Anne . . . dia sangat manis! Tapi Mrs. Dennis tak
akan memperbolehkanku memeliharanya. Aku pernah bertanya padanya
apa aku bisa punya anjing dan dia menolak."
"Semua sudah kuatur dengan Mrs. Dennis. Dia tak akan keberatan. Dan
satu hal lagi Katherine, kau tak akan lama lagi tinggal di sana. Kau
HARUS mencari tempat yang layak untuk kau tinggali, apalagi setelah kau
melunasi biaya sekolah ke pamanmu. Lihat isi kotak alat tulis indah yang
dikirimkan Diana untukku. Bukankah menarik melihat lembaran-lembaran
kertas kosong dan bertanya-tanya apa yang akan kau tulis di sana?"
Mrs. Lynde mengucapkan syukur Natal tahun itu dipenuhi salju ... di
mana-mana dunia terlihat putih bersih ... tapi bagi Katherine, Natal kali ini
seakan berwarna ungu, kemerahan, dan keemasan nan indah. Dan minggu
berikutnya juga sama indahnya. Seminggu setelah Natal juga sama
indahnya. Kalau dulu sering kali dia bertanya-tanya getir bagaimana
rasanya menjadi bahagia, sekarang dia bisa merasakannya. Ia pun mekar
dengan cara yang luar biasa dan Anne menikmati pertemanan mereka.
"Padahal aku dulu ketakutan kalau-kalau liburan Natalku akan kacau gara?gara dia!" kata Anne terkagum-kagum sendiri.
"Kalau diingat-ingat," kata Katherine pada dirinya sendiri, "hampir saja
kutolak undangan Anne!"
Mereka sering berjalan-jalan ... melewati Kanopi Kekasih sampai ke
Hutan Berhantu, yang di dalamnya keheningan terasa bersahabat ... dan di
perbukitan cahaya salju berputar-putar seperti peri menari ... melewati
anggrek-anggrek bersinar keunguan ... melewati kemegahan matahari
terbenam di dalam hutan. Tidak ada burung-burung yang menyanyi, tak
ada desir sungai, tak ada tupai bermain, hanya angin yang kadang-kadang
menciptakan musik yang mengalun indah.
"Kita selalu bisa menemukan sesuatu yang indah untuk dipandang atau
didengarkan," kata Anne.
__ADS_1
Mereka ngobrol tentang apa saja, hal-hal kecil hingga cita-cita setinggi
bintang, dan pulang dengan perut lapar untuk menikmati hidangan yang
disiapkan di dapur Green Gables. Suatu hari, badai salju turun dan mereka
tak bisa keluar. Angin timur menderu ditingkap dan ombak di teluk
berdebur. Tapi bahkan badai di Green Gables pun punya pesona sendiri.
Menyenangkan sekali duduk di dekat perapian, melamun menatap nyala
api yang menari-nari di langit-langit sambil mengunyah apel dan permen.
Nyaman sekali makan malam yang hangat, sementara badai mengamuk di
luar!
Suatu malam, Gilbert mengajak mereka menjenguk Diana dan bayi
perempuannya yang baru lahir.
"Aku belum pernah menggendong bayi seumur hidupku," kata Katherine
dalam perjalanan pulang. "Alasannya, karena aku memang tak ingin, dan
alasan yang lain adalah aku takut kalau bayi itu akan pecah berkeping?keping dalam gendonganku. Kau tak bisa membayangkan apa yang
kurasakan ... aku yang bertubuh besar dan ceroboh dengan bayi yang
begitu kecil dan rapuh di kedua tanganku. Aku tahu Mrs. Wright pasti
berpikir aku akan menjatuhkannya. Aku bisa melihatnya berusaha
menutupi ketakutannya. Tapi bayi itu mengubahku ... meski aku belum
tahu apa yang berubah dalam diriku."
"Bayi memang makhluk yang mengagumkan," kata Anne setengah
melamun. "Seseorang di Redmond menjuluki bayi sebagai "segumpal
potensi yang mengagumkan". Pikirkan hal ini Katherine ... Homer dulu
pasti pernah jadi bayi ... bayi dengan pipi penuh dan mata bercahaya . . .
dia pasti belum buta saat itu."
"Sungguh kasihan ibunya kalau mengetahui bayi itu tumbuh menjadi
Homer," kata Katherine.
"Tapi syukurlah ibu Judas tak tahu kalau nanti bayinya akan jadi Judas,"
kata Anne perlahan.
"Kuharap wanita itu tak pernah mengetahuinya."
Ada konser di aula desa, dengan pesta di rumah Abner Sloane setelah
itu. Anne membujuk Katherine mengunjungi keduanya. "Aku ingin kau
membacakan cerita untuk program acara di konser, Katherine. Kudengar
kau bisa membaca dengan indah."
"Aku biasa membaca puisi ... kurasa aku lumayan menyukainya. Tapi
pada musim panas lalu aku pernah membacakan puisi di sebuah konser
tempat berkumpulnya para turis-turis di pantai ... dan kudengar mereka
menertawaiku."
"Bagaimana kau bisa tahu kalau mereka menertawaimu?"
Anne menyembunyikan senyumnya dan terus mendesak Katherine
tampil membawakan puisi. "Bacakan saja Genevra sebagai penutup.
Kabarnya kau bisa membacakannya dengan sangat bagus. Mrs. Stephen
Pringle mengatakan padaku dia tak terpejam semalaman setelah dia
mendengar kau membacakan itu."
"Tidak, aku tak pernah menyukai Genevra. Tetapi itu memang ada di
kurikulum, jadi kadang-kadang kuajarkan di kelas bagaimana cara
membacanya. Aku tak sabar saat membaca Genevra. Mengapa dia tak
menjerit waktu menyadari kalau dia disekap? Saat orang-orang
mencarinya, pasti ada seseorang yang mendengarnya."
Katherine akhirnya berjanji mau membaca tapi dia ragu-ragu menghadiri
pesta itu. "Tentu saja aku akan pergi. Tapi nanti pasti tak ada seorang pun
yang mau mengajakku berdansa. Dan pasti nanti sifatku akan memburuk.
Pesta membuatku menderita ... maka aku jarang ke pesta. Sepertinya
orang-orang mengira aku tak bisa berdansa ... padahal aku bisa berdansa
lumayan baik, Anne. Aku belajar dansa di tempat Paman Henry, karena
pembantu mereka juga ingin belajar. Dia dan aku biasa dansa berdua,
malam hari di dapur diiringi musik dari ruang tamu. Kurasa aku suka
berdansa ... kalau pasangannya tepat."
"Kau tak akan menderita di pesta ini, Katherine. Kau tak akan
dikucilkan. Ada banyak hal berbeda di dunia, kalau kau melihat dari luar
dan dari dalam. Kau punya rambut yang indah, Katherine. Kau keberatan
kalau kutata dengan model baru?"
Katherine mengangkat bahu. "Boleh saja, silakan. Kurasa rambutku
kelihatan mengerikan ... tapi aku tak punya waktu untuk bersolek. Aku
juga tak punya gaun pesta. Apakah taffeta hijauku pantas?"
"Pasti pantas . . . meskipun warna hijau adalah salah satu dari beberapa
warna yang sebaiknya kau hindari, Katherine sayang. Tapi kau akan
memakai kerah sifon berkancing merah yang kubuat untukmu. Ya,
BENAR SEKALI. Kau harusnya memakai gaun merah, Katherine."
"Merah adalah warna yang kubenci. Sewaktu aku tinggal bersama
Paman Henry, Bibi Gertrude selalu memaksaku memakai celemek Turkey
merah menyala. Anak-anak di sekolah menjulukiku "Api", sewaktu aku
memakainya. Biarlah, lagi pula pakaian tak begitu penting kok."
"Yang benar saja! PAKAIAN itu sangat penting," tegas Anne, sambil
__ADS_1
mengepang dan menggelung rambut Katherine. Setelah itu dia menatap
cermin dan memandang puas pada hasil kerjanya. Dia merengkuh pundak
Katherine dan memintanya melihat ke cermin.
"Tidakkah kau pikir kita ini adalah sepasang gadis berwajah cantik?"
tawanya. "Dan bukankah menyenangkan mengetahui orang-orang
mengagumi kecantikan kita? Ada banyak gadis di luar sana yang
sebenarnya cantik kalau mereka mau sedikit berusaha. Tiga minggu yang
lalu di gereja .. . apa kau ingat hari ketika Mr. Milvain yang malang
berkhotbah dan terserang pilek berat sehingga semua orang tak mengerti
apa yang dia katakan? ... yah, aku menghabiskan waktu membayangkan
apa yang akan kulakukan untuk mempercantik orang-orang di sekitarku.
Aku memberi hidung baru pada Mrs. Brent, kubuat rambut Mary Addison
bergelombang dan kubilas rambut Jane Marden dengan lemon ...
kudandani Emma Dill dengan gaun biru bukannya cokelat . . . aku
mendandani Charlotte Blair dengan gaun garis-garis bukan kotak-kotak...
aku menghilangkan beberapa tahi lalat... dan mencukur cambang Thomas
Anderson. Kau tak akan bisa mengenali mereka setelah selesai kudandani.
Dan kecuali hidung baru Mrs. Brent, sebenarnya mereka semua bisa
mendandani diri sendiri. Wah, Katherine, warna matamu seperti warna teh
... teh yang harum kemerahan. Nah, harumkan namamu malam ini ... kini
saatnya bersinar ... berbahagia."
"Semua itu bukan aku."
"Semua itu tadi adalah dirimu minggu ini. Jadi kau PASTI bisa
melakukannya."
"Ini hanyalah sihir Green Gables. Sewaktu aku kembali ke Summerside,
jam dua belas akan berdentang bagi Cinderella."
"Kau akan membawa sihir itu pulang bersamamu. Lihatlah dirimu ...
terlihat gadis muda seperti yang seharusnya kau lakukan sejak dulu."
Katherine menatap bayangannya di cermin seperti meragukan dirinya
sendiri.
"Memang aku terlihat lebih muda," akunya. "Kau benar . . . pakaian bisa
mengubahmu. Oh, aku sadar selama ini aku berpenampilan lebih tua dari
usiaku sebenarnya. Tapi aku tak peduli. Buat apa? Tak ada orang yang
peduli, kok. Aku tak sepertimu Anne. Kau tahu bagaimana cara menjalani
hidup. Dan aku tak tahu sama sekali tentang itu ... bahkan dasar-dasarnya
pun aku buta. Apa sudah terlambat untuk belajar sekarang? Sudah
bertahun-tahun aku jadi orang sarkastik, aku tak tahu apakah aku bisa
berubah. Sarkasme adalah alat agar orang lain memperhatikanku. Dan
sepertinya, aku juga merasa takut bila di dekat orang lain ... takut
mengatakan sesuatu yang bodoh ... takut ditertawakan."
"Katherine Brooke, lihat dirimu sendiri di cermin, bawa gambar itu di
benakmu ... rambut nan indah membingkai wajahmu, bukannya digelung
ke belakang ... matamu bersinar seperti bintang di kegelapan . . . rona
keceriaan di kedua pipimu ... dan kau tak akan merasakan takut lagi. Ayo,
berangkat. Nanti kita terlambat, untungnya semua pengisi acara sudah
disediakan tempat oleh Dora."
Gilbert mengantarkan mereka ke aula. Seperti masa-masa yang lalu ...
hanya sekarang Anne bersama Katherine sebagai pengisi tempat Diana.
Anne menghela napas. Diana sudah punya banyak kesibukan sekarang.
Tak ada lagi konser dan pesta untuknya. Namun malam itu sungguh
menakjubkan! Jalan yang dilapisi salju bagaikan benang-benang perak
mengular di bawah lembayung remang cakrawala langit barat. Bintang
Orion dengan teguh menapakkan jalannya ke langit, perbukitan, ladang
dan hutan terbentang di sekitar dengan keheningan bak mutiara.
Pembacaan cerita Katherine membuat penonton terpukau semenjak baris
pertama. Di pesta itu dia hampir-hampir tak bisa melayani ajakan semua
orang yang ingin berdansa dengannya. Tiba-tiba dia bisa tertawa tanpa ada
kegetiran lagi. Kemudian mereka pulang ke Green Gables, menghangatkan
kaki di perapian ruang duduk diterangi cahaya dua batang lilin. Mrs.
Lynde berjingkat masuk ke dalam kamar mereka, meski sudah larut
malam, menanyakan apa mereka mau tambahan selimut dan meyakinkan
Katherine bahwa anjing kecilnya sudah meringkuk dalam keranjang yang
hangat di dekat tungku dapur.
"Aku punya pandangan baru tentang hidup," pikir Katherine mengantuk.
"Aku tak tahu kalau ada orang sebaik ini."
"Datanglah lagi," kata Marilla ketika Katherine berpamitan. Marilla
selalu tulus dan tak pernah basa-basi dalam kata-katanya.
"Tentu saja dia akan kembali lagi," kata Anne. "Di akhir pekan ... di
musim panas. Kita akan membuat api unggun di taman ... memetik apel
dan merawat sapi ... berperahu di danau dan tersesat di hutan. Aku ingin
mengajakmu melihat taman Hester Gray, Katherine, dan Pondok Gema
dan Lembah Violet saat penuh dengan bunga violet."
***
__ADS_1