Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 33


__ADS_3

Bab33



Pukul dua siang, Mr. James Grand bertamu. Mr. Grand adalah Ketua



Dewan Sekolah Menengah Summerside dan ada hal penting yang ingin dia



bicarakan dengan Anne sebelum dia berangkat ke Kingsport hari Senin



untuk menghadiri konferensi pendidikan. "Bisakah Anda datang ke Windy



Poplars nanti malam?" tanya Anne. Sayang sekali Mr. Grand tidak bisa.



Mr. Grand adalah orang baik dan terhormat, tapi sejak awal Anne tahu



bahwa dia adalah orang yang harus dihadapi dengan hati-hati. Lebih-lebih,



Anne ingin pria ini berada di pihaknya saat rapat pengajuan sarana dan



pra-sarana sekolah nanti. Dia lalu berkata pada si kembar.



"Sayang, bisakah kalian bermain di halaman belakang, sementara aku



membicarakan sesuatu dengan Mr. Grand? Tidak lama kok, " setelah itu



kita akan minum teh sambil piknik di pinggir kolam " dan aku akan



mengajari kalian meniup gelembung sabun dengan pewarna merah "



pasti menyenangkan!"



"Apa kau akan memberi kami uang jika kami berperilaku baik?" pinta



Gerald.



"Tidak Gerald sayang," jawab Anne tegas, "Aku tidak akan



menyuapmu. Aku tahu kau akan berkelakuan baik, hanya karena aku



minta, seperti apa yang seharusnya dilakukan laki-laki sejati."



"Kami akan jadi anak baik, Miss Shirley," janji Gerald khidmat.



"Sangat baik," kata Geraldine sama khidmatnya.



Mungkin sekali kedua anak kembar itu akan memegang janjinya kalau



saja Ivy Trent tak datang begitu Anne pergi ke ruang tamu menemui Mr.



Grand. Namun, Ivy Trent datang dan si kembar Mrs. Raymond sangat



membenci Ivy Trent ... Ivy Trent si sempurna yang tak pernah berbuat



salah dan selalu terlihat seolah-olah dia baru saja keluar dari kotak musik.



Pada sore itu, Ivy Trent datang untuk memamerkan sepatu bot



cokelatnya yang indah dan ikat pinggang, hiasan pita di bahu dan pita



rambut yang berwarna merah. Mrs. Raymond, meski punya banyak



kekurangan, tak terlalu berlebihan dalam memilih pakaian anak-anaknya.



Tetangga-tetangganya yang suka gosip malah mengatakan Mrs. Raymond



terlalu banyak menghabiskan uang untuk dirinya sendiri sehingga dia tak



punya sisa untuk si kembar ... dan Geraldine tak pernah punya kesempatan



untuk bergaya seperti Ivy Trent, yang selalu memakai gaun berbeda setiap



sore. Mrs. Trent selalu memakaikan gaun putih "tanpa noda" untuk Ivy.



Paling tidak, Ivy selalu bersih ketika meninggalkan rumah. Jika dia tidak



cukup bersih lagi ketika pulang, tentu saja itu karena anak-anak tetangga



yang "iri" melihatnya. Geraldine SANGAT iri. Dia menginginkan ikat

__ADS_1



pinggang warna merah, pita di pundak dan gaun berbordir. Dan dia sangat



ingin punya sepatu bot seperti milik Ivy?



"Kau suka nggak ikat pinggang dan pitaku?" tanya Ivy bangga.



"Kau suka nggak ikat pinggang dan pitaku?" tiru Geraldine mengejek.



"Tapi kau tak punya pita," kata Ivy sombong.



"Tapi kau tak punya pita," ulang Geraldine.



Ivy terlihat bingung.



"Aku punya, apa kalian nggak lihat?"



"Aku punya, apa kalian nggak lihat?" ejek Geraldine, yang sangat



senang dengan idenya menirukan semua yang dikatakan Ivy dengan



mengejek.



"Paling-paling kredit," kata Gerald.



Ivy Trent marah. Wajahnya merona semerah pitanya.



"Sudah kok, ibuKU selalu membayar tagihannya."



"Sudah kok, ibuKU selalu membayar tagihannya," tiru Geraldine



Ivy bingung. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi ini. Jadi ia



berpaling ke arah Gerald, yang tidak diragukan lagi adalah anak laki-laki



tertampan di jalan tempat mereka tinggal. Ivy menyukainya.



"Aku datang ke sini untuk memberitahumu kalau kau akan aku jadikan



kekasihku," kata Ivy memandang penuh rayuan dengan sepasang mata




kecantikannya pada anak-anak lelaki seusianya.



Gerald merona. "Aku nggak mau jadi kekasihmu." katanya.



"Tapi kau harus," kata Ivy tenang.



"Tapi kau harus," kata Geraldine, menggoyangkan kepalanya pada



Gerald.



"Aku nggak mau," jerit Gerald marah. "Dan tutup mulutmu, Ivy Trent."



"Harus, " kata Ivy keras kepala.



"Harus, " kata Geraldine.



Ivy memelototi Geraldine.



"Diam, Geraldine Raymond!"



"Boleh saja dong aku ngomong di halaman rumahku sendiri," kata



Geraldine.



"Tentu saja boleh," kata Gerald. "Dan jika KAU tidak diam, Ivy Trent,



aku akan pergi ke rumahmu dan mencongkel mata bonekamu."



"Ibuku akan menamparmu jika kau melakukannya," teriak Ivy.



"Oh benarkah? Tahukah kau, ibuku akan melakukan hal yang sama pada



ibumu. Ibuku akan memukulnya tepat di hidung."



"Pokoknya, kau harus jadi kekasihku," kata Ivy, kembali ke topik awal.

__ADS_1



"Aku akan ... aku akan mencelupkan kepalamu ke tong penampung air



hujan," teriak Gerald penuh amarah ... "aku akan menjorokkan wajahmu



ke sarang semut ... aku akan ... aku akan merobek ikat pinggang dan



pitamu," tambahnya penuh kemenangan, karena setidaknya ini bisa



dilakukan.



"Ayo kita lakukan," pekik Geraldine.



Mereka berdua menerkam Ivy yang malang. Ivy menendang, menjerit,



dan berusaha untuk menggigit tapi tak bisa menandingi si kembar. Berdua,



Gerald dan Geraldine menyeret Ivy menyeberangi halaman menuju ke



gudang penyimpanan kayu agar jeritannya tidak terdengar.



"Cepat," kata Geraldine terengah-engah, "sebelum Miss Shirley keluar."



Tanpa buang-buang waktu, Gerald memegangi kedua kaki Ivy,



sedangkan Geraldine memegang pergelangan tangannya dengan satu



tangan, dan tangan yang lain merobek ikat pinggang dan pita Ivy.



"Ayo kita cat kakinya," teriak Gerald, matanya tertuju pada beberapa



kaleng cat yang ditinggal para pekerja beberapa minggu yang lalu. "Aku



pegangi dia dan kau yang mengecatnya."



Ivy menjerit-jerit putus asa. Stockingnya ditarik turun dan beberapa saat



kemudian kakinya sudah dipenuhi cat merah dan hijau. Dalam pergulatan,



cat juga mengenai pakaian putih dan sepatu bot baru Ivy. Sebagai sentuhan



akhir, si kembar menaburi rambut Ivy dengan serbuk batu kapur. Ivy



terlihat sangat menyedihkan ketika mereka melepasnya. Si kembar



terbahak-bahak gembira melihat hasil karya mereka. Kekesalan mereka



atas kesombongan Ivy selama berminggu-minggu akhirnya terbalas sudah.



"Sekarang pulanglah," kata Gerald. "Ini mengajarimu agar tidak



menyuruh-nyuruh orang lain buat jadi kekasihmu."



"Akan kuadukan pada ibuku," tangis Ivy. "Aku akan langsung pulang



dan bilang ke ibuku apa yang kau lakukan, anak laki-laki jahat,



mengerikan, JELEK!"



"Jangan menyebut saudaraku jelek, anak sombong," jerit Geraldine.



"Kau dan pita jelekmu! Nih bawa pulang, KAMI nggak mau pita jelekmu



mengotori gudang KAMI."



Ivy, lari keluar gudang sambil tersedu-sedu diiringi robekan pita-pitanya



yang dilemparkan Geraldine.



"Cepat " ayo menyelinap lewat tangga belakang ke kamar mandi dan



membersihkan ini sebelum Miss Shirley melihat kita," kata Geraldine



terengah-engah.



***


__ADS_1



__ADS_2