Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 37


__ADS_3

Bab37



Hari Selasa adalah hari yang muram di akhir November. Angin dingin



menerpa lembah. Dunia tampak bagaikan tempat yang suram, di balik



gerimis kelabu.



Dovie yang malang tidak mendapatkan hari yang indah untuk



perkawinannya," pikir Anne. "Bagaimana ... kalau ..." dia mulai gemetar



dan menggigil ... "bagaimana kalau semuanya berjalan kacau. Itu berarti



adalah salahku. Dovie tak akan pernah setuju kawin lari kalau saja bukan



karena saranku. Dan bagaimana kalau Franklin Westcott tidak akan pernah



memaafkannya. Anne Shirley, hentikan semua ini! Kau hanya terpengaruh



cuaca buruk saja."



Ketika malam tiba, hujan pun berhenti, tetapi udara tetap saja dingin dan



langit mendung. Anne sedang berada di kamar menara, mengoreksi tugas



murid-muridnya, ditemani Dusty Miller yang bergulung di bawah



penghangat. Tiba-tiba pintu depan digedor. Anne berlari turun. Rebecca



Dew melongok ketakutan di pintu kamarnya. Anne memberi isyarat



menyuruhnya kembali masuk ke kamar.



"Ada seseorang DI PINTU DEPAN!" bisik Rebecca Dew ngeri.



"Tidak apa-apa, Rebecca sayang. Aku memang khawatir ada sesuatu



yang salah ... tapi itu hanyalah Jarvis Morrow. Aku melihatnya dari



jendela samping menara dan aku tahu dia ingin bertemu denganku."



"Jarvis Morrow!" Rebecca masuk kembali ke kamarnya dan menutup



pintu. "Ini benar-benar KETERLALUAN."



"Jarvis, ada masalah apa?"



"Dovie belum juga datang," teriak Jarvis panik. "Kami menunggu



selama BERJAM-JAM ... pendeta telah tiba ... dan teman-temanku ... dan



Julia sudah menyiapkan hidangan ... tapi Dovie belum juga datang. Aku



menunggunya di belokan jalan hingga hampir gila rasanya. Aku tidak



berani untuk pergi ke rumahnya karena tidak tahu apa yang telah terjadi. Si



Franklin Westcott tua kasar itu mungkin saja telah pulang dari bepergian.



Bibi Maggie mungkin saja telah mengurungnya. Tetapi aku harus TAHU.



Anne, pergilah ke Elmcroft dan cari tahu mengapa dia tidak datang."



"Aku?" tanya Anne terkaget-kaget.



"Ya, kau. Tak ada orang lain yang dapat aku percaya ... tak orang lain



yang tahu. Oh, Anne, jangan kecewakan diriku saat ini. Kau telah



mendukung kami sejauh ini. Dovie mengatakan padaku bahwa kaulah



satu-satunya teman sejatinya. Belum terlalu larut ... baru jam 9 ...



pergilah."



"Dan dimakan mentah-mentah oleh bulldog?" tanya Anne sarkastis.



"Ah, anjing tua itu!" kata Jarvis meremehkan. "Dia bahkan tak akan



menakuti gelandangan. Menurutmu aku takut pada anjing itu? Lagi pula,



dia selalu dikurung di malam hari. Aku hanya tak ingin membuat masalah



untuk Dovie jika mereka mengetahuinya. Anne, kumohon!"



"Yah, kurasa aku sudah telanjur terlibat dalam hal ini," kata Anne putus



asa sambil mengangkat bahu.



Jarvis mengantarnya hingga ujung jalan Elmcroft, tapi Anne tidak



membolehkannya lebih dekat lagi.



"Seperti yang kau katakan, kehadiranmu mungkin malah akan



menyulitkan Dovie kalau-kalau ayahnya memang sudah pulang."



Anne terburu-buru menyusuri jalan yang diapit pepohonan itu. Sesekali


__ADS_1


bulan tiba-tiba muncul di antara awan tebal, tetapi malam itu lumayan



gelap dan Anne masih khawatir tentang bulldog Franklin Westcott.



Kelihatannya hanya ada satu cahaya di Elmcroft ... bersinar dari jendela



dapur. Bibi Maggie membuka pintu samping untuk Anne. Bibi Maggie



adalah kakak tertua Franklin Westcott, agak bungkuk, keriput dan



dianggap tak terlalu pintar, meski dia adalah pengurus rumah tangga yang



hebat.



"Bibi Maggie, apakah Dovie di rumah?"



"Dovie di kamarnya," kata Bibi Maggie tanpa prasangka.



"Di kamar? Apakah ia sakit?"



"Tidak. Sepertinya dia bingung saja seharian ini. Setelah makan malam



dia berkata kalau dia lelah dan mau langsung tidur."



"Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja Bibi Maggie. Aku ... aku



butuh sedikit informasi darinya."



"Kalau begitu naik saja ke kamarnya di atas. Di sebelah kanan."



Bibi Maggie menunjukkan tangga dan berjalan tertatih-tatih menuju



dapur.



Dovie duduk terkesiap ketika Anne masuk, setelah mengetuk pintu



dengan terburu-buru. Di bawah remang cahaya lilin, terlihat Dovie



menangis, tetapi airmatanya hanya membuat Anne jengkel.



"Dovie Westcott, apakah kau lupa bahwa kau berjanji untuk menikahi



Jarvis Morrow malam ini ... MALAM INI?"



"Tidak ... tidak ...," rengek Dovie. "Oh, Anne, aku sangat tidak bahagia



... hariku sangat mengerikan. Kau tidak akan pernah tahu, tidak akan



pernah tahu apa yang kualami."



"Aku tahu apa yang telah dialami oleh Jarvis yang malang, menunggu




belas kasihan.



"Apakah ... apakah dia sangat marah padaku, Anne?"



"Seperti apa yang kau ketahui sendiri," ... tegur Anne tajam.



"Oh, Anne, aku takut. Aku bahkan tidak bisa tidur sekejap pun kemarin



malam. Aku tak dapat melakukannya ... aku tak bisa. Kawin lari itu



memalukan sekali Anne. Dan aku tak akan mendapatkan hadiah



pernikahan yang indah-indah ... yah, hanya sedikit pastinya. Aku selalu



memimpikan menikah di gereja ... dengan dekorasi yang indah... dan gaun



pengantin putih ... dan s ... s ... selop perak!"



"Dovie Westcott, bangunlah dari tempat tidur itu ... bersiap-siaplah ...



dan ikutlah denganku."



"Anne ... sudah terlambat sekarang."



"Tak ada kata terlambat. Sekarang atau tidak selamanya ... kau harus



tahu itu Dovie. Kau pasti tahu bahwa Jarvis Morrow tak akan pernah



berbicara denganmu lagi jika kau mempermainkannya seperti ini."



"Oh, Anne, dia akan memaafkanku jika dia tahu ..."



"Tak akan. Aku tahu Jarvis Morrow. Dia tidak akan membiarkanmu



mempermainkan hidupnya. Dovie, apakah kau ingin aku menyeretmu dari



tempat tidur?"



Dovie gemetar dan mendesah. "Aku tak punya gaun yang pantas ..."



"Kau mempunyai selusin baju indah, pakailah gaun taffeta-mu."



"Dan aku tidak membawa mahar. Keluarga Morrow akan menanyakan



hal itu padaku ..."



"Kau bisa menyusulkannya nanti. Dovie, tidakkah kau telah

__ADS_1



memepertimbangkan semua ini sebelumnya?"



"Tidak ... tidak ... itulah masalahnya. Aku baru mulai memikirkannya



semalam. Dan Ayah ... kau tidak tahu Ayah, Anne ..."



"Dovie. Aku beri waktu kau sepuluh menit untuk berpakaian!"



Dovie berpakaian dengan terburu-buru.



"Gaun ini terlihat terlalu ketat untukku," isaknya saat Anne menarik



retsletingnya. "Jika aku bertambah gemuk kurasa Jarvis tidak akan m ... m



... mencintaiku lagi. Andai saja aku ini tinggi dan langsing dan pucat,



sepertimu, Anne, bagaimana jika Bibi Maggie mendengar kita!"



"Dia tidak akan mendengar kita. Dia sedang di dapur dan kau tahu dia



sedikit tuli. Ini topi dan mantelmu, dan aku telah memasukkan beberapa



benda dalam tas ini."



"Oh, jantungku berdegup kencang. Apakah aku terlihat jelek, Anne?"



"Kau terlihat cantik," kata Anne dengan tulus. Kulit Dovie merona



seindah satin dan air mata tidak merusak keindahan matanya. Tapi Jarvis



tidak dapat melihat matanya di kegelapan dan sedikit kesal dengan pujaan



hatinya sehingga sikapnya agak dingin selama perjalanan mereka ke kota.



"Demi Tuhan, Dovie, jangan terlihat ketakutan seperti itu karena akan



menikahiku," katanya tak sabar Dovie menuruni tangga di rumah keluarga



Steven. "Dan jangan menangis ... itu akan membuat hidungmu bengkak.



Ini sudah hampir jam 10 dan kita harus mengejar kereta jam 11."



Dovie langsung merasa lebih baik ketika dia mendapati dirinya telah



menikah dengan Jarvis. Dan dalam suratnya ke Gilbert, dengan jahil Anne



menceritakan bagaimana Dovie langsung memiliki ekspresi "kebahagiaan



bulan madu" di wajahnya begitu dia resmi menikah dengan Jarvis.



"Anne, Sayang, kami berutang padamu. Kami takkan pernah melupakan



ini, iya, kan Jarvis? Dan, oh, Anne sayang, maukah kau melakukan satu



hal lagi? Tolong kabarkan hal ini pada Ayah. Dia ada di rumah besok



malam ... dan SESEORANG harus mengatakan ini padanya. Hanya kau



yang bisa menghiburnya, aku yakin itu. Berusahalah sebaik mungkin agar



Ayah mau memaafkanku."



Anne merasa dia sendiri butuh dihibur saat itu; tapi dia juga merasa



sedikit bertanggung jawab akan yang terjadi, jadi dia mengiyakan



permintaan Dovie.



"Tentu saja dia akan marah ... marah sekali, Anne ... tapi Ayah tak akan



membunuhmu," hibur Dovie. "Oh, Anne, kau tidak tahu ... kau tidak dapat



menyadarinya ... betapa aku merasa AMAN dengan Jarvis."



Ketika Anne tiba di rumah, Rebecca Dew yang penasaran setengah mati



telah menunggu ceritanya. Memakai gaun tidur dan rambut tertutup



saputangan, dia mengikuti Anne ke kamar menara dan menuntut cerita



selengkapnya.



"Yah, kurasa inilah yang kau sebut "hidup"," katanya sarkastis. "Tapi



aku sangat senang Franklin Westcott akhirnya mendapatkan ganjaran, dan



Mrs. Kapten MacComber juga pasti gembira. Tapi aku tidak iri padamu



yang harus mengabarkan pernikahan Dovie pada ayahnya. Pria itu pasti



akan murka. Kalau aku jadi kau, Miss Shirley, aku pasti tak akan bisa tidur



malam ini."



"Kurasa itu memang tak akan jadi pengalaman yang menyenangkan,"



kata Anne penuh sesal.



***

__ADS_1




__ADS_2