
Bab4
"Windy Poplars,
"Spook"s Lane,
"Summerside,
"10 November.
"YANG TERSAYANG::
"Biasanya orang yang paling kubenci di dunia ini adalah orang yang
merusakkan ujung penaku. Tapi aku tak benci Rebecca Dew yang biasa
pinjam penaku untuk menyalin resep saat aku di sekolah. Tetapi, lagi-lagi
dia pinjam penaku jadi kali ini kau tak akan mendapatkan surat yang
panjang dan penuh cinta kali ini. (Yang terkasih.)
"Musim jangkrik mendendangkan lagu-lagu merdunya baru saja usai.
Kini malam-malam menjadi begitu dingin sehingga di kamarku terpaksa
ditempatkan tungku perapian bulat kecil. Rebecca Dew yang
membawakan itu " karena itulah aku tak marah saat dia meminjam
penaku. Sepertinya tak ada yang tak bisa dilakukan wanita itu; perapian
selalu menyala riang di kamarku setiap aku pulang dari sekolah. Tungku
perapian itu sangat kecil " aku bisa menjinjingnya dengan mudah.
Kelihatan seperti anjing mungil legam dengan keempat kaki besi bengkok.
Tapi kalau sudah diisi kayu bakar, apinya akan menyala kemerah-merahan
dan menghangatkan ruangan hingga tak bisa kau bayangkan betapa
nyaman hangatnya. Saat ini aku duduk di depan perapian dengan kedua
kaki terjulur ke dekat perapian, sambil menulis surat buatmu di
pangkuanku.
"Hampir semua orang di Summerside " hadir di pesta dansa keluarga
Hardy Pringles. Aku tidak diundang dan Rebecca Dew benar-benar marah
soal itu hingga aku pun juga benci jadi Dusty Miller. Tapi kala aku teringat
Myra, putri Hardy yang cantik tapi tak pintar, menuliskan di kertas ujian
bahwa kedua dasar segitiga sama kaki punya buntut yang sama, padahal
harusnya SUDUT, aku pun memaafkan seluruh klan Pringle. Malah
__ADS_1
minggu lalu putri cantik ini benar-benar memasukkan "tiang gantungan"
dalam daftar pepohonan. Tapi biar adil, sebenarnya kebodohan
menggelikan ini bukan monopoli keluarga Pringle. Baru-baru ini, Blake
Fenton mendefinisikan buaya sebagai "jenis serangga besar". Seperti itulah
bunga rampai kehidupan seorang guru!
"Sepertinya salju akan turun malam ini. Aku suka malam saat akan turun
salju. Angin berembus kencang di luar, menjadikan kamarku kian terasa
nyaman dan hangat. Daun keemasan terakhir pohon aspen akan gugur
tertiup angin malam ini.
"Saat ini aku sudah diundang makan malam ke mana-mana " maksudku
ke rumah murid-muridku baik yang di kota maupun yang di desa. Dan, oh
Gilbert sayang, aku BEGITU muak dengan selai labu! Jangan, sekali lagi,
jangan pernah ada selai labu di rumah kita kelak.
"Sebulan kemarin hampir ke mana pun aku pergi selalu disuguhi S.L.
(selai labu) untuk makan malam. Ketika pertama kali dihidangkan
rasanya aku makan selai sinar matahari " dan aku pun meracau soal
makanan itu tanpa malu-malu. Akibatnya ada rumor kalau aku sangat
gemar S.L. dan orang-orang memang sengaja menghidangkannya untukku.
Kemarin malam aku ke rumah Mr. Hamilton dan Rebecca Dew
meyakinkanku kalau aku tak akan menyantap S.L. di sana karena tak satu
pun keluarga Hamilton yang suka. Tapi ketika kami duduk hendak makan
malam, di atas meja nyata-nyata tersedia semangkuk S.L.
"Aku sebenarnya tak pernah membuat selai labu," kata Mrs. Hamilton
mengambilkan sesendok penuh selai tersebut untukku, "tapi kabarnya kau
suka sekali makanan ini, jadi ketika aku ke rumah sepupuku di Lowvale
minggu kemarin aku berkata, "Aku mengundang makan malam Miss
Shirley minggu ini dan kudengar dia sangat suka selai labu. Maukah kau
meminjamiku setoples?" Dia pun memberiku setoples selai labu dan kau
boleh membawa pulang sisanya."
__ADS_1
"Mestinya kau melihat wajah Rebecca Dew saat aku tiba di rumah
Hamilton membawa toples yang dua pertiganya berisi S.L.! Tak satu pun
yang menyukai makanan itu di Windy Poplars jadi kami menguburkannya
diam-diam di taman pada malam yang sepi.
"Kau tak akan menuliskan ini dalam ceritamu, kan?" pinta Rebecca Dew
dengan sangat. Sejak Rebecca Dew tahu kalau aku kadang menulis cerita
untuk beberapa majalah, dia pun jadi khawatir kalau-kalau " atau malah
berharap, aku tak tahu yang mana " aku memasukkan segala yang terjadi
di Windy Poplars ke dalam ceritaku. Dia menghendaki aku "menulis
tentang keluarga Pringles dan menyerang mereka habis-habisan". Aduh
sayangnya, keluarga Pringle-lah yang menyerangku habis-habisan, dan di
antara pekerjaanku di sekolah dan menghadapi mereka, aku nyaris tak
punya waktu untuk menulis.
"Saat ini hanya ada dedaunan yang layu dan batang pepohonan yang
beku di taman. Rebecca Dew telah membungkus semua rumpun mawar
dan kentang dengan karung goni, dan di temaram senja mereka kelihatan
seperti sekelompok pria tua bungkuk bertumpu pada tongkat-tongkatnya.
"Hari ini aku dapat kartu pos dari Davy dengan sepuluh ciuman dan
sepucuk surat dari Priscilla yang ditulis di kertas kiriman "temannya di
Jepang"" kertas setipis sutra dengan pola-pola bunga cherry samar di
atasnya. Aku mulai curiga dengan temannya itu, jangan-jangan lebih dari
sekadar teman. Tapi suratmu yang tebal adalah hadiah terbaik bagiku.
Kubaca suratmu itu sampai empat kali untuk mendapatkan rasa tiap-tiap
katanya " seperti seekor anjing yang menjilati piring makanannya hingga
licin. ITU bukanlah bahasa kiasan yang romantis, tapi itulah satu-satunya
yang muncul di kepalaku. Tetapi tetap saja, surat, meski termanis
sekalipun, tetap saja tak MEMUASKAN. Aku ingin bertemu denganMU.
Rasanya bahagia karena libur Hari Natal tinggal lima minggu lagi.
***
__ADS_1