
Bab39
(Kutipan surat untuk Gilbert.)
"Besok malam aku diundang makan malam seorang wanita terhormat
dari Summerside. Aku tahu mungkin kau tak akan percaya padaku,
Gilbert, ketika kuberi tahu bahwa namanya adalah Tomgallon ... Miss
Minerva Tomgallon ... Kau pasti akan berkata aku sudah terlalu lama
Dickens.
"Sayang, tidakkah kau senang bahwa namamu adalah Blythe? Aku yakin
aku tak dapat menikahimu jika namamu adalah Tomgallon. Bayangkan ...
Anne Tomgallon! Tidak, kau tak dapat membayangkannya.
"Ini adalah penghormatan tertinggi bagi pendatang di Summerside ...
sebuah undangan ke rumah Tomgallon. Tak ada duanya. Keluarga
Tomgallon tak mau menamai rumah mereka dengan nama aneh-aneh
seperti Elms, Chesnuts, atau Crofts.
"Setahuku mereka adalah keturunan "Keluarga Bangsawan". Keluarga
Pringle tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang
yang tertinggal dari mereka hanyalah Miss Minerva, satu-satunya
keturunan wanita yang masih hidup dari enam generasi Tomgallon. Dia
hidup sendirian di rumah besar di Jalan Quenn ... sebuah rumah dengan
cerobong asap besar, tirai-tirai hijau dan yang punya satu-satunya kaca
jendela berlukis di kota. Rumah itu hanya ditempati oleh Miss Minerva,
seorang juru masak, dan pelayan, padahal cukup besar untuk ditempati
empat keluarga. Rumah itu sangat terawat, tapi setiap kali aku
melewatinya, aku merasa rumah itu telah dilupakan oleh dunia.
"Miss Minerva sangat jarang keluar rumah kecuali ke gereja Anglikan,
dan aku baru bertemu dengannya beberapa minggu lalu, ketika dia
menghadiri rapat staf dan dewan sekolah untuk menyumbangkan koleksi
buku-buku ayahnya ke perpustakaan sekolah. Dia terlihat persis seperti
bayanganmu tentang seorang Tomgallon ... tinggi langsing, dengan wajah
putih lonjong, hidung kecil, dan bibir tipis. Meski itu kedengarannya
kurang menarik, Miss Minerva sebenarnya adalah seorang wanita yang
cukup cantik, dengan gaya aristokrat dan selalu berbusana elegan meski
agak ketinggalan zaman. Rebecca Dew bilang waktu muda dulu Miss
Minerva sangat cantik, dan mata hitam besarnya berbinar penuh semangat.
Miss Minerva adalah seorang pembicara yang hebat, dan aku belum
pernah melihat seseorang yang sangat bersemangat saat melakukan
presentasi tentang sumbangan buku-buku seperti dia.
"Miss Minerva sungguh baik padaku, dan kemarin aku menerima sebuah
undangan resmi makan malam dengannya. Ketika aku memberitahukan
hal ini pada Rebecca Dew, dia terbelalak seperti aku baru di undang
makan di Istana Buckingham saja.
"Sebuah kehormatan besar diundang ke rumah Tomgallon," katanya
kagum. "Aku belum pernah dengar Miss Minerva mengundang kepala
sekolah menengah untuk makan malam. Tapi, para kepala sekolah
sebelumnya adalah laki-laki, jadi kurasa kurang pantas baginya untuk
mengundang mereka. Yah, semoga saja dia tidak bicara terus-terusan,
Miss Shirley. Keluarga Tomgallon dapat berbicara tanpa henti. Dan
mereka suka jadi pusat perhatian. Beberapa orang mengatakan alasan
mengapa Miss Minerva hidup menyepi sekarang dikarenakan dia tidak
dapat memimpin dan jadi pusat perhatian seperti dulu lagi, dan dia tak
mau jadi orang kedua. Apa yang akan kau pakai, Miss Shirley? Aku suka
melihatmu memakai gaun sutra krem dengan pita ungu tua. Sangat
berkelas."
"Aku khawatir gaun itu terlalu "resmi" hanya untuk makan malam seperti
ini," kataku.
"Miss Minerva akan menyukainya, kurasa. Keluarga Tomgallon suka
tamu-tamunya berpakaian indah. Kabarnya, kakek Minerva dulu pernah
menutup pintu di depan seorang tamu wanita yang diundang ke pesta
__ADS_1
dansa hanya karena dia tidak memakai gaunnya yang terbaik. Kakeknya
bilang pada wanita itu kalau gaun terbagusnya pun tak akan pantas bagi
keluarga Tomgallon."
"Meski demikian, kurasa aku akan tetap mengenakan gaun hijauku, dan
arwah para leluhur Tomgallon terpaksa harus menerimanya.
"Aku akan mengakui sesuatu yang kulakukan minggu lalu, Gilbert.
Kurasa kau pasti akan berkomentar kalau aku mencampuri urusan orang
lain lagi. Tapi aku HARUS melakukan sesuatu. Tahun depan aku tak akan
lagi ada di Summerside dan aku tak tahan memikirkan meninggalkan
Elizabeth kecil sendirian dengan dua wanita tua semakin getir dan picik
setiap tahunnya. Masa remaja seperti apakah yang akan dialaminya nanti?
"Aku ingin tahu," katanya padaku, beberapa hari lalu, "bagaimana
rasanya punya nenek yang tidak kau takuti."
"Jadi inilah yang kulakukan: AKU MENULIS SURAT UNTUK
AYAHNYA. Ayah Elizabeth tinggal di Paris dan aku tidak tahu
alamatnya, tetapi Rebecca Dew pernah mendengar dan mengingat nama
cabang perusahaan yang dia kelola di sini, jadi aku mencoba mengirim
surat ke cabang perusahaan tersebut agar disampaikan kepada ayah
Elizabeth. Aku menulis surat sediplomatis mungkin, tapi kukatakan
padanya dengan terus terang bahwa dia harus mengambil Elizabeth.
Kukatakan bagaimana Elizabeth merindukan dan memimpikan ayahnya,
dan bahwa Mrs. Campbell terlalu galak padanya. Mungkin suratku ini
akan sia-sia, tetapi kalau aku tak menulisnya, aku akan selalu dihantui oleh
perasaan bahwa seharusnya aku memang menulisnya.
"Yang mendorongku menulis surat itu adalah Elizabeth pernah bercerita
bahwa dia menulis surat pada Tuhan, memohon Tuhan agar
mengembalikan ayahnya dan berharap ayahnya akan mencintainya.
Katanya dia berhenti di tengah jalan sepulang sekolah, di tengah-tengah
tanah lapang, lalu membaca suratnya sembari mendongak ke langit. Aku
tahu anak itu telah melakukan sesuatu yang aneh, karena Miss Prouty
ke Windy Poplars. Menurut Miss Prouty, Elizabeth jadi "aneh" ...
"berbicara pada langit seperti itu."
"Aku lalu bertanya pada Elizabeth dan dia berkata. "Kurasa Tuhan akan
lebih memperhatikan surat daripada doa"," katanya. "Aku sudah berdoa
cukup lama. Dan Tuhan pasti banyak mendapat doa dari semua orang."
"Malam itu langsung kutulis surat untuk ayahnya.
"Sebelum kuakhiri suratku, aku harus menceritakan tentang si kucing
Dusty Miller. Beberapa waktu lalu, Bibi Kate mengatakan padaku bahwa
dia harus mencari rumah baru Dusty Miller karena Rebecca Dew terus saja
mengeluh bahwa dia tidak tahan lagi. Suatu hari, di minggu lalu, pulang
sekolah aku tak menemukan Dusty Miller. Bibi Chatty mengatakan
mereka telah memberikan kucing itu pada Mrs. Edmonds yang tinggal di
ujung seberang Summerside. Aku merasa sedih, karena aku dan Dusty
Miller sudah berteman baik. "Tapi setidaknya," pikirku, "Rebecca Dew
akan bahagia."
"Rebecca saat itu sedang tak berada di rumah, dia harus ke desa
membantu kerabatnya merajut permadani. Ketika dia pulang di senja hari,
tak seorang pun mengatakan padanya tentang Dusty Miller. Namun,
menjelang waktu tidur, saat Rebecca Dew memanggil-manggil Dusty
Miller, menyuruhnya masuk, Bibi Kate berkata:
"Kau tidak perlu lagi memanggil Dusty Miller, Rebecca. Dia tidak di
sini. Kami telah menemukan sebuah rumah untuknya di suatu tempat. Kau
tidak akan terganggu olehnya lagi."
"Jika muka Rebecca Dew yang putih bisa bertambah pucat, dia pasti
sudah pucat pasi.
"Tidak di sini? Menemukan rumah untuknya? Demi Tuhan! Bukankah
ini rumahnya?"
"Kami telah memberikan Dusty Miller kepada Mrs. Edmonds. Dia
__ADS_1
kesepian sejak putrinya menikah, dan kucing bisa menjadi teman yang
baik."
"Rebecca Dew masuk rumah dan menutup pintu. Dia terlihat begitu liar.
"Ini BENAR-BENAR keterlaluan," katanya. Dan sepertinya memang
begitu. Aku belum pernah melihat mata Rebecca mengilatkan kemarahan
seperti itu. "Aku akan pergi akhir bulan ini, Mrs. MacComber, lebih cepat
kalau bisa."
"Tetapi Rebecca," kata Bibi Kate kebingungan, "Aku tak mengerti. Kau
tak pernah suka pada Dusty Miller. Baru minggu lalu kau bilang ..."
"Baik," kata Rebecca Dew pahit. "Salahkan saja aku! Jangan pedulikan
perasaanku! Kucing malang itu! Sudah lama aku mengurus dan
memanjakannya, bangun malam-malam membukakan pintu untuknya. Dan
sekarang, dia dibuang begitu saja diam-diam tanpa pamit dan
memberitahuku. Dan diberikan pada Sarah Edmonds lagi, yang tak akan
mau membelikan secuil hati untuknya, meski kucing itu
mendambakannya! Satu-satunya temanku di dapur!"
"Tetapi Rebecca, kau selalu ..."
"Oh, teruskan ... teruskan! Kau tak memberiku kesempatan untuk
menjelaskan Mrs. MacComber. Aku telah memelihara kucing itu dari kecil
... menjaga kesehatan dan mentalnya ... untuk apa? Agar Jane Edmonds
punya kucing terlatih untuk menemaninya. Yah, kuharap dia mau berdiri
di tengah salju malam hari, seperti yang kulakukan, memanggil kucing itu
BERJAM-JAM dan tidak meninggalkannya membeku di luar, tapi
kuragukan itu ... sungguh kuragukan itu. Yah, Mrs. MacComber, semoga
hati kecilmu tak membebanimu ketika suhu di luar di bawah sepuluh
derajat. Aku pastinya tak akan bisa tidur sekejap pun apabila itu terjadi,
tapi TENTU SAJA ada beberapa orang yang tak mengganggap ini
penting."
"Rebecca, kalau kau mau ..."
"Mrs. MacComber, aku ini bukan cacing, juga bukan alas kaki. Yah, ini
sebuah pelajaran bagiku ... pelajaran yang berharga! Tidak lagi kubiarkan
kasih sayangku terikat dengan binatang apa pun. Andai saja kau
melakukannya dengan terbuka dan di depan mataku, ... tapi ini terjadi di
belakangku ... mengambil keuntungan dariku seperti itu! Tak pernah
kudengar sesuatu yang sejahat itu! Tapi memangnya siapa aku yang bisa
mengharapkan orang memedulikan PERASAANKU!"
"Rebecca," kata Bibi Kate putus asa, "kalau kau ingin Dusty Miller
kembali kita bisa menjemputnya lagi."
"Mengapa tak kau katakan sebelumnya?" tuntut Rebecca Dew. "Dan aku
tak yakin itu. Cakar Jane Edmonds sudah mencengkeramnya. Apa dia mau
menyerahkan kucing itu dengan mudah?"
"Kukira, ya," kata Bibi Kate melunak kembali. "Dan kalau Dusty Miller
kembali kau tak akan meninggalkan kami, kan, Rebecca?"
"Bisa kupikirkan lagi," kata Rebecca, seakan-akan telah memberikan
kelonggaran besar.
"Besoknya, Bibi Chatty membawa Dusty Miller pulang dalam keranjang
tertutup. Aku sempat memergokinya bertukar pandang dengan Bibi Kate
setelah Rebecca membawa Dusty Miller ke dapur dan menutup pintu. Aku
tak habis pikir! Apakah ini semua adalah bagian dari taktik kedua janda itu
bekerja sama dengan Jane Edmonds?
"Rebecca tak pernah lagi mengeluhkan Dusty Miller sejak itu dan ada
nada kemenangan mutlak dalam suaranya ketika memanggil kucing itu
untuk tidur. Suara Rebecca Dew seakan-akan hendak mengumumkan
kepada seluruh penduduk Summerside bahwa Dusty Miller telah kembali
ke tempatnya dan sekali lagi dia berhasil mengalahkan kedua janda Windy
Poplars!"
***
__ADS_1