Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 13


__ADS_3

Bab13



"Ah, kalau kau sudah tua-renta dan hanya berbaring di tempat tidur



lama seperti diriku ini, kau pasti akan bisa lebih berbelas kasihan," Mrs.



Gibson berkeluh kesah.



"Jangan anggap diriku tak berbelas kasihan, Mrs. Gibson," kata Anne



yang rasanya ingin memelintir leher Mrs. Gibson setelah setengah jam



berusaha bersabar. Hanya sinar memohon di mata Pauline yang



membuatnya tak menyerah begitu saja dan pulang ke rumah. "Yakinlah



padaku, kau tak akan kesepian apalagi diabaikan. Aku akan di sini



sepanjang hari dan memastikan kau tak kurang suatu apa pun."



"Oh, aku sadar kalau diriku ini tak ada gunanya buat siapa pun," balas



Mrs. Gibson tak ada hubungannya sama sekali. "Kau tak perlu



mengingatkanku seperti itu, Miss Shirley. Kapan pun aku siap pergi "



kapan pun. Lalu Pauline bisa keluyuran semaunya. Aku tak akan tinggal di



sini terabaikan. Memang sekarang ini tak ada satu pun anak muda yang



punya perasaan. Gila " sungguh gila."



Anne tak tahu apakah Pauline atau dirinya yang disebut anak muda yang



tak punya perasaan, tapi dia berusaha sekali lagi.



"Mrs. Gibson, orang-orang akan bergunjing jika Pauline tidak datang ke



pernikahan perak sepupunya."



"Bergunjing!" tukas Mrs. Gibson tajam. "Apa yang mereka



pergunjingkan?"



"Mrs. Gibson yang baik, " " ("Semoga tambahan "yang baik" itu bisa



menjadi doa yang dikabulkan!" cetus Anne dalam hati) "selama



pengalaman hidupmu yang panjang, kau tentu tahu sendiri apa saja yang



bisa dipergunjingkan orang-orang."



"Tak perlu kau ingatkan aku pada usiaku," kata Mrs. Gibson marah.



"Dan aku tak butuh kau beri tahu kalau dunia ini penuh cela. Paham sekali



" aku paham sekali soal itu. Dan aku tak butuh kau beri tahu kalau kota



ini juga penuh orang yang suka menggosip. Kurasa mereka juga sibuk



menggosipkan aku ... mengatakan diriku ini orang yang kejam. Meskipun



begitu, aku tak menahan kepergian Pauline. Bukankah sudah kupasrahkan



sesuai nuraninya?"



"Tak banyak orang yang akan percaya itu," kata Anne memasang



tampang prihatin.



Mrs. Gibson mengisap permen mintnya kuat-kuat untuk beberapa saat.



Lalu dia berkata, "Kudengar ada wabah penyakit gondong di White



Sands."



"Ma, Sayang, aku sudah pernah terkena gondong."



"Ada orang-orang yang kena penyakit itu sampai dua kali. Kau



sepertinya orang yang akan kena sampai dua kali, Pauline. Kau sering



terkena penyakit saat kecil dulu. Malam-malam yang kuhabiskan untuk



menjaga dan merawatmu, sampai tak berharap kau akan bangun esok



harinya! Apalah arti diriku ini, pengorbanan seorang ibu memang tak akan



diingat lama. Selain itu, bagaimana kau nanti akan ke White Sands? Sudah



lama kau tak naik kereta api. Dan lagi tak ada kereta api dari sana Sabtu



malam."



"Dia bisa naik kereta Sabtu pagi, " jawab Anne. "Dan aku yakin Mr.



James Gregor akan mengantarnya pulang."



"Aku tak pernah menyukai Jim Gregor. Ibunya itu keturunan Tarbush."



"James akan membawa kereta kudanya dan berangkat hari Jumat. Kalau



saja dia berangkat Sabtu pagi, Pauline bisa ikut bersamanya. Tapi Pauline



akan lebih aman naik kereta, Mrs. Gibson. Naiknya dari stasiun



Summerside " lalu langsung turun di Stasiun White Sands " tak perlu



ganti kereta api."



"Pasti ada sesuatu di balik semua ini," kata Mrs. Gibson penuh curiga.



"Kenapa kau begitu getol mengajaknya pergi, Miss Shirley? Katakan



alasannya padaku."



Anne tersenyum pada wajah wanita tua yang cemberut itu. "Karena



menurutku Pauline sudah menjadi putrimu yang baik, Mrs. Gibson, dan



sesekali dia butuh sehari liburan buat dirinya, seperti halnya yang



dilakukan setiap orang."



Kebanyakan orang tak bisa menolak senyuman Anne. Entah senyuman



itu atau kecemasannya pada gosip yang akhirnya membuat Mrs. Gibson



menyerah. "Kukira orang tak pernah mengira kalau aku juga mau liburan



tanpa kursi roda ini jika bisa. Tapi kenyataannya aku tak bisa " aku harus



memikul penderitaan ini dengan sabar. Yah, kalau memang Pauline harus



liburan, pergi saja. Selama ini dia memang anak yang selalu sesukanya



sendiri. Kalau dia kena gondong atau kena racun gigitan nyamuk, jangan



salahkan aku. Aku tetap harus melanjutkan hidup semampuku. Oh, kalau



pun kau di sini, kukira kau tak akan terbiasa dengan caraku seperti halnya



Pauline. Tapi baiklah, kurasa aku bisa bertahan sehari tanpa dia. Kalau



sampai aku tak bisa " yah, aku sudah lama hidup, sudah cukup lama



sekali, jadi apalah bedanya?" Memang Mrs. Gibson mengizinkan dengan



menggerutu. Tapi izin tetap saja izin. Dalam kelegaan dan rasa syukurnya,



Anne melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan dilakukannya



" dia membungkuk dan mencium pipi Mrs. Gibson yang kasar. "Terima



kasih," ucap Anne.



"Tak usah merayuku," tukas Mrs. Gibson. "Nih, makan permen mint."



"Bagaimana aku berterima kasih padamu, Miss Shirley?" tanya Pauline



di jalan depan rumahnya, ketika mengantarkan Anne yang hendak pulang



ke Windy Poplars.



"Dengan pergi dengan hati ruang dan bersenang-senang di White Sands.



Nikmatilah tiap menitnya."



"Oh, tentu akan kulakukan itu. Kau tak tahu betapa berartinya ini



bagiku, Miss Shirley. Aku tidak hanya ingin bertemu Louisa, tapi juga



ingin melihat rumah Luckley yang mau dijual. Aku ingin melihatnya



sekali lagi sebelum tempat itu jatuh ke tangan orang lain. Mary Luckley itu



sahabat kecilku " sekarang jadi Mrs. Howard Flemming dan tinggal di



barat. Kami seperti saudara. Dulu aku biasa ada di rumah Luckley dan aku



sungguh mencintai tempat itu. Aku sering bermimpi bisa kembali ke



tempat itu. Tapi Mama bilang aku sudah terlalu tua untuk bermimpi.



Benarkah begitu, Miss Shirley?"



"Tak seorang pun terlalu tua untuk bermimpi. Dan mimpi tak pernah



bertambah tua."



"Aku senang mendengar kau berkata begitu. Oh, Miss Shirley, terbayang



aku bisa melihat teluk lagi. Sudah lima belas tahun aku tak melihatnya.



Pelabuhan memang indah, tapi itu bukan teluk. Aku seakan-akan



melayang. Itu semua berkatmu dan aku berutang budi padamu, Miss



Shirley. Hanya karena Mama suka padamu, dia izinkan aku pergi liburan.



Kau membuatku bahagia " kau memang selalu bikin orang bahagia.



Setiap kali kau masuk ke sebuah ruangan, Miss Shirley, orang-orang di



dalamnya langsung merasa lebih bahagia."



"Itu pujian paling menyenangkan yang pernah kudapatkan, Pauline."



"Tapi ada satu hal, Miss Shirley " aku tak punya pakaian kecuali gaun



taffeta hitam yang sudah lama itu. Kalau dipakai ke pesta pernikahan



warnanya terlalu suram, bukan? Lagi pula sejak aku jadi kurus, gaun itu



terlalu kebesaran. Tahu tidak, gaun itu sudah berumur enam tahun."



"Kita harus coba merayu ibumu supaya kau dibelikan gaun baru," kata



Anne penuh harap.



Tapi, usaha mereka sia-sia saja, Mrs. Gibson tetap menolak membelikan



gaun baru untuk Pauline. Gaun taffeta Pauline cukup pantas untuk dipakai



pergi ke perayaan pesta perak pernikahan Louisa Hilton.



"Enam tahun lalu, aku bayar dua dolar per yard-nya dan tiga dolar untuk



Jane Sharp yang membuatnya. Jane itu perancang gaun yang baik. Ibunya



keturunan keluarga Smiley. Pasti kau menghendaki sesuatu yang "cerah",



Pauline Gibson! Kalau diizinkan, Miss Shirley, dia ini mau mengenakan



gaun merah tua dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia tak sabar



menunggu aku mati biar bisa mengenakan gaun seperti itu. Kalau sudah



mati, kau bisa pakai baju secerah dan segila yang kau suka, tapi selama



aku masih hidup, kau harus berpakaian sopan. Dan memangnya ada apa



dengan topimu? Lagi pula, sudah saatnya kau pakai bonnet."



Pauline ngeri bila harus memakai bonnet. Lebih baik dia memakai topi



tuanya selamanya daripada harus memakai bonnet.



"Aku berniat akan bersenang-senang dari dalam hatiku dan melupakan



tentang pakaianku," katanya pada Anne ketika mereka keluar ke taman



untuk memetik bunga lily dan bleeding-heart untuk janda-janda di Windy



Poplars.



"Aku punya rencana," kata Anne disertai pandangan waspada untuk



memastikan Mrs. Gibson tak bisa mendengarnya, meskipun dia



menyaksikan mereka berdua dari ruang duduk. "Kau tahu gaunku yang



poplin abu-abu perak itu? Gaun itu akan kupinjamkan buatmu untuk pergi



ke pesta pernikahan."



Pauline menjatuhkan keranjang bunganya saking gugupnya, menebarkan



bunga-bunga warna pink dan putih di sekitar kaki Anne.



"Oh, aku tak bisa " Ma tak akan mengizinkanku."



"Dia tak akan tahu apa-apa. Dengar. Sabtu pagi kau pakai dua gaun



sekaligus, gaunku dulu lalu kau rangkap dengan gaun taffeta hitam itu.



Aku tahu gaun itu akan pas untukmu. Mungkin agak kepanjangan, tapi aku



bisa melipatnya sedikit besok " saat ini gaun lipatan lagi mode. Gaunku



itu tak ada kerahnya dan lengannya hanya sepanjang siku, jadi tak akan



ketahuan. Begitu kau sampai di Gull Cove, lepaskan gaun taffeta-mu.



Kalau acaranya sudah selesai, tinggalkan saja gaun poplin-ku itu di Gull



Cove dan aku akan mengambilnya saat pulang liburan akhir pekan minggu



depan."

__ADS_1



"Tapi tidakkah gaun poplin-mu akan berkesan terlalu muda buatku?"



"Tidak sama sekali. Usia berapa pun bisa mengenakan warna abu-abu."



"Menurutmu " tidak apa-apa " menipu Mama?" Pauline bimbang.



"Dalam hal ini tidak apa-apa," kata Anne tanpa rasa malu. "Begini,



Pauline. Tak pernah ada orang pergi ke pesta pernikahan dengan



mengenakan gaun hitam. Bisa membawa nasib buruk bagi kedua



pengantin."



"Oh, aku tak akan mau membawa nasib buruk. Dan tentu saja tak akan



menyakiti hati Mama, karena dia tak akan tahu. Semoga dia bisa baik-baik



saja Sabtu nanti. Aku khawatir dia tak mau makan sedikit pun selagi aku



pergi " pernah dia tak mau makan ketika aku menghadiri pemakaman



sepupu Matilda. Miss Prouty yang menjaganya bilang begitu padaku. Dia



benar-benar marah pada sepupu Matilda karena mati duluan " Mama



maksudku."



"Mamamu akan makan " kupastikan itu."



"Kau memang pintar membujuk dia," aku Pauline. "Dan jangan lupa



memberikan obatnya secara teratur, ya? Oh, barangkali aku tak seharusnya



pergi."



"Kalian sudah cukup lama di luar untuk mengumpulkan empat puluh



karangan bunga," panggil Mrs. Gibson marah. "Janda-janda seperti apa



yang mau bunga-bunga kalian. Mereka sudah punya bunga banyak sekali.



Kalau saja aku menunggu Rebecca Dew mengirim bunga untukku, bisa?bisa aku harus menunggu selamanya. Aku haus sekali. Tapi, memang tak



ada orang yang menganggapku."



Jumat malam Pauline menelepon Anne dengan tergopoh-gopoh. Dia



sakit tenggorokan dan apakah menurut Miss Shirley, dia kena gondong?



Anne segera berkunjung ke rumahnya untuk menenteramkan hatinya



sambil membawa gaun poplin abu-abunya dalam bungkusan kertas



cokelat. Dia sembunyikan bungkusan itu dalam semak-semak bunga lilac



dan saat malam sudah larut, Pauline dengan berkeringat dingin



menyelundupkan bungkusan itu ke kamar atas tempat dia menyimpan dan



berganti pakaian, meskipun dia tak pernah diizinkan tidur di kamar itu.



Pauline merasa tak begitu nyaman mengenakan gaun Anne. Mungkin saja



sakit tenggorokannya adalah hukuman karena dia telah berani menipu



ibunya. Tapi dia tak bisa pergi ke pesta pernikahan perak Louisa dengan



mengenakan gaun taffeta hitam yang mengerikan itu " sungguh dia tak



bisa.



Di Sabtu pagi yang cerah, Anne tiba di rumah Gibson lebih awal. Anne



selalu terlihat paling cantik dan ceria di pagi yang secerah ini di musim



panas. Dia tampak bersinar bersama pagi dan melangkah menyibak udara



yang keemasan seperti sosok dewi yang terukir di guci Yunani klasik.



Ruangan yang paling membosankan pun jadi cerah ... hidup ... ketika



Anne datang.



"Jalanmu seakan-akan dunia ini milikmu saja," komentar Mrs. Gibson



menyindirnya.



"Memang," jawab Anne ceria.



"Ah, kau masih sangat muda, sih," timpal Mrs. Gibson.



"Aku tidak menahan hatiku dari sukacita apa pun5



," kutip Anne. "Itu



kata Alkitab lho, Mrs. Gibson."



"Manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api



bergejolak tinggi6



. Itu juga ada di dalam Alkitab," balas Mrs. Gibson.



Sadar bahwa ia berhasil membalas Miss Shirley, B.A. dengan baik,



membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. "Aku bukan orang yang



suka menyanjung Miss Shirley, tapi hiasan topi berbentuk bunga itu cukup



indah buatmu. Rambutmu jadi tak kelihatan merah menurutku. Tidakkah



kau kagum pada gadis yang tampak segar seperti ini, Pauline? Maukah



dirimu sendiri tampak segar seperti itu, Pauline?"



Pauline tak begitu memperhatikan sindiran ibunya, karena dia sendiri



merasa sangat senang luar biasa dan bersemangat karena hendak pergi ke



White Sands. Segera Anne naik ke kamar atas bersama Pauline untuk



membantunya berpakaian.



"Begitu indah membayangkan semua yang akan terjadi hari ini, Miss



Shirley. Tenggorokanku saat ini sudah cukup enak dan Mama pun ceria.



Mungkin kau tak menganggapnya seperti itu, tapi aku tahu benar karena



dia mau bicara meskipun sinis. Kalau dia marah atau dongkol, pasti dia



merajuk tak mau bicara. Aku sudah mengupas kentang dan steak-nya



tersimpan di kotak es dan puding blanc mange ada di sepen. Ada ayam



kaleng untuk makan malam dan sponge cake di dapur. Aku tegang sekali,



takut kalau Mama berubah pikiran. Aku tak kuat kalau dia sampai berubah



pikiran. Oh, Miss Shirley, menurutmu aku sebaiknya memakai gaun abu?abu itu " sungguh?



"Pakailah," perintah Anne dengan nada khas terbaiknya sebagai guru



sekolah.




penampilan berbeda. Gaun abu-abu itu membalut tubuhnya begitu indah,



tanpa kerah dan hiasan rendanya di lengan sepanjang siku tampak cantik.



Saat Anne selesai menata rambutnya, Pauline nyaris tak mengenali dirinya



sendiri.



"Aku tak suka menutupi gaun ini dengan taffeta hitam yang menakutkan



itu, Miss Shirley."



Tapi gaun hitam itu tetap harus dipakainya. Dengan begitu gaun poplin?nya akan aman tertutupi gaun taffeta. Topi tuanya juga dipakai " tapi



nanti akan dilepas ketika tiba di pesta Louisa " dan Pauline juga



mendapatkan sepasang sepatu baru. Mrs. Gibson akhirnya



mengizinkannya membeli sepatu baru, meski dia beranggapan kalau hak



sepatunya "terlalu tinggi dan tak pantas". "Aku akan bikin sensasi pergi



SENDIRIAN naik kereta api. Semoga orang-orang nanti tak



menggunjingkanku. Aku tak ingin pesta pernikahan perak Louisa dikait?kaitkan dengan pikiran buruk dan gosip. Oh, parfum, Miss Shirley! Apple?blossom! Bukankah itu cantik? Sedikit saja " aromanya selalu



mengingatkanku pada wanita bangsawan. Mama tak mengizinkan aku



membeli parfum. O ya, Miss Shirley, jangan lupa memberi makan



anjingku, ya? Kuletakkan tulangnya di dapur, di atas piring yang ada



tutupnya. Semoga saja ...," suara Pauline melemah dan berbisik malu?malu, "anjingku tak akan " bertingkah aneh " di rumah saat kau di sini."



Pauline harus melewati pemeriksaan ibunya sebelum berangkat.



Perasaan gembira bisa bepergian keluar dan rasa bersalah karena menipu



ibunya, membuat wajahnya merona merah. Mrs. Gibson menatapnya tak



senang.



"Ya, ampun, ya Tuhan! Mau pergi ke London lihat sang Ratu, ya?



Wajahmu terlalu merah, orang akan menganggap kau pakai make-up.



Yakin, kau tak pakai make-up?"



"Oh tidak, Ma " TIDAK," jawab Pauline kaget dan gugup.



"Jaga sikapmu dan kalau kau mau duduk, silangkan kakimu dengan



baik. Jangan terlalu banyak minum dan ngomong."



"Tak akan, Ma," janji Pauline sungguh-sungguh, sambil gemetaran



melihat sekilas pada jam.



"Aku kirim Louisa sebotol anggur sarsaparilla untuk bersulang.



Sebenarnya aku tak pernah peduli pada Louisa, tapi ibunya keturunan



keluarga Tackaberry. Tolong nanti bawa lagi botol anggurnya dan jangan



biarkan dia nanti memberimu anak kucing. Louisa selalu memberi anak



kucing pada orang-orang."



"Tak akan, Ma,"



"Yakin, ya ... tak kelupaan meninggalkan sabun dalam air?"



"Yakin " yakin, Ma," kata sambil melihat sekilas lagi ke jam dengan



ekspresi sedih.



"Tali sepatumu sudah diikat?"



"Sudah, Ma."



"Baumu tak pantas ... terlalu wangi."



"Oh, tidak, Mama sayang " sedikit saja " hanya sedikit saja "."



"Kalau kubilang terlalu wangi berarti kebanyakan. Ketiakmu tidak



robek, kan?"



"Oh, tidak, Ma."



"Coba kulihat "," katanya tak mau dibantah.



Pauline gemetaran. Bisa-bisa gaun abu-abunya terlihat sewaktu dia



mengangkat lengannya!



"Baiklah, pergilah," kata Mrs. Gibson akhirnya mendesah berat. "Kalau



aku sudah mati di sini waktu kau pulang nanti, ingat, aku mau



dimakamkan dengan syal rendaku dan selop tidur satinku yang warna



hitam. Dan juga pastikan rambutku nanti ditata rapi."



"Apa kau merasa buruk, Ma?" Gaun poplin di balik gaun taffeta



hitamnya telah menjadikan nurani Pauline jauh lebih peka. "Kalau ya ...



aku tak akan pergi ..."



"Padahal aku sudah menghabiskan uang untuk membelikanmu sepatu!



Tentu saja kau harus pergi. Dan mainan seluncuran di pegangan tangga."



Mendengar ejekan ibunya, Pauline akhirnya tak tahan juga.



"Ma! Mama pikir aku akan begitu?"



"Kau seluncuran di pegangan tangga saat pesta pernikahan Nancy



Parker."



"Tiga puluh lima tahun lalu! Kau pikir aku bakal melakukannya lagi



sekarang?"



"Sudah saatnya kau berangkat. Buat apa kau mengoceh di sini? Mau



ketinggalan kereta, ya?"



Pauline bergegas pergi dan Anne mengembuskan napas lega. Dia tadi



merasa was-was kalau pada saat-saat terakhir Mrs. Gibson tergerak niat



jahatnya untuk menahan Pauline hingga ketinggalan kereta api.



"Nah akhirnya ada sedikit ketenangan," kata Mrs. Gibson. "Rumah ini



berantakan sekali, Miss Shirley. Semoga kau bisa mengerti kalau



kondisinya tak selalu seperti ini. Beberapa hari terakhir ini Pauline kacau

__ADS_1



sekali. Bisa minta tolong geser sedikit vas bunga itu ke kiri, Miss Shirley?



Oh tidak, kembalikan lagi saja. Tudung lampu itu miring. Ya, sudah



Sedikit lurus sekarang. Tapi kain penutup jendela itu sedikit lebih rendah



daripada yang lain. Coba kau betulkan."



Sialnya Anne menarik tirai penutup itu sedikit terlalu keras, sehingga



melenting dan melesat ke atas.



"Nah, tuh kan," kata Mrs. Gibson.



Anne tak memedulikan komentar itu dan mengatur penutup jendela itu



dengan rapi.



"Nah, sekarang apakah kau tak ingin kubuatkan secangkir teh manis,



Mrs. Gibson?"



"Aku MEMANG butuh sesuatu " setelah semua keributan tadi. Perutku



jadi sakit," keluh Mrs. Gibson. "Memangnya kau bisa membuat teh? Teh?teh buatan orang lain yang kuminum biasanya rasanya seperti lumpur."



"Marilla Cuthbert mengajariku membuat teh. Kau lihat saja nanti. Tapi,



aku akan mendorong kursi rodamu ke beranda dulu agar kau bisa



menikmati sinar matahari."



"Aku sudah bertahun-tahun tak keluar ke beranda," protes Mrs. Gibson.



"Oh, betapa matahari hari ini, sinarnya tak akan membuatmu sakit. Aku



ingin kau melihat pohon apel liar berbunga. Kau tak akan bisa melihatnya



kalau tak keluar rumah. Dan angin bertiup ke selatan hari ini, jadi kau



akan mencium harum cengkih dari pertanian Norman Johnson.



Kubawakan tehmu lalu kita minum bersama serta kubawa sulamanku. Kita



duduk�Cduduk di sana sambil mengkritik orang-orang yang lewat."



"Aku suka mengkritik orang," jawab Mrs. Gibson sok suci. "Itu bukan



ajaran Kristen. Rambutmu itu asli, ya?"



"Tiap lembarnya," tawa Anne.



"Sayang, warnanya merah. Meskipun rambut merah mulai populer saat



ini. Tapi aku lumayan suka tertawamu. Tawa cekikikan Pauline sering



bikin aku tegang. Yah, kalau memang harus keluar rumah, apa boleh buat.



Aku bisa saja mati kedinginan, tapi itu tanggung jawabmu, Miss Shirley.



Ingat, usiaku sudah delapan puluh " tiap harinya, meski kudengar si tua



Davy Ackham bercerita ke semua orang di Summerside kalau aku masih



tujuh puluh sembilan. Ibunya keturunan keluarga Watt. Keluarga Watt



sering iri."



Anne mendorong keluar kursi roda dengan cekatan, dan terbukti juga



kalau dia tangkas menata bantal. Tak lama kemudian, Anne membawakan



teh dan Mrs. Gibson berkenan meminumnya.



"Ya, teh buatanmu boleh juga, Miss Shirley. Ah, selama setahun ini aku



hidup sepenuhnya hanya dengan minum. Mereka tak pernah mengira kalau



aku bertahan hidup. Sering kali aku berpikir akan lebih baik kalau aku tak



usah berusaha tetap hidup. Itukah pohon apel liar yang kau sanjung?sanjung tadi?"



"Ya, " cantik, kan " putihnya berpadu dengan birunya langit?"



"Lumayan puitis," itu satu-satunya komentar Mrs. Gibson. Tapi dia jadi



agak melunak setelah minum dua cangkir teh dan pagi perlahan beranjak



hingga waktunya memikirkan makan siang.



"Kusiapkan makanannya dan nanti kubawakan ke sini dengan meja



kecil."



"Jangan, jangan, Miss Shirley. Aku tak akan segila itu! Orang akan



menganggap aneh kita makan di muka umum. Di luar sini memang



lumayan ... meski bau cengkih selalu membuatku agak mual ... dan pagi



berlalu lumayan cepat, tapi aku tak akan makan di luar buat siapa pun.



Aku bukan orang gipsi. Ingat ya cuci tanganmu sampai bersih sebelum



kau masak. Ya, Tuhan, Mrs. Storey pasti akan kedatangan tamu. Dia



menjemur semua seprai-seprainya. Kesediaannya menerima tamu ini



bukan karena dia memang ramah ... tapi sekadar cari sensasi. Ibunya



keturunan keluarga Carey."



Makan siang yang disajikan Anne membuat Mrs. Gibson senang. "Tak



kusangka orang yang menulis di koran bisa masak. Tentu saja karena



Marilla Cuthbert melatihmu. Ibunya keturunan keluarga Johnson. Kukira



Pauline akan makan dengan rakus di pesta pernikahan itu. Dia tak pernah



tahu kapan dia sudah kenyang " persis papanya. Pernah kulihat papanya



makan stroberi dengan rakus, meski dia tahu perutnya akan sakit sejam



kemudian. Apakah sudah pernah kutunjukkan fotonya padamu, Miss



Shirley? Cobalah ke kamar tidur dan bawa fotonya kemari. Fotonya di



bawah tempat tidur. Jangan buka-buka laci waktu di atas, tapi tolong



tengok apakah ada di bawah lemari pakaian. Aku tak percaya pada Pauline



" Ah, ya itu fotonya. Ibu suamiku keturunan keluarga Walker. Sekarang



ini tak ada laki-laki seperti dia. Ini zaman kemerosotan moral, Miss



Shirley."



"Homer mengatakan hal yang sama delapan ratus tahun sebelum



masehi," senyum Anne.



"Beberapa penulis Perjanjian Lama memang suka berkoar-koar," kata



Mrs. Gibson sok tahu mengira Homer adalah salah satu penulis Kitab



Perjanjian Lama. "Berani taruhan, kau pasti terkejut mendengar



perkataanku itu, Mrs. Shirley, tapi suamiku punya wawasan yang sangat



luas. Eh, kabarnya kau bertunangan dengan " mahasiswa kedokteran.



Aku yakin, mahasiswa kedokteran sering minum-minum " memang



harus begitu, karena mereka sering berada di ruang bedah. Jangan menikah



dengan seorang peminum, Miss Shirley. Juga jangan menikah dengan



orang yang tak bisa memberi nafkah. Cinta saja tak cukup buat hidup,



percayalah omonganku. Jangan lupa bersihkan bak cuci piring dan bilaslah



serbetnya. Aku tak tahan melihat serbet yang berminyak gara-gara



makanan. Sekarang kau harus memberi makan anjing itu. Anjing itu



sekarang terlalu gemuk, tapi Pauline tetap saja memberinya makanan



terlalu banyak. Mungkin aku harus menyingkirkannya."



"Oh, kalau aku tak akan melepaskan anjing ini pergi dari sini, Mrs.



Gibson. Tahu tidak, di daerah sini sering terjadi pencurian " dan



rumahmu ini lumayan sepi, terpencil lagi. Sungguh, kau butuh



perlindungan."



"Oh, baiklah. Kuturuti saja maumu. Aku tak suka berdebat, apalagi kalau



kurasakan denyutan aneh di tengkukku. Kukira ini artinya aku akan kena



stroke."



"Kau perlu tidur siang. Kalau sudah tidur siang, kau pun akan merasa



lebih baik. Aku akan ambilkan selimut dan menurunkan sandaran kursi



roda ini. Apa kau mau tidur siang di beranda?"



"Tidur di muka umum! Itu malah lebih buruk daripada makan di muka



umum. Ide-idemu memang paling aneh. Selimuti saja aku di ruang duduk



ini, dan turunkan tirainya. Tutup pintunya biar lalat tak masuk. Berani



taruhan, kau sendiri pasti ingin diam sejenak ... dari tadi mulutmu itu tak



henti bicara."



Mrs. Gibson tidur siang cukup lama, tapi bangun dengan suasana hati



kurang baik. Dia tak mau lagi dibawa keluar ke beranda.



"Kau ingin aku mati kena udara malam, ya," gerutunya, meski saat itu



baru jam lima sore. Tak ada yang membuatnya senang. Minuman yang



dibawa Anne terlalu dingin " yang berikutnya kurang dingin " tentu saja



wanita tua seperti DIA boleh diberi APA PUN sesukamu biar cepat mati.



Di manakah anjingnya? Anjing itu pasti mengacau seperti biasanya.



Punggungnya nyeri " lututnya nyeri " kepalanya nyeri " tulang



dadanya juga nyeri. Tak ada yang merasa kasihan padanya " tak ada yang



tahu apa yang sudah dijalaninya. Kursinya terlalu tinggi " kursinya



terlalu rendah " Dia ingin syalnya buat pundaknya dan selimut buat



lututnya dan bantal buat kakinya. Dan TAHUKAH Miss Shirley dari mana



asal embusan angin dingin ini? Dia mau saja minum secangkir teh, tapi ia



tak mau merepotkan, apalagi sebentar lagi dia akan mati. Mungkin mereka



akan lebih menghargainya saat dia telah pergi.



"Tak peduli sehari itu pendek ataupun panjang, akhirnya terngiang juga



senandung senja." Anne mengira senja tak akan pernah datang, tapi



akhirnya datang juga. Matahari terbenam dan Mrs. Gibson mulai bertanya?tanya kenapa Pauline belum tiba. Petang menjelang " masih juga belum



ada Pauline. Malam turun dan bulan bersinar, Pauline belum juga ada.



"Aku sudah tahu," kata Mrs. Gibson penuh makna.



"Kau tahu Pauline harus menunggu Mr. Gregor dan dia biasanya pulang



paling akhir," kata Anne menenangkan. "Kau mau kuantarkan tidur, Mrs.



Gibson? Kau cukup lelah " memang agak tegang kalau ada orang asing



di dekatmu, tak seperti biasanya dengan orang yang di dekatmu sehari?harinya."



Kerutan-kerutan kecil di sekitar mulut Mrs. Gibson langsung semakin



terlihat nyata.



"Aku tak akan tidur sampai gadis itu pulang ke rumah. Kalau kau mau



meninggalkanku, PERGILAH. Aku bisa tinggal sendirian " atau mati



sendirian."



Jam sembilan lewat tiga puluh, Mrs. Gibson memutuskan kalau Jim



Gregor tak akan pulang hingga Senin. "Tak seorang pun yang bisa



mengandalkan Jim Gregor untuk tidak berubah pikiran selama dua puluh



empat jam. Dan menurutnya, bepergian di hari Minggu itu salah, bahkan



kalau pun untuk pulang ke rumah. Dia termasuk anggota dewan sekolah,



bukan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang dia dan pendapatnya



tentang pedidikan?"



Anne jadi jahil. Bagaimanapun, hari ini dia sudah banyak menahan diri



di depan Mrs. Gibson.



"Menurutku dia adalah sebuah kasus anakronisme psikologis," jawabnya



serius.



Tanpa berkedip sama sekali, Mrs. Gibson menjawab. "Aku setuju sekali



denganmu."



Tapi setelah itu dia berpura-pura tidur.



***


__ADS_1



__ADS_2