Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 25


__ADS_3

Bab25



"Aku lelah sekali," kata Sepupu Ernestine Bugle, sambil menjatuhkan



diri di kursi meja makan Windy Poplars. "Kadang-kadang aku takut duduk



kalau-kalau tak bisa bangun lagi."



Sepupu Ernestine, sepupu jauh mendiang Kapten MacComber, tetapi



masih terasa terlalu dekat, keluh Bibi Kate, berjalan dari Lowvale sore itu



untuk mengunjungi Windy Poplars. Tak bisa dikatakan kalau para janda



itu menyambutnya dengan hangat, meskipun mereka berkerabat. Sepupu



Ernestine bukanlah orang yang menyenangkan. Dia adalah salah satu



orang malang yang terus-menerus mencemaskan tak hanya hidupnya



sendiri, tetapi juga hidup orang lain dan tak membiarkan dirinya sendiri



atau orang lain lepas dari kecemasan itu. Melihatnya saja akan



membuatmu merasa kalau hidup itu penuh air mata, komentar Rebecca



Dew.



Tentu saja Sepupu Ernestine tidak bisa dibilang cantik dan sangat



diragukan kalau dia pernah cantik. Mukanya tirus, dengan mata biru pucat,



beberapa tahi lalat salah tempat dan suara yang kedengaran seperti



merengek. Dia mengenakan baju hitam kusam dan mantel dengan bros



kuno sebagai penjepit di bagian leher. Mantel yang tak dilepasnya, bahkan



saat Sepupu Ernestine sudah duduk di meja, karena dia takut kena angin.



Rebecca Dew bisa saja ikut duduk di meja makan karena kedua janda



Windy Poplars tak menganggap Sepupu Ernestine sebagai "tamu penting".



Tapi Rebecca Dew selalu mengatakan dia tak bisa "menikmati



makanannya" bila makan bersama si wanita perusak kesenangan itu. Dia



lebih senang makan sendiri di dapur, tapi itu tak mencegah Rebecca Dew



nimbrung di sana-sini saat dia melayani di meja.



"Sepertinya musim semi sudah merasuki tulang-tulangmu," komentarnya



tak simpatik pada Sepupu Ernestine.



"Ah, kuharap hanya itu Miss Dew, tapi aku takut seperti Mrs. Oliver



Gage yang malang. Dia makan jamur musim panas kemarin dan pasti ada



jamur beracun yang ikut termakan, karena dia tak pernah merasa sama lagi



sejak itu."



"Tapi kau tak mungkin sudah makan jamur di awal musim semi seperti



ini," kata Bibi Chatty.



"Tidak, tapi aku khawatir aku menderita penyakit lain. Jangan mencoba



menghiburku Charlotte. Maksudmu baik, tapi tak ada gunanya. Aku sudah



menderita terlalu banyak. Kau yakin tak ada laba-laba di dalam mug krim



itu Kate? Sepertinya ada seekor laba-laba sewaktu kau mengisi



cangkirku."



"Tak pernah ada laba-laba dalam mug krim KAMI," tegas Rebecca Dew



sebal dan membanting pintu dapur.



"Mungkin aku salah lihat," kata Sepupu Ernestine mengakui. "Kedua



mataku sudah tak awas lagi. Aku takut sebentar lagi buta. Itu



mengingatkanku ... aku mampir menjenguk Martha MacKay sore ini. Dia



sedang demam dan biduran. "Kelihatannya kau kena cacar air", kataku.



"Biasanya penyakit ini akan membuatmu buta. Seluruh keluargamu punya



mata yang lemah". Kurasa ada baiknya dia bersiap-siap. Ibunya juga



sedang tak sehat. Dokter bilang karena masalah pencernaan, tapi aku takut



dia kena TUMOR. ""Kalau kau dioperasi dan dibius," kataku, "yang



kutakutkan kau tak akan pernah bangun lagi. Ingatlah bahwa kau ini



seorang Hillis dan semua Hillis jantungnya lemah. Ayahmu mati karena



serangan jantung, kau tahu.""



"Di umur delapan puluh tujuh!" kata Rebecca Dew, sambil mengambil



sebuah piring.



"Dan kau tahu batasan usia di Alkitab adalah tujuh puluh," tambah Bibi



Chatty riang.



Sepupu Ernestine mengambil sendiri tiga sendok teh gula dan mengaduk



tehnya sedih. "Begitulah kata Daud, Charlotte, tapi kurasa Daud tak bisa



dibilang pria baik-baik dalam beberapa hal."



Anne bersirobok pandang dengan Bibi Chatty dan tertawa tanpa bisa



ditahan lagi.



Sepupu Ernestine memandangnya penuh teguran. "Kudengar kau



memang gadis yang sering tertawa. Yah, semoga tawamu bertahan, tapi



aku takut tawamu itu tak akan bertahan lama. Aku takut tak lama lagi kau



akan tahu bahwa kehidupan itu menyedihkan. Yah, aku dulu juga pernah



muda."



"Benarkah?" sindir Rebecca Dew. "Kelihatannya sejak dulu kau selalu



takut menjadi muda. Menjadi muda itu butuh keberanian Miss Bugle."



"Rebecca Dew memang selalu punya cara yang aneh untuk mengatakan



sesuatu," keluh Sepupu Ernestine. "Bukannya aku tersinggung, tentu saja.



Dan menurutku boleh-boleh saja tertawa selagi kau bisa Miss Shirley, tapi



jangan menggoda Nasib dengan bersikap terlalu gembira. Kau sangat



mirip dengan bibi dari istri pendeta kami dulu . . . dia selalu tertawa dan



akhirnya mati kena stroke. Stroke yang ketiga selalu membunuhmu. Aku



khawatir pendeta baru kami di Lowvale agak sembrono. Begitu aku



melihatnya aku bilang ke Louisy, "Aku cemas pria dengan kaki seperti dia



pasti kecanduan berdansa." Kurasa dia meninggalkan kesukaannya



berdansa saat memutuskan jadi pendeta, tapi aku khawatir sifat itu akan



menurun di keluarganya. Dia punya istri muda dan kabarnya istrinya itu



benar-benar mencintainya. Aku tak paham kenapa ada orang menikahi



pendeta karena cinta. Aku khawatir sepertinya itu sangat tidak khidmat.

__ADS_1



Pendeta kami bisa memberikan misa yang lumayan, tapi kurasa dari apa



yang dia katakan tentang Elia orang Tiban, Minggu kemarin,



pandangannya terhadap Alkitab terlalu liberal."



"Aku membaca di koran bahwa Peter Ellis dan Fanny Bugle menikah



minggu lalu," kata Bibi Chatty.



"Ah, ya. Yang kutakutkan itu adalah menikah terburu-buru dan menyesal



kemudian. Mereka hanya tiga tahun menjalin hubungan. Aku takut Peter



akan mengetahui kalau penampilan bagus tak selalu membawa watak



bagus. Aku khawatir Fanny adalah gadis yang pemalas. Dia menyetrika



serbet makannya hanya di bagian kanan. Sungguh berbeda dengan ibunya



yang suci. Ah, IBUNYA adalah wanita yang sempurna, kalau memang ada



wanita sempurna. Ketika berduka, ibu Fanny itu selalu mengenakan gaun



tidur warna hitam. Katanya dia tetap merasa sedih baik siang maupun



malam. Sewaktu pernikahan aku menginap di rumah Andy Bugle,



membantu memasak, dan saat aku turun di pagi hari pernikahan, aku



memergoki Fanny makan telur saat sarapan ... padahal dia akan menikah



hari itu juga. Kalian pun pasti tak akan percaya ... aku saja tak percaya



kalau tak melihatnya dengan mataku sendiri. Mendiang kakakku yang



malang tak makan apa pun tiga hari sebelum pernikahannya. Dan setelah



suaminya meninggal, kami semua cemas dia tak akan pernah mau makan



lagi. Ada kalanya aku merasa aku tak bisa memahami keluarga Bugle lagi.



Ada saat ketika kau benar-benar mengenal kerabatmu, tapi sayangnya



sekarang sudah tak begitu lagi."



"Apakah benar Jean Young akan menikah lagi?" tanya Bibi Kate.



"Aku khawatir itu benar. Tentu saja Fred Young katanya sudah mati,



tapi aku benar-benar takut kalau nanti ternyata dia masih hidup dan



muncul. Kau tak bisa memercayai laki-laki itu. Jean akan menikahi Ira



Roberts. Yang kutakutkan pria itu hanya menikahinya untuk membuatnya



bahagia. Paman Philip-nya dulu pernah ingin menikahiku, kau tahu, tapi



aku bilang padanya, kataku, "Aku terlahir sebagai seorang Bugle dan akan



mati sebagai seorang Bugle. Menikah sama saja melompat ke tempat



gelap," kataku, "dan aku tak mau terbujuk." Musim dingin ini banyak



sekali pernikahan di Lowvale. Aku takut musim panas lagi akan banyak



sekali pemakaman karenanya. Annie Edwards dan Chris Hunter menikah



bulan lalu. Aku khawatir mereka tak akan saling menyukai lagi dalam



beberapa tahun seperti mereka sekarang. Aku khawatir Annie terbuai oleh



gaya Chris yang menawan. Paman Hiram-nya gila ... bertahun-tahun dia



menganggap dirinya adalah seekor anjing."



"Kalau dia suka menggonggong sendiri, harusnya orang lain tak boleh



sakit hati," komentar Rebecca Dew, sembari menyajikan manisan pir dan



kue.




Ernestine. "Dia hanya mengunyah tulang dan menguburkannya sewaktu



tak ada orang yang melihat. Istrinya bisa merasakannya."



"Ke mana Mrs. Lily Hunter musim dingin ini?" tanya Bibi Chatty.



"Dia sedang menginap di rumah anaknya di San Francisco dan yang



kutakutkan akan ada gempa lagi sebelum dia sempat pulang. Bila dia



pulang, kelihatannya dia akan berusaha menyelundup dan akan menemui



masalah di perbatasan. Kau pasti akan menemui masalah kalau melakukan



perjalanan. Tapi aku tak tahu kenapa orang suka sekali bepergian.



Sepupuku Jim Bugle menghabiskan musim panas di Florida. Aku khawatir



dia jadi kaya dan menyukai hal-hal duniawi. Sebelum dia pergi aku bilang



padanya, ... aku ingat saat itu adalah malam sebelum anjing Coleman mati



... atau bukan ya? ... ya ... benar, memang malam itu anjing Coleman mati.



Aku bilang, "Kebanggaan diri hanya akan membawa kehancuran dan



keangkuhan membawa kejatuhan." Putrinya mengajar di sekolah Bugle



Road dan dia tak bisa memutuskan siapa yang akan jadi kekasihnya. "Ada



satu hal yang bisa kupastikan padamu, Mary Annetta," kataku, "bahwa kau



tak akan pernah mendapatkan orang yang paling kau cintai. Jadi lebih baik



kau menerima orang yang mencintaimu ... sehingga kau bisa yakin akan



cintanya." Kuharap dia bisa memilih lebih baik daripada Jessie Chipman.



Aku takut DIA akan menikahi Oscar Green karena pemuda itu selalu ada.



"Apa DIA yang kau pilih?" kataku padanya. Kakak pemuda itu meninggal



karena TBC. "Dan jangan menikah bulan Mei," kataku, "karena Mei adalah



bulan sial untuk pernikahan.""



"Betapa kau selalu penuh simpati!" sindir Rebecca Dew, masuk



membawa sepiring makaroni.



"Bisakah kau katakan padaku," kata Sepupu Ernestine, tak



menghiraukan Rebecca Dew dan mengambil lagi manisan pir, "apakah



calceolaria itu nama bunga atau penyakit?"



"Nama bunga," kata Bibi Chatty.



Sepupu Ernestine terlihat sedikit kecewa. "Yah, apa pun jawabannya,



janda Sandy Bugle memilikinya. Kudengar dia mengatakan pada adik



perempuannya bahwa Minggu yang lalu dia akhirnya mendapatkan



calceolaria. Bunga geranium-mu benar-benar kurus kering Charlotte.



Yang kutakutkan kau tak cukup memberinya pupuk. Mrs. Sandy sudah



berhenti berduka padahal Sandy yang malang baru saja meninggal empat



tahun lalu. Ah, sekarang ini orang mati memang cepat dilupakan. Kakak



perempuanku mengenakan pakaian berduka untuk suaminya selama dua



puluh lima tahun."



"Apa kau tahu kalau retsletingmu terbuka?" tukas Rebecca, sambil

__ADS_1



menghidangkan pai kelapa untuk Bibi Kate.



"Aku tak punya waktu terus-menerus memandang penampilanku di



kaca," balas Sepupu Ernestine ketus. "kalau memang retsletingku terbuka



lalu kenapa? Aku memakai rok dalam sebanyak tiga lapis, bukan? Kata



orang gadis-gadis zaman sekarang hanya memakai satu lapis saja. Aku



khawatir dunia jadi semakin rusak. Aku ingin tahu apakah gadis-gadis itu



pernah berpikir tentang hari kiamat?"



"Apa menurutmu di hari kiamat nanti kita akan ditanyai berapa lapis rok



dalam yang kita pakai?" tanya Rebecca Dew, yang segera melarikan diri



ke dapur, sebelum diprotes yang lain. Bahkan Bibi Chatty berpikir



Rebecca Dew telah kelewatan.



"Kurasa kalian membaca tentang kematian Alec Crowdy tua di koran



minggu lalu," desah Sepupu Ernestine. "Istrinya meninggal dua tahun lalu,



benar-benar kelelahan sampai mati, wanita malang. Mereka bilang Alec



kesepian sejak istrinya meninggal, tapi aku meragukan itu. Dan aku



khawatir mereka belum selesai berurusan dengannya, bahkan meskipun



Alec Crowdy sudah dikubur. Kudengar dia tak mau membuat surat wasiat



dan aku cemas akan ada perebutan sengit atas tanahnya. Mereka bilang



Annabel Crowdy akan menikahi seorang salesman. Suami pertama ibunya



dulu adalah seorang salesman, jadi mungkin itu keturunan. Kehidupan



Annabel cukup susah karenanya, tapi aku takut semua sudah terlambat,



meskipun kalau suaminya ternyata memang belum punya istri di tempat



lain."



"Apa yang dilakukan Jane Goldwin selama musim dingin ini?" kata Bibi



Kate, "sudah lama dia tak pernah tampak di kota."



"Ah, Jane yang malang! Dia merana secara misterius. Tak ada yang tahu



apa yang terjadi dengannya, tapi aku takut dia kena alibi. Kenapa Rebecca



Dew tertawa seperti hyena di dapur sana? Aku takut dia akan jadi gila tak



lama lagi. Banyak orang bermental lemah di antara keluarga Dew."



"Thyra Cooper punya bayi, ya" kata Bibi Chatty.



"Ah, ya, jiwa kecil yang malang. Untunglah hanya satu. Yang



kutakutkan adalah kalau kembar. Banyak kembar di keluarga Cooper."



"Thyra dan Ned adalah pasangan muda yang sangat serasi," kata Bibi



Kate, seakan bertekad menyelamatkan sesuatu dari puing-puing semesta



seperti cerita Sepupu Ernestine.



Tetapi Sepupu Ernestine tidak mau mengakui bahwa ada penghiburan di



Gilead apalagi di Lowvale.



"Ah, Thyra sangat bersyukur bisa mendapatkan Ned. Dia sempat



ketakutan kalau-kalau Ned tak kembali dari barat. Kuperingatkan dia.



"Tunggu saja, dia pasti akan mengecewakanmu," kataku. "Dia selalu



mengecewakan orang lain. Semua orang mengira umurnya tak akan



bertahan setahun, tapi hingga sekarang dia masih hidup." Sewaktu Ned



ingin membeli rumah Holly sekali lagi kuperingatkan dia. "Aku khawatir



sumur di situ penuh dengan bakteri tifus," kataku padanya. "Pekerja Holly



pernah mati karena tifus di sana lima tahun lalu." Mereka tak bisa



MENYALAHKANKU kalau terjadi sesuatu. Joseph Holly punya masalah



di punggungnya. Dia menyebutnya encok, tapi aku khawatir kalau itu



adalah gejala meningitis tulang punggung."



"Paman Joseph Holly adalah salah satu pria terbaik di dunia," kata



Rebecca Dew membawa masuk teko teh yang sudah diisi lagi.



"Ya, dia memang baik," kata Sepupu Ernestine muram. "Terlalu baik



malah! Sehingga membuatku takut semua anak-anaknya akan bersifat



buruk. Itu sering terjadi. Terima kasih Kate, aku tak ingin teh lagi . . .



mungkin makaroni saja. Tak terlalu berat untuk perut, tapi aku khawatir



aku sudah makan terlalu banyak. Aku harus segera pamit, jangan sampai



hari sudah gelap sebelum aku sampai rumah. Aku tak ingin kakiku basah;



karena aku takut sekali kena amonia. Sepanjang musim dingin ini aku



merasakan sesuatu menjalar dari lengan ke kakiku. Malam demi malam



aku tak bisa tidur karenanya. Ah, tak seorang pun tahu apa yang telah



kualami, tapi aku bukan orang yang mudah mengeluh. Aku tadi pagi



bertekad hendak ke sini untuk menemui kalian sekali lagi, karena musim



semi depan mungkin saja aku sudah tak ada. Tapi kalian berdua kelihatan



lebih buruk, jadi kurasa kalian akan mendahuluiku ke alam baka. Ah,



memang lebih baik kita mati selagi masih ada kerabat yang bisa



memakamkanmu. Ya ampun, anginnya kencang sekali! Aku khawatir atap



gudang kami akan terlepas bila badai datang. Musim semi tahun ini angin



bertiup kencang sekali, sehingga aku khawatir iklim mulai berubah.



Terima kasih Miss Shirley ..." sewaktu Anne membantunya memakaikan



mantelnya ... "Berhati-hatilah. Kau kelihatan kecapekan. Aku takut orang



berambut merah tak pernah punya daya tahan tubuh yang kuat."



"Kurasa aku sehat-sehat saja," senyum Anne, mengulurkan topi Sepupu



Ernestine. Sebuah topi lusuh dengan hiasan selembar bulu burung unta



kusam di bagian belakang. "Aku hanya sakit tenggorokan ringan malam



ini Miss Bugle, itu saja."



"Ah!" Sepupu Ernestine sekali lagi mendapat firasat kelam. "Sebaiknya



kau hati-hati kalau sakit tenggorokan. Gejala dipteri dan amandel sama



persis dengan sakit tenggorokan hingga hari ketiga. Tapi setidaknya ada



satu yang perlu disyukuri ... kau tak akan mendapatkan begitu banyak



masalah kalau kau mati muda."



***


__ADS_1



__ADS_2