
Bab21
"Termometer tua di beranda menunjukkan angka nol, tapi termometer
baru di dekat pintu samping menunjukkan suhu sepuluh derajat di atas
nol," kata Anne di malam Desember yang membeku. "Aku bingung apa
sebaiknya aku pakai sarung tangan atau tidak."
"Lebih baik percaya pada termometer tua itu," kata Rebecca Dew
sungguh-sungguh. "Mungkin termometer itu sudah terbiasa dengan iklim
kita. Memangnya kau mau ke mana di malam sedingin ini?"
"Aku mau ke Temple Street mengajak Katherine Brooke menghabiskan
liburan Natal di Green Gables bersamaku."
"Kau merusak liburanmu sendiri," cetus Rebecca Dew. "Dia pasti
senang menghina malaikat, gadis itu ... itu juga kalau akhirnya nanti dia
masih masuk surga. Dan yang lebih buruk, dia bangga akan sifat jeleknya
... malah beranggapan bahwa itu membuktikan kalau dia kuat!"
"Otakku setuju semua yang kau ucapkan, tapi hatiku menolaknya," kata
Anne. "Katherine Brooke hanyalah seorang gadis pemalu yang tidak
bahagia. Aku tak akan bisa mendekatinya di Summerside, tapi kalau aku
bisa mengajaknya ke Green Gables kurasa aku akan bisa melunakkan
hatinya."
"Kau takkan bisa mengajaknya. Dia tak akan mau ikut," ramal Rebecca
Dew. "Bisa saja dia malah menganggap ajakanmu sebagai hinaan " dia
pikir kau iba padanya. Pernah kami mengundangnya ke sini untuk makan
malam Natal " setahun sebelum kau datang " apa kau ingat Mrs. Mac
Comber, tahun itu kita dapat pemberian dua ekor kalkun dan Mrs tidak
tahu bagaimana menghabiskannya " yang dikatakan gadis itu hanya,
"Tidak, terima kasih. Kalau ada yang kubenci, itu adalah kata Natal!""
"Itu mengerikan sekali " membenci Natal! Rebecca Dew, aku harus
melakukan SESUATU. Akan kucoba mengajaknya dan firasatku
mengatakan kalau dia mau ikut."
"Entah bagaimana," kata Rebecca Dew agak segan, "ketika kau katakan
sesuatu akan terjadi, orang jadi percaya bahwa itu memang akan terjadi.
Kau punya indra keenam, ya? Ibu Kapten Mac Comber punya.
Membuatku merinding saja."
"Aku tak punya apa pun yang bisa membuatmu merinding. Hanya saja
" kadang-kadang perasaanku mengatakan kalau Katherine Brooke
hampir gila dengan kesendiriannya dan undanganku akan datang di saat
yang sangat pas secara psikologis, Rebecca Dew."
"Aku ini bukan B.A.," kata Rebecca mengakui, "dan tak kuingkari kalau
kau berhak menggunakan istilah-istilah yang tak pernah kupahami. Tak
kusangkal juga kau mampu menggerakkan orang dengan jemari kecilmu.
Lihatlah bagaimana kau mengatasi keluarga Pringle. Tapi sungguh sayang
kau akan membawa gadis sedingin puncak gunung es dan sekasar parutan
kacang itu pulang di hari Natal."
Anne sebenarnya tidak cukup percaya diri dalam perjalanan ke Temple
Street. Belakangan ini Katherine Brooke benar-benar tak tertahankan.
Berkali-kali, Anne yang mendapatkan penolakan dan sikap kasar dari
gadis itu, berkata semuram gagak dalam puisi Poe berjudul Raven,
"Nevermore" "Tak akan kuulangi lagi". Baru saja kemarin Katherine
bersikap sangat menghina Anne di rapat guru. Tapi, di saat-saat Katherine
sendirian, Anne melihat sesuatu di balik kedua mata gadis itu " gelora
emosi, seperti seekor makhluk yang gila karena dikurung. Anne
menghabiskan separuh malam memikirkan apakah dia akan mengundang
Katherine Brooke ke Green Gables atau tidak. Akhirnya dia tertidur
dengan tekad bulat untuk melakukannya.
Induk semang Katherine mengantarkan ke ruang tamu dan mengangkat
bahu gemuknya tak peduli sewaktu ditanyai tentang Miss Brooke. "Akan
kukatakan kau ke sini, tapi terserah dia mau turun atau tidak. Dia sedang
merajuk. Kusampaikan padanya kalau Mrs. Rawlins bilang cara
berpakaiannya memalukan untuk seorang guru Summerside High, dan dia
bersikap kasar dan sombong seperti biasanya."
"Kupikir Anda tak perlu mengatakan hal seperti itu pada Miss Brooke,"
kata Anne tidak setuju.
"Kupikir dia perlu tahu," bantah Mrs. Dennis tajam.
"Menurutmu apakah dia perlu tahu bahwa Inspektur bilang dia itu guru
terbaik di Maritimes?" tanya Anne. "Atau malah Anda tidak tahu?"
"Oh, aku pernah mendengarnya. Tapi, dia sudah cukup sombong
sekarang dan aku tak perlu membuatnya lebih sombong lagi dengan
memujinya. Dia terlalu bangga diri ... meski aku tak tahu apa yang mesti
dia banggakan. Lagi pula, malam ini dia sedang marah karena aku bilang
__ADS_1
dia tak boleh memelihara. Entah apa yang merasukinya, kok, dia ingin
memelihara anjing. Dia bilang akan membayar makanannya dan menjaga
agar tidak mengganggu. Lalu, apa yang harus kulakukan pada binatang itu
kalau dia sedang mengajar di sekolah? Dengan tegas kukatakan, "Tidak
boleh ada anjing di rumah ini,"
"Oh, Mrs. Dennis, mengapa tak kau biarkan dia punya anjing? Anjing itu
tak akan mengganggumu. Kau bisa memasukkannya di ruang bawah tanah
sewaktu dia pergi mengajar. Dan lagi pula anjing penjaga yang baik di
malam hari. Tolong izinkanlah " KUMOHON."
Ada sesuatu dalam mata Anne Shirley sewaktu dia mengatakan
"kumohon" sehingga orang tak tahan menolaknya. Mrs. Dennis yang
berbahu gemuk dan berlidah tajam pun memiliki kebaikan hati. Hanya saja
sikap Katherine Brooke yang kasar dan tak tahu terima kasih kadang
membuatnya kesal.
"Aku tak tahu kenapa kau harus cemas dia punya anjing atau tidak. Aku
tak tahu kalau kalian berteman. Dia tak punya SEORANG PUN teman.
Tak pernah aku punya orang kos yang tak ramah seperti dia."
"Kupikir karena itulah dia ingin punya anjing Mrs. Dennis. Tak satu pun
manusia yang bisa hidup tanpa pertemanan."
"Yah, ini memang hal manusiawi pertama yang kulihat darinya," kata
Mrs. Dennis. "Sebenarnya aku tidak keberatan memelihara anjing, tapi
sungguh menjengkelkan cara dia meminta " "Kau pasti tak akan
membolehkan kalau aku bertanya apa aku boleh punya anjing, Mrs.
Dennis," katanya angkuh. Membuat orang kesal saja! "Kau benar sekali,"
balasku sama angkuhnya. Aku tak suka menelan ludahku sendiri. Tapi kau
bisa katakan padanya dia boleh punya anjing bila bisa menjamin hewan itu
tidak akan merusak ruang tamu."
Menurut Anne, ruang tamu itu tak bisa jadi lebih buruk kalau pun si
anjing bertingkah. Dia bergidik melirik gorden kumal dan pola-pola
mawar ungu di karpet yang mengerikan.
"Aku merasa kasihan pada orang yang harus melewatkan Natal di
pondokan seperti ini," pikirnya. "Masuk akal kalau Katherine
membencinya. Tempat ini butuh hawa segar " baunya tidak keruan.
KENAPA Katherine mau tinggal di tempat seperti ini padahal gajinya
cukup besar?"
ragu-ragu, karena Miss Broke tidak seperti biasanya.
Tangga sempit dan tinggi itu menjijikkan. Tak seorang pun mau naik
kalau tidak benar-benar harus naik. Dinding-dindingnya sudah terkelupas
dan kusam. Kamar tidur kecil di ujung tangga bahkan jauh lebih muram
daripada ruang tamu. Ruangan itu hanya diterangi lampu tanpa kap. Ada
dipan besi di tengah ruangan dan sebuah jendela sempit menghadap
tumpukan kaleng kosong di halaman belakang. Tapi di kejauhan
terbentang langit dan sederet pohon lombardi yang kontras dengan bukit?bukit ungu di kejauhan.
"Miss Broke, lihatlah matahari terbenam itu," kata Anne terpesona dari
kursi goyang tak berbantal tempat Katherine menyuruhnya duduk.
"Sudah kulihat ratusan matahari terbenam," jawab Katherine dingin.
("Sok romantis dengan matahari terbenammu itu!" pikirnya getir.)
"Kau tak pernah melihat yang ini. Tak ada dua matahari terbenam yang
sama. Duduklah di sini dan biarkan dia tenggelam dalam jiwa kita,"
KATA Anne. Sementara DALAM HATI Anne berkata, "Bisanggak sih
kau mengatakan sesuatu yang menyenangkan?"
"Jangan bertingkah menggelikan begitu."
Kata-kata paling menyakitkan di dunia! Lengkap dengan nada menusuk
khas Katherine.
Anne memutar tubuhnya dan memandang Katherine. Setengah hati ingin
keluar dari ruangan itu. Tapi mata gadis itu terlihat aneh. Apa dia BARU
SAJA menangis? Tentu saja tidak " tak terbayangkan Katherine Brooke
bisa menangis.
"Sepertinya kau tak senang kedatanganku," Anne berkata perlahan.
"Aku tak bisa berpura-pura. Aku ini tak punya bakat layaknya seorang
putri SEPERTIMU " mengatakan hal yang tepat untuk semua orang. Kau
TIDAK diterima di sini. Ruangan seperti apa ini untuk menyambut
orang?" Katherine membuat isyarat mencemooh pada dinding yang
kusam, kursi lusuh dan lemari pakaian reot.
"Ini memang bukan ruangan yang menyenangkan, tapi kenapa kau mau
tinggal di sini kalau kau tak menyukainya?"
"Oh " kenapa " kenapa? KAU tak akan mengerti. Tak jadi masalah.
Aku tak peduli anggapan siapa pun. Apa yang membawamu ke sini malam
__ADS_1
ini? Kukira kau ke sini tidak untuk melihat sinar matahari terbenam."
"Aku ke sini hendak mengajakmu menghabiskan liburan Natal denganku
di Green Gables."
("Nah, kini," pikir Anne, "tunggu sindiran berikutnya! Kalau saja dia
mau duduk, jangan berdiri saja di sana seakan-akan menunggu
kepergianku.")
Ruangan hening. Kemudian Katherine berkata perlahan, "Kenapa kau
mengajakku? Pasti bukan karena kau menyukaiku " bahkan kau pun tak
bisa berpura-pura BEGITU."
"Itu karena aku tak tahan lagi memikirkan ada manusia yang
menghabiskan Natalnya di tempat seperti INI," Anne berkata terus terang.
Sindiran itu akhirnya datang. "Oh, aku tahu. Sebuah letupan kemurahan
hati musiman. Aku bukanlah calon penerima kemurahan hatimu, Miss
Shirley."
Anne berdiri. Kesabarannya sudah habis dengan makhluk aneh ini. Dia
berjalan melintasi ruangan kemudian menatap matanya. "Katherine
Brooke, sadar apa tidak, yang KAU butuhkan adalah sebuah tamparan."
Meraka saling melotot bertatapan selama beberapa saat.
"Kau pasti lega mengatakan itu," kata Katherine. Tapi nada mengejek
sudah hilang dari suaranya. Bahkan terlihat kedutan samar di ujung
bibirnya.
"Memang, aku lega," kata Anne. "Sudah lama aku ingin mengatakan itu
padamu. Aku tidak mengajakmu ke Green Gables karena bermurah hati "
kau tahu pasti itu. Kukatakan alasan yang sebenarnya. TAK SEORANG
PUN yang harus menghabiskan Natal di tempat seperti ini ... gagasan itu
sama sekali tak bisa diterima."
"Kau mengajakku ke Green Gables hanya karena kasihan."
"Ya, AKU kasihan padamu. Kasihan karena kau menutup hatimu rapat?rapat " dan kini kehidupan mengucilkanmu. Hentikan ini Katherine.
Buka pintu hatimu " dan kehidupan akan memasukinya."
"Versi pepatah Anne Shirley, "Jika kau tersenyum pada cermin kau juga
akan menemukan senyum di depanmu,"" kata Katherine mengangkat bahu.
"Dan seperti pepatah-pepatah lain, pepatah itu sangat benar. Nah,
sekarang kau mau berangkat ke Green Gables atau tidak?"
"Apa pendapatmu jika kuterima ajakanmu " buatmu, bukan buatku?"
"Akan kukatakan bahwa kau telah menunjukkan secercah kewarasan
yang pernah kurasakan dalam dirimu," Anne berkata tajam.
Katherina tertawa " mengejutkan. Dia melangkah menuju jendela,
cemberut menatap semburat merah di cakrawala barat lalu berbalik.
"Baiklah ... aku akan pergi. Sekarang kau bisa mengatakan padaku
bahwa kau sekarang bahagia dan kita akan bersenang-senang di sana."
"AKU memang senang. Tapi aku tak tahu apa kau nanti bisa bersenang?senang atau tidak. Itu tergantung dirimu sendiri, Miss Brooke."
"Oh, aku akan menjaga kelakuanku. Kau akan terkejut. Aku tidak akan
menjadi seorang tamu yang riang gembira, kurasa, tapi aku berjanji
padamu tak makan dengan pisauku atau menghina orang lain saat
mengatakan hari ini indah. Terus terang kukatakan padamu, satu-satunya
alasan aku pergi denganmu karena aku tak tahan menghabiskan liburan di
sini sendirian. Mrs. Dennis akan menghabiskan minggu Natal
Charlottetown, di tempat putrinya. Akan membosankan makan sendirian.
Apalagi aku ini koki yang buruk. Tapi maukah kau berjanji tak akan
mengucapkan selamat Natal padaku? Aku hanya tak ingin bahagia di hari
Natal."
"Aku berjanji. Tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa untuk si kembar."
"Aku tak akan memintamu duduk " kau akan membeku " tapi kulihat
sekarang bulan sudah menggantikan matahari terbenammu. Ayo kuantar
pulang dan aku akan membantumu mengaguminya bila kau suka itu."
"Aku memang suka," kata Anne, "tapi kukatakan padamu kalau kami
punya BANYAK bulan indah di Avonlea."
"Jadi dia mau pergi?" kata Rebecca Dew sambil mengisi botol Anne
dengan air panas. "Miss Shirley kuharap kau tak mencoba merayuku untuk
berganti agama " karena mungkin saja kau berhasil melakukannya. Di
mana Kucing Itu? Keluyuran di luar saat udara sedingin ini."
"Tak dingin kok, menurut termometer baru. Dusty Miller sekarang ini
sedang berbaring di atas kursi goyang dekat tungku pemanasku,
mendengkur bahagia."
"Baiklah kalau begitu," kata Rebecca sedikit gemetar sambil menutup
pintu dapur, "Kuharap semua orang di dunia bisa sehangat dan senyaman
kita."
***
__ADS_1