
Bab42
Elizabeth Grayson kecil terlahir dengan mengharapkan hal-hal indah
akan terjadi. Meski hal-hal indah yang dia harapkan jarang terjadi, di
bawah pengawasan Nenek dan sang Wanita yang sangat ketat, gadis kecil
itu tak pernah kehilangan harapan. Hal yang indah pasti akan terjadi suatu
saat nanti ... kalau tak hari ini, mungkin di hari esok nanti.
Ketika Miss Shirley datang ke Windy Poplars, Elizabeth kecil merasa
hari esok sangatlah dekat dan kunjungannya ke Green Gables seakan
mengisyaratkan bahwa Hari Esok yang ditunggunya akan segera tiba.
Tetapi sekarang sudah bulan Juni di tahun ketiga dan terakhir Miss Shirley
mengajar di sekolah menengah Summerside, hati Elizabeth kecil mencelus
turun hingga ke sepatu bot berkancing yang diberi neneknya. Teman?temannya di sekolah banyak yang iri dengan sepatu bot berkancingnya.
Tetapi Elizabeth tidak begitu peduli dengan sepatu bot berkancing kalau
dia tak bisa berlari bebas. Dan sekarang Miss Shirley yang dia puja akan
pergi jauh selamanya. Di akhir bulan Juni kemungkinan dia akan
meninggalkan Summerside dan kembali ke Green Gables yang indah.
Elizabeth kecil tak tahan. Bahkan janji Miss Shirley yang akan
mengajaknya ke Green Gables di musim panas sebelum pernikahannya,
tak membuatnya senang. Elizabeth kecil tahu bahwa Nenek tak akan
mengizinkannya pergi lagi. Jauh di dalam hati, Elizabeth tahu bahwa
Nenek tak pernah benar-benar menyukai kedekatannya dengan Miss
Shirley.
"Ini akan menjadi akhir dari segalanya, Miss Shirley," isaknya.
"Mari berharap, Sayang, bahwa semua ini adalah permulaan," kata Anne
riang. Namun dia sendiri juga merasa sedih. Tidak ada pernah ada kabar
dari ayah Elizabeth. Mungkin surat yang dikirimkan Anne tak pernah
sampai atau pria itu tak peduli. Dan kalau ayahnya tak peduli, apa yang
akan terjadi dengan Elizabeth? Masa kecilnya saat ini saja sudah cukup
buruk, bagaimana saat dia bertambah besar nanti?
"Kedua wanita tua itu akan menyuruh-nyuruhnya sampai mati," ujar
Rebecca Dew. Sayangnya, Anne merasa ucapan Rebecca Dew itu benar.
Elizabeth kecil tahu dia "disuruh-suruh". Dan dia paling tak suka
disuruh-suruh oleh si Pelayan Wanita. Dia juga tak suka disuruh-suruh
Nenek, tentu saja, tapi setidaknya Nenek punya hak keluarga untuk
menyuruhmu. Tapi hak apa yang dipunyai si Wanita? Elizabeth ingin
menanyakannya. Dia AKAN menanyakannya ... bila Esok tiba. Dan oh,
betapa dia nanti akan menikmati keterkejutan di wajah si Wanita!
Nenek tidak akan pernah membiarkan Elizabeth kecil pergi keluar
sendirian ... karena dia takut Elizabeth diculik orang-orang gipsi. Seorang
anak pernah diculik, empat puluh tahun lalu. Sekarang, kaum gipsi jarang
datang ke pulau, dan Elizabeth merasa Nenek hanya mengarang alasan.
Buat apa Nenek peduli bahwa dia diculik atau tidak? Apalagi Elizabeth
tahu bahwa Nenek dan si Wanita sama sekali tak mencintainya. Bahkan,
sebisa mungkin mereka menghindari memanggil namanya. Selalu saja
mereka memanggilnya dengan "anak kecil". Elizabeth sangat membenci
sebutan "anak kecil" karena rasanya seperti ketika mereka memanggil
"anjing" atau "kucing". Namun, jika Elizabeth protes, Nenek jadi
cemberut dan malah menghukumnya karena telah bersikap tidak sopan.
Sementara si Wanita menonton, puas. Elizabeth kecil sering bertanya?tanya kenapa Wanita sangat membencinya. Mengapa seseorang
membencimu padahal kau masih kecil? Apa kau memang pantas dibenci?
Elizabeth tak tahu bahwa ibu yang telah meninggal saat melahirkannya
adalah anak asuhan kesayangan si Wanita, dan kalau pun dia tahu,
Elizabeth kecil tetap tak bisa memahami kebencian yang bisa ditimbulkan
oleh cinta yang menyimpang.
Elizabeth kecil membenci Evergreens yang besar dan muram. Dia
merasa tak mengenalnya, meski dia sudah tinggal di rumah itu sepanjang
hidupnya. Akan tetapi, setelah Miss Shirley datang ke Windy Poplars,
semuanya berubah secara ajaib. Elizabeth kecil hidup dalam dunia
romansa setelah kedatangan Miss Shirley. Keindahan tampak nyata ke
mana pun kau berpaling. Untung, Nenek dan si Wanita tak bisa mencegah
ke mana kau arahkan pandangan matamu, meski Elizabeth yakin mereka
akan melakukannya jika bisa. Jalan-jalan singkat menyusuri jalan
pelabuhan, yang dia lakukan bersama Miss Shirley, saat Nenek
mengizinkan, bagaikan cahaya terang dalam kehidupan Elizabeth kecil
yang remang. Dia mencintai semua yang dilihatnya ... mercusuar bercat
garis-garis merah dan putih di kejauhan ... pantai yang kebiruan ... ombak
biru keperakan ... cahaya-cahaya hangat jendela di keremangan senja ungu
... semuanya sangat indah sehingga menyakitkan hati. Pelabuhan dengan
pulau berkabutnya dan matahari terbenam yang keemasan! Elizabeth
selalu naik ke jendela di loteng atap untuk menatap semuanya dari balik
pepohonan ... dan kapal-kapal yang berlayar menuju ke bulan terbit.
Kapal-kapal yang kembali ... kapal-kapal yang tak pernah kembali.
Elizabeth sangat menginginkan ikut dengan mereka ... dalam perjalanan
menuju Pulau Bahagia. Kapal-kapal yang tak pernah kembali tinggal di
sana, tempat Hari Esok selalu ada.
Jalan berwarna merah misterius itu terus berlanjut dan berlanjut, dan
kaki Elizabeth tak sabar untuk menyusurinya. Ke mana dia menuju?
Kadang Elizabeth merasa dia akan meledak bila tak bisa mencari tahu.
Saat Hari Esok benar-benar tiba, dia akan menyusuri jalan itu dan mungkin
menemukan pulaunya sendiri tempat dirinya dan Miss Shirley bisa tinggal
sendirian, tanpa Nenek dan si Wanita. Kedua perempuan tua itu benci air
dan tak mau naik kapal dengan alasan apa pun.
"Ini adalah Hari Esok," dia akan mengejek mereka. "Kalian tak akan
__ADS_1
bisa menangkapku lagi. Kalian terjebak di Hari Ini."
Betapa menyenangkannya bila itu benar-benar terjadi! Dia pasti akan
menikmati kejengkelan di wajah si Wanita!
Lalu, suatu senja akhir bulan Juni sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Miss Shirley mengatakan pada Mrs. Campbell bahwa dia akan pergi ke
Pulau Awan Terbang, menemui Mrs. Thompson, ketua seksi konsumsi
Ladies" Aid gereja dan dia ingin mengajak Elizabeth. Nenek menyetujui
dengan enggan seperti biasanya ... Elizabeth tak mengerti mengapa Nenek
mengizinkannya pergi, apalagi beliau tidak tahu tentang informasi rahasia
keluarga Pringle yang diketahui Miss Shirley ... tapi yang penting nenek
setuju.
"Kita akan berperahu ke muara," bisik Anne, "setelah urusanku di Pulau
Awan Terbang selesai." Elizabeth kecil pergi tidur dengan sangat senang
sehingga nyaris tak bisa tidur. Akhirnya dia mendapat kesempatan
menyusuri jalan yang selama ini telah memanggil-manggilnya. Meski
senang dan tegang, dengan patuh Elizabeth menjalankan ritual sebelum
tidurnya. Dia melipat gaunnya dan menyikat gigi, lalu menyisir rambutnya
yang keemasan. Menurutnya rambutnya lumayan bagus, meskipun tentu
saja tak seperti rambut merah keemasan Miss Shirley dan ikal yang
melengkung indah ke kedua telinganya. Elizabeth kecil akan rela
memberikan apa pun untuk memiliki rambut seperti rambut Miss Shirley.
Sebelum naik ke ranjang, Elizabeth membuka salah satu laci di meja rias
dari kayu hitam berpernis dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah foto
yang tersembunyi di balik tumpukan saputangan ... gambar Miss Shirley
yang diguntingnya dari edisi spesial Weekly Courier yang memuat foto
staf pengajar di Sekolah Menengah.
"Selamat malam, Miss Shirley tersayang." Dia mencium foto itu dan
mengembalikannya ke tempat penyimpanan. Lalu Elizabeth naik ke
ranjang dan meringkuk di bawah selimut ... karena malam bulan Juni ini
terasa dingin dan angin dari pelabuhan menyusup di sela-sela jendela.
Angin malam ini bukanlah angin sepoi-sepoi. Bertiup kencang, menjerit,
menghantam, mengguncang dan mendobrak, dan Elizabeth tahu bahwa di
pelabuhan ombak-ombak besar bergulung di bawah sinar bulan. Betapa
menyenangkan andai kau bisa menikmati ombak di bawah sinar bulan!
Namun itu hanya bisa dilakukan di Hari Esok.
Di manakah Pulau Awan Terbang? Nama yang indah! Nama dari Hari
Esok. Menyebalkan sekali bisa begitu dekat dengan Hari Esok namun tak
bisa menggapainya. Tapi bagaimana kalau besok hujan! Elizabeth tahu
Nenek tak akan mengizinkannya pergi bila hujan. Dia langsung duduk di
ranjang dan mengatupkan tangan.
"Tuhan," katanya, "Aku tak suka ikut campur urusan-Mu, tapi
BISAKAH Kau pastikan bahwa besok akan cerah. TOLONG, ya Tuhan."
Keesokan hari tiba dengan cuaca cerah. Elizabeth kecil merasa seakan?akan dia terlepas dari sebuah belenggu tak terlihat ketika dia dan Miss
benar kebebasannya, bahkan meskipun si Wanita menatap mereka
cemberut dari balik kaca pintu depan. Betapa menyenangkan, berjalan di
dunia yang indah ini dengan Miss Shirley! Berdua dengan Miss Shirley
selalu menyenangkan. Apa yang akan dia lakukan bila Miss Shirley pergi?
Tapi Elizabeth kecil buru-buru menyingkirkan pikiran itu. Dia tak akan
merusak hari ini dengan pikiran buruk. Mungkin ... semoga ... dia dan
Miss Shirley akan sampai di Hari Esok sore ini dan mereka tak akan
pernah terpisahkan lagi. Elizabeth kecil hanya ingin berjalan tenang ke
cakrawala kebiruan di ujung dunia, menyesap keindahan di sekitarnya.
Setiap tikungan dan kelokan jalan memperlihatkan keindahan baru ... dan
jalanan itu penuh dengan tikungan dan kelokan mengikuti aliran sungai
kecil berliku yang sepertinya muncul dari antah berantah.
Di kedua sisi jalan penuh dengan ladang buttercups dan semanggi yang
dikitari lebah. Sesekali mereka melewati padang penuh bunga daisy
seputih susu. Di kejauhan selat menyapa mereka dengan ombaknya yang
keperakan. Pelabuhan bagaikan jalan sutra. Elizabeth lebih suka saat air
berwarna biru satin pucat. Mereka berdua menghirup aroma angin nan
lembut. Angin yang berkejaran di sekitar mereka, mengajak bermain.
"Menyenangkan bukan, berjalan dengan angin sepoi seperti ini?" tanya
Elizabeth kecil.
"Angin yang ramah dan wangi," kata Anne, lebih kepada dirinya sendiri.
"Aku dulu mengira seperti inilah yang disebut TOPAN. Topan
TERDENGAR indah seperti angin ini. Betapa mengecewakan kala aku
tahu bahwa topan adalah angin yang merusak dan kasar!"
Elizabeth tak terlalu mengerti ... dia belum pernah mendengar tentang
topan ... tapi suara Miss Shirley yang dicintainya terasa bagaikan musik di
telinga. Langit biru cerah. Seorang pelaut dengan anting emas di
telinganya ... jenis orang yang akan mereka temui di Hari Esok ...
tersenyum saat berpapasan dengan mereka. Elizabeth teringat sebuah ayat
yang dipelajarinya di Sekolah Minggu ... "Bukit-bukit berikat?pinggangkan sorak sorai."9 Apakah sang penulis Alkitab pernah melihat
perbukitan biru seperti yang menjulang di balik pelabuhan itu?
"Kurasa jalan ini menuju Tuhan," kata Elizabeth penuh mimpi.
"Mungkin," kata Anne. "Mungkin semua jalan menuju Tuhan, Elizabeth
kecil. Kita akan belok ke sini dulu sekarang. Kita harus menyeberang ke
pulau itu ... itu Awan Terbang."
Awan Terbang adalah delta kecil panjang yang berada sekitar
seperempat kilometer dari pantai. Di pulau kecil itu ada pepohonan dan
sebuah rumah. Elizabeth kecil sejak dulu bermimpi punya pulau sendiri,
dengan teluk kecil berpasir keemasan.
"Bagaimana cara kita ke sana?"
__ADS_1
"Kita naik sampan ini," kata Miss Shirley, mengambil dayung dari
sebuah sampan kecil yang tertambat di pohon.
Miss Shirley pandai mendayung. Apakah ada yang tak bisa dilakukan
Miss Shirley? Ketika mereka sampai ke pulau, ternyata itu adalah sebuah
tempat menakjubkan tempat semua hal mungkin terjadi. Tentu saja ini di
Hari Esok. Pulau seperti ini hanya ada di Hari Esok, bukan di keriuhan
Hari Ini. Seorang pelayan bertubuh mungil yang membukakan pintu
mengatakan pada Anne kalau dia bisa menemui Mrs. Thompson di ujung
pulau, sedang memetik stroberi liar. Bayangkan, pulau dengan stroberi
liar!
Anne pergi untuk menemui Mrs. Thompson, setelah sebelumnya
meminta izin agar Elizabeth diperbolehkan menunggu di ruang tamu.
Menurut Anne, Elizabeth kecil terlihat sedikit lelah setelah jalan kaki
lumayan jauh dan butuh istirahat. Elizabeth kecil tak merasa lelah, namun
kata-kata Miss Shirley adalah hukum baginya.
Ruang tamu itu indah, dengan bunga di mana-mana dan angin laut
berembus masuk. Elizabeth suka cermin di atas perapian yang
memantulkan ruangan ini dengan indahnya, dan dari balik jendela terlihat
pelabuhan, bukit dan selat nan biru.
Tiba-tiba masuklah seorang pria. Sesaat Elizabeth merasa ketakutan.
Apakah dia orang gipsi? Pria itu tak terlihat seperti orang gipsi, tapi
Elizabeth belum pernah melihat orang gipsi. Dia mungkin saja orang gipsi
... lalu, tiba-tiba saja Elizabeth terdorong untuk berpikir bahwa dia tak
peduli bila pria itu menculiknya. Dia suka matanya yang cokelat
keemasan, rambut cokelat ikalnya, dagu kuat dan senyumnya. Karena pria
itu tersenyum.
"Wah, siapa ini?" tanyanya.
"Aku ... ya, aku," kata Elizabeth, sedikit gugup.
"Oh tentu saja ... kau. Muncul tiba-tiba dari laut, kurasa ... menjelma dari
pegunungan pasir... dari negeri yang tak dikenal manusia."
Elizabeth merasa dia agak diolok-olok. Namun dia tak keberatan. Malah
suka. Tetapi dia menjawab sopan.
"Namaku Elizabeth Grayson."
Hening ... kesunyian yang aneh. Pria itu menatapnya beberapa lama
dalam diam. Lalu dengan sopan dia menyilakan Elizabeth duduk.
"Aku sedang menunggu Miss Shirley," jelas Elizabeth. "Dia pergi
menemui Mrs. Thompson untuk membicarakan makan malam Ladies"
Aid. Ketika dia kembali nanti kami akan pergi ke ujung dunia."
Nah, coba saja kalau berani menculikku, Tuan!
"Tentu saja. Nah, sambil menunggu sebaiknya kau duduk nyaman. Dan
aku harus menghormatimu. Kau mau minum? Kucing Mrs. Thompson
mungkin bisa membawakanmu sesuatu."
Elizabeth duduk. Anehnya dia merasa seperti di rumah.
"Boleh aku minta apa saja?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu," kata Elizabeth senang. "Aku mau es krim dengan selai
stroberi."
Pria itu membunyikan lonceng dan memberikan perintah pada pelayan.
Ya, ini pasti Hari Esok ... tak diragukan lagi. Es krim dan selai stroberi tak
akan muncul begitu saja di Hari Ini, tak peduli apakah kucing
membawanya atau tidak.
"Kita akan menyisihkan juga buat Miss Shirley-mu," kata sang pria.
Mereka langsung akrab. Pria itu tak banyak bicara, namun dia sering
menatap Elizabeth. Ada kelembutan di wajahnya ... kelembutan yang
belum pernah dilihat Elizabeth di wajah orang lain, bahkan juga wajah
Miss Shirley. Elizabeth merasa pria itu menyukainya. Dan Elizabeth tahu
kalau dia juga menyukai pria itu.
Akhirnya, pria itu menoleh ke luar jendela dan berdiri. "Kurasa aku
harus pergi sekarang," katanya. "Aku melihat Miss Shirley berjalan ke
sini, jadi kau tak akan sendirian."
"Apa kau tak mau menunggu dan bertemu Miss Shirley?" tanya
Elizabeth, menjilat selai terakhir di sendoknya. Nenek dan si Wanita pasti
akan mati berdiri kalau melihat sikapnya.
"Tidak hari ini," kata sang pria.
Elizabeth tahu bahwa pria itu sama sekali tak berniat menculiknya, dan
anehnya dia malah merasa agak kecewa.
"Selamat tinggal dan terima kasih," katanya. "Menyenangkan sekali di
sini, di Hari Esok."
"Hari Esok?"
"Ini Hari Esok," jelas Elizabeth. "Aku selalu ingin sampai ke Hari Esok
dan sekarang aku sudah sampai."
"Oh, begitu. Yah, maaf kalau kukatakan aku tak terlalu peduli dengan
Hari Esok. Aku ingin kembali ke Hari Kemarin."
Elizabeth kecil merasa kasihan pada pria itu. Tapi bagaimana mungkin
dia tak bahagia? Bagaimana bisa orang yang tinggal di Hari Esok tak
merasa bahagia?
Elizabeth menatap ke belakang penuh damba ke arah Pulau Awan
Terbang, saat mereka mendayung menjauh. Tepat saat mereka muncul dari
balik rimbunan pohon spruce yang berjajar di tepi jalan pantai, Elizabeth
berpaling untuk mengucapkan salam perpisahan pada Pulau Awan
Terbang. Sebuah kereta kuda yang lepas kendali, melaju kencang di
tikungan. Elizabeth mendengar Miss Shirley menjerit ....
***
__ADS_1