
Bab40
Di petang bulan Maret yang gelap dan berangin, ketika bahkan
sekelompok awan mendung di langit bergerak tergesa, Anne menaiki tiga
anak tangga lebar yang diapit dua guci batu dan dua patung singa yang
menuju ke pintu depan besar Rumah Tomgallon. Biasanya, setiap kali
Anne melewatinya, rumah ini terlihat gelap dan muram, hanya cahaya lilin
yang terlihat di salah satu atau dua jendela rumah. Tapi petang ini, rumah
Tomgallon bersinar ceria, bahkan bangunan sayap di kanan kiri rumah
terang benderang, seakan-akan Miss Minerva Tomgallon mengundang
seluruh penduduk kota. Penyambutan yang luar biasa itu membuat Anne
terharu. Dia hampir-hampir berharap seandainya saja tadi dia memakai
gaun kremnya seperti usulan Rebecca Dew.
Meski demikian, Anne terlihat sangat anggun dengan gaun hijau dan
mungkin, Miss Minerva yang menemuinya di aula, juga berpikiran begitu,
karena dia menyambut Anne dengan sangat ramah. Miss Minerva sendiri
tampak anggun dengan balutan gaun beludru hitam, sisir permata di
gelung rambutnya yang berwarna abu-abu dan sebuah bros batu cameo
yang dikelilingi kepangan besar rambut dari beberapa mendiang keluarga
Tomgallon. Kostumnya terlihat sedikit kuno, tetapi Miss Minerva
memakainya dengan sangat elegan sehingga terlihat layaknya keluarga
bangsawan.
"Selamat datang di Rumah Tomgallon, Sayang," katanya, mengulurkan
tangannya yang kurus namun penuh dengan hiasan permata di jemarinya.
"Aku sangat senang dengan kehadiranmu di sini sebagai tamuku."
"Saya ..."
"Rumah Tomgallon dulu adalah tempat berkumpulnya orang-orang
muda dan cantik. Kami biasanya mengadakan banyak pesta dan menghibur
pada selebriti yang singgah," kata Miss Minerva, mengajak Anne menaiki
tangga besar yang dilapisi karpet beludru merah usang. "Tapi semuanya
telah berubah sekarang. Aku jarang mengundang tamu. Aku adalah
keturunan Tomgallon yang terakhir. Mungkin memang beginilah
seharusnya. Kau tahu Sayang, keluarga kami DIKUTUK."
Nada suara Miss Minerva penuh dengan misteri dan horor sehingga
membuat Anne merinding. Kutukan Keluarga Tomgallon! Judul cerita
yang hebat!
"Ini adalah tangga tempat kakek buyut Tomgallon terjatuh hingga patah
leher di malam pesta penyelesaian pembangunan rumah barunya. Rumah
ini ditahbiskan dengan darah manusia. Dia jatuh DI SANA ..." Miss
Minerva mengacungkan telunjuknya yang lentik dengan sangat dramatis
ke karpet kulit macan di aula depan, sehingga Anne seakan-akan melihat
sendiri kakek buyut Tomgallon terkapar sekarat di sana. Anne tak tahu
harus berkata apa, jadi dia hanya mengucap tolol, "Oh!"
Miss Minerva mengantar Anne menyusuri sebuah koridor, yang
dindingnya penuh dengan gantungan lukisan dan foto-foto tua dengan
lukisan kaca hiasnya yang terkenal di ujung koridor, menuju ke kamar
tidur untuk tamu yang besar, berlangit-langit tinggi nan indah. Ranjang
kayu walnut tinggi dengan kepala ranjang memesona, dilapisi oleh selimut
sutra yang sangat indah sehingga Anne merasa sayang meletakkan mantel
dan topinya di sana.
"Kau memiliki rambut yang sangat indah, Sayang," kata Miss Minerva
engan kagum. "Aku selalu suka rambut merah. Bibiku Lydia juga
__ADS_1
berambut merah. Dia satu-satunya keluarga Tomgallon yang berambut
merah Suatu malam ketika dia menyisir di kamar utara, rambutnya terjilat
api lilin dan terbakar. Sambil menjerit-jerit dia lari keluar dengan rambut
menyala. Semua ini bagian dari kutukan, Sayang ... bagian dari Kutukan."
"Apakah dia ""
"Tidak, dia mati terbakar, akan tetapi dia kehilangan kecantikannya. Dia
dulunya sangat cantik dan sombong. Tapi sejak kejadian itu, dia tak
pernah lagi keluar rumah dari hingga hari kematiannya dan dia
meninggalkan wasiat agar peti matinya ditutup rapat, sehingga tak seorang
pun dapat melihatnya yang bekas terbakar. Duduklah dan lepas sepatu
botmu, Sayang. Ini kursi yang nyaman sekali, lho. Kakakku meninggal di
kursi ini karena stroke. Dia seorang janda dan kembali ke rumah ini
sepeninggal suaminya. Anak perempuannya meninggal di dapur kami
karena ketumpahan sepanci air mendidih. Kematian yang sangat tragis
untuk seorang anak kecil, bukan?"
"Oh, bagaimana ""
"Tapi setidaknya kita tahu BAGAIMANA dia meninggal. Bibi tiriku,
Eliza " setidaknya, dia akan jadi bibi tiriku kalau dia masih hidup "
MENGHILANG begitu saja ketika berumur enam tahun. Tak seorang pun
tahu apa yang terjadi padanya."
"Tapi, pastinya ""
"Pencarian telah dilakukan tapi tak satu pun mendapatkan hasil.
Kabarnya, ibunya ... nenek tiriku " bersikap sangat kejam kemenakan
perempuan yatim piatu dari kakek yang dibawa ke sini. Dia mengurung
anak itu di lemari di ujung tangga di suatu hari musim panas dan saat dia
membuka pintu untuk mengeluarkan anak itu, ternyata dia sudah ... MATI.
menghilang. Tapi kurasa itu karena Kutukan Keluarga kami."
"Siapa yang melakukan "?"
"Dalam sekali lekukan telapak kakimu, Sayang! Lekukan telapak kakiku
dulu juga dikagumi. Katanya air bisa mengalir mulus di bawahnya ...
tanda-tanda kaki bangsawan."
Miss Minerva dengan anggun menyodorkan salah satu kakinya yang
berselop dari bawah rok beludrunya dan menunjukkan kakinya yang indah.
"Memang sangat ..."
"Apakah kau mau melihat seisi rumah, Sayang, sebelum kita makan
malam? Rumah ini dulu adalah kebanggaan Summerside. Kurasa
semuanya sudah ketinggalan zaman sekarang, tapi mungkin ada beberapa
hal yang menarik. Pedang yang menggantung di atas tangga itu milik
kakek moyangku, seorang perwira di Angkatan Bersenjata Inggris dan
menerima hadiah tanah di Pulau Prince Edward atas jasa-jasanya. Dia
tidak pernah tinggal di rumah ini, tetapi nenek moyangku sempat tinggal
di sini beberapa minggu. Dia meninggal tak lama setelah kematian
putranya yang tragis."
Miss Minerva mengajak Anne berkeliling ke rumah besar itu, yang
penuh dengan ruangan luas ... ruang dansa, rumah kaca, ruang biliar, tiga
ruang duduk, ruang sarapan, jajaran kamar tidur dan sebuah loteng yang
sangat besar. Sungguh memesona meski suram.
"Mereka adalah Paman Ronald dan Paman Reuben," kata Miss Minerva,
menunjuk ke dua lukisan leluhur di atas perapian yang saling menatap dan
sepertinya saling tidak menyukai. "Mereka kembar dan mereka saling
membenci satu sama lain semenjak lahir. Rumah ini berisik karena
__ADS_1
pertengkaran mereka. Membuat ibu mereka sedih. Dan pada pertengkaran
mereka yang terakhir di ruangan ini, saat itu terjadi badai, Reuben tewas
tersambar petir. Ronald tak pernah bisa melupakannya. Dia DIHANTUI
kematian kembarannya. Istrinya," Miss Minerva menambahkan, "menelan
cincin kawinnya."
"Wah, aneh se ..."
"Menurut Ronald itu ceroboh sekali dan tak mau menolong istrinya.
Padahal dengan sedikit obat pencahar mungkin ... tapi cincinnya itu tak
pernah ada kabarnya lagi. Hidup istri Ronald jadi terbebani. Dia selalu
merasa seperti "tidak menikah" tanpa cincin kawin."
"Wah, cantik seka ""
"Oh ya, itu adalah Bibiku Emilia " bukan bibiku sesungguhnya, tentu.
Dia istri Paman Alexander. Dia terkenal karena ekspresi wajahnya yang
spiritual, tapi dia meracuni suaminya dengan sup jamur ... cendawan
beracun sebenarnya. Kami selalu pura-pura menganggapnya sebuah
kecelakaan, karena pembunuhan adalah hal yang rumit dalam sebuah
keluarga, tapi kami semua tahu yang sebenarnya. Bibi Emilia memang
menikahi Paman Alexander karena terpaksa. Dia gadis muda yang
periang, dan paman terlalu tua untuknya. Ibarat bulan Desember dan Mei,
Sayang. Tapi tetap saja, itu tak membuatnya boleh meracuni suaminya.
Kondisi Bibi Emilia menurun setelah itu. Mereka berdua dimakamkan di
Charlottetown ... semua keluarga Tomgallon dimakamkan di
Charlottetown. Yang ini, Bibiku Louise. Dia meminum laudanum. Dokter
memompanya dan menyelamatkannya, tetapi kami semua merasa seakan
tak bisa memercayainya lagi. Makanya agak melegakan ketika akhirnya
dia meninggal karena sebab yang lumayan terhormat, radang paru-paru.
Tentu saja beberapa kami tidak terlalu menyalahkannya. Begini, Sayang,
suaminya memukul pantatnya."
"Memukul pantat ..."
"Benar. Ada beberapa hal yang tak boleh dilakukan seorang lelaki sejati,
Sayang, dan salah satunya adalah memukul pantat istrinya. Memukulnya
sampai pingsan ... mungkin boleh ... tapi memukul pantatnya ... jangan
sampai! Awas saja," kata Miss Minerva, dengan sangat anggun, "kalau ada
lelaki yang berani memukul PANTATKU."
Anne jadi membayangkan bagaimana seandainya itu benar-benar terjadi.
Tetapi ia menyadari bahwa imajinasi ada batasnya juga. Yang jelas, dia tak
akan pernah bisa membayangkan seorang suami memukul pantat Miss
Minerva Tomgallon.
"Ini ruang dansa. Tentu ruangan ini tidak pernah digunakan lagi
sekarang. Tapi dulu kami sering mengadakan pesta di sini. Pesta dansa
keluarga Tomgallon sangat terkenal. Orang-orang datang dari segala
penjuru pulau. Lampu gantung itu membuat ayahku harus merogoh
kantongnya hingga lima ratus dolar. Bibi buyutku, Patience, meninggal
saat berdansa di sini suatu malam ... tepat di pojokan itu. Dia sangat
terluka oleh seorang pria yang telah mengecewakannya. Kok bisa-bisanya
seorang wanita patah hati hanya karena seorang pria. Pria," kata Miss
Minerva, menatap foto ayahnya " pria dengan cambang tebal dan hidung
bengkok seperti elang "," sejak dulu adalah makhluk yang TAK
PENTING."
***
__ADS_1