Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 19


__ADS_3

Bab19



Dawlish Road jalannya berkelok-kelok, dan sore hari itu memang



waktu yang tepat untuk berkelana " itulah yang terpikirkan Anne dan



Lewis saat mereka menyusuri jalan tersebut, tak jarang mereka berhenti



hanya untuk menikmati selat yang berkilauan layaknya batu safir di antara



pepohonan atau memotret pemandangan indah dan rumah kecil di



rerimbunan layaknya sebuah lukisan. Mungkin tak begitu menyenangkan



berkunjung ke rumah-rumah sambil meminta sumbangan untuk Klub



Drama, tapi Anne dan Lewis bergantian berbicara " Lewis yang maju bila



yang menemui mereka adalah wanita, sedangkan Anne membujuk para



lelakinya.



"Sebaiknya kau menghadapi para pria kalau memang mau pakai gaun



dan topi itu," saran Rebecca Dew. "Aku sendiri punya pengalaman minta



sumbangan saat masih muda dulu, dan semakin bagus gaunmu serta



semakin cantik penampilanmu, maka semakin banyak uang kau dapat "



juga janji untuk memberi sumbangan lagi " kalau kau meminta dari para



pria. Tapi, kalau para wanita yang akan kau mintai sumbangan, pakailah



gaunmu yang paling jelek dan ketinggalan zaman.



"Bukankah jalan ini sangat menarik Lewis?" kata Anne setengah



melamun. "Bukan jalan yang lurus, tapi dengan tikungan dan kelokan



yang menyimpan kejutan berbagai keindahan. Aku suka sekali tikungan di



jalan."



"Dawlish Road ini menuju ke mana, ya?" tanya Lewis praktis "



meskipun dalam hati dia mengomentari betapa suara Miss Shirley selalu



mengingatkannya pada musim semi.



"Aku bisa saja bersikap galak dan tegas seperti guru Lewis, dan



mengatakan bahwa jalan ini tidak menuju ke mana-mana " tapi berhenti



sampai di sini saja. Tapi, aku tak akan menjawab seperti itu. Jalan ini mau



menuju ke mana dan mengarah ke mana " siapa peduli? Bisa jadi menuju



ke akhir dunia dan kembali lagi ke sini. Ingat kata Emerson " "Oh, apa



yang harus kulakukan dengan waktu?" Itulah semboyan kita hari ini.



Kurasa alam akan terus bergerak kalau kita biarkan beberapa lama. Lihat



awan-awan itu " dan damainya lembah-lembah hijau di sana " rumah



dengan pohon apel di tiap sudutnya. Bayangkan rumah itu sewaktu musim



semi tiba. Inilah hari ketika orang MERASA hidup dan setiap tiupan angin



yang menerpa adalah berkah. Aku sangat senang banyak sekali rumpun



pakis di sepanjang jalan " pakis-pakis diselimuti jaring laba-laba. Semua



mengingatkanku saat aku berpura-pura " atau percaya " rasanya aku



dulu benar-benar percaya " bahwa jaring laba-laba itu adalah "taplak



meja para peri"."



Mereka menemukan sebuah sumber mata air di sebuah lembah



keemasan di pinggir jalan dan duduk di hamparan lumut, lalu minum air



dengan cangkir yang dibuat Lewis dari kulit pohon birch.



"Kau tak akan pernah tahu kenikmatan minum yang sebenarnya jika



belum kering tenggorokanmu gara-gara kehausan dan mati-matian mencari



air untuk minum," katanya. "Musim panas ketika aku bekerja di proyek



pembangunan rel kereta api di barat, aku tersesat di padang rumput di hari



yang sangat panas hingga berjam-jam. Kupikir aku akan mati karena



kehausan, tapi tiba-tiba aku sampai di sebuah gubuk penduduk setempat.



Pemilik gubuk itu punya mata air di rerimbunan pohon willow seperti ini.



Nikmatnya saat kuminum! Aku jadi paham mengapa di Alkitab sering



ditulis tentang mata air."



"Kita akan dapat air dari tempat lain sepertinya," kata Anne sedikit



khawatir. "Kelihatannya hujan akan turun dan ... Lewis, aku suka sekali



hujan, tapi saat ini aku memakai topi terbaikku dan gaun terbaikku yang



kedua. Dan lagi, tak ada satu pun rumah yang terlihat dalam jarak



seperempat kilometer."



"Ada bengkel pandai besi yang kosong," kata Lewis, "kita harus ke sana



segera."



Dan mereka berdua pun lari. Di bengkel tempat berteduh itu mereka



menikmati hujan penuh kegembiraan seperti halnya menikmati



pengembaraan mereka di sore hari. Kerudung kesunyian turun



menyelimuti dunia. Angin sepoi-sepoi yang sebelumnya berdesir di



Dawlish Road menghentikan kepak sayap-sayapnya sehingga semua



menjadi tenang dan sunyi. Tak satu pun daun yang bergerak, tak satu pun



bayangan yang berkedip. Dedaunan pohon maple di ujung jalan mulai



terbalik hingga membuat pohon itu tampak pucat seperti ketakutan.



Bayangan mendung gelap nan dingin menelan pepohonan itu seperti



ombak kehijauan ... Hujan pun turun disertai sapuan angin kencang



sehingga curahnya berderai di atas daun. Rintik hujan menari-nari di atas



tanah merah beruap dan menerpa atap bengkel pandai besi dengan riang



gembira.



"Kalau hujan terus turun "," kata Lewis.



Tapi hujan akhirnya berhenti. Berhenti secara tiba-tiba seperti juga



datangnya dan matahari pun bersinar lagi gemerlapan di atas pohon-pohon



basah. Samar-samar langit biru tampak menakjubkan di antara serpihan?serpihan awan putih. Di kejauhan mereka bisa melihat bukit yang



kelihatan basah karena hujan, sedang di bawahnya terhampar kabut



seputih buah persik. Hutan di sekitarnya disapa riang gemerlap dan



kilauan musim semi, dan burung-burung mulai bernyanyi di atas pohon



maple besar yang menaungi bengkel. Dunia tiba-tiba saja terasa begitu


__ADS_1


segar dan manis.



"Ayo kita jelajahi tempat ini," kata Anne begitu mereka meneruskan



perjalanan. Sambil melihat-lihat di sekitarnya, mereka menyusuri jalan



kecil yang di kanan kirinya berjajar pagar kayu lapuk tertutupi bebungaan



yang mulai merekah.



"Rasanya tak ada orang yang tinggal di sepanjang jalan ini," kata Lewis



ragu-ragu. "Menurutku ini cuma jalan menuju pelabuhan."



"Tak usah dipikirkan " ayo kita ikuti saja. Aku selalu tertarik pada jalan



kecil ... berbelok menjauh dari jalan utama, terpisah dan penuh tanaman



serta sunyi. Coba, ciumlah aroma rumput basah itu Lewis. Selain itu, aku



yakin ada rumah di sana. Bisa kurasakan keberadaannya sampai ke



sumsumku " sebuah rumah istimewa " rumah yang indah."



Ternyata perasaan Anne benar. Ada sebuah rumah di sana " rumah



istimewa nan indah. Sebuah rumah bergaya lama, beratap rendah, dengan



jendela-jendela kecil. Pohon-pohon willow besar merentangkan tangan?tangannya di atasnya. Penuh sesak dengan tumbuhan liar dan lumut,



rumah itu tampak kelabu dan lusuh ditempa cuaca. Tapi gudang besar di



luarnya terlihat rapi dan mewah, sangat modern. "Yang selalu kudengar



Miss Shirley, apabila gudang seseorang lebih bagus dari rumahnya, itu



pertanda penghasilan pemiliknya melebihi pengeluarannya," kata Lewis,



saat mereka menyusuri jalan kecil berumput itu.



"Kuanggap itu pertanda kalau pemiliknya lebih memikirkan kuda?kudanya daripada keluarganya," kata Anne tertawa. "Aku tak berharap



pemilik rumah ini mau menyumbang untuk klub drama kita, tapi



kemungkinan besar rumah ini bisa dapat hadiah lomba yang kau ikuti.



Warnanya yang kelabu itu tak jadi masalah di foto."



"Jalan ini kelihatannya jarang dilalui," kata Lewis mengangkat bahu.



"Bukti kalau orang-orang di sekitar sini hubungannya saling bertetangga



tak begitu kuat. Kurasa mereka juga tak tahu apa itu Klub Drama.



Bagaimanapun juga, aku potret dulu rumahnya sebelum kita



membangunkan singa dari sarangnya."



Rumah itu terlihat kosong. Setelah mengambil beberapa foto, mereka



membuka gerbang kecil, lalu melintasi halaman dan mengetuk pintu dapur



yang sudah memudar. Pintu depannya rupanya mirip dengan yang di



Windy Poplars, lebih untuk hiasan dan bukan untuk digunakan " kalau



pintu yang penuh dirambati tanaman Virginia bisa dikatakan untuk hiasan.



Anne dan Lewis setidaknya berharap ditemui dengan baik kalau pun si



empunya rumah tak mau menyumbang. Tak heran bila mereka terkejut



ketika pintu tiba-tiba terbuka, dan bukannya istri atau putri seorang petani



yang penuh senyum, mereka berhadapan dengan seorang laki-laki berusia



lima puluhan, berdada lebar, rambut awut-awutan dan alis tebal, yang



menghardik keras tanpa basa-basi, "Mau apa kalian?"



"Kami berdua ke sini menawarkan Anda jika tertarik menyumbang Klub




usahanya terputus sampai di situ saja.



"Tak pernah dengar tentang Klub Drama. Aku juga tak mau dengar. Tak



ada hubungannya denganku," sebuah interupsi tanpa kompromi, lalu pintu



itu pun dibanting di depan mereka.



"Aku yakin kita barusan dicerca," kata Anne sambil melangkah pergi.



"Benar-benar pria yang ramah," Lewis meringis. "Jika dia memang



beristri, kasihan sekali istrinya."



"Kurasa dia tak punya istri, kalaupun punya pasti wanita itu hanya



buang-buang waktu mengajarinya bersikap lebih beradab," kata Anne



sambil mencoba menenangkan kembali perasaannya yang hancur



berantakan. "Kuharap Rebecca Dew bisa menangani orang seperti itu.



Paling tidak kita sudah punya foto rumahnya dan kuramalkan foto ini



bakal menang. Ah sudahlah! Ada kerikil di sepatuku yang harus kuambil



dan aku mau duduk di pagar batu pria yang baik hati itu, diizinkan atau



tidak, bukan masalah."



"Untungnya tempat ini tak terlihat dari rumah itu," kata Lewis.



Baru saja Anne mengikat kembali tali sepatunya, tiba-tiba mereka



mendengar suara kemerisik semak shrubbery di sebelah kanan mereka.



Kemudian, muncul seorang anak lelaki berusia sekitar delapan tahun



malu-malu mengamati mereka, dengan sepotong pai apel besar



tergenggam erat di tangannya yang gemuk. Dia anak laki-laki yang



tampan, dengan rambut keriting mengilat, dua mata cokelat yang jujur dan



lembut. Dia terlihat seperti anak yang sehat dan terawat baik, meskipun



bertelanjang kaki, dengan hanya memakai baju katun biru usang serta



celana beludru tipis sebatas lutut. Lebih mirip seperti seorang pangeran



yang sedang menyamar. Tepat di belakangnnya berdiri seekor anjing



Newfoundland yang kepalanya hampir sama tingginya dengan bahu sang



anak. Anne mengembangkan senyumnya yang selalu berhasil merebut hati



anak-anak.



"Halo anak kecil," kata Lewis. "Siapa orangtuamu?"



Anak itu melangkah maju sambil memberi senyuman balasan.



Menyodorkan pai apel miliknya. "Ini makan," katanya malu-malu. "Ayah



buat untukku, tapi kuberikan buatmu. Aku punya banyak."



Lewis, sedikit ceroboh, hendak menolak, tapi Anne segera mengangguk



padanya. Mengerti isyaratnya, Lewis pun menerima tawaran itu dengan



sungguh-sungguh, lalu memberikan pai itu pada Anne. Anne, dengan



sikap sama seriusnya, membagi kue itu jadi dua bagian dan kemudian



menyerahkan separuh pada Lewis. Mereka sadar mereka harus



memakannya dan mereka sangat meragukan keahlian masak "para Ayah",

__ADS_1



tapi gigitan pertama menenangkan mereka. "Ayah" mungkin tak begitu



ramah, tapi dia pintar buat pai.



"Kuenya sangat lezat," kata Anne. "Namamu siapa sayang?"



"Teddy Armstrong," sahut dermawan kecil itu. "Tapi Ayah selalu



memanggilku Pria Kecil. Aku satu-satunya yang dia miliki. Ayah sangat



mencintai aku dan aku juga mencintai Ayah. Aku khawatir kalau kalian



menganggap ayahku tak sopan karena dia membanting pintu, tapi Ayah



tak bermaksud begitu. Kudengar kalau kalian meminta makanan." ("Kita



tak meminta makanan tapi itu tak menjadi masalah," pikir Anne.)



"Aku sedang di taman di belakang tumbuhan hollylock, jadi kupikir



kuberikan saja paiku karena aku kasihan pada orang miskin yang tak



punya banyak makanan. Aku selalu punya. Ayah koki yang hebat. Kalian



harus mencicipi puding beras buatannya."



"Apa ayahmu menambahkan kismis?" tanya Lewis sambil mengedipkan



mata.



"Banyak, banyak sekali. Ayahku bukan orang pelit."



"Sayang, apa kau punya ibu?" tanya Anne.



"Tidak. Ibuku sudah meninggal. Mrs. Merril pernah bilang kalau ibuku



sudah pergi ke surga, tapi ayahku bilang tak ada tempat seperti itu, tapi



kupikir dia seharusnya tahu kalau tempat itu ada. Ayahku itu pria yang



sangat bijaksana. Dia membaca ratusan buku. Aku ingin "persis seperti dia



nanti kalau sudah dewasa " hanya saja aku akan selalu memberi kalau



ada orang yang minta-minta. Kau tahu, ayahku memang tak terlalu ramah



pada orang lain, tapi dia sangat baik padaku."



"Apa kau sekolah?" tanya Lewis.



"Aku tidak sekolah. Ayah mengajariku di rumah. Petugas sekolah



memberi tahu ayahku kalau tahun depan aku harus sekolah. Kurasa aku



akan suka bersekolah dan punya teman yang bisa diajak bermain. Memang



aku punya Carlo sebagai teman, tapi Ayah juga sangat menyenangkan



untuk diajak bermain kalau ada waktu. Ayahku sibuk. Dia harus



mengurusi peternakan dan menjaga rumah tetap bersih. Itulah sebabnya



dia tak mau diganggu orang lain. Kalau aku besar nanti, aku bisa



membantunya dan kita akan punya banyak waktu beramah-tamah dengan



orang-orang."



"Pai ini rasanya enak sekali, Pria Kecil," kata Lewis sambil menelan



potongan terakhir.



Mata Pria Kecil itu berbinar-binar. "Aku senang kau menyukainya,"



katanya.



"Apa kau mau difoto?" kata Anne, yang merasa tak pantas memberikan



uang untuk imbalan kemurahan hati anak itu. "Kalau kau mau, Lewis akan



memotretmu."



"Oh, benarkah?!" kata Pria Kecil itu penuh semangat. "Carlo juga?"



"Tentu Carlo ikut."



Anne mengatur pose kedua makhluk kecil itu dengan latar belakang



semak shrubbery. Anak laki-laki itu berdiri sambil tangannya merangkul



leher teman bermainnya yang berbulu keriting. Baik anjing maupun anak



itu sama-sama terlihat puas. Lewis memotret menggunakan pelat



terakhirnya.



"Bila hasilnya bagus, akan kukirimkan fotomu lewat surat," katanya.



"Apa alamat rumahmu?"



"Teddy Armstrong, anak Mr. James Armstrong, Glencove Road," kata si



Pria Kecil. "Oh, bukankah sangat menyenangkan bisa menerima barang



lewat pos! Betapa bangganya diriku. Ayah tak akan kuberi tahu tentang



dan ini akan menjadi kejutan menyenangkan buatnya."



"Tunggulah paketmu dalam dua sampai tiga minggu," kata Lewis, ketika



mereka berpamitan. Tiba-tiba Anne berhenti dan mencium wajah kecil



yang terbakar sinar matahari itu. Ada sesuatu yang menyentak hatinya.



Anak itu begitu manis " begitu sopan " tapi tanpa ibu! Sebelum



berbelok, mereka menengok lagi ke belakang, menatap sang anak yang



berdiri di atas pagar batu pendek bersama anjingnya, melambaikan tangan.



Tentu saja Rebecca Dew tahu semua tentang keluarga Armstrong.



"James Armstrong tak pernah pulih dari kematian istrinya lima tahun yang



lalu," katanya. "Sebelum kematian istrinya dia tak sebegitu buruk "



cukup enak diajak bergaul, meskipun sedikit penyendiri. Mungkin dia



memang dibesarkan seperti itu. Dia begitu terikat dengan istrinya " yang



dua puluh tahun lebih muda darinya. Kudengar kematian istrinya



mengguncangkan pria malang itu " dan sepenuhnya mengubah sifatnya.



Pria itu jadi masam dan mudah tersinggung. Bahkan tak mau mencari



pembantu " dia merawat rumah dan anaknya sendirian. Sebelum



menikah, dia membujang bertahun-tahun, jadi dia lumayan bisa mengurusi



pekerjaan rumah tangga."



"Tapi itu bukanlah hidup yang pantas bagi anak itu," kata Bibi Chatty.



"Ayahnya tak pernah membawanya ke gereja atau pergi ke mana pun agar



anak itu bisa bertemu orang lain."



"Kudengar dia memuja anaknya," kata Bibi Kate.



"Janganlah ada padamu allah lain di hadapanKU7



," tiba-tiba Rebecca



Dew mengutip Alkitab.



***



__ADS_1


__ADS_2