
Bab38
Anne datang ke Elmcroft malam berikutnya, berjalan melewati jalan
desa yang mirip tanah impian di balik kabut bulan November. Tugasnya
kali ini tak bisa dibilang menyenangkan. Seperti yang dikatakan Dovie,
tentu saja Franklin Westcott tak akan membunuhnya. Anne tidak takut
akan kekerasan fisik ... walaupun jika semua gosip itu benar, Franklin
Westcott mungkin saja melempari dirinya dengan sesuatu. Akankah pria
itu marah besar? Anne belum pernah melihat seorang pria yang suka
mengamuk dan dalam bayangannya itu pasti bukan pemandangan yang
menyenangkan. Franklin Westcott mungkin akan bersikap sinis dan
sarkastis. Sarkasme, baik oleh wanita maupun pria adalah satu-satunya
senjata yang ditakuti Anne. Karena sarkasme selalu melukainya ...
meninggalkan luka di jiwanya yang terasa perih selama berbulan-bulan.
"Bibi Jamesina sering berkata, "Kalau bisa, jangan sampai kau jadi
pembawa berita buruk,"" renung Anne. "Bibi Jamesina memang orang
yang bijak. Yah, di sinilah aku sekarang."
Elmcroft dalah sebuah rumah dengan gaya kuno dengan menara pada
setiap pojoknya dan sebuah kubah besar di bagian atap. Dan di puncak
tangga beranda duduk si bulldog besar.
"Jika menggigit mangsa dia tak pernah melepaskannya," ingat Anne.
Apa sebaiknya dia mencoba lewat pintu samping? Lalu pikiran bahwa
Franklin Westcott akan melihatnya dari jendela menahan langkah Anne.
Anne tak akan memberikan kepuasan pada Franklin Westcott dengan
menunjukkan bahwa dia takut pada anjingnya. Dengan penuh tekad, Anne
menaiki tangga, melewati si anjing dan membunyikan bel. Anjing itu tidak
bergerak sedikit pun. Anne menoleh dan ternyata si anjing sedang tidur.
Franklin Westcott, ternyata tak ada di rumah, tapi sebentar lagi pasti
datang karena kereta api dari Charlottetown tiba sebentar lagi. Bibi
Maggie mengantarkan Anne ke ruangan yang disebutnya "pustakaan" dan
meninggalkannya di sana. Si bulldog terbangun dan mengikuti mereka
masuk, lalu duduk di bawah kaki Anne. Anne menemukan dirinya
menyukai "pustakaan". Ruangan itu menyenangkan, nyaman, dengan api
menyala riang di perapian dan karpet kulit beruang melapisi lantai.
Franklin Westcott rupanya pria yang punya selera baik dalam hal buku dan
pipa.
Tak lama kemudian, Anne mendengar pria itu masuk. Franklin
menggantung topi dan mantelnya di ruang depan: lalu berdiri di ambang
pintu perpustakaan dengan alis berkerut. Kesan pertama Anne saat
bertemu dengan pria ini adalah dia mirip bajak laut terhormat, dan kesan
itu timbul lagi sekarang.
"Oh, kau?" katanya agak kasar, "Mau apa?"
Dia bahkan tidak menawarkan untuk berjabat tangan, dan Anne berpikir
bahwa perilaku anjingnya lebih baik daripada tuannya.
"Mr. Westcott mohon dengarkan penjelasanku dengan sabar sebelumnya
..."
"Aku sabar ... sangat sabar. Teruskan!"
Anne memutuskan bahwa tak ada gunanya bicara bertele-tele dengan
pria seperti Franklin Westcott.
"Aku datang untuk memberitahumu," katanya mantap, "bahwa Dovie
telah menikah dengan Jarvis Morrow."
Lalu Anne menunggu kemurkaan Franklin Westcott. Tapi, tak terjadi
apa pun. Ekspresi wajah kecokelatan Franklin Westcott sama sekali tak
berubah. Dia masuk ke perpustakaan dan duduk kursi kulit di depan Anne.
"Kapan?" katanya.
"Tadi malam ... di rumah kakak Jarvis," jawab Anne.
Franklin Westcott menatap Anne dengan mata cokelat muda di bawah
alis matanya yang tebal. Sesaat Anne bertanya-tanya bagaimana rupa pria
ini saat masih bayi. Lalu tiba-tiba saja Franklin Westcott mendongak dan
tertawa terbahak-bahak tanpa suara.
"Anda jangan menyalahkan Dovie, Mr. Westcott," pinta Anne, lebih
berani sekarang setelah dia berhasil mengatakan berita buruk yang
__ADS_1
dibawanya. "Itu bukan salahnya . . ."
"Pasti bukan salah," kata Franklin Westcott.
APA dia mencoba bersikap sinis?
"Tidak, semua itu salahku," kata Anne dengan berani. "Aku
menyarankannya untuk kawin lar ... untuk menikah ... aku yang
MENYURUHNYA. Jadi maafkanlah dia, Mr. Westcott."
Franklin Westcott dengan tenang mengambil pipa dan mulai mengisinya.
"Jika kau berhasil membuat Sibyl kawin lari dengan Jarvis, Miss Shirley,
kau berhasil melakukan sesuatu yang kukira tak bisa dilakukan siapa pun.
Aku mulai khawatir putriku tak punya secuil pun keberanian untuk
melakukannya. Dan kemudian aku terpaksa harus menyerah saja ... dan
Demi Tuhan, kami keluarga Westcott sungguh benci disuruh menyerah!
Kau telah menyelamatkan reputasiku, Miss Shirley dan aku sangat
berterima kasih padamu."
Hening panjang, sementara Franklin Westcott memadatkan tembakau di
pipanya sembari menatap geli ke arah Anne. Anne benar-benar tidak tahu
harus berkata apa. "Kurasa," lanjut Franklin Westcott, "kau datang ke sini
ketakutan dan gemetaran karena harus membawa berita buruk untukku,
ya?"
"Ya," jawab Anne singkat.
Franklin Westcott terkekeh tanpa suara. "Tak perlu takut. Tak ada berita
yang lebih baik daripada berita yang kau bawa ini. Kau tahu, aku telah
memilihkan Jarvis Morrow untuk Sibyl sejak mereka masih kecil. Begitu
para pemuda lain mulai memperhatikan putriku, aku langsung mengusir
mereka. Itu memancing Jarvis untuk memperhatikan Sybil. Pikirnya dia
akan menantang pria tua ini! Tapi pemuda itu sangat populer di kalangan
para gadis sehingga aku nyaris tak percaya ketika dia benar-benar tertarik
pada putriku. Lalu aku mematangkan rencanaku. Aku tahu semua tentang
keluarga Morrow. Mereka adalah keluarga yang baik, tetapi para pria
keluarga itu tidak ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah. Mereka
justru kian bertekad mendapatkan sesuatu ketika sesuatu itu sulit
dijangkau. Mereka suka menentang. Ayah Jarvis mengecewakan hati tiga
Sibyl akan benar-benar jatuh cinta padanya ... dan Jarvis akan segera bosan
padanya. Aku tahu Jarvis tak akan terus menginginkan putriku kalau Sybil
terlalu mudah didapatkan. Jadi aku melarang pemuda itu ke sini dan
melarang Sybil bicara dengannya, pokoknya memainkan peranan orang
tua kolot dan pengekang. Tentu saja daya tarik Sybil bagi Jarvis kian
meningkat karena putriku sulit didapat! Semua berjalan sesuai rencanaku,
tapi aku lupa memperhitungkan kepengecutan putriku. Dia anak yang baik
Tapi penakut. Aku bahkan mulai berpikir kalau Sybil tak akan berani
menentangku untuk menikahi Jarvis. Nah sekarang, kalau kau sudah lega,
Nona Muda yang baik, ceritakan padaku apa yang terjadi."
Rasa humor Anne mulai tergugah. Dia tidak akan bisa menolak
kesempatan untuk tertawa. Dan tiba-tiba dia merasa bisa berteman baik
dengan Franklin Westcott. Pria itu mendengarkan cerita Anne sambil
menikmati cerutunya. Ketika Anne selesai bercerita, dia mengangguk.
"Kurasa diriku berutang padamu lebih dari yang kubayangkan. Putriku
tidak akan berani melakukannya jika bukan karena dirimu. Dan Jarvis
Morrow jelas tak mau dipermalukan dua kali ... aku kenal baik keluarga
itu. Ya Tuhan, tapi rencanaku nyaris saja gagal! Aku benar-benar berutang
budi padamu. Berani sekali kau datang ke sini, apalagi setelah mendengar
semua gosip buruk tentangku. Aku yakin kau sudah banyak mendengar
gosip tentangku, bukan?"
Anne mengangguk. Si bulldog meletakkan kepalanya di pangkuan Anne
dan mendengkur nyaman.
"Semua orang berkata bahwa kau adalah orang yang pemarah, dan
keras," kata Anne.
"Dan aku kurasa mereka juga mengatakan padamu bahwa aku adalah
orang kejam yang membuat hidup istriku menderita dan memerintah
keluargaku dengan galak?"
"Ya, tapi aku tak terlalu percaya semuanya, Mr. Westcott. Aku merasa
__ADS_1
bahwa Dovie tidak akan mungkin begitu mencintaimu jika hal itu memang
benar."
"Gadis pintar! Istriku dulu bahagia, Miss Shirley. Dan ketika Mrs.
MacComber mengatakan padamu kalau aku menggalaki istriku hingga dia
mati, jangan menentang omongannya, bumbui saja malahan. Maafkan
perkataanku. Mollie sangatlah cantik ... bahkan lebih cantik daripada
Sibyl. Kulitnya putih merona halus ... rambut cokelat keemasan ... mata
biru nan indah. Dia adalah wanita tercantik di Summerside. Aku tak tahan
jika ada pria menggandeng istri yang lebih cantik dari istriku di gereja.
Aku memimpin keluargaku sebagaimana layaknya seorang pria tapi
TIDAK kaku. Oh, tentu saja, aku sesekali marah, tapi Mollie tak
mempermasalahkannya begitu dia terbiasa. Seorang pria berhak sesekali
bertengkar dengan istrinya, bukan? Wanita pasti bosan kalau suaminya
monoton. Lagi pula, aku selalu selalu memberinya hadiah cincin, kalung
atau perhiasan lain setelah aku tenang. Tak ada wanita mana pun di
Summerside yang memiliki perhiasan lebih indah daripada istriku. Aku
harus mewariskannya pada Sibyl."
Anne tiba-tiba tersenyum jahil. "Bagaimana dengan puisi Milton?"
"Oh, itu bukanlah puisi Milton ... itu buku puisi Tennyson. Aku
menghormati Milton tapi tak terlalu suka Alfred Tennyson. Dua bait
terakhir puisi Enoch Arden-nya membuatku sangat marah suatu malam,
sehingga aku memang membuang bukunya ke luar jendela. Tapi aku
mengambilnya lagi keesokan harinya, demi puisi Bugle Song. Itu wajar,
kan. Buku itu TIDAK kecebur di kolam lili George Clarke �C itu hanya
karangan si Prouty saja. Kau sudah mau pergi? Tinggallah dan temani
makan malam pria tua malang yang baru saja ditinggalkan anaknya ini."
"Maaf sekali tetapi aku tak bisa, Mr. Westcott. Aku harus menghadiri
rapat staf sekolah malam ini."
"Baiklah, aku akan menemuimu saat Sybil kembali nanti. Aku harus
membuat sebuah pesta untuk mereka, pastinya. Ya Tuhan, betapa leganya
aku sekarang. Kau tak bisa membayangkan betapa bencinya aku kalau
harus menyerah dan bilang "nikahilah putriku". SEKARANG, yang harus
aku lakukan adalah pura-pura patah hati dan menyerah kalah, lalu pura?pura memaafkannya dengan sedih demi almarhum ibunya. Aku akan
berakting dengan penuh perasaan ... jangan sampai Jarvis curiga. Dan kau
JANGAN buka rahasia, ya."
"Tak akan," janji Anne.
Franklin Westcott mengantar Anne hingga ke pintu. Si bulldog duduk
merana dan menyesali kepergian Anne. Franklin Westcott melepaskan
pipanya dari mulut dan mengetuk bahu Anne dengan pipa itu.
"Selalu ingat," katanya serius, "ada lebih dari satu cara untuk menguliti
seekor kucing. Kau bisa melakukannya dengan diam-diam dan halus
hingga si kucingnya sendiri tak sadar. Sampaikan salamku, pada Rebecca
Dew. Gadis yang menarik, kalau kau bisa memperlakukannya dengan
tepat. Dan terima kasih ... terima kasih."
Anne berjalan pulang di malam yang tenang dan damai. Kabut sudah
terangkat, angin berganti arah dan langit yang pucat kehijauan
menjanjikan salju.
"Orang mengatakan padaku bahwa aku tak kenal Franklin Westcott,"
renung Anne. "Mereka benar ... aku tak kenal. Begitu juga mereka."
"Bagaimana responsnya?" tanya Rebecca Dew penasaran. Dia merasa
sangat tegang selama kepergian Anne.
"Tidak begitu buruk," kata Anne. "Kurasa akhirnya dia akan memaafkan
Dovie."
"Aku belum pernah melihat orang sehebat kamu Miss Shirley. Pandai
sekali membujuk orang," kata Rebecca Dew kagum. "Kau punya bakat
istimewa."
"Niat dan usaha baik yang berhasil berhak mendapatkan ganjaran, dan
aku harus tidur," kata Anne kelelahan sambil menaiki anak tangga ke
ranjangnya malam itu. "Tapi tunggu saja kalau ada orang lain yang
meminta saranku tentang kawin lari!"
***
__ADS_1