
Bab24
"Windy Poplars,
"5 Januari,
"Jalan tempat hantu-hantu (seharusnya) berkeliaran.
"TEMANGKU YANG PALING TERHORMAT:
"Kata-kata ini tidak diambil dari tulisan nenek Bibi Chatty. Ini hanya
tulisan yang akan ditulisnya kalau memang dia memikirkannya.
"Resolusi Malam Tahun Baruku adalah menuliskan surat cinta yang
masuk akal. Menurutmu apa itu mungkin?
"Aku telah meninggalkan Green Gables, namun aku kembali ke Windy
Poplars tersayang. Rebecca Dew menyalakan api di kamar menara
untukku dan sebotol air panas di tempat tidur.
"Aku senang sekali karena menyukai Windy Poplars. Pasti mengerikan
tinggal di tempat yang tak kusukai . . . rumah yang tak berkata, "Aku
senang kau kembali". Windy Poplars mengatakan itu. Memang rumah ini
sedikit kuno dan kolot, tapi dia menyukaiku.
"Dan aku senang bertemu lagi dengan Bibi Kate, Bibi Chatty, serta
Rebecca Dew. Aku tak sabar melihat sisi lucu mereka tapi aku
menyayangi mereka semua karenanya. Rebecca Dew mengatakan hal yang
menyenangkan padaku kemarin. "Spook"s Lane telah menjadi tempat yang
berbeda sejak kau datang Miss Shirley."
"Aku senang kau menyukai Katherine, Gilbert. Sungguh mengejutkan
dia bersikap baik padamu. Betapa luar biasa mengetahui betapa baiknya
dia kalau dia mau berusaha. Kupikir dia sendiri juga terheran-heran seperti
orang lain. Dia tak mengira bahwa bersikap baik itu sangat mudah.
"Menyenangkan sekali akhirnya punya Wakil Kepala Sekolah yang bisa
kau ajak bekerja sama. Dia akan pindah rumah kontrakan, dan aku sudah
berhasil membujuknya membeli topi beludru itu dan sekarang masih
berusaha mengajaknya menyanyi di paduan suara gereja.
"Anjing Mr. Hamilton kemarin datang dan mengejar Dusty Miller. "Ini
sudah keterlaluan sekali", kata Rebecca Dew. Dengan pipi memerah,
punggung gemuknya gemetar menahan amarah, begitu terburu-buru
hingga tak sadar topinya terbalik, Rebecca Dew keluar dan mengomeli Mr.
Hamilton. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah Mr. Hamilton yang
ramah dan konyol saat mendengar omelan Rebecca.
"Aku memang tak suka Kucing Itu," cerita Rebecca Dew padaku, "tapi
dia milik KITA dan tak ada anjing Hamilton yang datang kemari dan
mengganggunya di halamannya sendiri. "Anjing itu mengejar kucingmu
hanya untuk bermain-main," kata Jabez Hamilton. "Kesenangan Hamilton
berbeda dengan kesenangan MacComber atau MacLean, dan yang
terpenting kesenangan Dew," tukas Rebecca lagi. "Wah, wah, kau baru
makan kubis ya, Miss Dew," komentar Hamilton. "Tidak," balas Rebecca,
"tapi MUNGKIN saja. Mrs. Kapten MacComber tidak menjual semua
kubisnya musim gugur lalu dan membiarkan keluarganya tanpa kubis
hanya karena harga sedang mahal. Ada beberapa orang," tambah Rebecca
lagi, "yang tak bisa mendengar apa pun karena terpaku pada suara uang
receh di sakunya." Lalu Rebecca Dew pergi dan membiarkan Jabez
Hamilton memikirkan perkataannya. "Tapi apa yang bisa kau harapkan
dari seorang Hamilton? Orang rendahan!" keluhnya.
"Ada sebuah bintang merah tua yang tergantung rendah di Storm King.
Kuharap kau ada disini melihatnya bersamaku. Kalau kau ada di sini, aku
yakin ini lebih dari sekadar momen kepercayaan dan persahabatan."
__ADS_1
"12 Januari.
"Elizabeth Kecil mampir kemari dua malam yang lalu untuk bertanya
monster mengerikan macam apakah segel Paus itu. Sambil berlinang air
mata dia bercerita kalau gurunya menawarinya menyanyi di konser
sekolah, tetapi Mrs. Campbell berkata tegas "tidak". Sewaktu dia mencoba
memohon, Mrs. Campbell berkata, "Jadilah anak baik dan jangan
membantahku, Elizabeth."
"Elizabeth kecil melanjutkan tangisannya di kamar menaraku malam itu
dan berkata kejadian itu akan membuatnya menjadi Lizzie untuk
selamanya. Dia tak mau nama yang lainnya. "Minggu kemarin aku cinta
Tuhan, minggu ini tidak," katanya menantang.
Seluruh teman sekelasnya ikut serta dalam konser itu dan ia merasa
seperti "leopard". Kurasa maksud si kecil itu adalah seperti penderita lepra
dan itu mengerikan sekali. Elizabeth tersayang tak boleh merasa
dikucilkan seperti penderita lepra.
"Jadi, sore berikutnya, aku berkunjung ke The Evergreens. Si Pelayan
Wanita . . . yang mungkin saja hidup sejak sebelum zaman banjir Nuh,
karena dia terlihat begitu kuno ... memandangku dingin tanpa ekspresi,
mengantarku ke ruang duduk dan pergi memanggil Mrs. Campbell. Kurasa
sinar matahari tak pernah menjamah ruangan itu sejak rumah ini berdiri.
Ada sebuah piano, tapi kuyakin tak pernah disentuh. Kursi-kursi yang
keras, ditutupi dengan kain brokat disandarkan menempel tembok ...
SEMUA perabot menempel di dinding kecuali sebuah meja marmer besar
di tengah dan itu pun sepertinya tidak sepadan dengan perabotan lainnya.
"Mrs. Campbell pun datang. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
Wajahnya yang tua bergaris muka tegas, berkesan maskulin, dengan dua
mata hitam dan dua alis tebal di bawah rambut peraknya. Rupanya dia
mengenakan anting-anting batu onyx hitam yang menggantung hingga ke
bahu. Dia sangat sopan padaku dan kubalas dia sesopan mungkin. Kami
berbasa-basi tentang cuaca untuk beberapa saat ... seperti ungkapan
Tacitus beberapa ribu tahun lalu ... "dengan sikap sopan sesuai keadaan".
Kemudian kukatakan padanya terus terang kalau aku datang untuk
meminjam buku Memoar Pendeta James Wallace Campbell sebentar saja,
karena kudengar ada banyak kisah tentang sejarah awal Prince County di
buku itu yang ingin aku pergunakan untuk mengajar di sekolah.
"Mrs. Campbell melunak mendengar permintaanku dan memanggil
Elizabeth, menyuruh gadis kecil itu naik ke kamarnya dan membawakan
Memoar itu. Muka Elizabeth menunjukkan dia baru saja menangis dan
Mrs. Campbell menjelaskan bahwa guru Elizabeth mengiriminya surat
permohonan agar anak itu diperbolehkan menyanyi di konser, dan dia,
Mrs. Campbell, telah menulis balasan yang nyelekit, yang harus diberikan
Elizabeth ke gurunya besok.
"Aku tak setuju gadis seumuran Elizabeth bernyanyi di depan umum,"
kata Mrs. Campbell, "Itu cenderung membuat mereka jadi berani dan
lancang."
"Anda memang bijaksana Mrs. Campbell," kataku dengan suara yang
sangat serius. "Lagi pula, saya dengar Mabel Phillips akan menyanyi juga,
dan kabarnya suaranya sangat merdu dan mengalahkan semua anak lain.
Tidak disangkal lagi kalau LEBIH baik Elizabeth tidak menyainginya."
"Ekspresi wajah Mrs. Campbell saat mendengar kata-kataku itu sungguh
menarik untuk disaksikan. Dia mungkin seorang Campbell di luar, tapi di
dalam dia adalah seorang Pringle sejati. Namun, dia tidak mengatakan
__ADS_1
apa-apa, dan aku tahu kapan waktunya berhenti bicara. Aku berterima
kasih atas pinjaman bukunya dan pamit.
"Keesokan petangnya, sewaktu Elizabeth kecil datang ke gerbang untuk
mengambil susu, mukanya cerah bercahaya. Dia mengatakan Mrs.
Campbell mengizinkannya bernyanyi untuk konser esok hari.
"Begini, aku memanfaatkan kisah Rebecca Dew yang mengatakan
bahwa keluarga Phillip dan Campbell sejak dulu saling bersaing tentang
keluarga siapa yang punya suara paling merdu!
"Aku memberikan foto tentang Natal pada Elizabeth untuk digantung di
atas tempat tidurnya . . . gambar sebuah jalan setapak menuju rumah di
atas bukit. Elizabeth kecil berkata kalau dia tak takut lagi tidur dalam
gelap, karena begitu naik ke ranjang dia lalu membayangkan dirinya
berpura-pura sedang berjalan memasuki rumah itu. Di sana semua lampu
menyala dan ayahnya menunggu.
"Anak malang! Tak bisa tidak, aku ikut kesal pada ayahnya!"
"19 Januari.
"Ada acara dansa di malam terakhir Carry Pringle kemarin malam.
Katherine memakai sutra merah tua dan rambutnya ditata oleh seorang
penata rambut. Apa kau percaya, orang-orang yang sudah mengenalnya
semenjak dia datang mengajar di Summerside bertanya satu sama lain
siapakah gadis yang baru masuk ruangan itu.
"Sebelumnya, setiap kali dia bersama orang-orang, sikap Katherine
sepertinya selalu berkata, "Orang-orang ini membuatku bosan. Kurasa aku
juga membosankan mereka dan semoga saja itu benar." Tapi kemarin
malam seperti ada seseorang yang menghidupkan lilin di seluruh jendela
kehidupannya. Aku harus berusaha keras mendapatkan persahabatan
Katherine, tapi sesuatu yang berharga memang tak mudah didapat dan aku
selalu merasa persahabatan Katherine sangatlah berharga.
"Bibi Chatty demam selama dua hari dan berniat memanggil dokter
besok, kalau-kalau ia kena pneumonia. Jadi Rebecca Dew dengan handuk
terikat di kepalanya, mati-matian membersihkan seluruh rumah sepanjang
hari bersiap-siap menyambut kedatangan sang dokter. Sekarang dia ada di
dapur menyetrika baju katun Bibi Chatty dengan hiasan rajut di bagian
depannya, sehingga bisa langsung dipakai di atas gaun flanel-nya. Gaun
katun itu sebenarnya sudah bersih, tapi menurut Rebecca warnanya jadi
kusam karena terlalu lama disimpan di lemari."
"28 Januari.
"Januari selama ini menjadi bulan yang kelabu, dan kadang-kadang
badai datang bergulung-gulung di pelabuhan dan memenuhi Spook"s Lane
dengan butiran salju. Tapi kemarin malam cuaca terang dan hari ini
matahari bersinar cerah. Lembah hutan maple-ku menjelma menjadi
tempat penuh keajaiban. Bahkan tempat-tempat yang biasa pun terlihat
indah. Setiap pagar kawat terlihat seperti jalinan renda kristal.
"Malam ini Rebecca Dew menghabiskan waktu membaca salah satu
majalahku yang berisikan artikel tentang "Tipe-Tipe Wanita Cantik,"
dilengkapi dengan foto.
"Indah bukan, Miss Shirley, bila seseorang bisa mengibaskan tongkat
sihirnya dan membuat setiap orang cantik?" katanya serius. "Bagaimana ya
rasanya bila tiba-tiba mengetahui diriku berubah jadi cantik! Tapi" ...
tambahnya mendesah berat ... "bila kita semua cantik siapa yang kerja?""
***
__ADS_1