
🌼 Jangan lupa like dan comment ya 🌼
Sekolah Beauxbutton adalah sekolah asrama terelit, khusus untuk kalangan ningrat dan bangsawan. Katanya sih gedungnya sudah berdiri semenjak tahun 80-an. Apalagi sekolah yang terletak di Pulau Aladin membuatnya menjadi sekolah eksklusif. Pulau Aladin begitu disebut orang-orang, merupakan pulau yang terdiri dari 60-80 kepala keluarga, sebuah rumah sakit dan dua tempat ibadah. Di Lembah Hijau berdiri kokoh Beauxbutton.
Pulau ini memang termasuk pulau yang eksotik. Selain pemandangannya yang indah, ombak pantainya pun pas sekali untuk berselancar. Makanya banyak anak Beauxbutton khususnya para anak orang kaya yang datang ke pantai untuk berselancar saat sekolah libur, karena mereka hanya diperbolehkan keluar dari asrama hari Sabtu, Minggu dan hari libur.
Sekolah Beauxbutton ini terdiri dari sepuluh gedung utama. Ada gedung untuk murid SMP, SMA, dan jenjang kuliah. Makanya sekolah ini memiliki begitu banyak murid. Kebanyakan murid-murid sekolah di sini dari SMP.
Tapi mungkin tidak untuk Lucy. Entah kenapa ia merasa salah dimasukkan hingga harus kuliah di tempat seperti itu. Memang neneknya ada turunan ningrat, tapi itu kan neneknya! Lucy sudah tidak bisa apa-apa, harus rela melewati kehidupannya di sekolah yang bahkan tidak bisa ia eja.
Pagi ini Lucy sudah menyelesaikan piket Senin paginya bersama dengan Yeni, teman sekamarnya, membersihkan halaman depan gedung A. Menurut Yeni sih, hanya kalangan yang tidak benar-benar pure ningrat-lah yang akan selalu disuruh-suruh bersih-bersih. Sedangkan kalangan atas selalu diistimewakan. Bahkan Lucy melihat sendiri kalau kamar mereka lebih luas dan lengkap dibandingkan kamarnya yang isinya hanya ranjang, lemari dan TV usang!
Lucy menghela nafas. “Akhirnya beres juga. Udah yu ah, kita sarapan aja…”
Yeni juga mengangguk.
Namun baru mereka akan pergi, Madame Rosita, guru yang menurut Lucy sok berkuasa dan selalu menindas kaum lemah tapi menjilat kaki kaum ningrat, berdiri berkacak pinggang di hadapan mereka berdua.
“Pa-pagi, Madame…” gumam Lucy dan Yeni setengah gugup walau mereka tau mereka tidak melakukan kesalahan.
“Piketnya sudah?” tanya beliau dengan kacamatanya yang berkilat cahaya matahari itu.
“Sudah…” jawab Lucy berani. Ia lapar dan malas diajak basa basi.
Madame Rosita melirik figura besar yang terpajang di dekat pintu, foto para siswa keluarga Jhansen Wijaya yang sekolah di asrama ini. “Tapi kelihatannya foto itu belum kalian lap. Cepat kalian lap sampai mengkilap, jangan sampai ada noda yang bersisa.”
Lucy menatap Madame tak percaya. Itu bahkan bukan salah satu tugas piketnya! Yeni langsung menarik lengan Lucy sebelum Lucy mencak-mencak tak jelas. Lucy pun dibawa pergi oleh Yeni untuk membersihkan figura besar itu.
“Keluarga Jhansen Wijaya…” Lucy mengeja tulisan yang berada di atas figura foto. Dan di figura itu ada empat belas anak lelaki dan satu anak perempuan. “Mereka emang siapa sih? Kenapa fotonya terpampang di sini?”
Yeni tertawa kecil, “Lucy memang polos. Mungkin karena Lucy baru kuliah di sini sementara aku dan yang lainnya sudah sejak SMP di sini makanya kami tau kalau keluarga Jhansen Wijaya adalah salah satu keluarga yang dihormati di kalangan ningrat dan bangsawan.” Yeni melap bingkai itu dengan hati-hati, “Lima belas putra putri Jhansen Wijaya bersekolah di sini. Ada yang masih SMP, SMU, tapi kebanyakan sudah pada kuliah…”
“Oohh…” Lucy memperhatikan wajah-wajah dalam foto satu per satu. “Cakep-cakep ya…”
Yeni tertawa lagi, “Makanya ga heran banyak banget penggemar mereka di sekolah ini. Apalagi mereka anak konglomerat dan ibu bapak mereka penyumbang terbesar untuk sekolah ini…”
Lucy tersenyum kecut. 'Pantas Madame Rosita ingin foto ini mengkilap tanpa noda. Cih!'
Lucy memperhatikan wajah satu-satunya wanita dalam foto itu. Wajahnya dingin tapi over all she’s beautiful.
“Yen, Yen, lihat… hidung orang ini gede banget ya…” Lucy menunjuk lubang hidung salah seorang Jhansen Wijaya dengan lap.
“Ih, Lucy, jangan ngomong gitu ah…”
“Tapi emang bener kan?”
“Dia Jack…. Dia tampan kan?”
“Jack? Nama yang aneh… Tapi ya-ya dia lumayan.”
“Dia sering dipanggil Prince Jack…” ucap Yeni tersipu.
“Prince Jack?” Lucy entah harus tertawa atau apa. Tapi akan dia ingat baik-baik nama orang ini dan …. lubang hidungnya yang besar. Hahaha.
.
__ADS_1
.
'Akhirnya sarapan juga', batin Lucy. Dia lapar banget. Dan ternyata aula ruang makan sudah penuh.
“Ayo, Yen, buruan kita makan, tar malah ga kebagian lagi…”
Yeni tersenyum. “Duluan aja.. Aku mending cari tempat duduk dulu.”
“Oke deh kalo gitu…” Lucy pun sibuk mengantri makanan dengan antrian yang sangat-sangat panjang, yeah hanya untuk kalangan non pure ningrat. Untuk kalangan seperti Jhansen Wijaya, ada pelayan khusus yang siap melayani sehingga mereka bahkan tak perlu beranjak sedikit pun. Huh.
Setelah mengambil dua paha ayam, satu sayap bebek, porsi nasi dobel dan dua roti panggang, Lucy menyisih dari antrean. Dia tak peduli dicela oleh beberapa orang karena RAKUS, toh dia mengambil sebanyak ini kan untuk berbagi pada Yeni juga.
“Ikh, Kakak itu makannya rakus juga ya…” celetuk seorang cowok SMP keras-keras.
“Baru makan enak kali…” sahut temannya yang berambut cepak.
Lucy mendelik, “Kalian ngomong apa barusan hah? Siapa yang rakus? Kakak kan mau makan berdua“
“Idih, ternyata Kakak ini lagi hamil ya…” ucap cowok berambut cepak, “Ya udah makan aja sana yang banyak. Hihihi…”
Dua anak itu malah tertawa terbahak-bahak dengan puasnya.
'Dasar anak-anak sarap'. Lucy ingat betul dua wajah cengengesan di hadapannya ini persis dengan figura foto yang tadi dia bersihkan. 'Ya, ya ya ternyata dua anak nakal ini Jhansen Wijaya. Aaarrgghh.'
“Ni deh, Kak, kami baik kok apalagi kan Kakak lagi hamil…” ucap cowok bertubuh pendek, “Jadi dengan senang hati kami berikan makanan kami untuk Kakak.”
Dua anak bengal itu malah menumpahkan es krim mereka ke atas baju Lucy. Lucy bahkan hanya bisa bengong melihat baju seragamnya ketumpahan es krim.
“Kalian…….” geram Lucy dengan tangan terkepal panas. Dua bocah itu langsung terbirit keluar dari aula. Lucy meletakkan makanannya dan mengejar dua bocah nakal itu. Dia takkan puas sebelum benar-benar sudah member pelajaran pada dua anak yang tak punya sopan santun itu.
'Kurang ajar.'
Untung karena jalannya buntu, dua anak itu tidak bisa kemana-mana dan Lucy langsung menjawil telinga dua anak itu. “Dasar anak-anak ga tau adat. Kalian kira kalian siapa, hah?”
“LUCY SHIREN MOCHTAR!! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA MEREKA?”
Lucy yang nama lengkapnya disebut dengan bentakan itu langsung menoleh tersetrum. Tentu saja ia mengenal suara ini. Ia langsung melepas dua telinga dua bocah nakal itu. “Ma-Madame Rosita…” Lucy menenggak ludahnya dalam-dalam.
“Kalian bertiga ikut ke kantor saya. SEKARANG!”
Suara tak tik tuk sepatu runcing guru itu berjalan menjauh, minta diikuti. Lucy terpaksa ikut, dia merasa ada dalam masalah besar tapi dua bocah ini terlihat nyantai, mereka malah meniru gerak-gerik Madame Rosita.
Setelah pertama kalinya masuk ke dalam ruangan Madame Rosita yang wangi melatinya menyengat minta ampun, Lucy mendapat kesan kalau ia bahkan tak mau balik lagi ke sini, saking nyentriknya.
“Jadi apa yang Lucy lakukan pada kalian, Sayang?” tanya Madame Rosita terlihat lunak pada dua bocah SMP itu.
“Dia siksa kami, Madame…” ucap si cepak menahan tawa, “Dia menyuruh kami makan tanah ganti sarapan kami…”
“Itu bohong!” lolong Lucy cepat dengan nafas yang amburadul. Fitnah macam apa pula yang ia terima sekarang dengan Madame Rosita sebagai pemberi sanksinya? Oh no!!
“Kamu diam dulu, Lucy…” gertak Madame.
“Patrick bohong, Madame…” ujar cowok bertubuh pendek.
Lucy langsung bernafas lega. Sepertinya anak yang satu ini lebih jujur.
__ADS_1
Cowok bertubuh pendek itu melanjutkan, “Dia tidak menyiksa kami, dia memeras kami. Dan kalau kami menolak, kami akan dia pukul dengan lidi yang panjang.”
Mulut Lucy menganga. Bahkan tak ada satu pun yang berotak beres dari dua anak ini.
“Lo gimana sih, Vin!” bisik Patrick namun masih bisa didengar Lucy dan Madame Rosita, “Yang bertugas ngarang cerita kan aku bukan kamu!”
“Habisnya cerita kamu slalu itu mulu! Ga seru!”
Sementara dua bocah itu bertengkar dengan bisikan yang dapat didengar, Madame Rosita menghela nafas sambil memandang Lucy.
“Patrick, Kevin…” ucap Madame dengan agak keras, menengahi. “Sebaiknya kalian bersiap-siap dengan pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.”
Patrick dan Kevin bangkit berdiri. Lucy juga ikut-ikutan.
“Lucy Shiren…” panggil Madame.
“Iya…?” Lucy menoleh gugup.
“Jangan lupa nanti sore kamu bersihkan pekarangan gedung A. Anggap ini hanya hukuman ringan perbuatanmu…”
Lucy mengangguk namun mendengus dalam hati. 'Ya ya ya, semua orang pasti akan membela Jhansen Wijaya. Bagaimana nasib bangsa ini kalau dipimpin oleh salah satu dari mereka? Hih.'
Dan Lucy bahkan tak sempat sarapan karena bel masuk sekolah yang sudah berbunyi dengan nyaring. Dengan cepat Lucy mengambil perlengkapan laboratoriumnya karena hari ini dia akan mengikuti pelajaran kimia. Dan berhubung ini pertemuan pertama, maka Lucy tak mau ambil resiko terlambat.
Lucy yang sudah memakai jas labnya (sedikit asal, yang penting noda es krim tak terlihat) mengetuk pintu dengan keras-keras.
“Ikut kuliah ini?” tanya Mrs Elena yang merupakan dosennya di mata kuliah ini.
Lucy mengangguk mantap.
“Kalau begitu cepat cari tempat duduk kamu karena tadi saya baru diberitahukan oleh petugas lab kalau kapasitas ruangan ini 30 sedangkan yang mengontrak kuliah saya sekitar 45 orang. Jadi mungkin orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk akan saya eliminasi…”
Lucy mengangguk dan cepat-cepat mencari tempat duduk, berharap dengan sangat, dia kebagian tempat duduk. Dan untungnya ada bangku kosong di sebelah cowok. Tak apalah daripada tidak sama sekali.
Di lab ini terdiri dari dua baris yang tiap baris terdiri dari beberapa meja lab. Dan tiap meja lab terdiri dari dua bangku.
Lucy duduk sambil tersenyum sopan pada orang ganteng di sebelahnya. Raut mukanya dingin, rambutnya hitam legam, alis mata tebal dan gayanya tenang.
'Wow… aku baru liat dia deh… Di kelas-kelas lain kayaknya ga liat… Paling aku kenal sama Thomas, Yeni atau Wulan… tapi sama orang ini baru liat. Dia anak baru ya?'
Mrs Elena pun mulai mengabsen tiap siswa. Lucy dipanggil begitu pula dengan yang lainnya. Lucy jadi penasaran kapan sih cowok ini diabsen? Dia pengen tau nama pria itu.
“Moreno Christopher Jhansen Wijaya…” panggil Mrs Elena.
Lucy sedikit tersedak. Dia sekelas dengan anak Jhansen Wijaya. 'Siapa? Siapa? Yang mana?'
Di saat Lucy menoleh kesana kemari, ia kemudian hanya bisa bengong parah saat cowok di sebelahnya yang mengacung.
'Te-ternyata… dia… Jhansen Wijaya?!!'
-lucy
🌼 kalau suka silakan lanjut baca🤗 jangan lupa like, comment dan vote ya 🌼
__ADS_1