Apel Merah

Apel Merah
Kejutan


__ADS_3

Lucy duduk di atas tempat tidurnya dengan resah. Sudah seminggu dia kuliah Semester 2 tapi sudah sudah seminggu pula ia tidak berjumpa dengan Chris (mana cowok itu tidak kuliah di kelas regular lagi). Lucy kangen, walau ia sangat malu untuk mengakuinya. Mengingat kejadian Sani menghina-hinanya dan bilang kalau dia dan Chris sudah putus, Lucy makin penasaran saja. Saat ini Lucy sedang menimang-nimang, baiknya menelepon Chris saja atau bagaimana ya…


Akhirnya Lucy memantapkan hati untuk menelepon Chris.


Lama tak dijawab. Lucy jadi heran sendiri, apa jangan-jangan Chris memang tidak mau mengangkat teleponnya ya? Tapi kenapa?


“Halo?” tanya dari seberang mengagetkan Lucy. Tapi anehnya itu bukan suara Chris, entah siapa.


“Ha-halo… Chris mana ya?” tanya Lucy tegang.


“Chris? Oh, maksud lo Moreno!!” Terdengar suara tawa banyak orang di seberang. membuat Lucy makin bertanya-tanya sebenarnya ada apa. “Dia lagi ke toilet, Lucy…”


“Ini siapa ya?”


“Ini Doni, sepupu Moreno…”


Terdengar suara gumaman yang kurang jelas bagi Lucy, kemudian telepon diambil alih oleh Jordan.


“Halo, Lucy… Ini Jordan…”


Lucy makin panas dingin.


'Jangan bilang kalo kasus ini sama dengan kasusnya dengan Arnold, walau yah Lucy percaya kalau mereka udah pada tobat.'


“Kalian dimana sih? Kok kayanya ramai banget…”


“Kami lagi di kamar Moreno kok… Biasa, rapat rahasia Jhansen Wijaya…”


Lucy mengangkat salah satu alisnya. 'Hah?'


“Kalo penasaran besok aja deh… Datang ya ke acara kami… Dijamin akan ngebuat lo bahagia banget!!”


“Eh, apaan…?” Lucy makin ga ngerti saja.


“Udah ya…” gumam Jordan cepat, “Moreno udah keluar dari toilet…”

__ADS_1


“Eh bentar… gue mau ngomong ma dia…” ucap Lucy buru-buru yang langsung dijawab dengan ‘tut’ panjang. Lucy dongkol dengan tingkah Jordan. Ia pun berusaha menelepon lagi namun tidak diangkat juga oleh Chris.


'Kenapa ga dia angkat? Dia kan udah keluar dari toilet?? Kenapa dia malah menghindar? Dia udah putus kan dari Sani??


Ukhh… Chris…'


****


Lucy berjalan sendiri, lesu. Dia benar-benar merasa kesepian sekarang. Chris… entah kemana, seperti menghindar. Sebenernya ada apa sih dengan dia? Saking merasa kesepian tidak punya temen mengobrol, Lucy sampai berharap kalau sepupu Chris muncul dan mengajaknya mengobrol pun, Lucy akan langsung senang. Bahkan orang macam Farel, Jordan ataupun Diraz, akan diterima baik oleh Lucy.


'Hhhh…'


Tiba-tiba seseorang dari belakang menutup kedua matanya.


“Eh, siapa?” tanya Lucy berusaha melepaskan tangan itu dari matanya.


Tak ada suara.


Jantung Lucy berdebar kencang. C


'hris? Ini pasti Chris kan?? '


Tangan yang menutup matanya itu langsung menjauh. Lucy menoleh ke belakang dan melihat Diraz yang nyengir gugup. Di belakangnya bahkan ada Farel yang berekspresi datar, juga setengah jijik pada kenorak-an sepupunya itu. Lucy tersenyum kaku, ternyata bukan Chris…


“Kok Chris sih?” tanya Diraz mengkel, “Kan yang nutup mata lo gue…”


Lucy hanya terkekeh hambar, “Harusnya lo ngomong sesuatu, ngasih klu…”


Diraz mendengus, “Huh, mikirin dia mulu… Gue mana ada kesempatan…”


Lucy hanya tertawa garing walau dengan jelas ia melihat muka Diraz yang keliatan patah hati.


“Udahlah…” ucap Farel tiba-tiba, “Jangan main-main terus, Raz…” Farel maju mendekat. Ia memegang telapak tangan Lucy. Dan yang dilakukan cowok itu selanjutnya sungguh di luar dugaan Lucy dan Diraz. Farel setengah berlutut, bak pangeran yang hendak menyatakan cinta.


Lucy sampai tercengang luar biasa, dan Diraz sudah mau memuntahi muka Farel.

__ADS_1


“Lo sendiri main-main…” tukas Diraz sebal abis.


“Ini beda, Raz…” Farel nyengir boyish, “Dia kan bagian dari keluarga gue…”


'Ihhh…'


Kali ini Lucy yang ingin muntah. Maksud cowok ini apa coba? Berniat untuk melamarnya atau apa? Menyebalkan.


Farel tersenyum dan menatap Lucy. “Kami akan bawa lo ke suatu tempat…”


“Ke-kemana?” tanya Lucy masih gugup dengan tindakan Farel barusan.


“Pokoknya ikut aja…” ucap Diraz, kali ini dia yang menarik Lucy untuk pergi.


Lucy hanya bisa terbengong saja mengikuti 2 cowok itu yang entah hendak membawanya kemana. “Kita mau kemana sih?”


“Ke aula Beauxbutton…” jawab Farel.


“Hah?” Lucy bengong. Dia baru sekali masuk ke aula Beauxbutton dan itu pun saat penyambutan angkatan baru. Dan kali ini Farel dan Diraz mau mengajaknya ke sana? 'Ngapain?'


Mereka bertiga berjalan sampai ke Gedung E, dari sana berbelok ke gedung kecil yang terpisah. Itulah aula Beauxbutton.


Betapa tercengangnya Lucy saat ia melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu aula. Lucy sampai menutup mulutnya.


'Arnold Atlanta?'


Arnold tersenyum. Dia masih sama seperti dulu. Arnold yang pernah dikenal Lucy. “Hai…”


Lucy tersenyum namun makin heran juga, sebenernya ada apa sih ini? “Kenapa ga bilang kalo udah pulang?”


Arnold tersenyum. “Pertanyaannya simpan dulu ya… Ada yang lebih penting daripada itu saat ini…”


Arnold memegang tangan Lucy dan dengan tangan yang lain, ia membuka pintu aula......


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2