
Terdengar suara mobil di luar sore itu jam tiga lewat lima menit. Lucy yang sejak tadi duduk resah di sofa langsung melompat bangun dan melihat ke luar jendela. Chris keluar dari taksi. Sedikit jengkel juga kenapa cowok itu datang jam segini. Kemarin sih Lucy sudah memberikan alamat rumahnya dengan lengkap tapi kenapa Chris datang kesiangan begini?
“Hai…” sapa Chris ramah saat Lucy membuka pintu tepat sebelum dia membunyikan bel.
Lucy cemberut. “Kok datang jam segini? Aku tunggu dari tadi sampai aku ga makan siang, nunggu kamu datang…”
“Hah?” Chris terbengong sesaat. Jadi Lucy belum makan siang karena menunggunya supaya bisa makan siang bareng? Chris jadi merasa bersalah. Tadi ada acara keluarga Elgenski (biasa party cewek) dan Chris sudah makan siang. “Maaf ya… kamu jadi nunggu lama…”
Lucy berangsur-angsur mulai tersenyum. “Ga apa-apa. Yuk makan…”
Chris menyerahkan sebuah bungkusan pada Lucy.
“Apa nih?”
“Sup buah… Tadi aku kebetulan liat, ya langsung dibeli deh.”
Lucy tersenyum lalu mengajak Chris langsung ke ruang makan. Di sana sudah tersaji masakan yang dimasak sendiri oleh Lucy.
“Ni aku yang masak lho…”
“Oh ya?” Chris duduk di hadapan Lucy, mengamati cewek itu. Dia bahkan sampai sengaja masak? Buatku? Chris benar-benar tak mengerti dengan perhatian cewek ini. Arnold gimana? Mereka putus? Masa sih?
Chris pun akhirnya makan lagi, ga enak kalau bilang sebenernya dia sudah makan di rumah Sani dan kenyang luar biasa. Tapi mengingat kalau Lucy sampai sengaja masak untuknya dan menunggunya sampai jam 3 begini, Chris jadi ga tega.
Lucy melirik Chris yang makan sedikit itu. Apa orang kaya memang makan sedikit begitu ya? Lucy mengambil ikan goreng dan meletakkannya di piring Chris. “Makan tuh… Enak lho…”
Chris mengangguk dan tersenyum. Semua yang dilakukan Lucy hari ini membuatnya merasa spesial. “Keluarga kamu mana? Kok sepi.”
“Papa kerja, dia pegawai negeri, tapi biasanya pulang malam. Mama juga kerja sebagai pegawai bank. Adikku les…”
“Adik? Kamu punya adik?”
“Yap. Namanya Fara, masih kelas 2 SMP…” Lucy tersenyum tipis, “Aku juga kaget lho saat tau Kevin tuh adik kamu…”
Chris terkekeh. “Waktu darmawisata ke gunung aku mau bilang… tapi ga berani, soalnya kamu keliatan sebel banget sama Kevin…”
__ADS_1
Lucy terkekeh sumbang. “Tapi untung mereka udah jarang bikin ulah lagi…”
“Yeah… Mereka lagi sibuk-sibuknya di klub basket sekolah.”
Setelah selesai makan, Lucy menghidangkan sup buah yang dibawa Chris dalam mangkuk besar. Lucy sih langsung tergiur dan langsung menyendokkannya ke mangkuk kecil untuknya. Setelah menikmati 2 sendok, Lucy menoleh, melihat Chris tidak bergeming, tidak mau mencicipi sup buah yang ia bawa sendiri.
“Kenapa?” tanya Lucy heran.
“Ng…” Chris terlihat polos, “Ternyata ga ada apelnya…”
“Oh!” Lucy langsung bangkit berdiri dan menuju kulkas, “Semoga aja masih ada…” Lucy langsung bergumam senang saat melihat masih ada beberapa apel merah di kulkas. Lucy mencuci apel itu hingga bersih dan memotongnya kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Lucy tersenyum pada Chris dan meletakkan mangkuk itu di dapan cowok itu. “Nih… apel kesukaanmu… Pake air susu dari sup buah aja, pasti makin nikmat, Mister…”
Chris terkekeh. “Thanks…”
Makan siang pun berakhir dengan perut yang sudah terisi penuh (apalagi Chris). Sementara Lucy beres-beres piring kotor, Chris pergi ke ruang tamu. Sebenernya dari tadi dia sangat tertarik dengan foto-foto yang begitu banyak terpajang di sana. Walau memang ruang tamu rumahnya 5 kali lebih besar tapi di dindingnya tak ada foto keluarga. Kebanyakan lukisan mahal, koleksi Mamanya.
Chris tertawa sendiri melihat Lucy saat kecil, mungkin masih berumur 3 tahun. Lucy memegang boneka sambil cemberut. Ada juga foto Lucy dan adiknya di depan Twins Tower, Kuala Lumpur.
“Hei, lagi liat apa?”
Lucy hanya tertawa pelan. Dia menunjuk foto lain, foto dirinya yang masih 9 tahun, memegang senapan dengan rambut pendek dan memakai kaos dan celana pendek, persis laki-laki.
Chris langsung melotot melihat foto itu. “Itu kamu?”
“Iya…”
Chris menatap Lucy tak percaya. Baginya saat ini Lucy tidak terlihat tomboy, walau memang ga feminism seperti Sani juga. Dan yang membuatnya paling tercengang karena si kecil Lucy memegang senapan. Uh-wow. “Kamu bisa nembak?”
Lucy menahan tawa melihat wajah Chris. “Eyangku yang ngajarin sejak umur 8 tahun. Eyangku itu beda dari orangtua kebanyakan. Beliau justru ingin aku tomboy seperti lelaki, bisa menembak. Tapi untunglah saat umur 15 aku berhenti diajari Eyang dan Mama langsung mengganti semua bajuku yang kecowok-cowokan menjadi cewek banget.”
Chris geleng-geleng. “Kamu tau ga di Beauxbutton ada arena tembak?”
“Tau dong. Arnold beberapa kali mengajakku kesana.”
“Oh…” Chris lesu juga denger nama Arnold masih disebut. Dan Lucy pasti seneng banget saat dibawa sepupunya itu ke arena tembakterlihat dari muka Lucy sekarang, berbinar.
__ADS_1
“Kamu tau ga, Chris, waktu Arnold ditahan di pacuan kuda dan aku kesana, Jordan nyuruh aku tanding tembak kelelawar, lawan Diraz. Kalo aku menang, Arnold dibebasin tapi kalo aku kalah… aku dipukul 10 cambukan.”
“Apa?” Chris menatap Lucy lekat-lekat. Mereka berdua kini sudah duduk di sofa. “Trus?” Chris tahu kalau Diraz jago banget dalam hal nembak.
“Aku menang dong!” Lucy tersenyum sambil meleletkan lidah. Namun mukanya langsung kelam. “Tapi Jordan ga nepatin kata-katanya. Dia nyuruh Danil bawa aku keluar dan dia malah nyambuk Arnold 10 kali.”
Chris melihat di mata Lucy ada kesedihan dan mungkin luka. Dia pasti menangis saat itu… Cinta kan?
“Tapi untungnya Arnold ga kenapa-napa.”
Lucy mengangguk. Ia menoleh memandang wajah Chris. “Chris, kamu tau ga. kalau aku dan Arnold udah putus…”
“Hah?” Chris tercengang bukan main.
“Iya… aku diputusin…”
“Apa?” Chris makin bingung. Setaunya Arnold mencintai Lucy karena dari sikapnya yang terlihat ga suka saat Chris mengobrol berdua dengan Lucy.
Lucy angkat bahu, memandang wajah Chris lagi. Aku diputusin karena dia tau perasaanku hanya untuk kamu…
Chris menelan ludah. Lucy sudah putus dari Arnold?? Jadi…
Chris kembali ingat dengan perhatian Lucy selama ini.
Apa artinya… aku dan dia…?
Jantung Chris langsung tertohok sangat ingat sesuatu.
Tapi... Sani… Aku dan Sani…
Chris yang tadinya sudah bahagia langsung murung.
Lucy memperhatikan perubahan wajah cowok itu. Sekarang… aku hanya tinggal menunggu kamu… Kalau kamu serius… maka kamu dan Sani….
__ADS_1