Apel Merah

Apel Merah
Diraz Pieter JW


__ADS_3

Lucy menghela nafas saat keluar dari ruang kuliahnya. Kenapa makin lama kuliah makin sulit ya? Atau mungkin tidak, dia saja yang tidak pernah belajar. Lucy sudah bertekat ia akan meningkatkan jam belajarnya, kan bentar lagi UAS. Dia melakukan semua ini karena ingat kalau dia tidak boleh menyia-nyiakan kuliahnya. Dia ingin sekali lulus cepat dan menjadi psikolog. Lucy tidak pernah habis pikir dengan orang-orang ningrat, kapan mereka belajar, kalau kerjanya ke pacuan kuda, arena tembak, ngobrol, atau bahkan dugem? Lucy memantapkan hatinya kalau dia akan menjaga masa mudanya baik-baik, tidak melakukan yang aneh-aneh dan tidak menjerumuskan dirinya ke lubang hitam yang dari luar tampak nikmat.


Sedang bengong seperti itu di lorong, dia melihat Diraz, sepupu Chris yang wajahnya tampan namun jutek itu. Diraz tak sengaja ditubruk oleh seorang cewek yang jalannya timpang sejak lahir. Dua buku yang dipegang Diraz langsung terjatuh.


“Lo punya mata ga sih?” ketus Diraz bener-bener kesel.


“Ma-maaf…” ujar cewek itu, takut karena tau orang satu ini adalah Jhansen Wijaya. Cewek itu langsung berjongkok, membereskan buku Diraz dan beberapa kertas yang tercecer.


Diraz memandang cewek timpang itu sebelah mata. Dia menendang kaki cewek itu persis di timpangnya. Cewek itu hanya meringis namun tidak protes.


Lucy jengkeeel sekali melihat pemandangan itu. Apalagi orang sekitar kelihatan tidak peduli.


“Kalau timpang ngapain sekolah di sini?” ejek Diraz berdiri dengan angkuh, menunggu bukunya selesai dibereskan, “Ini sekolah untuk orang normal bukan orang cacat…”


Dengan kejengkelan super duper, Lucy mendekati cowok sombong itu. Baginya kata-kata Diraz tidak pantas sama sekali. Sekalipun Beauxbutton adalah sekolah elite namun tak pernah ada peraturan yang melarang orang timpang untuk belajar di sini. Dan lagipula, orang macam Diraz menurut Lucy harus ditegur dan diberi pelajaran sesekali. Kaya bukan berarti mereka bisa membeli harga diri orang lain kan?


Diraz memandang aneh cewek yang ia tau sebagai pacar Arnold karena pernah melihatnya di pondok pacuan kuda. Mau apa cewek ini?batinnya.


Lucy balas menatap dengan galak. “Lo ga boleh memperlakukan dia seperti itu. Lo harus ingat lo juga manusia biasa, sama kayak dia, punya hak…”


Diraz mengernyit heran. Namun dia malah tersenyum kecil, mengejek.

__ADS_1


“Lo pikir ini masalah sepele? Kalo nyokap lo yang diperlakukan seperti ini, apa yang bakal lo lakuin? Atau ga pernah gitu terbayang kalo cara bersosialisasi lo ini udah menyimpang?”


Diraz tersinggung dengan kata-kata Lucy. Dia tau maksud cewek ini ke arah mana. Diraz mengakui kalau dia berlaku kasar pada orang-rang kecil dan lemah karena ia beranggapan mereka pantas menerima itu lantaran mereka malas, ga kerja, sehingga berada di strata bawah. Diraz memang tidak pernah diajari menghargai orang lain. Buktinya ia bahkan tak pernah menghargai dirinya sendiri. “Lo…” ucapnya dingin sambil mencengkram kedua pipi Lucy “Lo terlalu banyak omong…” Diraz memutar matanya, melihat sekeliling mulai terlalu ‘ramai’, seolah mereka adalah tontonan seru. “Lain kali gue kasih lo pelajaran… ga peduli sekalipun lo pacar Arnold…” Diraz langsung pergi, mendorong tubuh Lucy.


Kaki Lucy lemas. Tadi dia tidak salah dengar kan? Kenapa Diraz bawa-bawa Arnold? Dan Arnold kenal Diraz darimana? Orang berbahaya seperti itu kenapa dikenal Arnold??


“Lucy?”


Lucy menoleh, melihat Chris berjongkok di sampingnya. Pemandangan yang akhir-akhir ini disukai Lucy. Cowok itu terlihat khawatir.


“Tadi ada apa?” Chris melihat dengan gamblang apa yang baru saja dilakukan Diraz pada Lucy.


Cewek itu menggumam terimakasih lalu pergi.


Chris menatap Lucy lekat-lekat. Dia tidak habis pikir kenapa Lucy selalu berurusan dengan para sepupunya? Kalau Arnold, dia tidak keberatan, tapi Diraz? Jack? Dan Chris hanya berharap Lucy juga tidak berhadapan dengan Jordan, abangnya Arnold atau bahkan Farel, abangnya sendiri. “Kamu harus jaga diri…”


“Dia bisa jaga diri selama ada gue…” potong seseorang yang muncul tiba-tiba. Arnold. Cowok itu memandang Chris tajam. Kenapa sepupunya ini masih mendekati pacarnya? Arnold melirik ke belakang, melihat punggung Diraz yang makin menjauh, “Ada apa?”


“Ga ada apa-apa…” sahut Lucy berdiri.


“Ceritakan di tempat biasa….” Arnold langsung menarik Lucy meninggalkan Chris dan tempat itu. Chris hanya bisa terbengong melihat sikap Arnold padanya.

__ADS_1


Lucy hanya tersenyum tipis, menoleh ke belakang pada Chris yang berdiri terpaku disana.


*****


Diraz memotong-motong apel merah dengan tak beraturan. Ia memainkan pisau ke apel itu sampai apel itu hancur. Sementara di mejanya para Jhansen Wijaya yang lain sedang makan malam, Diraz malah memainkan pisau. Ia melirik ke meja lain, yang jauh dari mejanya. Di sana ada Arnold dan Lucycewek yang pernah menasihatinya tanpa alasan. Sebenarnya saat itu Diraz mulai memikirkan kata-kata Lucy. Entah kenapa ia mulai sadar kalau memang yang ia lakukan salah, misalnya dengan menghina orang miskin atau orang lemah. Namun, darah Jhansen Wijaya sudah mengalir kental di tubuhnya, darah yang mengajarkannya untuk menjadi pemimpin dan penguasa, menindas orang lemah. Terjadi perang batin. Yang satu setuju pada kata-kata Lucy sedangkan yang satu lagi ngotot bahwa dia punya wewenang untuk bertindak seenaknya.


Diraz memperhatikan Lucy yang sedang tertawa. Seandainya ia tau lebih banyak tentang cewek itu…


“Diraz, lo ga makan?” tanya Jordan yang duduk di sebelahnya.


“Ng? Gue ga laper…” jawabnya, masih memainkan pisau.


“Adek gue mana sih?” tanya Jordan, “Dia ga makan?”


Diraz malas menjawab kalau selama ini Arnold memang seringnya makan dengan pacarnya itu. Tapi ada yang mengganjal, jadi Jordan sama sekali ga tau kalau Arnold punya pacar? Kenapa? Diraz bertanya-tanya apa jadinya kalau Jordan tau? Diraz kembali memperhatikan Lucy. 'Cewek itu… Apa bener dia dari kalangan atas? Dan Arnold… kenapa dia ga kasih tau Jordan??'


Diraz melirik pada Jordan, sepupu sekaligus sahabat dan teman sepermainannya. Diraz tertarik untuk memberitahukan kalau adiknya itu sudah punya pacar. Tapi Diraz tahan. Dia takut salah arti, bisa jadi kan Lucy memang dari kalangan atas? Tapi kalau bukan… matilah dia… juga Arnold.



-diraz

__ADS_1


__ADS_2