Apel Merah

Apel Merah
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Lucy duduk lelah di tempat tidurnya. Capek sekali kuliah hari ini. Arnold pun tidak bisa bertemu dengannya karena kuliah yang padat sampai malam. Lucy sampai bingung, sebenernya kuliah macam apa sih yang dijalani Arnold? Kadang bisa bermain seharian tapi bisa juga seperti hari ini.


Tiba-tiba Lucy teringat pada Chris. Dia melirik jam. Sebentar lagi waktu minum teh. Lucy langsung bangkit berdiri meninggalkan kamarnya. Dia ke dapur, berniat membuat pai apel untuk Chris. Entahlah tapi rasanya cowok itu pasti kesepian…


Tepat pada waktu minum teh, Lucy mengetuk ruang rekreasi Chris. Betapa terkejutnya cowok itu saat membuka pintu ternyata Lucy tersenyum padanya.


“Hai…” sapa Lucy, “Boleh masuk?”


Chris mengangguk. Mereka pun masuk dan duduk berhadapan di sofa.


“Nih…” Lucy meletakkan tempat yang berisi pai apel di atas meja.


“Apa itu?” tanya Chris.


“Pai apel… Suka apel kan? Nih, sengaja aku bikin buat waktu minum teh kamu.”


Chris hanya bisa tercengang. Cewek ini sengaja datang untuk memberikannya pai apel?? Wow, Chris sampai terus-terusan tersenyum.


Mereka pun minum teh sambil memakan pai apel yang dibuat oleh Lucy.


“Mmhh… enak…” gumam Chris, “Kamu pinter masak ya…”


“Diajarin Mama… Hehehe..”


“Di Beauxbutton mana pernah nyediain pai apel…”


“Yeah… Mama tuh sengaja ngajarin aku masak beginian supaya saat di Beauxbutton, aku bisa masak sendiri buat camilan…”


Chris tersenyum. Dia kenyang sekali sore ini. Dan bahagia.

__ADS_1


Lucy menatap Chris lurus-lurus. “Mana sepupumu yang lain? Apa mereka ga pernah kesini?”


Chris tersenyum tipis. “Mereka mana mau kesini.”


“Hah?”


Chris menunduk. “Aku selalu diejek boneka Papa sama mereka… Jadi mereka ga mungkin kesini.”


Lucy mengernyit, ga ngerti sama sekali.


“Itu ejekan yang dikasih Farel, abangku…”


Lucy setengah melotot. 'Jadi Farel, si Bodoh nomor 3 adalah abangnya?!!'


“Kamu mungkin gak tau… Aku ini selalu menuruti setiap perkataan Papa… Mungkin keliatannya seperti anak baik tapi nyatanya engga. Saking nurutnya, aku sampai mau hidupku diatur sekehendak Papa…” Chris tersenyum lemah pada Lucy, “Bahkan… aku mau dijodohin dengan wanita yang ga aku cintai…”


“Sani… Aku dijodohin sama dia…”


Lucy tak percaya. Ia sampai membekap mulutnya. Jadi Chris dijodohkan dengan Sani dan bahkan Chris sama sekali tidak menyukai wanita cantik itu?? “Te-terus…” kata Lucy tergagap, “Kenapa kamu mau kalau kamu ga cinta?”


Chris mendengus. “Kan aku udah bilang… Aku hanya boneka Papa… akan selalu nurut… walau akhirnya aku mengecap getahnya… kehilangan cewek yang aku suka…” Chris menatap Lucy sungguh-sungguh.


Lucy benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran cowok ini. Lucy tau betultanpa berusaha GRkalau yang disukai Chris adalah dirinya. Mengetahui kebenaran kalau ternyata Chris djodohkan dengan Sani, entah kenapa membuat Lucy lega. 'Tapi… kenapa Chris mau?!'


“Chris, aku bener-bener ga ngerti dengan jalan pikiran kamu…”


Chris terdiam sesaat kemudian berkata, “Lucy… aku bukan benar-benar bagian dari Jhansen Wijaya…”


“Eh?”

__ADS_1


“Aku… bukan anak Papa… Ayahku bukan dari Jhansen Wijaya.” Chris menunduk, berusaha mengabaikan wajah tercengang Lucy. “Sejak kecil Papa memang ga pernah menganggapku anak… hanya Farel dan Kevin yang ia sayang…”


Lucy makin tercengang. 'Jadi Kevin adiknya? Oh my goodness!!'


Chris yang berwajah sendu itu tersenyum tipis, “Sejak kecil aku selalu diurus baby sitter… dan kalau Papa pulang kerja, dia ga pernah mau bermain denganku… Hanya Mama yang menghargaiku di rumah. Tapi dia juga sibuk, jarang pulang… Sampai aku besar, aku selalu kesepian…”


Lucy menatap Chris dengan kasihan.


“Tapi aku berusaha… Aku berusaha untuk menarik perhatiannya… menuruti setiap kata-katanya… walau perasaannya tidak terusik sama sekali untuk memperhatikan dan menganggapku anaknya… Farel hanya menertawaiku saat aku menerima perintah Papa untuk menjodohkanku dengan Sani. Yang mengetahui kalau aku bukan benar-benar Jhansen Wijaya selain orangtuaku ialah Farel… dan Jack. Ia ga sengaja dengar pembicaraan orangtuaku… Makanya, Jack selalu menyindirku kalau aku tidak berhak mendapat apa-apa… kalau aku bahkan tidak boleh memilih…” Chris memandang Lucy dengan matanya yang sudah merah, hampir menangis. “Dia bahkan sampai menyakitimu… Tujuannya hanya satu… mengingatkanku kalau aku ga berhak mendapat apapun, ga berhak memilih orang yang aku suka… mengingatkanku kalau aku ini hanyalah boneka…”


Mata Lucy berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak tau dengan latar belakang kehidupan Chris yang ternyata……


“Siapa bilang kamu ga berhak? Kamu berhak, Chris… Kamu berhak mendapat kebahagiaan…”


Melihat Lucy yang sudah setengah terisak, mata Chris langsung berkaca-kaca saking terharunya. “Aku ga berhak, Lucy… Walaupun para sepupuku yang lain ga tau kalau aku ini anak haram, tapi mereka juga menganggapku boneka, ga berhak memilih… Aku memang ga pernah mendapatkan sepeser pun dari Papa… Hanya Mama yang selalu memberikanku uang… Kamu tau, Lucy, aku adalah satu-satunya Jhansen Wijaya yang ga punya mobil. Walau aku ga pernah mengharapkan itu… Yang aku harapkan hanya pengakuan Papa… tapi aku ga pernah mendapatkannya…”


Lucy menangis. “Jadi selama ini itu yang menyebabkan kamu merasa kesepian?”


Chris ingin sekali menghapus air mata cewek itu. Tapi ia tak sanggup. “Kenapa kamu nangis? Ini masalahku… aku mungkin sudah terlalu banyak cerita…”


“Mana mungkin aku ga peduli?” seru Lucy membuat Chris terkejut. “Dari luar kamu terlihat seperti orang yang ga punya masalah… tapi nyatanya… Jadi mana mungkin aku ga peduli?” Lucy menghapus air matanya, “Chris… kamu harus menyadari… kamu berhak bahagia… Bukan bagian dari Jhansen Wijaya tidak berarti menghalangi kamu untuk memperoleh kebahagiaan… “


Chris menunduk. “Tapi aku ga pernah mendapatkannya, Lucy… bahkan… orang yang kucintai.. sudah menjadi milik orang lain…”


Lucy gigit bibir. Putus asa. “Kamu bodoh.” Lucy bangkit berdiri langsung pergi meninggalkan tempat itu.


“Lucy!”


Lucy tidak menghiraukan Chris. Dia langsung bergegas pergi. Hatinya tersayat-sayat. Entah kenapa Lucy sedih sekali mengetahui kenyataan hidup Chris. Dia ingin sekali menghapus kesedihan itu… Dan hal yang paling membuatnya merasa bodoh ialah saat tau kalau ternyata Chris bahkan tidak pernah menyukai Sani. Kedekatan mereka selama ini dilakukan Chris sebagai bentuk rasa taatnya pada sang ayah. Lucy merasa bodoh karena pernah sakit hati dan menyebut Chris sebagai seorang playboy. Lucy menyesal sekali………

__ADS_1


__ADS_2