Apel Merah

Apel Merah
Jordan Alfa JW


__ADS_3

Hujan sudah berhenti saat Arnold memasuki ruang rekreasi pribadinya. Dia masih memikirkan Lucy, harap-harap cemas kalau ternyata apa yang selama ini ia takutkan ternyata benar. 'Moreno….'


Arnold membuka pintu kamarnya dan langsung terkejut saat melihat Jordan, abangnya tengah berdiri di samping sofa yang diduduki Diraz dan Farel.


Arnold melotot dan menahan nafas. Apa-apaan ini? Kenapa tumben-tumbennya ia kedatangan tamu? Bahkan 3 tamu ini…?


Jordan tersenyum merendahkan. “Selamat malam, adik tersayang… Darimana lo? Habis pacaran?”


Arnold mundur selangkah saat Jordan berjalan mendekatinya dengan ekspresi yang sulit ditebak.


“Pacaran sama Lucy Shiren Mochtar itu kan?”


Arnold makin pangling. Diraz yang duduk di sofa pun menatap Arnold dengan sebal. Dia merasa tertipu karena Arnold bilang Lucy dari keluarga Darmayanto, orang kaya baru dari Lampung, yang pada kenyataannya…… membuat Diraz muak.


Jordan yang sudah berdiri berhadapan dengan adiknya itu, menatap Arnold dengan berang, “Pacaran sama cewek yang bahkan bukan dari kalangan atas!”


Arnold tak suka dengan kata-kata itu. Ia membalas tatapan Jordan dengan berani, balik menantang. Arnold paling tidak tahan kalau ada yang menyebut seseorang, dan apalagi itu untuk Lucy, dengan sebutan bukan dari kalangan atas, rakyat jelata, atau apapun!


Jordan langsung menarik kerah baju Arnold. Kini muka mereka hanya berjarak 10 senti. “Gue udah terlalu sabar! Mulai dari sikap minggat lo dari rumah, penolakan lo saat diajak bokap untuk gabung ke perusahaan, sampai lo selalu memisahkan diri dari Jhansen Wijaya dan berlagak hidup bener, jauh dari kebiasaan para sepupu lo! Tapi untuk masalah yang satu ini….” Jordan memelototi Arnold, “GUE MUAK!!” Jordan menghempaskan badan Arnold sampai adiknya itu hampir menabrak pintu.


“Justru gue yang muak!” seru Arnold membuat Jordan berbalik, tak menyangka adiknya ini melawan. “Gue muak dengan cara hidup beberapa dari Jhansen Wijaya! Gue muak ngeliat kalian berlagak dan memperlakukan orang lemah dengan seenak hati kalian!”


“Diem lo!” bentak Jordan sambil menunjuk, “Ga usah ceramahin gue!”


Jordan berbalik, mendekati sofa yang diduduki sepupu sekaligus sohibnya itu. “Hujan udah berhenti…” gumamnya pelan, “Ringkus dia…”


Farel yang duluan bangkit berdiri, menatap Arnold dengan dengki sekaligus iba bohongan. “Ga usah ada basa basi lagi.”

__ADS_1


Diraz bangkit berdiri mengikuti Farel yang sudah berjalan ke arah Arnold untuk meringkusnya. Percuma Arnold melawan. Perutnya ditinju oleh Farel. Dan itu cukup membuatnya tak berdaya.


'Lucy……'


*****


Lucy bangun jam enam lewat lima. Ia menguap lebar-lebar. Dia langsung memegang telinganyaanting pemberian Arnold semalam. Bagaimanapun juga sampai saat ini Lucy masih merasa bersalah, bahkan sampai Arnold pergi, Lucy sama sekali tidak mengatakan apapun, yang tentunya mengecewakan hati Arnold kan?


Lucy berjanji, kemanapun Arnold akan membawanya hari ini, dia akan berusaha seceria mungkin, membayar kesalahannya semalam, walau pastinya kebohongan terbesarnya dengan menyukai pria lain, tidak mungkin terbayar selain dengan pengakuan.


Setelah Lucy mandi, ia melirik ponselnya. Ternyata sudah ada 5 panggilan tak terjawab. Dan semua itu dari Arnold.


Arnold? 'Ada apa pagi-pagi…?'


Ponselnya bergetar lagi. Panggilan masuk dari Arnold. Cepat-cepat Lucy menjawabnya, “Ya?”


“Halo? Arnold? Arnold??”


Terdengar kekehan panjang yang Lucy yakin itu bukan Arnold. “Halo, Lucy…”


Entah kenapa jantung Lucy langsung berdetak kencang, mendengar kalau itu bukan Arnold, entah siapadan orang ini memakai HP Arnold. Suara ribut di seberang makin membuat Lucy heran. “Ya? Ini siapa? Arnold mana?”


“Arnold?” Pria di seberang yang ternyata Jordan terbahak.


Karena cowok itu terus tertawa, Lucy langsung memotongnya. “Halo? Lo siapa ya?”


“Gue? Gue Jordan Jhansen Wijaya!!” sahut di seberang. Jordan tak pernah membiarkan perkenalan pertama tanpa nama keluarganya. Baginya nama keluarga adalah hal yang sakral.

__ADS_1


'Jhansen Wijaya?' Lucy makin ngeri. Ada apa salah satu Jhansen Wijaya meneleponnya… dan bahkan menggunakan ponsel Arnold? Lucy sama sekali tidak mau membayangkan kalau Jack yang ada di balik semua ini. Memang ada apa lagi sih? Kenapa dia kembali diusik dengan Jhansen Wijaya yang sarap?


“Arnold mana?”


“Arnold? Mau ketemu Arnold? Segera datang ke pacuan kuda… Atau mau dijemput oleh salah satu sepupu gue??”


Lucy makin ga ngerti. “Gue ga ngerti.”


Terdengar kekehan. Pria di seberang terdengar memanggil Arnold. “Nold! Ini Lucy, pacar lo yang miskin itu… Say hi!”


Di seberang terdengar suara kasak kusuk, kemudian terdengar teriakan Arnold samar-samar. “Lucy, jangan kesini! Ini perangkap! Jangan kesini!!!”


Lucy bergidik. Sebenernya ada apa coba? Kenapa Arnold berkata seolah-olah pria yang bernama Jordan memiliki tujuan yang sama seperti yang pernah dilakukan Jack?


Jordan mencelos mendengar cerocos adiknya itu. Dia langsung menjauh. “Pokoknya gue minta lo kesini kalo lo emang masih mau liat dia… Semaleman gue udah sekap dan hajar dia… Hebat juga dia masih sadar.”


“Lo…” Lucy benar-benar marah mendengar itu, Lucy tidak tau kata-kata yang tepat untuk menegur pria bernama Jordan ini.


“Gue tunggu dalam waktu 15 menit…” ucap Jordan sinis, “Kalo lo belum datang juga, para sepupu gue yang bakal jemput.” Para sepupu yang dimaksud tentu saja Diraz dan Farel.


Komunikasi pun terputus.


Lucy merasa pembuluh darahnya mengencang. Tegang sekaligus marah. Dia berusaha menghubungi ke nomor itu namun selalu di-reject. Lucy pusing, tak habis pikir, kenapa Jhansen Wijaya yang tak dia kenal tiba-tiba menculik Arnold dan menyekapnya? Bahkan menghajarnya? 'Sebenernya ada apa…?'



-jordan

__ADS_1


__ADS_2