Apel Merah

Apel Merah
Sani Aurora Elgenski


__ADS_3

Sore itu, sebuah amplop putih nongol di karpet bulu kamar Sani Aurora Elgenski. Dia yang tadinya berniat spa di kamarnya sendiri jadi lebih tertarik pada amplop itu. Ia membukanya. Tak ada surat. Hanya ada satu lembar foto Moreno Christopher Jhansen Wijaya yang tidur bersandar di bahu cewek yang bahkan dikenal Sani sebagai rakyat jelata.


“Apa-apaan ini…” bisiknya marah.


Dengan gesit, Sani Aurora mengirim email ke sang biang gosip. Mengirim pesan bahwa ia ingin dibela sebagai wanita yang menjadi kekasih Moreno dan ingin haknya diperlakukan dengan adil serta cewek dalam foto itu diberikan hukuman sesuai dengan aturan kaum bangsawan dan ningrat.


*****


Lucy merasa aneh saat sarapan pagi ini. Setelah ia mengambil makanannya dan berjalan hendak mencari tempat duduk, mata cewek-cewek seumurannya dalam aula itu menatapnya dengki dan seperti ingin menelannya bulat-bulat. 'Ow… what’s going on now?'


Lucy hendak duduk di bangku yang kosong, ditatap dengan tatapan buas oleh cewek yang duduk di samping bangku itu. Pokoknya Lucy bener-bener merasa ga dijinkan untuk duduk dimanapun. Wulan dan Yeni pun keliatan enggan untuk menolongnya, seperti tertahan oleh sesuatu.


'Ada apa sih dengan orang-orang? Kenapa aku mendadak disinisin?'


Akhirnya Lucy memilih duduk di bangku cadangan, bangku paling pojok yang berada di ruangan itu. Bangku yang paling tidak nyaman karena dekat tempat sampah. Tapi mau gimana lagi emangnya? Masa dia makan sambil berdiri?


Dan sialnya saat berjalan lewat, rambut Lucy disiram segelas air, entah oleh siapa.


Lucy hanya bisa menoleh murka sementara cewek-cewek pura-pura sibuk namun kelihatan menahan tawa. Lucy benciiiii sekali pagi ini. Dia salah apa sih?


.


.


Selesai mata kuliah pertama dan saat ia pergi ke lokernya, ia melihat lokernya yang dicoret-coret dengan lipstick merah menyala. Tulisannya macam-macam, tapi intinya sama, menghina dirinya tanpa alasan.


Lucy berusaha mengabaikan semua itu walaupun Yeni dan Wulan sudah cemas.


“Lus, orang-orang kenapa sih ke kamu?” tanya Wulan ketakutan sambil celingak celinguk.


Lucy hanya angkat bahu, berusaha cuek.


“Kamu punya musuh ya?”


Lucy mengernyit mendengar kata-kata Yeni itu. “Ngga. Aku ngga punya musuh kok…”

__ADS_1


Yeni menghela nafas. “Semua kejadian hari ini sudah cukup membuktikan bahwa kamu lagi dimusuhin… sama cewek-cewek orang kaya itu…”


Lucy tertawa hambar. “Aku bahkan ga kenal mereka. Kenapa mereka cari masalah?”


Wulan angkat bahu. “Biasanya bukan tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang kamu lakuin yang bikin mereka kesel…”


Lucy ternganga. Dia langsung angkat bahu. “Apapun mau mereka, aku ga pantang menyerah kok…” Lucy langsung pergi begitu saja.


“Lus! Lucy!” panggil Yeni yang sama sekali tidak digubris.


*****


Kali ini saat Lucy ke toilet, dia langsung dikurung dan tidak dibiarkan keluar dari sana. Cewek-cewek yang mengerjainya hanya tertawa puas lalu pergi meninggalkan Lucy yang sudah teriak-teriak minta dibukakan pintu.


“Woi bukain pintunya!!” seru Lucy yang sudah keringatan karena dari tadi teriak-teriak, “Bukain! Aku mau kuliah!! WOI!!!”


Untungnya di sana ada Yeni. Dan langsung saja Yeni menyelamatkan temannya itu, keluar dari toilet.


“Makasih ya, Yen…” seru Lucy langsung menghambur ke pelukan Yeni.


Lucy tersenyum ragu. “Dikurung. Oleh cewek-cewek ningrat itu….”


Yeni hanya geleng-geleng.


**


“Lucy Shiren Mochtar!!” seru Madame Rosita di lorong. Dia keliatan marah besar sekali sampai wajahnya kelihatan ungu seperti itu.


Lucy menelan ludah. Apalagi kesalahannya hah?


Madame Rosita memelototi Lucy. “Sebagai hukuman karena kamu telah mencoret-coret ruangan saya, kamu bersihkan halaman Gedung A seminggu ini. Ingat sampai bersih!”


Kedua alis mata Lucy terangkat. Bagi Madame, itu seperti menantang. “Mencoret apa? Saya tidak melakukan a-“


“Harus bersih!!” seru Madame Rosita menyudahi pembicaraannya dan pergi dengan angkuh meninggalkan Lucy.

__ADS_1


Lucy garuk-garuk pipi. Dia tidak melakukan apa-apa… apalagi mencoret ruangan Madame Rosita.


Karena penasaran Lucy berjalan menuju tempat kejadian perkara. Dan ia langsung melihat sebuah tulisan lipstick merah di pintu kaca ruangan Madame Rosita. Kata-kata kasar dan menjijikkan. Dan di bawahnya tertulis by Lucy S.


Lucy hanya bisa melotot. Dia tau pasti, semua ini kerjaannya cewek-cewek ningrat yang menganggapnya musuh itu. Lucy sebaaalll sekali. 'Sebenernya aku salah apa sih sama mereka?'


**


Sorenya Lucy menjalani hukumannya. Yahh walaupun bukan dia pelaku yang mencoret ruangan Madame Rosita… Lucy meminta Pak Benyamin, petugas yang sudah tua yang bertugas membersihkan halaman gedung A untuk istirahat saja. Dan selama dua jam ke depan,sementara yang lain makan cake dan minum teh, Lucy membersihkan halaman mulai dari menyapu, menyiram hingga memangkas rumput.


Moreno Christopher, pria yang selalu menghabiskan waktu minum tehnya dengan sendirian di beranda lantai 3 Gedung A, tak sengaja melihat Lucy yang sedang menyapu halaman itu. Moreno mengernyit heran. 'Sedang apa dia? Kenapa dia melakukan pekerjaan pelayan?'


Belum Moreno mendapat jawaban yang tepat, beberapa cewek yang ia kenal sebagai kalangan ningrat datang menghampiri Lucy, yang tentu saja pembicaraan menarik antar cewek itu sama sekali tak bisa didengar Moreno.


“Wah wah… ada yang jadi babu nih…” gumam seorang wanita yang memakai terusan selutut berwarna pink.


Lucy menoleh. Ia tak kenal orang-orang itu. Tapi dari penampilan apalagi dari kata-kata mereka yang nyelekit, Lucy yakin sekali kalau biang masalah yang ia hadapi kini pasti cewek-cewek ningrat ini.


“Gimana hukumannya? Pasti kurang dong?” ejek cewek yang memakai jeans 7/8 motif renda.


Lucy menggeram. “Dasar biang onar! Kalian kan yang ngebuat gue dalam semua masalah ini?”


Wanita imut dengan rambut keritingnya, meniru gaya bicara Lucy dengan berlebihan membuat yang lain hanya tertawa.


“Sebenernya salah gue apa?” seru Lucy sebal.


“Salah lo?” Cewek dengan terusan berwarna merah maju mendekat. “Big Mistake! Kesalahan terbesar lo ialah merebut hal yang paling disayangi kaum ningrat, khususnya wanita. Dan bahkan lo mencurinya dari teman kami! Lo jahat!”


Lucy bengong parah. Ia mencuri apa? Barang yang berharga untuk wanita ningrat? 'Apa? Berlian? Aku ga nyuri kok…'


“Ga usah pura-pura bego…” tukas cewek itu sambil mengibaskan tangan, “Pokoknya lo liat balasan kami…”


Lucy hanya menganga tak mengerti. Sebenernya salahnya apa sih?


__ADS_1


-sani


__ADS_2