
“Sepuluh!” seru Jordan mencambuk Arnold untuk yang ke-10. Jordan agak terengah-engah, capek juga. Ia melihat Arnold yang bahkan tidak berteriak kesakitan.
Memang sih, selama ini Jordan tidak memukul Arnold dengan segenap kekuatannya dan Jordan juga tidak pernah mau memukul di bagian wajah. Bagaimanapun Arnold adalah adiknya, yang paling adorable di rumah.
Jordan berbalik, meninggalkan Arnold.
Arnold membuang ludah. “Kalian… Kalian hanyalah manusia yang berlaku seenaknya, bertindak semaunya, menindas orang lemah dan menganggap diri kalian penguasa daripada orang-orang biasa. Kalian pikir kalian siapa?”
“Ga usah nyeramahin gue…” ucap Jordan pelan.
“GUE UDAH MUAK DENGAN JHANSEN WIJAYA!! Gue udah muak dengan beberapa Jhansen Wijaya yang main kotor di perusahaan, korupsi, nepotisme… dan selalu menyelesaikan masalah dengan uang. Lo mau tau kenapa gue pernah minggat dari rumah? Gue muak dengan semua ke-glamour-an sementara kalian ga pernah peduli dengan orang miskin, menyumbang hanya untuk mendapat pujian dan tenar. Kalian semua egois!! Orang-orang yang tidak punya perasaan!!”
__ADS_1
Diraz sudah menunduk. Kenapa kata-kata Arnold seperti kata-kata Lucy. Farel juga merasakan hal yang sama. Ia hanya memandang rumput.
“Kalian merasa bahagia hah?” Kali ini Arnold benar-benar berani walau tadi sudah dicambuk. “Gue yakin kalian ga pernah merasa bahagia dengan melakukan semua perbuatan busuk!! Apa harta Jhansen Wijaya bikin kalian bahagia? Engga kan? Harta Jhansen Wijaya sebentar lagi busuk, berkarat! Tapi saat lo melakukan kebaikan pada orang lemah, memberikan kasih sayang dan pertolongan, itu yang namanya kebahagiaan! harta yang ga akan berkarat, yang harus kita kumpulin!!”
Diraz memejamkan matanya erat. Dia ingat dengan sikap seenaknya pada orang yang memang tidak setara dengannya dalam hal kekayaan. Farel jua sudah merasa sangat berdosa, ingat dengan sikapnya yang membuat Moreno menderita dan sikapnya yang lain pada Dara, pacar Billy yang memang bukan dari kalangan atas. Farel menyesal sekali begitu pun dengan Diraz.
Jordan sudah terduduk di rumput, menatap adiknya yang sangat… dewasa, berani walau sedikit keras kepala. Jordan tak menyangka kalau selama ini sikap Arnold yang selalu memilih menghabiskan waktu liburannya di panti asuhan atau organisasi sosial sementara keluarganya yang lain berlibur ke luar negeri. Jordan merasa Arnold sudah banyak berubah, benar-benar membuat Jordan sadar dengan arti hidup yang sesungguhnya.
Doni dan Surya saling melirik. Kenapa jadi diceramahin gini ya? Tapi mereka juga jadi ingat pernah membuat Lucy menderita dengan dikerjain para cewek ningrat. Dan memang, Doni dan Surya hanya mengalami kebahagiaan sesaat.
Diraz berbalik pergi. “Gue cape, mau tidur…”
__ADS_1
Jordan menghela nafas melihat perubahan mimik para sepupunya yang keliatan down banget karena kata-kata Arnold.
Jordan juga akhirnya bangkit berdiri dan mengajak Farel yang udah melamun kosong itu untuk juga pergi. Jordan berkata pada Doni dan Surya yang masih berdiri beku itu. “Jaga dia malam ini. Kasih makan. Besok jam 7, bebasin dia…”
Doni dan Surya yang nyatanya hanyalah junior hanya bisa menurut walau ngeri karena semalaman ini akan bersama dengan Arnold. Bisa-bisa mereka diceramahin semalam-malaman!
.
.
Semalaman itu baik Diraz, Farel dan Jordan merenungi kata-kata Arnold, merenungi banyak dosa yang mereka lakukan. Ngeri. Ngeri pada kenyataan kalau mereka memang tidak pernah merasakan kebahagiaan sejati saat melakukan aksi penyimpangan mereka terhadap orang lain.
__ADS_1
Farel menelepon Lulu, menceritakan semua kejadian hari ini juga kondisi hatinya yang benar-benar tak enak, terutama pada penderitaan yang dialami Moreno. Mau tak mau Farel jadi menceritakan kalau ia sengaja membuat Moreno menderita karena dia bukan benar-benar Jhansen Wijaya. Lulu mengatakan sebisa yang ia mampu. Yang jelas Lulu ingin kalau Farel dan yang lainnya tidak melakukan aksi negative lain yang hanya membuat diri sendiri tidak pernah merasa tenang. Farel juga minta supaya besok pagi jam 7 Lulu ke pacuan kuda untuk mengantar Arnold periksa ke rumah sakit yang ada di Jakarta.
Tengah malamnya Jordan mengirim SMS khusus untuk Farel, Diraz, Doni dan Surya yang isinya mengatakan kalau sebaiknya mereka tidak perlu lagi melakukan ‘kebiasaan’ ini. Jordan memaklumkan kalau generasi Jhansen Wijaya tidak boleh sama seperti generasi bokap mereka melainkan menjadi orang-orang yang peduli, ga egois dan ga sok. Jordan juga menulis kalau memang ada salah satu sepupu mereka yang pacaran dengan ‘orang biasa’, tidak boleh ada yang ikut campur seperti kasus Dara dulu dan Lucy.