Apel Merah

Apel Merah
Kemarahan Sani


__ADS_3

Sani tidak kuliah tadi pagi. Ia malaaass sekali kalau harus melihat Moreno. Sani masih sangat terpukul dan sakit hati saat kemarin, di hari libur terakhir, ayah Moreno menelepon pada ayahnya, mengatakan kalau perjodohan terpaksa dibatalkan. Yahh berhubung Jhansen Wijaya memang yang lebih tinggi derajatnya, mau tak mau ayah Sani menerima saja dan Sani yang sudah mencintai Moreno, hanya bisa menelan pahit.


“Lo kenapa, San?” tanya Victoria. Saat ini Sani dan 3 teman-temannya sedang berada di toilet, tepatnya di depan kaca westafel. “Mata lo keliatan abis nangis.”


“Iya…” gumam Nadia, “Tadi juga lo ga kuliah. Tumben banget bolos…”


Sani menatap dirinya di cermin yang memang tampangnya terlihat kacau, bukan Sani yang biasa. “Perjodohan gue dengan Moreno…”


“Kenapa perjodohan lo dengan Moreno?” tanya Elma.


“Batal…” Sani mengatakannya dengan sedikit marah. “Dibatalin dari pihak keluarga Moreno sendiri…”


“Hah?” Victoria dan Elma kompak pongo.


“Alasannya apa?” tanya Nadia heran.


“Nah itu dia gue ga ngerti!!” pekik Sani mulai stress. “Bokapnya cuma bilang lewat telepon ke bokap gue. Bayangin! Dan dia cuma ngomong kalau Moreno mencintai cewek lain!! Mereka kira gue tempat penyimpanan sementara apa? Cadangan?” Sani mulai menangis namun ekspresinya masih sangat marah dan sakit hati.


Tiga teman Sani hanya saling lirik, bingung.


“Lo mesti sabar, San…” ucap Elma, “Mungkin ini artinya Moreno bukan yang terbaik buat lo…”


Sani menghapus air matanya. “Gue yakin… ini pasti ada hubungannya dengan Lucy…”


“Lucy? Maksud lo si Mochtar, yang pernah dikerjain seangkatan itu karena kasus foto dia dengan Moreno??”


“Iya!! Siapa lagi?” bentak Sani, “Gue denger kalo dia sama Arnold udah putus. Dasar cewek genit, dia langsung ngedeketin Moreno! Dan Moreno… bisa dengan mudahnya jatuh cinta. Gue sebeeeelll!!!”


“Mending lo ngomong langsung sama orangnya…” ucap Victoria, “Tadi gue liat Lucy lagi duduk sendirian di kantin kampus…”

__ADS_1


Elma mengangguk-angguk. “Biar clear, San!”


Sani menatap kawan-kawannya. Ia pun mengangguk. Ia akan membuat perhitungan dengan Lucy.


Maka empat gadis ini langsung cabut dari toilet menuju kantin kampus, tempat yang katanya Lucy lagi ada di sana. Dan benar saja. Di meja tengah, cewek itu sedang duduk sendirian, membaca buku sambil mengulum permen lolipop.


Dengan berang Sani menghampiri Lucy. Tak tanggung-tanggung Sani langsung menggebrak meja, membuat mata seisi ruangan tertuju pada mereka.


Lucy mendongak kaget. Ia heran karena Sani terlihat sangat marah dan… buas.


“Habis putus dari Arnold Jhansen Wijaya, lo langsung menggaet Jhansen Wijaya yang lain. Ga tau malu juga lo ya… Ga nyadar dengan status sosial lo?”


Lucy mengernyit. “Ini bicarain apa sih?”


“Ga usah pura-pura ga tau!” tukas Sani. “Gue ga habis pikir kenapa Moreno begitu tergila-gila sama lo… padahal lo adalah mantan pacar sepupunya! Apa yang lo incar? Kekayaan Jhansen Wijaya?”


“Jangan ngomong sembarangan!” balas Lucy jengkel. Dia ga habis pikir kenapa orang selalu menganggapnya mengincar kekayaan Jhansen Wijaya kalau ia dekat dengan Chris, Arnold dan yang lainnya. Dan Sani…bagus sekali, telah mempermalukannya secara mutlak di depan umum. “Gue ga pernah ngincar kekayaan mereka.”


“Hah?” Lucy langsung kaget.


'Sani dan Chris udah putus? Kapan?'


“Ga usah berlagak ****! Ini kan yang lo mau?”


Lucy menelan ludah.


'Aku… aku tidak pernah meminta Chris melakukan itu… Kami dekat… tapi aku tak bermaksud... pada Sani…'


“Lo emang benalu,berusaha bertahan hidup dengan menghisap kekayaan orang lain!!"

__ADS_1


Lucy tidak terima dikatakan seperti itu. Baginya itu adalah perumpamaan yang paling menjijikkan yang pernah ditujukan padanya.


“Gue bukan benalu! Memangnya kenapa kalo lo diputusin Moreno? Jangan libatin gue… Itu urusan lo ma dia.”


Sani benar-benar marah. Tangannya sudah melayang hendak menampar pipi Lucy namun ditahan oleh tangan yang lain. Sani menoleh dan terkejut saat melihat Billy Alzanski JW.


Lucy menahan nafas. Untunglah Billy datang di saat yang tepat.


“Jangan main tangan…” ucapnya dingin. Ia memandang Sani, “Lucy sama sekali ga ada hubungannya dengan semua itu. Lo harus terima keputusan dari orangtua Moreno sendiri. Gue dan yang lainnya ga akan terima kalo lo ngelakuin hal yang beginian lagi…”


Sani menghempaskan tangannya. Dia jengkel mendengar kalimat terakhir Billy.


Billy tersenyum tipis. “Kami udah menganggap Lucy bagian dari keluarga. Jadi… kalo sekali lagi ngelakuin hal bodoh beginian, jangan harap ada Jhansen Wijaya yang mau berteman sama lo…”


Sani mendengus namun sebenernya dalam hati sangat ngeri. Billy yang ternyata di balik kebaikannya bisa marah juga. Sani langsung berbalik pergi dengan angkuh. Tiga temannya juga mengikuti, takut juga dengan Jhansen Wijaya.


Billy menoleh pada Lucy dan tersenyum. “Lo ga apa-apa kan?”


“Hmmh yeah…” Lucy tegang juga barusan. “Tadi lo cuma ngarang ya saat bilang gue udah dianggap jadi bagian Jhansen Wijaya?”


Billy terkekeh. “Engga. Kalo lo bukan bagian Jhansen Wijaya, lo mungkin udah kami depak dari acara ulangtahun Lulu. Biasanya kalau kami ngadain acara ulangtahun, hanya sepupu aja yang boleh datang…”


Lucy menelan ludah. 'Jadi seriusan?'


“Udah dulu ya…” ucap Billy pamit, “Gue ada urusan ma sepupu yang lain. Secret mission…”


Lucy tersenyum dan membiarkan Billy pergi.


'Apa sih yang ngebuat mereka jadi mulai menerimaku?

__ADS_1


Dan apa juga secret mission dia dan sepupu-sepupunya? Aneh.'


__ADS_2