
Sejak Lucy pacaran dengan Arnold, cowok itu selalu membuat hari-hari Lucy jadi lebih berwarna. Mereka sering mengobrol di taman perpustakaan, bermain kartu, mengobrolkan tentang kuliah mereka dan lain sebagainya. Lucy sendiri sudah mulai melupakan Chris, yang memang sudah jarang ia lihat.
“Hari ini aku mau mengajakmu ke suatu tempat…” ucap Arnold dengan nyengir khasnya.
“Kemana? Pacuan kuda?”
Arnold menggeleng. “Tempat lain…” Dia langsung menarik lengan Lucy, membawanya berjalan meninggalkan Gedung D menuju Gedung H. Lucy bahkan tak pernah melewati jalan yang sedang mereka lalui ini.
“Kita mau kemana?” tanya Lucy makin heran karena semakin dekat dengan Gedung H mulai terdengar suara berisik, semacam suara tembakan. Tapi Lucy tidak mau percaya dengan apa yang ia dengar. 'Di sekolah tak mungkin ada senjata kan??'
Arnold menoleh dan tersenyum manis. “Tempat yang berisik… mungkin menyenangkan… Tapi aku memang tidak terlalu ahli…”
Lucy mengernyit, tambah tidak mengerti.
Namun setelah mereka masuk ke Gedung H, mengertilah Lucy. Tempat yang dimaksud adalah arena tembak. Wow.
“Ini…?”
“Ini arena tembak…” jawab Arnold tenang.
Lucy tak bisa menahan rasa takjubnya. Lahan terbuka yang luas dengan orang-orang yang sedang asyik menembak sasaran boneka yang dua ratus meter jauhnya. Wow, ini sih azaib. Di sekolah ada tempat beginian?? “Ini milik Beauxbutton juga?”
Arnold mengangguk, gemas dengan wajah Lucy yang masih surprise. “Tapi memang tidak terbuka untuk umum.. hanya orang-orang yang sudah mendaftar…” Sekali lagi maksud dari perkataannya ialah khusus untuk ningrat atas dan keluarga Jhansen Wijaya. “Hanya untuk mereka yang sudah tujuh belas tahun ke atas…”
Lucy menahan nafas melihat seseorang menembak burung yang sedang terbang, tepat pada sasaran. Lucy merasa adrenalinnya terpacu. Dia ingin mencobanya. Dia pernah sih diajari… tapi ia ingin mencobanya lagi sekarang.
“Mau mencoba? Tapi aku kurang ahli… Dalam waktu 60 detik saja aku hanya bisa menembaki boneka hanya 5-7 kali…”
Lucy mengangguk. “Aku sangat ingin mencobanya…”
Arnold sedikit heran juga. Seorang wanita ingin mencoba menembak? Aneh juga. “Ya udah… Tapi ganti baju dulu ya… Harus pake baju khususnya dulu…”
Lucy mengangguk semangat dan dengan menurutnya mengikuti petugas yang sudah dipanggil Arnold sebelumnya.
'Dia kenapa semangat sekali??'
Lima belas menit kemudian, Lucy muncul sudah lengkap dengan pakaian menembak. Bahkan kacamata dan penutup kuping sudah ia pakai.
Arnold tersenyum. Tentu saja ia takkan membiarkan pacarnya langsung mencoba senapan dan menembak boneka yang jauh itu kan?? Dia tidak mau Lucy sampai kena syok.
“Coba dulu yang ini ya…” ucap Arnold memberikan pistol.
Lucy tersenyum kecut, “Aku ingin mencoba senapan…”
“Yang ini dulu…” ucap Arnold, “Coba kamu bidik kaleng yang ada di sana itu…” Arnold menunjuk botol yang berada di atas meja, sekita sepuluh meter dari Lucy. Biasanya untuk para pemula, membidik kaleng terlebih dulu dengan menggunakan pistol. Dan itu harus sampai kena.
Lucy menurut saja. Ia mengarahkan pistolnya ke kaleng dan… DORR!... kena, tepat pada sasaran.
Arnold hanya terbengong-bengong. Dia saja harus sampai 3 kali membidik baru kaleng itu kena sedangkan cewek ini… 'Ah, pasti hanya kebetulan…'
“Aku sudah boleh menggunakan senapan?” tanya Lucy.
Arnold menggeleng. Dengan gerakan tangannya, ia menyuruh salah seorang petugas untuk membantu. “Sekarang bidik apel yang akan dilemparkan petugas itu… Kalau langsung kena, aku akan mengijinkanmu menggunakan senapan…”
Lucy mengangguk semangat. Dengan serius, ia fokus pada buah apel hijau yang dipegang petugas. Dan saat buah itu dilempar, dengan cekatan Lucy membidiknya dan kena.
__ADS_1
Lagi-lagi Arnold hanya bisa terbengong. 'Dia… sudah punya pengalaman menembak?'
Mau tak mau Arnold membiarkan Lucy menggunakan senapan untuk turut dengan 4 pemuda lainnya yang hendak menembak boneka masing-masing dengan jarak 200 meter.
Salah seorang petugas membunyikan pitolnya, sebagai tanda bahwa mereka sudah boleh membidik dengan waktu yang berjalan 60 detik.
Lucy yang bahkan belum Arnold ajari cara menggunakan senapan karena Arnold lupamulai membidik dan bidikannya selalu tepat pada sasaran membuat Arnold sampai berdiri untuk memperhatikan dengan lebih jelas.
Waktu habis. Hanya boneka Lucy yang benar-benar rusak parah, terkena 27 tembakan.
“Kamu bisa menembak?” tanya Arnold pada akhirnya.
Lucy membuka penutup kupingnya. “Iya…”
“Belajar dari siapa?” Arnold masih tak percaya kalau rakyat jelata bisa selihai ini dalam menembak!! Karena menurutnya hanya kalangan atas yang bisa membeli dan menyewa arena tembak ini untuk latihan.
Lucy tersenyum, “Dari umur 8 tahun aku sudah diajari eyangku menembak… Aku diajari sampai umur 15. Sayangnya saat umurku 16, beliau meninggal…”
Arnold masih melongo. Siapa gerangan eyang Lucy yang satu ini, mengajari cucunya menembak dari umur 8 tahun? Dan pastinya ada suatu sejarah dalam keluarga Lucy yang berhubungan dengan tembak menembak.
“Kamu dari keluarga mana?” tanya Arnold karena Lucy memang belum pernah memberitahukan nama keluarganya.
“Mochtar…” sahut Lucy.
Arnold menerawang. “Mochtar…? Jangan-jangan… nama eyangmu itu… mmh… siapa ya aku lupa, Bambang Mochtar bukan?”
“Ya ya itu nama eyangku.” Lucy heran juga jadinya, kenapa Arnold sampai tau nama eyangnya?
Arnold tersenyum, “Beliau kan terkenal sekali di dunia tembak menembak…” Arnold ingat kalau ayah Diraz bahkan ingin menyewanya sebagai pelatih untuk 2 anaknya, yang ditolak mentah-mentah oleh Bambang Mochtar. “Dia mantan pejuang saat penjajahan Jepang kan?”
Arnold agak tertohok mendengar kata-kata itu. Baginya kata-kata itu pantas untuk Jhansen Wijaya, keluarga yang eksklusif, tidak peduli sekitar, menyumbang hanya untuk membesarkan nama dan yang paling parah ialah membeda-bedakan antara golongan atas dan golongan menengah ke bawah. Makanya Arnold-lah yang paling tidak exist di Jhansen Wijaya. Dia bahkan menolak menjadi kandidat penerus perusahaan ayahnya. Dia ingin bebas, menikmati hidup tanpa nama Jhansen Wijaya. Dia ingin mengubah hidupnya, bukan sebagai Jhansen Wijaya yang membeda-bedakan, bukan yang tidak peduli sekitar dan kemiskinan kelaparan yang makin merajalela, bukan menjadi orang yang egois dan sok berkuasa sementara yang lemah ditindas. Arnold ingin menjalani hidupnya dengan caranya sendiri.
“Arnold??” Lucy heran kenapa Arnold melamun.
“Eh sorry, tadi aku melamun…”
Belum Lucy mengatakan sesuatu, seorang pria yang sudah kuliah tingkat 4, datang mendekati mereka. “Arnold, ini temen lo ya?”
Arnold menoleh pada orang tersebut. “Dia pacar gue…” Ups, lagi-lagi dia keceplosan! Diraz dan Jordan kan langganan ke tempat beginian, kenapa dia bisa lupa?
Pria itu tersenyum ramah pada Lucy. “Gue kagum banget ngeliat kelihaian lo yang sampai bisa menembak boneka 27 kali. Wow itu prestasi. Hanya Jordan dan Diraz yang bisa kayak gitu… Tapi itu juga jarang… karena emang susah dan butuh konsentrasi…”
Lucy menahan nafas saat mendengar nama Diraz. Arnold bahkan ingin melem mulut temannya saat menyebutkan nama abangnya. Jangan Sampai dia juga bilang kalau Jordan adalah abang dari Arnold!!
“Jadi…” Cowok itu nyengir kuda, “Boleh tanding ga?”
“Eh?” Lucy terbengong.
“Menembak maksud gue… Sasarannya lima burung yang lagi terbang yang bakal dilepas petugas…”
Lucy langsung mengangguk. Dia paling tertantang dengan sasaran yang berjalan. “Boleh kan?” tanyanya pada Arnold. Arnold hanya mengangguk manis.
Dan akhirnya dua orang ini pun bertanding. Petugas melepaskan lima burung merpati yang langsung terbang ke langit bebas. Lucy dan pria yang merupakan teman Arnold di arena tembak ini harus bisa menembaki burung itu. Yang terbanyak dialah yang menang.
Baik Lucy maupun cowok itu sama-sama tidak mau kalah, mulai menembaki sasaran yang bergerak bebas itu. Masing-masing berusaha menembak tepat pada sasaran sebanyak-banyaknya. Pada akhinrya Lucy yang menang. Dia menembak dua burung dan cowok itu hanya dua burung, hanya kalah karena masalah kecepatan menembak.
__ADS_1
Cowok itu hanya bisa menganga dengan kehebatan Lucy. Dia mendatangi Lucy dan menjabat tangannya. “Gue yakin banget, kalo lo bisa jadi penembak jitu… Latihan dimana?”
Lucy tersenyum kaku. “Ga pernah… Terakhir diajarin waktu umur 15…”
“Wow…” Cowok itu menatap Lucy dari atas sampai bawah, pemandangan yang tidak disukai Arnold. Bagi teman Arnold yang satu ini, Lucy cantik juga. “Lain kali gue ajak ke rumah deh… Disana banyak senapan koleksi bokap…”
Arnold tak tahan, dia langsung menarik Lucy untuk minggir. “She’s my girlfriend…”
Cowok itu mengangguk, ngeri juga kalau harus berurusan dengan Jhansen Wijaya. “Yes-yes, I knew it…” Dia mengangguk sopan lalu pergi.
Lucy memandang Arnold aneh. “Kamu kenapa sih? Kok tadi mendadak galak ke temen sendiri??”
Arnold melirik, sebal juga kalau pacarnya sendiri ga ngerti dengan suasana hatinya saat ini. Ya jealous, ya kesel karna dikacangin, dia kan ga begitu bisa tembak menembak!! Arnold duduk di salah satu bangku dengan wajah muram.
Lucy makin bingung. Beberapa detik kemudian dia baru ngeuh kalau Arnold pasti sebel udah dikacangin, cuman nonton doang sedangkan dia asyik-asyikan main tembak-tembakkan bahkan tanding sama cowok lain. Lucy langsung duduk di sebelah Arnold, “Jangan marah ya… Ya udah kita balik aja ke asrama…”
Arnold masih no comment. Akhirnya Lucy pun membuka tasnya dan mengeluarkan apel merahyang biasa dicuri Lucy dari dapur kantin.
“Nih, makanan kesukaanmu… Jangan ngambek lagi dong. Jelek.”
Arnold tak bisa menahan senyum tiap kali Lucy membawakannya apel merah. “Thanks…”
“Balik aja ke asrama yuk? Aku capek…” ucap Lucy sambil meletakkan senapan yang pelurunya sudah habis, “Ke ruang rekreasiku… kita minum teh… Oia, sekalian aja aku bikinin pai apel…”
Arnold menoleh kaget. Ini pertama kalinya dia diundang ke ruang rekreasi Lucy untuk minum teh. Dan bahkan cewek ini pun mau membuatkannya pai apel. How sweet!! “Kamu bisa bikin pai apel? Beneran?”
Lucy tertawa, “Masa boong? Ya beneranlah…”
Arnold mengangguk dengan senyum lebar. “Dengan senang hati kalo gitu.”
“Tapi aku ganti baju dulu ya…” gumam Lucy, “Masa baju beginian mau aku pake sampai asrama?”
Arnold tertawa dan Lucy langsung pergi ke kamar ganti wanita.
Arnold memakan apelnya sambil membayangkan pai apel buatan Lucy. Mmh yummy. Ga pernah dia sangka kalau Lucy membuatnya merasa sayang seperti ini. Awalnya, Arnold ngajak pacaran cuma mau bikin Chris panas hati. Arnold ingin membalas semua luka hati Lucy. Tapi entah kenapa sekarang… Arnold jadi punya perasaan beneran…
“Arnold?”
Arnold kaget dan mendongak. Tak salah lagi, suara ini pasti…. “Jordan?!” Arnold terbelalak horror, persis melihat hantu, pasalnya Lucy kan juga ada di sini. Untung saja Lucy sedang di kamar ganti.
“Ngapain lo?” tanya Jordan yang garis-garis mukanya tegas, bersih dan cakep. Tapi kalau sudah tau sifatnya yang agak kasar dan senewem… yahh… jadi gitu deh.
“La-latihan nembak…” jawab Arnold.
“Ohh…” Jordan menatap Arnold heran, “Kok ngeliatinnya gitu?”
“Eh engga… Cuma kaget aja…”
“Kayak yang punya dosa aja…” gumam Jordan asal sambil berlalu menuju kamar ganti pria.
Arnold berjanji saat Lucy keluar, ia akan membawanya lari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Arnold hanya berharap, orang yang tadi tanding tembak dengan Lucy tidak menceritakan kejadian hari ini pada Jordan.
-arnold
__ADS_1