
Seorang cowok yang berpenampilan cuek but cool, dengan potongan rambut Kevin Zeagers, masuk dengan nyantainya ke dalam kamar Chris. Jack─begitu namanya─sibuk membuka-buka laci lemari Chris. Jack sedang mencari tau apa saja yang dikerjakan sepupunya ini. Jack memang tidak berubah, selalu ingin tau apa yang dilakukan Moreno Christopher. Dia selalu berharap kalau Moreno tidak melakukan hal-hal di luar prosedur pamannya alias ayah Moreno sendiri. Jack memang begini, selalu menganggap kalau dia adalah pengawas Moreno sehingga merasa berhak mengobrak-abrik privasi dan perasaan sepupunya.
Jack mendengus sesaat melihat sebuah agenda. Ia tidak tertarik sama sekali. Namun saat ia hendak memasukkannya kembali ke laci, Jack jadi sedikit penasaran. Dia pun membuka halaman terakhir yang ditulis Moreno dan tercengang.
“L? Dia jatuh cinta pada cewek berinisial L?”
Dengan beringas, Jack membuka halaman-halaman sebelumnya dan mendapatkan sebuah nama.
“Lucy Shiren Mochtar…?” Jack menggeram. “Gue ga akan ngebiarin ini.”
*****
Lucy sedang mengambil beberapa buku di lokernya saat seseorang mengagetkannya dengan tiba-tiba bersandar di lokernya.
Lucy memperhatikan cowok yang sama sekali tidak ia kenal itu tapi dia yakin dia pernah melihat orang itu, mungkin dalam foto.
“Mengenalku? Karena aku ga kenal kamu…” ucap cowok itu dengan senyum ramahnya.
Lucy mengernyit. Ah, dia ingat sekarang! Cowok ini kan yang ia sebut si lubang hidung besar di foto Jhansen Wijaya. 'Ng, uh-oh, namanya kalau tidak salah…'
“Kenalkan… Jack Putra Jhansen Wijaya…”
Lucy tersenyum dan dengan sopan turut memperkenalkan dirinya. “Lucy Shiren…” Lucy memperhatikan cowok yang disebut Yeni sebagai Prince Jack itu. Ternyata memang benar, kalau liat langsung ternyata Jack sangat tampan sekalipun dia tidak sedang tersenyum. Gestur mukanya memang lain.
Jack tersenyum. “Ada yang ingin kubicarakan…”
“Hah? Apa?”
“Tapi bukan sekarang. Nanti sesudah makan malam, datang ke Gedung E…”
“Eh?”
“Oke ya? Bye…” Dengan cueknya cowok itu pergi begitu saja meninggalkan Lucy dengan mawar merah yang tadi dia tinggalkan di tangan Lucy.
'Orang aneh.'
__ADS_1
**
Sesudah makan malam, Lucy menuruti kata-kata Jack. Ia pergi ke Gedung E. sebenernya Lucy penasaran aja, sebenernya apa sih yang mau dibicarakan Jack padahal mereka kan tidak kenal. 'Apa ini ada hubungannya dengan Chris?
Oh my… Aku dan Chris kan ga ada hubungan apa-apa…'
“Ah, akhirnya datang juga…” seru Jack girang saat melihat Lucy yang sudah masuk lewat pintu utama. Gedung E memang tidak dipakai kalau malam-malam. Tapi kalau siang dan pagi hari, digunakan sebagai Gedung kuliah.
“Bagaimana tadi makan malamnya enak?” tanya Jack, benar-benar basa-basi.
“Yah biasa saja…” jawab Lucy datar masih mempertanyakan apa yang sebenarnya mau dibicarakan Jack.
Jack mendekati Lucy, “Kamu tau apa bedanya Jhansen Wijaya dengan keluarga lain?”
Lucy mengernyit dan hanya mengangkat bahu.
“Kami berbeda karena kami pun bergaul dengan orang yang berbeda…”
Lucy tambah mengernyit. 'Maksudnya apa? Menghina kalangan bawah atau apa??'
Lucy terdiam. Dia semakin tak mengerti arah pembicaraan cowok itu.
“Tapi rasa persaudaraan kami di antara sepupu sangat kuat. Sekalipun kami tidak selalu terlihat bersama, tapi kalau ada yang dirugikan, kami pasti bertindak…”
“Sebenernya kamu mau bilang apa sih? Aku ga ngerti…” gumam Lucy.
Jack tertawa nyaring, “Jadi kamu belum mengerti? Ini tentang Moreno, Lucy!”
Mata Lucy membulat. “Chris?”
“Aku tidak sengaja melihat kalian berdua minum teh dua hari yang lalu…” Jack berjalan tenang semakin mendekati Lucy, “Ah, bahkan dia memintamu memanggil dia dengan nama pendeknya saja kan? Wow… betapa spesialnya…”
“Tak ada yang spesial. Kami hanya minum teh…”
“Kau tau? Hanya ibunya yang memanggilnya Chris.. dan sekarang ia memintamu memanggilnya Chris, berarti ada apa-apa kan? Kami para sepupunya saja hanya memanggil dia Moreno!”
__ADS_1
Lucy mundur selangkah, ngeri dengan ekspresi Jack yang menakutkan.
Jack tersenyum lirih. Ia langsung memegang leher Lucy. “Jadi… aku hanya meminta supaya kamu tinggalkan si Moreno….”
Lucy berusaha menghindarkan lengan besar itu dari lehernya, tapi sulit. “Untuk apa?”
“Kau hanya ingin uang kan? Iya kan? Berapa yang kau mau? Berapa hah?”
“Aku tidak pernah menginginkan uangnya!!”
Jack makin gemas. Ia pun mencekik leher Lucy yang mungil itu. Lucy sudah meronta-ronta karena kehabisan nafas. “Kau pikir kau siapa? Kau hanya gadis kalangan biasa!! Jangan ganggu Moreno lagi!”
“Perasaanku ga akan mempengaruhi dia!” pekik Lucy walau Jack tengah mencekiknya.
Jack makin gemas. Ia mencekik Lucy makin kencang. “Kalau begitu hapus perasaan itu.”
Lucy terengah-engah, hampir kehilangan nafas, berusaha melepaskan tangan kuat Jack dari tangannya namun tak bisa. “Aku…bahkan…tak-punya…pe-rasaan… apap-pun…”
Jack tertawa. Ia langsung melepaskan cekikannya. “Baguslah kalau begitu!”
Lucy terbatuk-batuk, memegang lehernya yang mati rasa. “Kamu gila…”
Jack yang tadinya tertawa, menoleh dan langsung mencekik leher Lucy lagi. “Ini peringatan, Nona…” Ia menatap Lucy dengan matanya yang buas, “Jangan dekati Moreno lagi… Tau kan dia sudah punya pacar?”
Jack langsung pergi dan membiarkan Lucy begitu saja yang sudah terbatuk-batuk dan sesak nafas.
Lucy menatap kepergian pria yang hampir membunuhnya itu.
'Prince Jack? You must be joking! He is a murderer.
And Chris?
Who want fall in love with him? Playboy!'
__ADS_1
-jack