Apel Merah

Apel Merah
Kencan


__ADS_3

Liburan tinggal beberapa hari lagi. Chris memanfaatkan momen ini untuk mengajak Lucy pergi keluar. Semalam Chris bertanya Lucy mau diajak pergi kemana. Apapun jawaban Lucy, Chris akan memenuhinya. Ke Bali? Ke Singapur atau bahkan ke Itali akan dipenuhi oleh Chris. Dan dengan polosnya Lucy menjawab kalau dia sedang ingin ke Dufan, kangen dengan suasana ramai dan kehebohan juga ekspresi orang-orang disana.


Hari ini Chris mengabulkan permintaan Lucy itu. Ia menjemput Lucy jam sebelas siang. Chris yang memang ga punya mobil itu awalnya menawarkan untuk naik taksi aja. Tapi Lucy tolak. Dari rumahnya ke Dufan kan jauh!! Lucy memilih untuk naik metromini saja.


Dan… kasihannya, Chris berdiri selama di perjalanan (untungnya Lucy kebagian tempat duduk).


Lucy melirik cowok di sebelahnya yang berdiri sambil berpegangan ke gantungan yang disediakan. Lucy jadi ga enak. Seorang Jhansen Wijaya harus naik bis? Bahkan berdiri? Ya ampun… ini sih menurunkan harga diri.


“Chris…” Lucy memegang lengan cowok itu.


Chris menoleh dan tersenyum. Keringat mengucur di keningnya. “I’m oke…”


Jawaban itu belum bisa membuat Lucy tenang. Akhirnya sepanjang perjalanan, Lucy memegangi lengan cowok itu. Yeah… tau kan metromini ngebutnya ga kepalang tanggung? Lucy ga mau cowok yang ga biasa naik metromini ini tiba-tiba terjatuh dengan reman mendadak sang supir.


Chris tersenyum. 'Seandainya aku punya mobil…' Chris jadi teringat pada Sani. Kalau cewek itu minta diantar ke salon atau ke butik, dia memaksa Chris untuk meminjam mobil, entah ke Farel atau ke sepupunya yang lain. Ingat Sani, Chris jadi putus asa lagi. Apa tak ada jalan keluar dari perjodohan mereka yang didasari bisnis orangtua mereka ya? Apa Chris tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita yang ia cintai?


Jam setengah 1 mereka akhirnya sampai juga di Dufan. Tempat itu sudah ramai, terdengar teriak-teriak dari wahana-wahana yang memacu adrenalin.


“Mau main yang mana?” tanya Chris, “Halilintar?”


Lucy geleng-geleng. “Ngeri ah…”


“Trus apa dong?”


“Poci-Poci…” sahut Lucy yang rambutnya diikat 2 itu dengan sedikit manja.


Akhirnya 2 orang itu mengantri dan mengikuti wahana yang satu ini. Mereka duduk berdua dan dibanting ke sana ke mari.


“Waaa!!” pekik Lucy senang bukan main saat diputar. Badannya terbanting ke arah Chris.


“Lucy, ini bukan apa-apa dibandingkan dengan Kora-Kora dan Kincir-Kincir… Kamu harus nyoba!”


Lucy geleng-geleng dan hanya tertawa saat alat dibanting ke kanan, badan Chris menghimpit Lucy. “Aku takut!”


“I will save you..”

__ADS_1


Lucy tertawa. “I always know it!”


Setelah puas main Poci-Poci, kali ini Chris yang minta main Halilintar. Awalnya Lucy geleng-geleng ketakutan namun setelah dipaksa Lucy mau juga deh.


“Aku takut, Chris…” ucap Lucy memejamkan mata erat-erat saat Halilintar melaju pelan meninggalkan terminal.


“Ini menyenangkan kok… Aku selalu naik ini kalau sedang ingin teriak kenceng dan membebaskan diri dari frustasi dan stress.”


“Tapi saat ini aku ga lagi frustasi ataupun stress…”


Chris tergelak. “Kalau begitu teriaklah karena kamu tidak frustasi dan stress.”


Lucy mengangguk lambat. Halilintar menanjak dan sampai di puncak. Sesaat sebelum Halilintar itu turun dengan kecepatan tinggi, Chris teriak, “Buka mata kamu, Lucy!!”


Lucy membuka matanya dan Halilintar langsung turun dengan kecepatan yang membuat Lucy bahkan ga bisa teriak, hanya bisa meremas sabuk pengaman di dadanya. Lucy memang tidak pernah menyukai ini, terlalu tinggi dan menakutkan, sementara Chris teriak kenceng, senang minta ampun.


Setelah mereka turun dari Halilintar, Lucy cemberut. Ia berjalan duluan, meninggalkan Chris. Bt berat dan masih syok, jalannya aja sampai gemetaran begitu.


“Hei, Lucy, kamu kenapa?” tanya Chris sambil mengejar Lucy.


Chris bisa melihat kalau cewek ini memang benar-benar takut pada wahana barusan. “Aku minta maaf…”


Lucy menggeleng sambil memalingkan muka. “Udah lewat kok…” Tangan Lucy masih gemetaran saat ia memegang bahu, menggigil.


Chris makin merasa guilty. Ia memegang bahu Lucy dan merasakan cewek ini memang gemetaran. “Aku bener-bener minta maaf… Aku nyesel. Maafin aku, Lucy…”


Lucy tersenyum. “Ga apa-apa kok, Chris… Tadi aku cuma syok aja. Udahlah ga usah minta maaf terus… Kita lagi di tengah jalan ni… mending pergi aja yuk ke wahana yang lainnya…”


Lucy dan Chris berjalan dalam diam. Sama sekali tak ada yang bicara, mengatakan mau naik wahana apa. Benar-benar canggung sekarang.


Akhirnya Lucy yang angkat bicara, “Sekarang mau main apa?” tanyanya berusaha ceria.


Chris tidak mungkin membiarkan cewek ini langsung naik wahana lain padahal baru saja syok dan gemetaran. Chris menarik Lucy, ke toko yang menjual pernak pernik. Ia mengambil topi lebar renda berwarna putih dan memakaikannya di kepala Lucy.


“Suka ga?”

__ADS_1


Lucy geleng-geleng. “Ga usah, Chris…”


“Emang ga boleh ya kalau beliin kamu sesuatu? Ya anggap aja sebagai bentuk rasa bersalahku barusan…”


Lucy terkekeh geli dan meletakkan topi itu kembali ke tempatnya. “Kenapa kamu harus merasa bersalah? Aku kan cuma syok doang tadi…”


Chris mengambil barang lain. Kali ini bando putih dengan aksen telinga kelinci berwarna putih dan pink. “Yang ini deh…”


“Chris…” rengek Lucy, “Aku kan udah bilang aku ga kenapa-napa!”


“Lucy… please terima… Anggap aja saat kamu melihat bando ini kamu ingat penyesalan dan maafku… Oke?”


Lucy akhirnya mengangguk juga. Kadang dia tidak mengerti dengan jalan pikiran cowok ini. Kenapa terus-terusan merasa bersalah sih?


Setelah keluar dari toko, Chris tersenyum melihat Lucy langsung memakai bando itu.


“Gimana, Chris? Bagus ga?” tanya Lucy sambil menunjukkan dirinya di hadapan cowok itu.


“Lucu. Foto ya?”


Lucy terkekeh dan membiarkan dirinya difoto oleh kamera ponsel Chris. Pertama kalinya memang. Dan Lucy deg-degan.


“Save ya… Fotoku mahal lho…” gumam Lucy.


“Pasti…” sahut Chris masih mengutak-atik handphone.


“Sekarang kita mau kemana? Main apa?”


“Emm… Makan dulu yu? Belum makan kan? Laper nih…”


Lucy hanya mengangguk dan membiarkan Chris sendiri yang memilih restoran mana yang akan mereka jadikan tempat makan siang.


Akhirnya yang dipilih adalah restoran masakan nusantara, jadi banyak pilihannya. Sementara Chris pergi memesan makanan,


Lucy senyam senyum sendiri sambil memegang telinga kelincinya. Hari ini… serasa kencan deh… Lucy langsung terdiam dan melamun sendiri. Kalo Sani tau gimana ya? Aku yakin dia pasti mencintai Chris…

__ADS_1


__ADS_2