
Siang itu Jordan dan Diraz asyik di arena tembak, mengasah hobi mereka. Diraz memang lebih jago. Kebetulan disana juga ada Sani dan salah satu teman ceweknya yang naksir berat pada Diraz, makanya bela-belain datang ke tempat ini.
Diraz dan Jordan sedang tanding menembaki 5 burung yang dilepas petugas. Diraz berhasil menembak 3 burung sedangkan Jordan hanya 2 burung. Teman Sani itu hanya bisa bersorak riang, bangga melihat kelihaian pujaan hatinya.
Diraz hanya bisa tertawa lebar melihat wajah Jordan yang sudah biasa dengan kekalahannya itu.
“Lo jago seperti biasa, Raz…” ucap Rey, orang yang pernah tanding sama dengan Lucy. “Gue jadi inget gue juga pernah mengalami kaya gini. Tapi sialnya gue kalah dari cewek, 3-2 man…”
Diraz tertawa, “Kalah dari cewek? Ga salah?”
“Yeah…” Rey setengah malu, “Gue kalah dari pacarnya Arnold, tau kan?”
Jordan yang lagi asyik membersihkan senapan langsung menoleh, “Arnold? Maksud lo Arnold adik gue?”
Rey mengangguk, “Masa lo ga tau? Cewek itu jago banget lho… Mukanya juga lumayan…”
“Siapa nama cewek itu?” tanya Jordan setengah marah.
Rey mengernyit dan mengangkat bahu. “Kami ga kenalan…”
Diraz hanya diam. Dia tidak mau membuat Jordan marah dengan mengatakan kalau dia memang tau adiknya itu pacaran dengan siapa. Bisa-bisa Diraz juga yang kena semprot.
“Gue tau kok…” celetuk Sani tiba-tiba membuat Jordan dan Diraz menoleh.
“Lo tau?” tanya Jordan heran.
Sani tersenyum dan mengangguk. “Waktu gue ma Moreno ke pacuan kuda, ada Arnold dan Lucy… Mereka jadian hari itu…”
“Siapa namanya? Lucy? Dari keluarga mana?” Inilah Jordan. Ga ada basa basi sama sekali soal strata.
“Namanya Lucy Shiren Mochtar…” gumam Sani. Dia mana mungkin lupa dengan cewek yang pernah digosipin dengan Moreno. “Dia dari rakyat jelata, bukan dari kalangan kita…”
“Apa?” Jordan mulai terlihat berang.
Sani nyengir, ga nyangka juga kalau ternyata Jordan anti dengan rakyat jelata. “Iya… Gue ga mungkin salah.”
__ADS_1
Nafas berlomba-lomba keluar dari hidung Jordan. “Ini harus dibereskan.” Jordan meletakkan senapannya dengan sembarangan. “Ayo, Raz… gue mau kasih pelajaran ke adik gue yang selalu seenaknya itu…”
Jordan pergi diikuti oleh Diraz. Sani hanya terheran-heran, memang masih belum memahami tabiat dan kebiasaan para Jhansen Wijaya.
*****
Selama beberapa hari ini Lucy enggan bertemu dengan Chris. Semakin dipikirkan Lucy jadi malah makin peduli pada cowok itu. Kenapa? Apa dia mulai menyadari kalau sebenernya dia sayang pada cowok itu? Mungkin dia sudah sadar dari dulu… tapi karena sakit hati saat tau kalau Chris pacaran dengan Sani, Lucy mulai memupusnya. Tapi sekarang…?
Imbas-imbasnya Arnold juga yang tanggung. Lucy juga jadi enggan diajak main oleh cowok itu. Alasannya selalu bilang kalau dia banyak tugas, ingin di kamar… padahal Lucy merasa bersalah pada Arnold. Merasa karena sudah menghianati Arnold selama ini.
Sabtu malam itu, Lucy hanya duduk di atas ranjangnya sambil memeluk bantal. Dia masih kepikiran Chris, mengkhawatirkan pria itu… Merenungi setiap kasih dan kebaikan Chris selama ini yang nyatanya bukan bentuk keplayboyannya… melainkan sungguh-sungguh.
Lucy memegangi kepala dengan kedua tangannya. “Arrgh aku jadi pusing…”
Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya diketuk. Lucy heran, siapa yang datang sore menjelang malam begini ya? 'Mungkin Yona, dia pasti mau pinjam setrika lagi…'
Lucy merapikan rambutnya sesaat lalu membuka pintu. Dan saat dibuka, Lucy hanya bisa terbelalak saat melihat ternyata Arnold.
Cowok itu tersenyum sambil bergumam, “Hai…” dan memberikan sebuket mawar merah pada Lucy.
Arnold masih tersenyum, “Terima dong bunganya…”
Lucy pun menerima bunga itu dengan kaku. Arnold mengajak cewek itu untuk mengobrol di sofa ruang rekreasi.
Mereka terdiam lama. Lucy hanya mau menunduk. Dia masih merasa bersalah, sudah mendua hatioh bukansudah menghianati Arnold, karena pada nyatanya dia tidak punya perasaan apapun, hanya perasaan sayang sebagai seorang sahabat.
“Kamu…” ucap Arnold tiba-tiba, “Mmh.. maksudku, kita… sepertinya jarang mengobrol beberapa hari ini…”
Lucy menunduk dan meremas-remas tangannya.
Arnold garuk-garuk kepala, “Sebenernya aku mau ngajak kamu dinner di luar, sekarang kan Sabtu… Tapi kayanya…” Arnold melirik Lucy yang makin menunduk itu, “Kamu lagi ga enak badan ya?”
Entah kenapa Lucy langsung pura-pura terbatuk. “Maaf…” Lucy menyesaaaalll sekali karena sudah berbohong pada Arnold.
Arnold tersenyum tipis, “Bagaimana kabar Moreno?”
__ADS_1
Lucy tersentak dengan pertanyaan gamblang Arnold itu.
“Yeahh… siapa tau semua perubahan kamu karena dia…”
Lucy menahan nafas. Oh no, jangan sampai Arnold berpikir macam-macam. “Ngga… Ini semua ga ada hubungannya dengan dia…” Lucy menatap vas bunga di atas meja. Ups. Dia sudah bohong lagi.
Arnold tersenyum. Dia merasa sedang tidak tahu apa-apa antara Lucy dan Moreno. “Lucy… aku ga tau kenapa tiba-tiba kamu menghindar… Jujur, aku merasa kamu sedang menghindar, menjauh… Tapi…” Arnold duduk mendekati Lucy. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. Ia meletakkannya di tangan Lucy.
“A-apa ini?” tanya Lucy heran, memandang wajah Arnold. Melihat wajah Arnold yang menyejukkan itu membuatnya tambah merasa bersalah.
“Buka aja…”
Lucy membuka dengan perlahan dan melihat di dalamnya ternyata ada sepasang anting perak berbentuk apel.
“Aku sengaja memberikan kamu ini…” Arnold teringat kalau ia sampai memohon pada Lulu untuk membelikannya anting apel. “Bagus ga?”
Lucy mengangguk. Dia sudah ingin menangis sekarang. Dia sudah membohongi Arnold namun cowok ini sepertinya tetap berusaha membahagiakannya. “Bagus banget…”
Arnold mengambil sepasang anting itu, dengan tangan yang lain ia merapikan rambut yang menutupi telinga Lucy. “Aku selalu memperhatikan kamu ga pernah pakai anting… Jadi aku sengaja memberikan ini…” Dengan lembut, Arnold memasangkan salah satu anting di telinga kanan Lucy. “Kamu tau ga kenapa aku memilih apel?”
Lucy menggeleng, matanya berkaca-kacalebih karena merasa bersalah yang mendalam. Namun Lucy hanya menunduk, tidak berani membalas tatapan Arnold.
“Apel kan kesukaanku…” Arnold tersenyum tipis saat ingat kalau sepupu-sepupunya yang lain juga menyukai apel merah. Arnold memasangkan anting yang sebelah lagi di telinga kiri. “Bagiku apel mempunyai daya tarik… ada sesuatu yang membuatku ketagihan, mungkin kedengarannya aneh... dan sinting.” Arnold mengekeh pelan, “Bagiku… kamu adalah apel… membuatku selalu ingin bertemu… dan menjagamu dari apapun. Aku tidak akan pernah membiarkan ada seorangpun yang menyakiti kamu, Lucy…”
Air mata Lucy langsung meleleh. Bersamaan dengan itu hujan turun di luar, samar-samar juga terdengar suara petir.
Arnold tersenyum dan menghapus air mata Lucy. “Aku suka kamu…” Arnold merapikan rambut Lucy. Sebenernya ia menantikan jawaban cewek itu yang juga akan mengatakan hal yang sama.
Lucy sudah berhenti menangis. Ia menunduk. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan kalau dia juga suka pada Arnoldyah walau ia suka pada Arnold sebatas teman yang menyenangkan. Kali ini Lucy tidak bisa berbohong lagi.
Arnold menghela nafas. 'I’m understand…'
“Besok siang aku ke sini ya…” Arnold bangkit berdiri, berusaha seceria mungkin.
'Bagaimanapun aku ga bisa melepas kamu…'
__ADS_1
Lucy masih disana, duduk di sofa, menatap Arnold yang sudah berbalik pergi meninggalkan asrama. 'Arnold… maafin aku…'