
Lamunan Lucy langsung buyar saat HP-nya bordering. Lucy melihat : Danil calling. Agak heran juga namun langsung mengangkatnya. “Ya, Nil?”
“Kamu dimana? Aku main ke rumah ya… tapi mungkin nyampe sejaman gitu…” sahut Danil di seberang. Terdengar suara berisik. Cowok ini pasti lagi nyetir sambil dengerin musik!
“Aku ga di rumah… Aku lagi di Dufan…” jawab Lucy lugu.
“Hah? Dufan? Bareng siapa?”
“Chris… Ah, maksudku Moreno…”
Danil terdiam sesaat. “Ohh… ya udah deh… Kapan-kapan aku main ke rumah kamu…”
“Sorry ya…”
Komunikasi pun terputus.
Danil menatap jalanan. Ia langsung membanting stir ke kanan. Untung saat ini dia ga terlalu jauh dari Dufan… 'Sekarang juga aku akan ke sana…'
.
.
Lucy dan Chris sudah mulai makan. Ternyata mereka memang ga salah pilih tempat. Makanannya enak begindang.
“Chris… hubungan kamu dan Papa kamu udah baikan kan?”
__ADS_1
Chris menoleh, sedikit heran. “Kok tau?”
“Hehe, aku ga sengaja denger pembicaraan kamu sama Farel di ruang keluarga waktu itu…”
Chris tersenyum halus. “Yahh… ada kemajuan… Tapi memang sejak itu aku belum bertemu dengan Papa karena dia sibuk banget, mesti keluar negeri.”
“Farel juga udah berubah kan?”
Chris mengangguk. “Dia ga pernah manggil ‘boneka’ lagi… Dia juga mulai ngajak aku main bareng ke rumah Jordan atau rumah Billy… Suasana jadi makin enak… Ga ada lagi yang bersikap aneh-aneh.”
Lucy tersenyum tulus. “Aku ikut seneng deh.”
Mereka kembali makan dalam keheningan. Pikiran Lucy berputar, kembali ingat perjodohan Chris dengan Sani.
“Ng, trus… Kamu dan Sani…?”
Lucy merasa kerongkongannya langsung kering. “Ohh…” Lucy kembali makan, pura-pura melupakan pertanyaannya tadi. 'Kalo gitu… aku dan Chris…?'
Chris juga menunduk. Kenapa suasananya jadi ga enak gini ya? “Lucy… kamu tau kan kalau perasaanku pada Sani…”
“Yeah…” Lucy tersenyum tipis. 'Masa aku ga tau?'
“Lucu ya… Kamu ma Sani kan memang cocok…”
“Lucy…” Chris menatap cewek itu dalam-dalam. “Please understand…”
__ADS_1
“Apa, Chris? Aku ga apa-apa kok…” Pada nyatanya Lucy tidak mau memandang mata Chris sama sekali.
Mereka terdiam seribu bahasa. Chris jadi putus asa, kenapa di saat dirinya ada kemajuan dengan Lucy justru timbul kembali masalah lama kayak gini ya?
Sani Aurora Elgenski, tak mungkin melepaskan Chris begitu saja…
“Chris…” ucap Lucy mengatasi keheningan dan berusaha seceria mungkin, “Ntar aku mau dibeliin balon ya..”
Chris mendongak, melihat arah yang ditunjuk Lucy, seorang penjual balon yang sedang dikerumuni anak-anak.
“Aku mau balon yang putih ya… biar sama kayak bandoku… Hehe.”
Chris tidak ikut tertawa. Ia hanya memandang Lucy, masih merasa useless.
Lucy pura-pura tak menyadari sikap Chris itu. “Ng… aku juga mau makan es krim.. Hmm, ada es krim apel ga ya? Kamu kan suka apel…”
“Lucy…”
“Ng, terus…” potong Lucy, mengabaikan Chris, “Aku mau masuk ke rumah kaca… rumah miring… Pasti seru deh!”
“Lucy… Aku bener-bener minta maaf. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk perjodohan ini… Aku… Aku juga ga tau harus melakukan apa…”
Lucy membuang muka. Hatinya teriris mendengar kata-kata itu. “Kenapa minta maaf? Kan ga ada yang salah…”
“Lucy… A-aku…” Chris menahan kata-katanya. Apa tepat ya kalau saat ini menyatakan perasaan? Dengan kondisi yang seperti ini??
__ADS_1
“Hai, Lucy!” sapa seseorang tiba-tiba memotong kata-kata Chris.
Lucy menoleh dan menganga saat melihat Danil berdiri di sana dengan cengiran anak SMU-nya. Chris juga tercengang, ngapain coba sepupunya ini tiba-tiba datang?