Apel Merah

Apel Merah
Boneka


__ADS_3

“Lo ga berhak manggil dia boneka!” Lucy makin naik pitam. “Bukan anak kandung bokap lo bukan berarti dia ga boleh bahagia! Dia manusia. Dia berhak mendapat kebahagiaannya.”


“OOH! Udah sedekat apa dengan Moreno sampai lo tau masalah intern keluarga gue?” Farel kini marah besar.


“Dia kesepian...” gumam Lucy putus asa.


Farel mengekeh. “Dia pantas mendapatkan itu. Gue memang selalu ingin liat dia menderita.”


“Lo nyadar ga sih kalo lo udah ngebunuh perasaan orang? Lo tau ga sih kalo perbuatan lo ini lebih keji daripada pembunuhan? Lo dengan sengaja membuat orang menderita, itu adalah kesalahan besar! Kalo lo mau bahagia kenapa dia ga boleh? Kenapa lo begitu egois dan menganggap diri lo di atas daripada yang lain? Apa lo juga nganggap diri lo sebagai tuhan?”


Farel mendengus. Kenapa kata-kata Lucy membuatnya smakin berpikir flashback dan malah mengakui kalau kata-kata cewek ini bener?


“Kenapa jadi bahas Moreno? Lo suka ya sama dia? Ga peduli dengan Arnold? Poor Arnold…”


Lucy tersentak. Dia baru ingat dengan tujuan utama kedatangan Farel..


“Kenapa, baru ingat sama pacar sendiri? Lo emang ga pantes buat dia.”


“Ga sepatutnya lo terlibat menghajar sepupu lo sendiri! Lo-“

__ADS_1


Ucapan Lucy terpotong karena Farel sudah melempar keping CD yang kedua ke wajah Lucy. Kali ini ujung CD itu melukai pipi Lucy, tergores dan berdarah sedikit. Lucy menggeram, bukan karena pipinya yang perih tapi lebih karena perlakuan cowok ini yang benar-benar tak sopan.


“Turunin gue…” ucap Lucy.


Farel tak menyahut. Perkataan Lucy terus berputar di otaknya, membuatnya benar-benar sadar dan merasa sangat berdosa, mengingatkannya akan Yang Di Atas.


“Turunin gue!!” bentak Lucy, “Gue ga mau semobil dengan orang yang kasar!”


Farel menepikan mobilnya dengan rem mendadak membuat Lucy hampir menubruk kaca, untung pakai sabuk pengaman. Farel kelihatan menyeramkan kalau marah.


Lucy melepas sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil itu.


“Makan tuh hutan!” tukas Farel lalu melaju meninggalkan Lucy.


Farel yang sudah agak jauh meninggalkan Lucy, mengumpat pelan saat ingat dengan titah Jordan yang menyuruhnya membawa Lucy ke pacuan kuda. Dengan kesal, Farel memundurkan mobilnya sampai mobilnya tepat di depan Lucy.


Farel keluar dengan membanting pintu. “Masuk. Jordan sendiri yang bilang kalo lo harus kembali ke Beauxbutton.”


Lucy membuang muka, masih sakit hati.

__ADS_1


“Kalo lo ga kembali kesana, Jordan akan mastiin kalau Arnold benar-benar menderita.”


Lucy menoleh. Kata-kata terakhir itu sangat menakutkan. Cewek itu hanya mengangguk, walau ia tidak mau seperjalanan dengan Farel dua jam ke depan.


Belum Lucy dan Farel bergerak, mobil di belakang mereka meng-klakson 2 kali. Mobil Silver yang dikenal Farel sebagai mobil milik Surya, yang dicuri Chris.


Chris keluar, memelototi apa yang tengah terjadi. Dia langsung menarik lengan Lucy, “Ayo…”


Dengan cepat Farel menarik lengan Lucy yang satunya membuat Lucy mengaduh kesakitan karena Farel menarik terlalu kencang membuat Lucy merasa tangannya akan patah.


“Gue harus bawa dia balik.” ucap Farel sedingin es.


Chris menatap Farel, masih agak takut sih. “Kalo gitu, dia naik mobil gue.”


“Mobil lo?” Farel mendengus panjang, “Lo bahkan nyuri mobil Surya. Itu bukan mobil lo. Dan lagipulaaa…” Farel tak membiarkan Chris bicara, “Jordan yang nyuruh gue, bukan lo.”


Farel menarik lengan Lucy makin kencang membuat Lucy mengerang. “Inget, lo cuma boneka… Dan boneka sama sekali ga boleh ikut campur. Lo ga berhak bawa cewek ini meninggalkan pulau! Lo ga berhak ikut campur, Moreno!!”


Wajah Chris mulai pucat dikatain seperti itu.

__ADS_1


“Gue udah ngasih tau Jordan dan Diraz… kalo lo cuma anak haram. Dan mereka setuju kalo lo menderita, ga pernah diakui bokap, dan ga pantas dapat apapun dari Jhansen Wijaya!”


Tangan Chris yang memegang lengan Lucy mengendur. Kata-kata itu terhujam langsung ke hatinya, ke mentalnya. Jordan dan Diraz sudah tau? Mendengar kata ‘anak haram’ membuat Chris langsung tertuduh, merasa tak layak… dia tak layak mendapat apapun, tidak layak mendapat kebahagiaan…


__ADS_2