Apel Merah

Apel Merah
Confussion


__ADS_3

Hari ini saat pelajaran Kimia, Lucy enggan berbicara dengan Chris, yah walau mereka sudah sedikit akrab dan dekat. Tapi siapa peduli? Lucy masih merasa lehernya sakit sekali. Dia sengaja pakai syal untuk menutupi lehernya yan lecet akibat cekikan si psikopat Jack, yang tanpa alasan ingin supaya Lucy menjauhi Chris.


"Uhuk.. uhuk…"


Chris menoleh, cemas juga karena dari tadi Lucy diam dan hanya terbatuk. Kalau ditanya hanya menggeleng, atau mengangguk atau mengangkat bahu.


“Kamu sakit ya?” tanya Chris.


Lucy tak menoleh, walau sedikit terenyuh juga dengan perhatian cowok itu. “Ngga, cuma batuk…” Lucy mengerang pelan sambil memegangi lehernya. Sial, berbohong seperti ini, sakitnya langsung kambuh. Inilah tidak bergunanya kalau tidak punya teman sekamar. Lucy masih menyayangkan sikap Yeni yang tiba-tiba pindah asrama. Jadi saat dia butuh seseorang untuk berbagi cerita dan minta diobati, Lucy tidak mendapatinya lagi. 'Argh!'


Chris masih memperhatikan Lucy. Tak sengaja ia melihat leher Lucy yang kebetulan syalnya sedikit longgar karena cewek itu yang terus terbatuk. Dan Chris melihat semacam luka merah. “Lucy, leher kamu kenapa? Kenapa merah?”


Lucy terperanjat. Cepat-cepat ia mengencangkan syalnya. “Ngga, ini bukan apa-apa kok…”


Chris mengernyit. Dia merasa cewek itu aneh sekali, seolah sedang menutupi sesuatu, menutupi sesuatu yang berhubungan dengannya. Tapi apa?


**


Alhasil karena penasaran, Chris jadi mengawasi Lucy walaupun mereka tidak satu kelas karena Chris tidak kuliah di kelas regular selain Kimia. Ia memperhatikan Lucy yang berada di dalam kelas, cewek itu masih saja terbatuk-batuk dan memegangi leher.


'Dia kenapa sih? Kenapa tiap ditanya slalu menghindar?'


“Seharusnya gue cekik dia lebih kencang…”


Chris menoleh kaget dan melihat sepupunya, Jack, yang tadi berbicara, hanya lewat lalu pergi meninggalkannya.


“Jack, maksud lo apa?” tanya Chris heran.


“Sorry.. I’m bussy right now…” sahut Jack tanpa menoleh, hanya melambai sesaat dan terus berjalan. Dia jengkel abis melihat ternyata justru Moreno terlihat mengkhawatirkan Lucy.


Chris terbengong sendiri. 'Cekik dia lebih kencang??' Chris melirik Lucy yang berada dalam kelas. Cewek itu masih terbatuk sambil memegang leher. 'Jack?'


**


Betapa beraninya Jhansen Wijaya yang satu ini, mengajak Lucy mengobrol di tempat ramai.


Lucy yang sedang menuju asramanya dihadang tiba-tiba oleh Chris. Tentunya dia kaget, karena tidak biasanya Chris mengajak ngobrol mendadak dan bahkan di tempat ramai.


“Aku ingin bicara…” Chris langsung pergi dan Lucy mau tak mau mengikuti cowok itu juga. Sebenernya apa sih mau cowok JW satu ini?


“Sekarang ceritakan semuanya…” gumam Chris saat mereka sudah di halaman belakang Asrama Dandelion yang sepi.


“Ceritakan apa?”


“Lehermu.”


“Leher?” Lucy sedikit kaget namun langusng pura-pura tak mengerti. “Leherku memang kenapa? Aku kan hanya batuk… Hei, kurasa kau terlalu perhatian…” Lucy tertawa pelan tapi Chris tidak.


“Perlu tambahan klu? Jack Putra Jhansen Wijaya mungkin?”


Lucy menelan tawanya. Ia menatap Chris takut-takut. Cowok ini tau darimana coba? Lucy sendiri bingung harus menceritakannya atau bungkam. Tapi kalau dipikir-pikir kan dia yang dirugikan padahal tidak punya salah apa-apa. 'Ya siapa tau dengan menceritakan semuanya, masalah akan menjadi kelar…'


“Ng…” Lucy terbatuk sesaat, “Kemarin siang Jack berkenalan denganku dan ia minta supaya malamnya aku datang ke Gedung E…”


“Lalu?” desak Chris tidak sabar.


“Lalu kami mengobrol… Dia membicarakan keluarga Jhansen Wijaya… dan kemudian… tiba-tiba dia mencekikku..”


Chris melotot tak percaya, “Dia mencekikmu?”


Lucy mengangguk ragu. “Iya… aku pun tidak mengerti dengan sepupumu. Sebenernya ada apa…?”


“Justru itu yang ingin kutanyakan!” seru Chris terlihat kalap duluan, “Apa dia tidak mengatakan apapun?”


Lucy ingat kalau Jack memang mengancamnya supaya meninggalkan dan melupakan Chris, tapi Lucy terlalu malu untuk mengatakannya, jad dia hanya mengangkat bahu.


Chris tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung pergi, lebih tepatnya berlari.


“Chris!!”


.


.


Chris berjalan cepat menaiki anak tangga. Saat ini ia tau Jack sedang ada di mana. Tak lain sedang berleha-leha di ruang rekreasinya, sambil nonton DVD.


“Jack!” seru Chris sambil membanting pintu dengan kesal.


Jack yang sedang menonton itu, menoleh, “Eh, Moreno, sepupuku… Tapi maaf sekarang gue sibuk…”


Chris sama sekali tidak peduli. Dia langsung meninju muka Jack yang sok polos itu.


“What?” tanya Jack pelan dengan seringai biasanya, padahal pipinya sudah bengkak.


“Lo kan yang nyekik Lucy semalam?”


“Cih…” Jack menggaruk-garuk rambutnya, seolah bosan, “Akhirnya lo tau juga…”


“Maksud lo apa hah?” Chris mengangkat badan Jack dengan tangannya yang mencengkram kerah baju Jack.


“Moreno-Moreno…. Lo bego atau pura-pura bego? Lupain cewek itu. Di kalangan ningrat banyak kok muka kayak dia…”


Chris menggeram. “Jack, kalau hanya karena itu lo berusaha ngebunuh dia…”


“Siapa yang mau ngebunuh dia? Emang gue kurang kerjaan?” bentak Jack. “Masih untung gue ngingetin lo… Lo ga tau apa. macam mana reaksi orang-orang kayak Farel atau Diraz liat cewek itu?”


Chris tetap melotot marah.


“Bro, lo udah punya Sani… Dia cantik, smart dan baik… Apa yang kurang? Kenapa lo malah ngais-ngais sampah?”


Chris menghempaskan tubuh sepupunya itu ke sofa. “Gue ga pernah bilang kalo gue suka sama Lucy!!”


Jack tertawa.


“Pokoknya lo jangan urusin urusan gue! Jangan ganggu Lucy lagi!” Chris berbalik pergi meninggalkan Jack yang masih tertawa.


“Kalo gitu lupain cewek itu! Lo ga pernah dapat hak memilih! Jhansen Wijaya yang lain mungkin bisa, tapi lo engga, Pengecut!”


Chris langsung membanting pintu ruangan itu di belakangnya. Dia turun dengan cepat, melompati tiga anak tangga sekaligus. Kata-kata Jack sungguh menusuk namun lebih menyakitkan karena dia benar.


*****


Entah kenapa Chris jadi sedikit posesif. Dia seringkali menanyakan keadaan leher Lucy, yang sebenarnya sudah baikan dari kemarin.

__ADS_1


Siang ini mereka duduk di taman depan Gedung F. Chris yang mengajak bertemu. Bagi Lucy hal ini sangat aneh.


“Kenapa kita jadi sering ketemu?” tanya Lucy terang-terangan.


“Kenapa, ga suka?” Chris balik tanya dengan pout.


Lucy hanya mendelik. 'Orang ini kenapa sih?'


“Ya bukan… tapi aneh aja… Ganjil.” Lucy kembali ingat, Moreno kan sudah punya pacar!!


Chris memonyongkan bibirnya.


Karena cowok itu malah murung dan cemberut, Lucy pun akhirnya mengajak ngobrol juga, “Hei, Chris… Sepupu-sepupumu aneh-aneh ya…”


Chris menunduk dan terdiam.


“Waktu itu Patrick dan Kevin yang mengerjaiku… sekarang muncul Jack yang ingin membunuhku…” Lucy terbahak, “Lucu sekali kan?”


“Apanya yang lucu?”


“Yeah…” Lucy menerawang menatap langit, “Aku seolah mendapat kutukan untuk selalu bertemu dengan para Jhansen Wijaya. Huh.”


Chris menoleh. “Apa bertemu denganku juga merupakan kutukan?”


Lucy menoleh, melihat dengan jelas wajah Chris yang blushing. “Kalo kamu mungkin beda. Kita kan berteman…”


Chris tambah menunduk.


“Oh iya… Aku juga jadi ingat kalau aku pernah bertemu dengan Farel… Hih, dia seram dan menakutkan…”


“Apa? Kamu pernah ketemu dia?” Chris terlihat terkejut dan syok atau apalah.


Lucy mengangguk-angguk, takut juga dengan ekspresi Chris. Apa dia salah omong ya? 'Mending diem aja deh.'


“Ng iya.. tapi cuma selewat kok.. Ga penting.”


“Ada beberapa sepupuku yang bahkan lebih menyeramkan daripada Jack.. Salah satunya Farel. Dia tidak suka melihat ketidakteraturan. Dia ingin segalanya sempurna, terutama untuk keluarga besarnya…”


Lucy mengangguk. Merinding juga.


“Kalau Jack hanya mencekik maka Farel bisa membuat kamu lebih menderita baik mental ataupun jasmani…”


“Hah?” Lucy bahkan ingin tertawa.


“Aku serius. Dia pernah hampir melakukannya pada pacar Billy…”


“Ya tapi tak ada hubungannya denganku kan? Aku kan hanya berteman denganmu. Tidak lebih.”


“Iya-iya…” Chris makin cemberut mendengarnya. Kenapa dia merasa ditolak begini ya??


**


Betapa kagetnya Lucy saat ia keluar dari kamar mandi, Jack sudah duduk-duduk di atas tempat tidurnya.


“Kamu?!” Lucy mundur waspada.


Jack menoleh. “Ah akhirnya… Lama sekali sih, ada yang ingin aku bicarakan…”


“Hhh Lucy Sayang… harus berapa kali aku bilang, tinggalkan Moreno…”


“Ap-pa?”


“Kamu ngerti bahasa Indonesia gak sih!!” bentak Jack yang sudah bagaikan monster itu. Ekspresinya kembali normal, “Berapa yang kau butuhkan?”


Lucy diam tak mengerti.


“Dua ratus atau lima ratus dollar?” tanya Jack dengan angkuh, “Akan kuberikan padamu saat ini juga!”


“Aku berteman dengan Chris bukan untuk mengincar uangnya!” ucap Lucy setengah muak.


“Ya ya ya… Seribu dollar ya? Oke, tak jadi masalah…” Jack mengeluarkan buku ceknya dan mulai menulis. Laki-laki ini memang yang paling kaya di antara sepupunya yang lain.


“Heh! Aku tidak menginginkan uangmu sepeser pun!” Lucy langsung berlari ke arah pintu yang ternyata dikunci.


“Mencari apa?” tanya Jack dengan kunci di tangannya, “Ini?” Dengan malas, Jack melemparkan kunci itu ke luar jendela.


Lucy menahan nafas. Oke, cowok ini mungkin sudah mulai gila…


Jack bangkit berdiri dan berjalan menuju rak buku, “Kalau bukan uang lantas apa ya??”


Jack mengambil buku Lucy yang tebal banget, ada mungkin seribu halaman, “Wow… kamu suka baca filsafat busuk beginian?”


Lucy tak menjawab. Dia ketakutan.


Jack mendongak dan berjalan mendekati Lucy. “Moreno tidak pantas mendapatkan apapun. Dia hanyalah boneka papanya. Dan sebagai sepupu, aku harus menjaga mandat pamanku sendiri dong…”


Lucy merasa terpojok di pintu sementara Jack makin mendekat.


“Jadi…” Jack menatap Lucy dengan tatapan membunuh, “Jauhi dia…”


Lucy langsung berlari melewati Jack. Kali ini dia terpojok di ujung lemari karena Jack yang bagaikan macan itu sudah siap menerkamnya.


“Kenapa takut?” tanya Jack tersenyum, “Jangan takut dong…” Jack seolah sedang menimbang buku, “Aku sebal sekali lho… melihat tadi siang kalian mengobrol akrab di tempat terbuka…”


Lucy membalas tatapan Jack, tak kalah menantangnya.


“Kau tau… itu berbahaya sekali…” ucap Jack, “Bahaya kalau ada yang melihat…” Maksud dari kata-kata Jack itu ialah orang macam Diraz, Farel, yang seringkali mencampuri urusan orang lain.


“Memang kenapa? Kami kan cuma teman….”


Dengan kesal, Jack memukulkan buku hard cover itu ke pipi Lucy. Lucy terhuyung dan jatuh ke lantai. Ia merasa pipinya langsung lebam, dan tulang pipinya… ah entahlah… sangat kesakitan.


“Aku kan sudah bilang tinggalkan dia!!” seru Jack marah.


Lucy merasa kepalanya pusing. Tangannya menyentuh pipi. Sakit. Lucy tidak mau tahu, dia ingin keluar dari tempat ini. Walau di asrama Dandelion hanya ada dirinya dan dua orang lain yaitu Yona, si tukang tidur dan Rahma, si pengejar beasiswa, tapi Lucy yakin kalau dia minta tolong, dua orang itu pasti akan menolongnya.


“Tolong!! Tolong!!”


Jack tercengang sesaat namun kemudian tertawa sementara Lucy masih berteriak minta tolong. “Tidak akan ada yang dengar, Sayang… Dua teman asramamu itu kubuat tidur lelap sampai pagi…” Jack terbahak lagi.


Hilang sudah harapan satu-satunya. 'Chris.. tolong aku… Chris!!! '


“Kamu psikopat… Kamu gila!”

__ADS_1


Jack mendelik. Sekali lagi ia meukulkan buku itu ke pipi yang sama. Lucy terhempas ke lantai. Kali ini Lucy benar-benar lemas sampai tak berdaya. Ia menyentuh pelipisnya yang sudah berdarah. Apa kepalanya juga bocor?


'Chris…'


Rasanya Lucy ingin jatuh pingsan. Tapi tidak boleh. Dia bisa mati dibunuh dengan sukses oleh Jack si psikopat.


Sementara Jack berceloteh bahwa filsafat sama sekali tidak berguna, Lucy berusaha awake. Dengan pelan, ia mengambil kunci cadangan yang berada di bawah kolong lemari. Dia akan kabur, apapun caranya! Tapi memang bukan dengan melompat dari lantai 3.


“Oh lihat…” gumam Jack setelah ceramahnya tentang filsafat selesai, “Lihat pipimu… biru kemerah-merahan…” Jack menyentuh tangannya ke pipi Lucy yang langsung Lucy hempas. Karena tersinggung, Jack langsung melempar buku dan mencekik leher Lucy. Dan dengan tangan yang lainnya, ia mengeluarkan pisau lipat dari celana. “Apa kau sudah mulai berani, kucing kecil? Mungkin kepribadianmu yang seperti inilah yang disukai Moreno…”


Lucy menggigit lengan Jack kuat-kuat. Dan dengan sisa tenaganya, ia tendang perut Jack sampai cowok itu terseret dua meter.


Lucy langsung berlari ke arah pintu. Membuka pintu dengan kunci cadangan secepat ia bisa. Untungnya saat ia keluar, Jack baru bisa bangkit berdiri.


Lucy berlari melewati ruang rekreasi. Sekarang dia harus kemana? Lucy merasa ia akan pingsan. Kepalanya sakit sekali.


Saat di pintu keluar ruang rekreasi, Lucy hampir menubruk seseorang yang selama ini ia sebut-sebut.


“Chris?” bisiknya lemah. Senang karena akhirnya ada yang bisa menyelamatkannya dari Jack.


Chris menatap Lucy tak percaya, “Lucy? Wajah kamu kenapa? Kenapa pipi kamu-”


Chris tidak melanjutkan kata-katanya saat mendengar seruan orang dari dalam, “Lucy, mau lari kemana kamu? Ayo kita bermain-main-”


Ucapan Jack itu langsung terpotong saat melihat Chris sudah berdiri di hadapan Lucy. Chris makin berang melihat tingkah Jack yang memainkan pisau lipat dan ia makin marah melihat Lucy yang luka-luka.


Mata Chris merah menatap sepupunya. “Lo…” Chris melewati Lucy yang sudah hampir pingsan itu. Ia menghampiri Jack, menendang tangan Jack yang memegang pisau lipat. Chris langsung meninju muka Jack. “Lo… apa yang lo lakukan…?”


Jack tak menjawab. Ia hanya mengerang karena berulang kali dipukuli Chris.


Lucy yang duduk di dekat pintu sudah tak dapat bertahan lagi. Ia semakin lemas dan matanya berat menutup.“Chris…” Dan ia pun langsung pingsan.


Untungnya Lulu, Gamma dan Bagus datang. Lulu langsung menangani Lucy sedangkan dua sepupunya itu melerai Chris yang bisa saja membunuh Jack.


“Udah cukup, Moreno!” seru Bagus akhirnya gemas karena Chris yang tak mau berhenti memukuli muka Jack yang udah babak belur itu.


“Mending lo khawatirin dia…” gumam Gamma asal berusaha mengalihkan perhatian Chris.


Chris tersadar. Dia melompat bangun dan melihat Lucy tengah di pangkuan Lulu.


Lulu tersenyum tipis, “Dia pingsan.”


*****


Diputuskan Lucy dibawa ke kamar Chris. Di sana ada Chris, Lulu, Gamma, Bagus dan perawat. Lucy masih pingsan sementara orang-orang itu mengobrol.


“Ga pernah nyangka kalau Jack akan nekat ngelakuin beginian…” ucap Bagus duduk di sofa.


“Sebenernya apa sih masalahnya?” Gamma bertanya pada Moreno, “Masa cinta segitiga?”


Chris menunduk. Ia tau betul alasan sikap Jack yang berlebihan itu. Selama ini Chris memang diperlakukan seperti boneka di keluarganya. Hanya dia. Dan Jack slalu berusaha supaya tetap demikian. Maksud Jack hanyalah supaya keluarga besar tidak mengalami masalah. Itu saja. Tapi Chris sudah muak dengan semua cekokan itu. “He just wants me not happy…”


Bagus tertawa pelan, “C’mon… Lo ga perlu melakukan hal ekstrim untuk bahagia kan?”


Chris tersenyum tipis. Gampang memang kalau ngomong. Chris menatap Lucy yang masih tidur itu. Ia tau perasaannya ini tidak berbalas. Ia tau Lucy tidak mungkin menyukainya.


“Pokoknya… rahasiain kejadian malam ini dari siapapun…” ujar Lulu angkat bicara. Lulu menatap Chris, “Moreno… forgets her.”


“Ya-ya-ya… got it!” Chris sebal sekali. Dia langsung keluar dari kamar saking jengkelnya. Ya, dia hanya boneka, tak punya hak sedikit pun. Bahkan untuk mencintai…


***


Paginya Lucy terbangun. Tak disangka, ia merasa sudah di surga. Kenapa ruangan tempatnya tidur mewah sekali ya? Tapi anehnya disana sudah ada Chris, Lulu, seorang perawat dan orang lain yang tidur di sofa.


“Kamu ga apa-apa kan?’ tanya Chris yang mukanya sudah pucat karena kurang istirahat itu.


“Ngga kok…” Lucy duduk bangun. Belum dia mengatakan apa-apa, sang perawat langsung menyajikan cake strawberry yang paling menggiurkan yang pernah dilihat Lucy.


“Dimakan ya…” gumam perawat itu sambil mengedipkan mata.


Lucy hanya tersenyum. Ia memegang pipinya yang diplester dan dahinya yang ternyata diperban.


“Sudah, mendingan kamu sarapan dulu ya…” ucap Chris lembut membuat Lucy merasa tuing-tuing ga karuan.


Lucy pun akhirnya sarapan saja. Cake-nya yang memang enak dan lembut membuat Lucy langsung sehat dan bersemangat.


Chris tersenyum juga, “Kalau bersemangat gitu, nanti ditambah ya…”


Lucy mengangguk. Chris langsung tertawa dan duduk di sebelah Lucy. Sesekali Lucy melirik cowok di sebelahnya. Baginya, Chris adalah pahlawannya semalam. Bagaimana tidak? Saat Lucy hampir ‘dicelakakan’ oleh Jack, Chris datang di saat yang tepat. Ini bukan suatu kebetulan kan? Saat Lucy terus memanggil nama Chris dalam hati, eh cowok itu benar-benar muncul.


“Kenapa senyum sendiri?” tanya Chris heran.


Lucy menggeleng sekali. “Cakenya enak… Oh ya, kemarin kenapa kamu ke asramaku?”


Chris terdiam sesaat dan melirik Lulu sekilas. “Kemarin aku dan 2 sepupuku yang lain lagi di asrama Lulu… Dan aku ceritain semuanya ke mereka soal sikap Jack… Dan kami pun langsung mengecek ke asrama kamu karena Jack ga akan pernah berhenti sebelum dihentikan…”


Lucy menunduk pelan. “Oh… Ng, thanks ya…”


Chris menghela nafas merasa kalau dialah yang harusnya minta maaf karena telah melibatkan Lucy dalam keluarganya. “Pipi kamu masih sakit?”


“Sedikit… Boleh tambah cakenya?”


Chris tertawa pelan. “Tentu…”


Saat seperti itu, Sani masuk sambil berkata, “Moreno, mau sarapan di au-la… gak?” Sani menahan kata-katanya, melihat Lucy di atas tempat tidur pacarnya. Sani tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Ia sendiri bahkan belum pernah tidur di tempat tidur Moreno.


Sni langsung buang muka dan pergi meninggalkan tempat itu.


Hal yang paling membuat Lucy tercengang, Chris langsung bangun dan mengejar Sani. Selera makan Lucy sukses hilang sempurna.


'Oh yahh… pacar adalah yang terutama kan?'


Sudah semenit tapi Chris ga balik juga, rasanya Lucy sebal. Dia pun bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Ia melihat Chris dan Sani yang berdebat di tangga. Lucy terdiam menonton mereka, mendengar sendiri Chris yang merujuk dan mengatakan kalau Lucy sakit dan bla-bla-bla gombal lainnya. Lucy ingin memuntahkan sarapannya ke muka Chris.


“Don’t believe what you see..” ucap Lulu yang sudah berdiri di sampingnya, “Terkadang apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan…”


Lucy hanya tersenyum tipis. 'Tenang saja… Kami memang tidak ada hubungan apa-apa. Tidak ada hubungan apa-apa.'


“Aku hanya berharap kalau aku buta dan tuli…”


'Chris… si playboy….


Akh!!!'

__ADS_1


__ADS_2