Apel Merah

Apel Merah
This Heart


__ADS_3

Seperti biasa saat sarapan pagi ini, Lucy kembali tidak diijinkan duduk di meja bundar, tempat makan biasanya. Ia hanya diperbolehkan makan di tempat duduk reot dekat tempat sampah yang baunya… uh sungguh disgasting disaster!


Doni menoel siku Surya dari meja mereka yang terbilang eksklusif, hanya untuk kalangan Jhansen Wijaya.


Surya mengangguk dan cekikikan. Sesuai dengan harapan mereka, Sani benar-benar bertindak walaupun tidak secara langsung, tapi dia sudah menyuruh kaki tangannya untuk ngerjain Lucy sampai sukses menderita beberapa hari ini.


“It’s not enough…” gumam Doni sambil memotong steak sapinya dengan anggun, “Mereka itu bagaikan macan yang ga akan pernah ngasih ampun… Tontonannya pasti akan semakin menarik…”


Surya mengekeh dan mengangguk. Dia tidak sabar menanti semua itu. Akhir-akhir ini dia memang merasa bosan dengan sekolah. Ingin sekali ada sesuatu yang seru yang terjadi, seperti di film-film.


“Kalian ketawa kenapa sih?” tanya Arnold Atlanta Jhansen Wijaya yang duduk di sebelah Surya.


Surya mendongak kaget, seperti pencuri yang tertangkap basah. Tapi Doni keliatan lebih tenang. “Calm, bro… It’s not your bussiness…” ucapnya kembali makan.


Arnold menghela nafas. Ia memang merasakan adanya aura yang aneh dalam aula ini. Beberapa cewek bahkan bergelagat aneh, seperti akan ada penggencetan massal saja.


*****


Hari ini benar-benar perang habis-habisan untuk Lucy. Saat ia keluar kelas Matematika, ada yang langsung melemparinya telur busuk. Dan sungguh ia ditertawakan oleh semua orang yang ada di situ. Dan lagi-lagi, pelakunya tidak terketahui oleh mata Lucy.


Setelah itu saat hendak ke perpus, badannya dilempari kapur saat menyebrangi taman rumput. Alhasil Lucy ga jadi ke perpus. Ia memilih berlindung. Bajunya saja sudah blepotan kapur, penjaga perpus pasti tak sudi mengijinkannya untuk masuk.


Dan terakhir saat di lorong, ia dibuat terjatuh sepanjang dua meter! Lucy benar-benar capek. Dan saat ini ia merasa lututnya sudah hampir patah.


'Oke, permainan usai… Permainan kalian sama sekali ga lucu.'


Lucy mengaduhkan lututnya yang sakit, ingin menangis tapi ditahan. Dia takkan membiarkan air matanya mengalir di depan orang-orang yang sedang menetertawakannya.


Tiba-tiba seorang cowok yang mukanya perpaduan Nick Carter dan Lee DongHae, berjongkok di hadapan Lucy.


Lucy mendongak kaget. 'Sekarang, siapa lagi orang asing ini??'


Cowok itu memperhatikan lutut Lucy yang bengkak sambil berpikir. Ia lalu mengeluarkan plester beningplester yang sama seperti milik Moreno. Dengan lembut dan hati-hati, dia menempelkannya di lutut Lucy. Cowok itu tersenyum.


Lucy jadi keki sendiri, tiba-tiba ada orang yang menolongnya di tengah lorong begini sementara yang lain senang sekali mengerjai dan menganggunya.


“Na-nama kamu siapa?”


Cowok itu mendongak. “Apalah arti sebuah nama…”


Lucy tersipu dan tersenyum. Suara cowok itu benar-benar menenangkannya.


Cowok itu tersenyum. Dia menjulurkan tangannya, “Arnold Atlanta…”


Lucy membalas salam itu. “Lucy Shiren…”


Arnold tersenyum, “Nama yang indah…”


Lucy tersipu lagi. Astaga, ini pertama kalinya dia dipuji cowok ganteng!!


“Lain kali kita ngobrol lagi ya…” ucap Arnold, “Tapi sekarang aku mesti kuliah…”


Lucy mengangguk dan baru ingat kalau ia belum mengucapkan terima kasih. “Oh iya makasih…!!”


Arnold menoleh dan tersenyum, “With pleasure…”


'Aih… Dia charm banget… Arnold Atlanta ya…'


Lucy pun bangkit berdiri. Dia seolah mendapat kekuatan baru untuk terus semangat dan pantang mundur menghadapi apapun.


'Oke, I’ll never give up…'


*****


Esok paginya saat sarapan, Lucy datang ke aula pagi sekali, bahkan sebelum yang lainnya berdatangan. Penjaga kantin pun hanya terbengong melihat Lucy yang datang-datang langsung minta makan itu. Lucy melakukan semua ini tak lain ialah supaya dia bisa membuat para ningrat itu gondok karena tidak bisa membuat Lucy makan dekat tempat sampah lagi.


'Pokoknya aku takkan membiarkan harga diriku diinjak-injak. Hahahaha!'


Jam tujuh tepat Lucy selesai dengan sarapan paginya sementara anak-anak yang lain baru berdatangan. Lucy keluar dari aula itu dan berpapasan dengan para wanita ningrat yang pernah menghinanya di taman. Lucy mencibir, “Aku udah makan, wek, kalian mana bisa menertawaiku lagi!”


“Cih!” ucap salah satu dari mereka pura-pura cuek padahal panas hati.


Dengan riang gembira, Lucy kembali ke kamarnya. Ia ingin tau kenapa Yeni, teman sekamarnya, tidak mau diajak sarapan dan keliatannya tadi pagi Yeni seperti sibuk mencari sesuatu.


“Yeni!” seru Lucy. Namun ia langsung terperangah saat melihat kamar yang berantakan dan Yeni yang tengah menangis tersedu-sedu. “Yeni, kamu kenapa?” Lucy langsung menghampiri sobatnya itu dengan prihatin, “Sebenernya apa yang hilang?”


Yeni masih menangis. Bagi Lucy, temannya ini bagaikan mayat hidup. “Tabunganku hilang semua…!”


“Hah? Apa? Kok bisa?”


Yeni menggeleng frustasi. “Padahal isinya udah lumayan banyak dan kukumpulkan untuk ulangtahun Mama…”


“Ya ampun, Yen… aku turut sedih…”


Yeni menangis lagi. Namun tiba-tiba ia bangkit berdiri membuat Lucy yang tadi memeluknya langsung kaget. “Aku mau ke ruangan Madame Rosita…”


“Hah? Buat apa?”


“Aku mau minta pindah kamar…”


“Eh?”


Yeni mendelik dengan matanya yang tajam dan menusuk. “Di kamar ini ada malingnya ternyata…” Yeni pun pergi meninggalkan Lucy yang tertohok dengan kata-kata Yeni.


'Maling…? Apa dia nuduh aku yang nyuri?? Dan… dia mau minta pindah kamar…?

__ADS_1


Oh terimakasih, Yeni, kau sahabat yang sangat baik… padahal… saat ini aku butuh dukungan teman… Akh!!'


**


Setelah kejadian tadi pagi, Lucy dipanggil Madame Rosita dan dihukum tanpa alasan untuk membersihkan halaman Gedung A selama seminggu penuh. Dan Yeni dipindahkan ke Asrama Bougenville yang sebelumnya Asrama Dandelion. Makin meranalah Lucy karena di asrama Dandelion hanya tinggal dirinya, Yona, si gila tidur dan Rahma, si pengejar beasiswa.


Di Beauxbutton, asrama wanita memang dibagi-bagi dalam beberapa jenis. Asrama Dandelion adalah yang paling murah sedangkan Asrama Rose atau Jasmine adalah asrama terelit khusus untuk kalangan atas yang berduit.


Dan sore ini Lucy kembali membersihkan halaman Gedung A sambil merenungi nasibnya sepanjang hari ini. Yeni dan Wulan yang tiba-tiba meninggalkannya, mood belajarnya yang turun drastic, belum lagi acara ga penting anak ningrat yang tak tega-teganya mengerjainya.


Moreno minum teh sambil memperhatikan Lucy yang tampak lesu itu. “Dia dihukum lagi?”


Saat sedang memperhatikan Lucy itu, Moreno melihat segerombolan wanita datang mengendap-endap di belakang Lucy dengan ember di tangan, sementara sebagian yang lain berdiri di pinggir dengan ember lainnya


Moreno mengernyit. 'Apa yang akan mereka lakukan…?'


Moreno langsung menelan jawabannya saat menyaksikan sendiri apa yang dilakukan cewek-cewek keji itu : menyiramkan air ke tubuh Lucy, yang bahkan air itu patut dicurigai, bersih atau tidak.


Lucy terperangah. Ia menoleh dan melihat musuh bebuyutannya beberapa hari ini terbahak puas melihatnya basah kuyup.


“Kalian….!!!”


“Tidak hanya basah, Nona…” ucap cewek yang dari tadi diam dan memegang ember yang lain, “Guys, let’s do it!”


Bagaikan agen SWAT atau apapun, cewek-cewek itu langsung memakai sarung tangan. Lucy heran, ingin tertawa malah, sebenernya ada apa sih semuanya ini?


Dan masing-masing orang memegang pencapit. Sambil menunjukkan tampang jijik, mereka mengambil sesuatu yang berada di dalam ember. Sesuatu yang ternyata hijau, disgasting, dan bau, dilemparkan ke Lucy.


“Wow, kena! Kena! Asyik nih!” seru salah satu dari mereka saat lemparan tahi kudanya mengenai badan Lucy.


Lucy mengendus kotoran yang menempel di tubuhnya. “Ih, ini kotoran kuda!! Kalian gila apa?”


Yang lain tak peduli, malah sibuk melempari Lucy dengan tahi kuda. Suatu kepuasan sendiri saat mengenai target.


“Eh, kalian apa-apaan?” Lucy menutupi mukanya supaya tidak terkena tahi kuda yang dilempar ke sana kemari oleh cewek-cewek sarap itu. “Hentikan! Ini bau tauk!”


Moreno hanya bisa melotot menyaksikan semuanya itu. 'Kenapa mereka menyerbu Lucy? Apa Lucy punya salah pada mereka??'


“Udah yu ah…” ujar salah satu dari cewek ningrat itu, “Bau nih…”


“Hihihi… apalagi dia…”


Cewek-cewek itu pun langsung pergi meninggalkan Lucy sambil tertawa terbahak-bahak.


Lucy berusaha membersihkan tubuhnya yang penuh dengan kotoran kuda. 'Sebenarnya salahku apa…? Dasar orang-orang yang tidak tau adat sopan santun!! Ukhhhhhh!!!'


Tangan Lucy terkepal marah. Saat dimana dia sedang menjalankan hukuman Madame Rosita, muncul segerombolan cewek yang tanpa alasan menghina dan melemparinya kotoran.


Saat ini Lucy tidak hanya merasa basah dan bau, tapi hatinya sudah tak tahan. Perih sudah. Dia tak tahan dengan semua kejadian yang terjadi beberapa akhir ini. Yeni dan Wulan─teman dekatnya─menjauhinya dan menganggap ia maling dan memang pantas dikerjai dan dijauhi. Belum lagi ulah para cewek ningrat yang membuat Lucy kehilangan kesabaran. Kali ini dia benar-benar ingin lenyap dari Beauxbutton. Dia lebih memilih kuliah di kampus yang biasa-biasa saja, daripada disini… menderita jasmani dan mental.


Lucy merasa matanya mulai basah.


Lucy berjongkok sambil membenamkan kepala di kedua tangannya.


Moreno menyipit. 'Dia menangis? Lucy menangis?'


Bagaikan tersambar petir, cowok ini langsung bangkit berdiri, bergegas turun dari ruang rekreasinya yang berada di lantai 3 menuju halaman.


Saat sampai di halaman, Moreno terengah-engah karena tadi berlari untuk cepat sampai di halaman, dan ternyata orang yang sedang ia khawatirkan sedang menyiram tanaman. Moreno pikir cewek itu sedang menangis tapi nyatanya sudah langsung menyiram tanaman. Hebat…


Lucy mematikan keran dan berbalik. Ia kaget saat melihat Moreno, apalagi malu karena tubuhnya yang masih blepotan… tahi kuda.


Moreno tersenyum tipis melihat penampilan Lucy dan bau tahi kudanya yang menyengat.


“Ng…” Moreno sendiri bingung harus mengatakan apa.


Lucy menunduk dalam, “Maaf, aku harus cepat-cepat ke dalam dan mandi…” Lucy bergegas melewati Moreno sambil menahan malu.


“Hei…” panggil cowok itu.


Lucy berhenti tapi tidak menoleh.


“Lain kali minum teh di ruang rekreasiku ya?”


Lucy tersentak. “Iya, tapi jangan sekarang ya… karena aku sangat bau…” Lucy langsung terbirit masuk ke dalam gedung. Moreno tersenyum halus. Baginya cewek itu tambah menarik.


*****


Moreno memegang kata-katanya yang kemarin. Sore ini, ia mengajak Lucy untuk minum teh di ruang rekreasinya. Awalnya Lucy berpikir kalau Moreno hanya mengada-ngada soal kata-katanya ‘ruang rekreasiku’ karena setahu Lucy, tiap asrama memiliki satu ruang rekreasi, bukan satu orang memiliki satu ruang rekreasi kan?


Namun Lucy hanya bisa terbengong saat memasuki ruang rekreasi yang dimaksud Moreno. Ruangannya lebih besar 2 kali dibandingkan ruang rekreasi Asrama Dandelion. Dan apalagi perabotannya yang mewah dan berkelas.


“Apa semua anak ningrat mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini?” tanya Lucy polos saat dua pelayan datang membawakan teh.


“Tidak juga. Hanya Jhansen Wijaya yang sudah kuliah yang mendapat ruang rekreasi pribadi… tapi ada banyak anak lain yang memiliki asisten pribadi seperti aku ini…”


Lucy mengangguk-angguk. 'Wahh… gaya hidup yang berbeda sekali.'


“Mau cake apa?”


“Ng, apa saja…. Asal jangan terlalu manis..”


Moreno tersenyum. Ia lalu berkata sesuatu pada asistennya itu untuk membawakan beberapa cake.


Lucy menatap sekeliling. Ruangan yang memancarkan aura kesepian. 'Apa ruangan ini hanya Moreno yang menempatinya? Apa sepupu-sepupunya yang lain tidak berkunjung? Oh iya, tiap mereka yang sudah kuliah kan sudah punya ruang rekreasi sendiri…'

__ADS_1


Lucy menatap mata Moreno yang sedang minum teh itu. Ia berusaha menyelami kedua mata tersebut. Lucy mendapat kesimpulan cowok itu memang kesepian.


“Apa?” tanya Moreno karena risih terus diperhatikan intens.


“Moreno, apa kamu…”


“Panggil aku Chris saja…” potong cowok itu datar.


Chris? “Ng, Chris…” Lucy gigit bibir, dia lupa mau bilang apa saking terpesonanya dengan panggilan kecil Moreno.


“Apa? Tadi kamu mau bilang apa?”


“Ng… aku lupa….”


Chris tertawa lebar. “Lupa? Belum semenit kan?”


Lucy tertawa pelan. Rasanya aneh sedikit… walau Lucy berusaha untuk melupakan cowok ini, tapi tidak bisa. Cowok ini justru yang ada saat Lucy merasa benar-benar kesepian dalam kesedihannya di Beauxbutton.


“Sudah tau alasan kenapa kamu dikerjai oleh cewek-cewek itu?” tanya Chris tiba-tiba.


“Heh?” Lucy bengong. “Kok kamu tau… aku dikerjai..?”


Chris tertawa halus. “Aku liat waktu kamu disiram air dan… dilempari kotoran…”


Lucy tersenyum grogi. Malu banget tentunya. “Aku juga ga tau… Apa karena aku membuat mereka iri? Haha…” Lucy tertawa hambar. Apa coba yang membuat para gadis ningrat itu iri padanya??


Chris masih memandang Lucy. Dia sih tidak tau apa yang membuat Lucy dikerjain orang-orang. Tapi… Chris akan melakukan sesuatu untuk membereskan semua ini. “Aku akan bantu… Tenang aja…”


“Eh, apa? Bantu apa?”


“Aku akan bilang pada mereka untuk berhenti mengerjaimu…”


“Eh, tidak perlu, Moreno─em, maksudku─Chris… Ini kan ga ada hubungannya dengan kamu.”


Chris tersenyum. “Kita temen kan?”


“Emh yahh…” Teman? 'Sebuah kata yang jarang diucapkan orang akhir-akhir ini padaku… '


“Kalo gitu, sebagai teman aku akan bertindak sesuatu untuk nolong kamu…”


Lucy hanya mengangguk saja. Jantungnya langsung berdebar ga karuan. Prince Jhansen Wijaya yang satu ini bener-bener jago merebut hati Lucy walau Lucy tau kalau cowok ini sudah pacaran dengan cewek lain.


*****


Esoknya Chris memang benar-benar memegang kata-katanya kemarin. Ia mengirim pesan pada cewek-cewek yang ia lihat melempari Lucy dengan kotoran. Isi SMSnya simple, hanya mengatakan kalau ia tidak mau melihat keributan kecil antar cewek di Beauxbutton, karna kalau tidak… Chris takkan segan-segan menggunakan nama Jhansen Wijaya untuk melakukan sesuatu yang ekstrim pada cewek-cewek itu. Tentu saja SMS itu langsung menyebar pada gadis-gadis kaum ningrat. Semuanya ngeri. Seorang Moreno Christopher bisa mengirim SMS macam ini? Sungguh horrible. Maka tidak ada lagi yang berani mengerjai Lucy. Semuanya berlangsung seperti biasa seperti sebelum kasus foto Moreno dan Lucy.


Lucy menyadari perubahan atmosfer ini. Dia tidak dipandangi dengan dengki saat di koridor, atau dikerjai saat makan siang atau dijadikan kambing hitam supaya dihukum Madame Rosita. 'Oh my God! Semua orang tidak mengerjaiku lagi…'


Tapi memang ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa diubah. Yeni dan Wulan masih menjauhinya… Lucy jadi berpikir apa Yeni masih menganggapnya maling?


Namun Lucy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Makanya saat ia berpapasan dengan Chris, Lucy langsung tersenyum lebar.


“Thank you sooo much!!”


Chris tersenyum, tak tahan melihat Lucy yang tersenyum begitu tulus padanya. “Buat apa?”


“Ga usah pura-pura ga tau…” gumam Lucy, “Aku udah ga dikerjai lagi, Moreno Christopher… Yuhuu!!”


Chris tertawa pelan. “Bagus deh…”


Lucy membalasnya dengan senyum malu. “Sebagai ucapan terimakasih, nanti saat jam minum teh, bisa ke asramaku ga? Aku akan menjamumu dengan spesial..”


“Oh ya? Dengan apa, Nona Shiren?” Chris berkacak pinggang konyol.


“Aku punya resep teh spesial, yang ga akan ada di Beauxbutton… Ng, aku juga akan membuatkan kamu roti bundar keluarga Mochtar!”


Chris mengkeh. “Oke, oke, aku tertarik… Nanti aku akan datang.”


“Bener ya?” tanya Lucy, tidak sadar kalau justru dia yang smakin mengharapkan cowok ini mendekat padanya.


“Iya…” Chris tersenyum lembut, “Aku pergi dulu ya, masih harus kuliah… Bye…”


“Dahh!!” ucap Lucy semangat banget. Senyumnya masih mengembang begitu lebar sekalipun Chris sudah pergi.


Tiba-tiba Lucy teringat.


'Astaga, Lucy… Kau tidak gila kan?


Aku mengundang Chris, si Jhansen Wijaya?? Dan dia menerima ajakanku?


Tapi dia kan… Dia kan udah punya pacar, Lucy bodooohh!!'


Lucy menggetok-getok kepalanya sendiri. Aku ini bodoh banget sih!


'Tapi…… mungkin tidak apa kan kalau hanya berteman dekat? Lagipula aku tau kok kalau perasaanku tak mungkin berbalas.


Huh. My broken heart…'


**


Malam itu Chris tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Lucy dan semua kejadian hari ini. Jam minum teh hari ini begitu berbeda baginya. Hari ini dia tidak minum teh sendiri, tapi ditemani oleh Lucy, bahkan cewek itu sampai membuatkannya roti bundar (kue basah yang manis dengan susu dan coklat).


Sepanjang sore ini mereka banyak mengobrol dan rasanya menyenangkan. Chris merasa tidak pernah berbicara sebanyak ini pada orang lain di Beauxbutton. Rasanya Chris bahagia sekali. Aneh, di dalam hatinya ada rasa yang berbunga-bunga.


Ia mengeluarkan buku agendanya─buku hariannya. Chris memang senang mengungkapkan perasaannya lewat tulisan, misalnya saat ia merasa kesepian di keluarganya, mengenai masalahnya dengan Sani, perasaannya yang sebenarnya atas sikap abangnya dan lain-lain. Dan sejak kemarin, yang ia tulis di buku ini selalu mengarah pada perasannya terhadap Lucy, teman barunya. Ia bingung mau menulis apa. Akhirnya ia hanya menulis :

__ADS_1


“What is this heart?”


L


__ADS_2