
Pagi, sebelum Lucy hendak berangkat kuliah, pintu kamarnya diketuk sekali. Lucy membuka pintu dan kaget, ia hampir menutup kembali pintu saking takutnya namun langsung ditahan oleh orang itu.
Diraz, orang yang tadi mengetuk pintutersenyum ramah. “Gue cuma pengen bicara bentar…”
Diraz minta Lucy mengikutinya keluar. Diraz tidak mau mengobrol di ruang rekreasi Dandelion yang baginya sangat sumpek. Diraz memilih mengobrol di luar, di bangku taman.
Mereka duduk bersebelahan namun Lucy masih bisa merasakan ketakutan seperti yang pernah ia rasakan saat Diraz berusaha menciumnya. Namun Lucy mendadak lebih mengkhawatirkan Arnold. Apa jangan-jangan Diraz mau membicarakan tentang Arnold? Lucy ingin sekali langsung menanyakan Arnold namun rasanya tak sopan, karena cowok inilah yang mengajaknya bicara.
“Gue minta maaf buat sikap gue kemarin…” ucap Diraz membuat Lucy spontan terhenyak.
'Hah? Dia minta maaf? Seorang Jhansen Wijaya minta maaf?'
Diraz tersenyum tipis, entah kenapa dia ingin memperbaiki hidupnya yang selama ini darkness abis. “Lo ga perlu ngekhawatirin Arnold. Dia udah dilepasin…”
Lucy tercengang. “Trus? Mana dia?”
“Dia dibawa ke Jakarta sama Lulu dan Bagus, cek ke rumah sakit, walau gue tau Arnold cuma luka ringan karena Jordan mukul dia ga terlalu keras…”
“Luka ringan?” Lucy mendengus pelan. Lucy tak mengerti dengan jalan pikiran lelaki. Arnold dicambuk berkali-kali dan dia bilang itu hanya luka ringan?!
“Apa lo mencintai Arnold?” tanya Diraz sambil memandang lurus ke depan.
Lucy sempat tersedak mendengar pertanyaan itu. Kenapa orang ini tiba-tiba nanya begituan coba? Tapi Lucy sendiri yang merasa bersalah karena ia sama sekali tidak punya perasaan cinta pada Arnold, perasaannya itu hanya untuk Chris. Lucy jadi terdiam sendiri, menyesal karena sudah membuat Arnold banyak berharap dan pada ujungnya diadili oleh para Jhansen Wijaya.
Karena Lucy lama tak menjawab, Diraz angkat bicara, “Rahasia ya? Lo tau ga kalau semalam Jordan ngirim SMS yang minta supaya kami tidak perlu ikut campur kalau ada salah satu dari sepupu kami yang pacaran dengan… ‘orang biasa’… Jordan juga minta supaya semua permainan kotor dihentikan dan dibuang dari tabiat Jhansen Wijaya generasi kami.”
Lucy tercengang mendengarnya. Wow, Jordan SMS kayak gitu? 'Tobat ya tu orang? Aneh juga… tapi baguslah.'
__ADS_1
“Karena itu…” Diraz menoleh, menatap Lucy, “Gue ga akan nyia-nyiain perasaan ini…”
Lucy menjauhkan kepalanya beberapa senti. Apa maksud cowok ini?
“Lucy… gue jatuh cinta sama lo…”
Mulut Lucy menganga. What? Cowok yang selama ini ia pikir akan membunuhnya ternyata malah jatuh cinta padanya? ''Are you crazy, Mister?'
Diraz tersenyum dan bangkit berdiri. “Yahh… tinggal tunggu waktu yang tepat aja… Tapi liat aja gue bakal berubah…” Cowok itu pun langsung pergi.
Lucy terbengong. Ia bergumam pelan, “Apa-apaan ini?” Lucy tak menyangka kalau Diraz yang jago nembak itu jatuh cinta padanya dan bahkan akan berubah kelakuannya supaya Lucy balik menyukainya.
Lucy tertawa suram. Mungkin dia sedang bermimpi pagi ini.
.
.
Sejak kemarin Danil memang intens sekali menelepon dan mengajak Lucy ketemuan untuk mengobrol. Lucy sih menganggapnya sebagai bentuk perhatian pada Arnold juga. Lucy ga tau aja kalau Danil berniat PDKT, cuek bebek kalau status Lucy masih sebagai pacar Arnold. Dan Lucy emang ga ngerti juga dengan sikap cowok yang satu ini, tadi pagi menelepon menanyakan mentalnya. For God sake! Lucy jengkel juga dengan sikap cowok yang lebih muda darinya inimasih kelas 3 SMA bo!tapi berlagak mereka seumuran dan bahkan menanyakan mentalnya? Huh.
“Hai…” Tiba-tiba Chris sudah duduk di hadapan Lucy. Walau ia tersenyum namun terlihat cemas.
“Chris?” Lucy kira cowok ini terdampar di pulau lain karena kemarin tidak terlihat di pacuan kuda.
Chris berekspresi bersalah. “Sorry ya kemarin aku ga nemenin kamu di pacuan kuda…” Chris mengalihkan matanya melihat meja, kembali ingat kalau Jordan dan Diraz tau ia bukan bagian dari keluarga besar yang sesungguhnya. “Farel benar… Aku ga berhak ikut campur… Aku minta maaf.”
Lucy benar-benar terharu. Kenapa cowok ini justru minta maaf? Justru Lucy sangat mengkhawatirkan kondisi Chris, terlebih pada keadaan jiwanya yang sudah dihina dina oleh Farel.
__ADS_1
“Kamu udah tau kalau Arnold tadi dibawa ke rumah sakit di Jakarta?” tanya Chris mengalihkan pembicaraan.
Lucy mengangguk. “Aku harap dia baik-baik aja.”
Chris tersenyum tipis, iri juga pada sepupunya yang dikhawatirkan oleh Lucy. “Kamu sendiri? Apa ada yang menyakiti kamu?”
“Ngga kok… Aku ga diapa-apain…” Lucy mencelos saat ingat sikap Diraz… yang hampir menciumnya!
“Syukur deh…”
Tiba-tiba Danil yang sudah selesai menelepon, nongol dan berkacak pinggang pada Chris. “Moreno, ngapain lo disini?”
Chris mengernyit, aneh juga dengan sikap dingin Danil. “Gue lagi ngobrol sama Lucy…”
“Tadi itu gue yang ngajak dia kesini! Kenapa lo malah ngedahuluin gue?”
Chris ingin tertawa, menertawakan Danil yang masih berseragam SMA namun yang berlagak kalau Lucy adalah pacarnya! tapi Chris jadi sedikit jengkel juga.
“Pokoknya lo pindah. Itu bangku gue…” lanjut Danil.
Lucy mengikik geli melihat muka BT Chris. Cowok itu pun langsung pergi setelah tersenyum sesaat pada Lucy.
Danil duduk di hadapan Lucy. “Kalian deket ya?”
“Yahh…” Lucy kembali memakan es krimnya.
Danil benar-benar tidak terima. Ia mana mau saingan sama Moreno, pria ganteng yang bisa bikin cewek klepek-klepek hanya dengan senyumannya saja. Dan sekarang… oh my… Danil tidak mau melihat Lucy dekat dengan Moreno.
__ADS_1