
Lucy menoleh, melihat perubahan wajah Chris. Cowok itu kelihatan sangat terpukul dan… sedih. Lucy kembali melihat rasa kesepian dan kesedihan di mata Chris.
Farel menarik Lucy untuk masuk ke dalam mobil. “Lo masuk, jangan ngebantah.”
Lucy hanya bisa pasrah masuk ke dalam mobil, meninggalkan Chris yang masih berdiri di sana, kelihatan tak berjiwa lagi karena kata-kata nyelekit Farel.
“Dia… Dia berhak…” Lucy mulai terisak di dalam mobil, “Mau sampai kapan lo nyakitin orang?”
Farel menoleh, melihat Lucy menangis. Farel kembali merasa bersalah. Kenapa cewek ini sampai menangisi penderitaan adik tirinya? Pikiran Farel mulai jalan… Moreno kesepian.. menderita karena tidak pernah diakui Papa… tidak pernah dilibatkan dalam acara keluarga… dan Farel menambahi penderitaannya dengan ejekan ‘boneka’ yang tersebar di antara para sepupunya.
Lucy masih terisak-isak. Lucy tak tahan dengan ekpresi Chris yang down itu… apalagi rasa kesepian dan kesedihan yang terpancar di mata Chris, seolah terhantar hingga Lucy ikut merasakannya juga.
Sepuluh menit mereka dalam keheningan sementara Lucy berusaha menguasai diri untuk tidak menangis.
__ADS_1
Farel melirik ke spion dan melihat mobil Honda CR-V silver yang melaju kencang di belakangnya, sekitar 20 meter di belakangnya.
“Berani juga dia ngejar…” gumam Farel.
Lucy menoleh ke belakang dan melihat mobil silver itu. Lucy sedikit lega karena nyatanya Chris tidak mundur atau melarikan diri. Chris mengejarnya, berusaha keluar dari cemoohan ‘boneka’ yang diberikan Farel.
Farel langsung tancap gas, menambah kecepatannya. “Buat apa gue capek-capek mesen mobil dari Amrik, kalo bukan untuk beginian… Mobil begituan ga akan bisa ngalahin kecepatan mobil gue.” Farel melaju ngebut di jalan raya melebihi mobil ambulans. Kecepatan mobilnya saat ini di speedometer hingga 120 km/jam, dan itu terus bertambah… Farel memang lihai dalam urusan ngebut-ngebutan dan menyelip sana sini.
Lucy hanya bisa memejamkan mata, merasa dia akan mati sebentar lagi. Sementara itu Chris sudah tertinggal jauh, tak bisa mengebut sambil nyalip sana sini seperti abangnya.
Farel membunyikan klaksonnya dengan brutal membuat orang di sekitar menyisi dengan ngeri karena mobil ngebut Farel itu.
Mobil hitam itu masuk ke dalam kapal sesaat sebelum gerbang kapal menutup. Lucy hanya bisa menahan nafas dengan segala kecakapan Farel yang hampir membuatnya mati sukses.
__ADS_1
Farel mengekeh sendiri dan mematikan mesin mobil. “Dia harus nunggu kapal berikutnya, 1 sampai 2 jam ke depan…”
Lucy kesal. Ia langsung keluar sambil membanting pintu. Lucy berjalan menuju sisi dek, berusaha melihat ke pelabuhan yang nyatanya mobil yang dikendarai Chris belum juga kelihatan padahal kapal sudah melaju. 'Chris…'
“Hai, cantik…” Lucy menoleh dan melihat 4 pria yang tak ia kenal mendekatinya. Dari gelagatnya sih, cowok yang ga bener.
“Sendirian aja nih?” tanya yang lain sambil berkedip.
Lucy tak mau berurusan dengan orang-orang ini. Lantas Lucy pun berusaha pergi dari situ. Namun sayang ia dihalangi oleh pria yang berambut plontos.
“Lho? Mau kemana? Main dulu yuk…”
Salah satu dari mereka ada yang mencolek pipi Lucy.
__ADS_1
“Jangan takut… Kami baik-baik kok…” Orang itu mulai menarik lengan Lucy, pelan tapi maksa.
“Lepasin…” ucap Lucy, bener-bener takut.