Apel Merah

Apel Merah
Arnold is Jhansen Wijaya


__ADS_3

Lucy buru-buru mengganti pakaiannya. Dia akan langsung ke pacuan kuda sekarang juga. Namun saat ia meninggalkan asrama, ia berpapasan dengan Chris. Rambut cowok itu bahkan belum disisir. Dia juga terengah-engah seolah buru-buru datang kesini.


“Chris?”


Chris berusaha mengatur nafasnya. Wajahnya kelihatan khawatir hebat. Dia langsung menarik lengan Lucy, membawanya paksa ke tempat parkir. Dan dengan remote kuncinya, ia membuka pintu Honda CR-V yang berwarna silver. Sebenernya ia mencuri kuncinya dari kamar Surya saat dia tidak ada, sedang di pacuan kuda menikmati ‘acara’.


Sebelum Chris menyuruh Lucy masuk, Lucy menghempaskan lengannya dari pegangan Chris. “Ada apa sih sebenernya? Aku harus ke pacuan kuda… Arnold… dia disekap para sepupu kamu.”


Chris menatap Lucy dengan matanya yang bening namun sarat kekhawatiran itu. “Aku ga akan ngebiarin kamu kesana.”


“Kenapa?” tanya Lucy mulai kesal, “Tadi aku ditelepon sepupu kamu yang bernama Jordan. Aku disuruh kesana… seolah-olah kalau aku ga kesana Arnold akan…”


“Lucy…” potong Chris, “Aku kan udah bilang kalau aku ga akan ngebiarin kamu kesana.”


Lucy mendengus jengkel. “Arnold lagi dalam bahaya! Dan aku disuruh kesana. Lagian kenapa sih Arnold berurusan dengan Jhansen Wijaya? Dan Jordan itu siapanya?”


Chris ternganga sebentar, tak menyangka dengan ucapan Lucy barusan. “Astaga, Lucy… Apa kamu ga tau kalau Jordan adalah abang Arnold, sepupu aku juga?”

__ADS_1


“Apa?” Lucy menatap Chris seolah cowok itu gila. “Kamu bercanda kan? Maksud kamu, Arnold… juga Jhansen Wijaya…?”


Chris mengangguk cepat. Sudah tak ada waktu. “Aku ga tau kenapa Arnold ga pernah ngasih tau kamu… Tapi, untuk sekarang ini lebih baik kamu jangan kesana… Kita harus meninggalkan pulau ini.”


Lucy makin pongo. Pertama, dia baru tau kalau Arnold adalah JHANSEN WIJAYA. Kedua, cowok gila yang tadi menelepon dan bilang kalau ia menyekap dan menghajar Arnold adalah abang Arnold sendiri. Ketiga, Chris mengajaknya meninggalkan pulau Aladin. “Aku mana mungkin pergi! Arnold lagi disekap! Aku harus kesana!”


“Lucy!” Suara Chris mulai meninggi dan tegas. “Aku ga mau ngeliat kamu disakiti oleh para sepupuku lagi. Cukup dengan Jack! Dan aku ga tau cara macam apa yang digunakan Jordan…” Chris meringis saat ingat abangnya itu pun terlibat. “Tadi pagi Lulu meneleponku kalau Arnold diikat di padang rumput pacuan kuda. Dan alasannya karena kamu! Jordan ga suka kalau Arnold pacaran dengan…” Chris menahan kata-katanya, berusaha mencari kata yang tepat, “Jordan tidak pernah menyukai orang yang dia anggap tidak sederajat, apalagi sekarang Arnold pacaran dengan kamu.”


Lucy menahan nafas. Jadi semua ini karena dia juga?? “Tapi Arnold-“


“Lucy! Kamu harus meninggalkan pulau ini. Aku ga akan ngebiarin kamu disakiti oleh mareka. Kamu harus ngerti!”


.


.


“Mana cewek itu?” tukas Doni tidak sabar. Dia sedang bersandar pada pagar pembatas tempat pacuan kuda sama seperti Surya.

__ADS_1


“Tenang..” sahut Farel datar sambil melirik arloji, “Masih dua menit lagi. Jordan kan ngasih dia waktu 15 menit…”


Farel memandang Jordan yang berada di tengah lapangan rumput, sedang memukuli Arnold dengan ikat pinggangnya. Arnold hanya memakai celana panjang dan dia diikat di tiang, tangan dan kakinya sudah keram dan mati rasa.


Di tempat pacuan kuda itu selain Arnold dan Jordan, ada Farel, Diraz, Doni, dan Surya. Bagus, Gamma, Jack dan Billy diajak, tapi Jordan hanya bisa mendengus kalau 4 orang ini bahkan tidak pernah menyukai cara kotor (Tapi kalau Jack, dia tidak mau ikut campur. Pukulan bertubi-tubi Chris cukup membuatnya kapok). Tadi malam Farel menelepon Lulu, menceritakan semuanya. Farel memang seperti ini, selalu menceritakan segala sesuatunya pada Lulu.


Tempat ini sudah ditutup bagi umum seperti biasanya atas perintah Jordan Alfa Jhansen Wijaya yang memang punya wewenang untuk membooking tempat. Jordan bahkan menyuruh Doni dan Surya untuk mengusir para penjaga dan pengawas dari wilayah itu.


Jordan memandangi adiknya yang sudah lemas. “Kenapa?! Udah lemas? Cuma segini aja?”


Arnold bergumam ga jelas. Badannya sudah sakit luar biasa, dicambuk berkali-kali oleh Jordan.


“Gue kan udah bilang, jangan jadi anak pemberontak!!” bentak Jordan. Diraz yang berdiri di sebelah Farel hanya geleng-geleng. “Bokap mungkin selalu berusaha sabar karena lo anak kesayangannya. Tapi gue? Gue udah muak dengan semua tingkah lo!!”


Farel memandangi Jordan. Cara Jordan memang berbeda, tidak sama dengan dirinya ataupun Jack. Kalau Farel jadi Jordan, dia tak hanya akan memberi pelajaran pada adiknya tapi juga pada cewek itu. Sedangkan Jordan? Jordan hanya akan menghajar bagian keluarganya saja. Dia menganggap kalau Arnold yang pantas disalahkan. Jordan tak peduli dengan Lucy. Dia memanggil Lucy untuk membuat Lucy kapok, tidak lagi berani-berani pacaran dengan orang yang ‘tak sepadan’ dengannya.


Jordan berbalik, menatap Farel dan Diraz. “Time's up. Bawa dia kesini.”

__ADS_1


Farel dan Diraz tanpa menunggu disuruh 2 kali langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Arnold sudah hampir pingsan. Kata terakhir yang bisa ia ucapkan hanyalah, “Lucy….”


__ADS_2