
'Te-ternyata… dia… Jhansen Wijaya?!!'
Lucy langsung memantau sekeliling, mencari tempat duduk kosong. Dia tak mau menghabiskan satu semesternya dengan salah satu Jhansen Wijaya. Baginya Jhansen Wijaya itu biang onar dan sok seperti Patrick dan Kevin yang membuatnya tidak sarapan.
Lucy mendapati dirinya tengah diacung-acungkan jari mengancam oleh cewek-cewek. Mungkin karena berani-beraninya dia duduk di sebelah Moreno, cowok tertenang yang pernah ada.
'Oh my God… I should come late…'
Tadi memang ada beberapa orang yang datang terlambat setelah Lucy dan karena tak ada bangku kosong, mereka didepak dari mata kuliah ini. Awalnya Lucy merasa the lucky girl tapi sekarang… dia ingin keluar dari sini!!!
'Kenapa aku bisa sesial ini? Mana cewek-cewek pada natapin aku sinis gitu. Kalo mereka emang mau duduk sama Moreno ya mereka duduk aja di sebelah dia. Mereka datang sebelum aku kan??'
Mrs Elena memulai mata kuliah hari ini dengan membahas secara singkat mengenai zat elektrolit. Kalo yang beginian sih Lucy masih hafal banget. Ini kan pelajaran SMA. Mrs Elena pun menyuruh tiap meja untuk melakukan praktek.
Lucy sempat gugup karena harus bekerja sama dengan Moreno. Kalau saja cowok itu bukan Jhansen Wijaya, Lucy mungkin bisa sedikit rileks.
“Kamu kenapa milih mata kuliah ini?” tanya Moreno tiba-tiba mengejutkan Lucy.
“Ng… karena aku ga terlalu suka Biologi makanya aku milih Kimia aja…” sahut Lucy sekenanya, “Ya walaupun temen-temen banyak yang milih Biologi… Tapi ga nyangka juga yang ikut mata kuliah ini bisa banyak… kirain cuma lima belas orang…”
Moreno tersenyum sambil mengangkat bahu.
Lucy merasa mungkin orang ini tidak seperti Jhansen Wijaya kebanyakan (Patrick dan Kevinred). Moreno mungkin orang baik yang tidak sombong ataupun angkuh.
Saat mereka sedang mempraktekkan zat elektrolit dan zat non elektrolit, tiba-tiba perut Lucy yang kelaparan berbunyi.
Moreno menahan tawa. Sesekali ia melirik muka Lucy yang kayak kepiting rebus itu dan menahan tawa lagi. “Belum sarapan?”
Tepat dengan gelengan kepala Lucy, bel berbunyi tanda mata kuliah itu usai.
Moreno mengeluarkan apel merah yang begitu cantik dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. “Nih, makan aja…”
Lucy hanya terbengong-bengong bahkan sampai cowok itu pergi meninggalkan kelas,
Tuh kan… ternyata dia baik juga… beda dengan dua sepupunya yang lain…
Saat bertemu dengan Yeni dan Wulan di loker, Lucy sudah bersiap-siap untuk bercerita, namun ternyata Yeni dan Wulan yang menghujani Lucy dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
“Gimana tadi kuliah Kimia? Mrs Elena galak ga?” tanya Wulan berapi-api.
“Makanya kamu masuk Biologi aja… walau emang agak ngantuk tapi kan lebih nyaman dan aman…” tutur Yeni.
“Tapi aneh ya, Yen… aku denger yang ngontrak kuliah Kimia ada sekitar 45 orang lho!!” ucap Wulan, “Dan yang ngontrak Biologi jadi turun drastis… cuma 20.”
“Ah paling mereka aja yang pengen suasana baru.”
Lucy hanya tersenyum sambil memakan apel merahnya. Sekarang ia tau alasan kenapa begitu banyak yang mengontrak mata kuliah Kimia. “Ga aneh kok kalo sampai 45 orang ngontrak Kimia…”
Wulan dan Yeni yang tadinya ngobrol berdua langsung menoleh.
“Kenapa?” tanya Yeni heran.
“Salah satu Jhansen Wijaya juga ikut kuliah itu sih..”
“Hah?” Mulut Wulan menganga lebar, “He-hebat banget… Jadi kamu sekelas samasama siapa?”
Lucy tertawa tanpa suara. “Moreno Christopher Jhansen Wijaya…” Lucy bahkan setengah merinding menyebut nama itu. Ada apa ya?
“A-apa?” Kali ini Yeni yang bersuara, “Padahal aku slalu berharap sekelas sama dia… Yang aku tau anak kalangan atas punya kelas tersendiri yang terpisah dengan kelas regular, tapi kenapa Moreno milih kelas Kimia regular???”
“Kamu duduk dimana, Lucy?” tanya Wulan yang kali ini ngedeketin Lucy yang bersandar ke loker itu.
Lucy nyengir sendiri. “Aku duduk di sebelahnya malah…”
“APA?!!”
“ENAK BANGET!!!!”
*****
Lucy baru menyelesaikan baca bukunya di perpustakaan Gedung E. Ia meninggalkan gedung itu dan hendak menuju Gedung F, ke tempat mata kuliahnya selanjutnya. Namun saat melewati taman rumput yang membatasi Gedung E dan Gedung F, Lucy berpapasan dengan Patrick dan Kevin.
“Halo, Kakak…” sapa Patrick dengan cengiran khasnya.
Lucy hanya mencibir. Dia memilih untuk tidak meladeni dua bocah itu daripada harus kembali terlambat ikut kuliah selanjutnya.
Namun Patrick dan Kevin tentu saja tak membiarkan mainannya pergi begitu saja. Lantas Kevin sengaja menjulurkan kakinya membuat Lucy hampir terjatuh.
__ADS_1
“Kalian ini apa-apaan sih?” bentak Lucy habis kesabaran, “Mau kalian apa?”
Beberapa orang di taman itu langsung serius memperhatikan Lucy dan dua anak SMP Jhansen Wijaya. Wah tontonan yang lebih menarik dibandingkan membaca buku.
“Mau kami?” Patrick tersenyum dengan gaya cengengesan SD-nya yang masih kental, “Kami mau Kakak…”
“Apa?!”
“Kakak ini mainan kami tau!” ucap Kevin serius.
“Dasarrr…” Lucy berusaha menahan geramnya yang sudah menjadi-jadi. 'Dasarr anak-anak sinting…'
Lucy memicingkan matanya menatap si Patrick… 'Dia… orang bodoh nomor 1… Lucy menatap Kevin yang sok polos itu… Dan dia… si orang bodoh nomor 2…'
Patrick dan Kevin langsung berlari sesaat setelah menarik-narik rambut Lucy. Lucy yang tak bisa terima perlakuan ini akhirnya mengejar dua anak bengal itu yang lagi-lagimemukul-mukul pantat, menghina Lucy.
Namun sayang baru berlari beberapa meter, Lucy terpeleset di atas rumput yang basah. Betapa sialnya ia terjatuh di tengah-tengah taman, yang sedang ditonton semua orang. Apalagi posisi jatuhnya ga kira-kira, badan yang tertelungkup ke tanah!!
'Sialll…'
Lucy mengangkat mukanya yang sedikit blepotan tanah dan rumput. Ia bisa mendengar beberapa orang tertawa dan si Patrick dan Kevin malah terbahak-bahak meleletkan lidah lalu pergi begitu saja. 'Dasar tak bertanggungjawab!!'
Sepasang sepatu berpijak di dekat kepala Lucy. Lucy menengadah. Seorang pria yang wajahnya begitu menarik tersenyum lembut pada Lucy.
Lucy mengerjapkan matanya sekali. Ia tidak kenal orang itu. Tapi ia memang merasa pernah liat. 'Tapi dimana ya??'
Cowok itu menepuk kepala Lucy. Lucy kira cowok itu akan menolongnya untuk berdiri atau semacamnya yang biasa dilakukan oleh seorang hero. Nyatanya…
Setelah menepuk kepala Lucy, cowok itu lantas membenamkan kepala Lucy ke rumput lebih dalam lagi.
“Apa-apaan sih!” tukas Lucy marah. Dia pikir orang ini berniat baik untuk menolongnya
Cowok itu tersenyum. “Ingat gue baik-baik. Nama gue Farel Radian Jhansen Wijaya… dan gue ga suka ngeliat lo gangguin sepupu dan adik gue…”
Lucy menganga. 'Jhansen Wijaya?! Pantas aku seperti pernah melihat wajahnya! Kenapa aku harus berhadapan dengan orang-orang macam mereka sih!'
Farel tersenyum lagi lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Lucy yang masih tergeletak di atas rumput.
'Farel Radian Jhansen Wijaya… si bodoh nomor 3…
__ADS_1
Hwaaaa!!! Mereka menyebalkan!!'