Apel Merah

Apel Merah
Senapan Diraz


__ADS_3

Arnold melotot mendengar itu. “LO JANGAN SEENAKNYA!! KALO LO MAU CAMBUK, CAMBUK GUE AJA! DUA PULUH KALI PUN GUE TERIMA! TAPI JANGAN LO SENTUH LUCY!!”


“Lo diem!” bentak Jordan pada Arnold.


Lucy melirik pada Arnold. Kalau dengan permainan ini, Arnold dibebasin, Lucy siap untuk berkorban… Lucy mengangguk membuat Arnold kembali berteriak-teriak, minta Lucy untuk tidak ikut dalam permainan kotor Jordan.


Diraz tersenyum dengan keberanian cewek satu ini. Kali ini Diraz ga akan main setengah hati. Dia optimis akan menang.


Jordan menyerahkan senapan pada Lucy dan Diraz. Dia mundur. “Tunggu aba-aba dari gue, baru kalian mulai membidik sasaran…”


Diraz asyik menyiapkan senapannya sementara Lucy sudah tegang setengah mati. Tiba-tiba Diraz mengangkat senapannya dan mengarahkannya pada Lucy. Lucy terperangah dan Arnold tegang setengah mati.


Danil yang melihat itu berjanji akan menghajar abangnya kalau dia benar-benar…


“Dor!” ucap Diraz sambil tersenyum. Ia menurunkan senapannya dan terkekeh melihat tampang Arnold yang kesal. “Kakek lo namanya Bambang Mochtar kan?”


Lucy terperangah. Apa kakeknya sebegitu terkenalnya ya sampai Arnold dan Diraz tau?


“Dia terkenal dengan tembakan jitunya…” Diraz tersenyum tipis, ingat dengan penolakan Bambang Mochtar saat diminta ayah Diraz untuk menjadi pelatihnya. Diraz kembali menaikkan senapannya, kali ini dia arahkan pada Arnold.


“Jangan main-main, Raz…” celetuk Jordan. “Kalian berdua siap di posisi masing-masing. Gue hitung mundur…”

__ADS_1


Baik Lucy maupun Diraz sudah mengarahkan senapan mereka ke langit yang gelap, terlihat ada beberapa kelelawar yang terbang.


“Waktu kalian 15 menit…” ucap Jordan sambil melirik jam tangannya. “Tiga… Dua… Satu!!”


Diraz duluan yang melepaskan tembakan, langsung menjatuhkan seekor kelelawar. Jordan yang bertugas menghitung kelelawar milik Diraz sedangkan Farel disuruh menghitung kelelawar yang ditembak Lucy.


Tangan Lucy gemetar, belum melepas tembakan sama sekali, sementara Diraz sudah menembak 3 ekor. Lucy melriik Arnold yang juga tengah memandangnya. Entah kenapa semangat Lucy kembali naik.


'Aku akan ngebebasin kamu… Bagaimanapun juga kamu seperti ini karena aku kan? Aku ga akan kalah!'


Lucy mengarahkan senapannya pada kelelawar yang sedang terbang dan menembaknya dengan mulus. Danil yang melihat itu sampai bergumam ‘wow’.


Waktu terus berjalan. Lucy sudah menembak 9 ekor sedangkan Diraz sudah 17 ekor. Lucy sama sekali tidak bisa melihat sasaran dalam gelap seperti ini apalagi sasaran yang bergerak. Kalo Diraz mungkin sudah biasa ‘berburu kelelawar’ di sore menjelang malam begini kan?


'Oh God, help me…'


Lucy mendengar kembali suara tembakan Diraz dan samar-samar terdengar suara mengerang seekor kelelawar. Lucy berpikir keras sambil menembak beberapa kelelawar yang semakin banyak keluar. Tiba-tiba Lucy seolah mendapat ilham. Ia memperhatikan kelelawar yang sedang terbang, baru keluar dari pohon besar yang berada di sisi kiri. Ia menembak kelelewar itu namun juga berpikir, apa pohon itu sarang kelelawar ya?? Lucy menelan ludah. Kalau aku tembak sarangnya… pasti ada banyak kelelawar yang keluar dan ini akan menjadi mudah… Lucy melirik Jordan yang focus menembak di sisi kanan.


“Kenapa, Lucy?” ejek Jordan, “Hilang nyali? Waktumu 6 menit lagi.”


Lucy mengacuhkan kata-kata itu. Ia menatap Arnold sesaat dan tersenyum. 'Aku akan ngebebasin kamu, Nold!'

__ADS_1


Lucy mengarahkan senapannya ke pohon, membuat Jordan dan yang lainnya yang menonton heran. Lucy mengarahkan senapannya pada dahan tempat seekor kelelawar baru saja keluar. Lucy menembak dahan itu dan… terdengar suara ribut kelelawar yang terusik, ada puluhan kelelawar keluar dari pohon itu. Dengan cekatan Lucy menembaki sasarannya. Tak ada satu pun peluru yang keluar dengan sia-sia. Lucy menembak dengan brutal, Diraz sampai menoleh mendengar suara tembakan bertubi-tubi itu yang membuat banyak kelelawar berjatuhan dan membuat Farel kewalahan menghitung. Diraz juga ikut menembaki para kelelawar itu namun sayangnya ia hanya dapat sisa karena Lucy sudah membabat semuanya dengan tak memberi Diraz kesempatan sedikit pun.


“TIME IS UP!” seru Jordan membuat Lucy dan Diraz berhenti menembak. Lucy merasa tangannya kebas, sedikit mati rasa.


Farel tersenyum menghina pada Diraz karena dia kalah bahkan dari seorang wanita yang bukan ningrat! “Lucy menembak 39 ekor.”


Jordan menatap Diraz kecewa. Kenapa permainannya justru dimenangkan oleh Lucy? “Diraz… 32 ekor.”


Arnold lega bukan main. Ini artinya Lucy yang menang dan cewek itu tak perlu dicambuk 10 kali. Arnold sangat lega dan bersyukur.


Danil, adik Diraz, berusaha menahan senyum. Dari tadi ia memang memihak pada Lucy dan senang bukan kepalang dengan kemenangannya yang membuat Diraz mati kutu, tanpa ekspresi.


Lucy tersenyum. 'Aku menang!' Lucy berlari menghampiri Arnold. “Aku menang, Nold! Aku menang!”


Arnold mengangguk, turut senang. Dia sangat bangga dan kagum dengan kegigihan Lucy yang melakukan semua ini hanya demi dirinya.


“Itu artinya kamu bakal dibebasin…” lanjut Lucy tersenyum girang. Arnold hanya tersenyum tipis, tidak marasa seperti itu. Dia tau permainan macam apa yang dibuat Jordan yang hanya akan merugikan Lucy dan dirinya sendiri…


Diraz muak melihat pemandangan itu. Dia bergegas mendekati Lucy, menyeretnya menjauh, melempar senapan yang dipegang oleh Lucy.


“Lo mau apa?” tanya Arnold langsung marah.

__ADS_1



__ADS_2