Apel Merah

Apel Merah
Permainan Jordan


__ADS_3

Jordan datang mendekat tanpa suara. Ia mengambil ember berisi air dan membanjurnya ke muka Arnold sampai Lucy pun terkena cipratannya. Jordan biasa melakukan ini kalau ia ingin Arnold yang pingsan atau tidur harus bangun.


“Lo apa-apaan?” tukas Lucy karena Arnold yang disiram begitu kayak tanaman.


Jordan tersenyum. Dia menunjuk Arnold yang ternyata sudah sadar.


“Lucy?” tanya Arnold masih berusaha yakin kalau dia tidak sedang bermimpi.


Mata Lucy sudah berkaca-kaca. “Aku udah datang, Arnold… Sebentar lagi… kamu akan lepas…”


Arnold menggeleng sekali. “Harusnya kamu ga kesini. Mereka bisa saja menyakiti kamu… Aku ga akan-“


“Aku ga mungkin lari, Nold, sementara kamu disini, diperlakukan seenaknya!” potong Lucy.


Arnold memandang Lucy sendu. “Kamu seharusnya ga kesini…”


“Liat luka kamu…” gumam Lucy sambil menyentuh luka Arnold, “Kamu dipukulin! Mereka nyuruh aku kesini supaya kamu ga makin dihajar…”

__ADS_1


“Lucy…”


“Kita clear-kan semuanya…”


Sementara Lucy dan Arnold masih mengobrol membuat Farel dan Diraz mual, Jordan menyuruh Surya untuk mengambil kembali makan siang Arnold yang tadi ditolak mentah-mentah olehnya.


Semenit kemudian, Jordan datang mendekat, “Udah-udah, cukup pacarannya!” Jordan memberikan piring plastic beriisi makan siang Arnold pada Lucy. “Lo… suapin dia makan. Dia belum makan dari pagi!”


Lucy mengambil piring itu dan Jordan langsung menjauh. “Lo belum makan dari pagi?”


Arnold memalingkan wajahnya. “Kehilangan nafsu makan. Diikat seperti ini, kedinginan, dipukul, dan disuruh makan? Aku ga sanggup…”


Akhirnya Arnold menurut juga dengan permintaan cewek yang ia suka ini. Entah kenapa Arnold seneng juga karena untuk pertama kalinya ia disuap oleh Lucy.


“Ga salah lo nyuruh cewek itu yang nyuapin?” tukas Doni sebal, “Bukannya mereka malah makin nempel?”


Jordan menatap Doni, dingin. “Lo ga liat Arnold mau makan saat disuapin cewek itu? Apa lo mau adik lo mati kelaparan?”

__ADS_1


Doni langsung bungkam, ngeri dengan tatapan Jordan. Ternyata di balik semua kejadian ini, Jordan masih memperhatikan Arnold. Mungkin memang benar, Arnold adalah orang yang paling disayangi di keluarganya, yah walaupun keras kepala, dan buktinya sudah dilihat Doni sendiri.


Setelah Jordan melihat Arnold sudah selesai makan, benar-benar menghabiskan makan siangnya, Jordan menghampiri Lucy, melempar piring plastic yang Lucy pegang. Dia tersenyum picik. “Saatnya permainan…”


Arnold langsung naik pitam. “Lo mau apain dia, hah?”


Jordan tak melihat pada Arnold sama sekali, masih menatap Lucy. “Ada sepupu gue yang tertarik main sama lo… Raz!”


Diraz yang dipanggil itu, datang mendekat. Jantung Arnold sampai berdetak kencang. Apa yang mau dilakukan Diraz coba?


“Permainannya mudah…” ucap Jordan, “Gue denger lo jago nembak ya? Diraz pengen coba tanding…”Jordan menunjuk langit yang mulai gelap, “Sasaran tembaknya kelelawar, yang paling banyak menjatuhkan kelelawar, dia yang menang…”


Lucy menelan ludah saat Farel datang dengan menyerahkan 2 senapan pada Jordan.


Diraz menatap Lucy, penasaran namun masih tidak terima dengan kata-kata cewek ini tempo lalu, membuat Diraz tidak bisa tidur, karena terus merenungkan semua kata-kata Lucy.


“Mudah kan?” tanya Jordan retoris. “Kalo lo menang, gue lepasin Arnold… Tapi kalo engga…” Jordan menunjukkan seringainya, “Sepuluh cambukan buat lo, Sayang.”

__ADS_1



__ADS_2