Apel Merah

Apel Merah
Billy Gamma JW


__ADS_3

Di pintu asrama, Billy ada di sana, geleng-geleng kepala. Arnold hanya tersenyum tipis dan mereka berdua pun berjalan menuju tempat parkir.


“Ujung dunia apaan?” sindir Billy sambil berjalan, “Lo cuma disuruh ke rumah Eyang yang ada di Surabaya, dan itu cuma 2 minggu…”


Arnold tersenyum walau saat ini hatinya perih sangat. “Gue pengen dia ngelupain gue. Itu aja. Semuanya demi kebaikan dia juga kok.”


Billy membantu Arnold memasukkan tas ransel ke bagasi. “Gue pikir lo cinta sama dia…”


“Memang… Tapi dia bukan untuk gue… sudah ditetapkan untuk yang lain…”


Billy dan Arnold sama-sama masuk ke mobil.


“Tapi dia menarik kan?” tanya Billy sambil menstarter mobil Honda Jazz-nya.


“Yeah… Dia tuh bagaikan apel merah di Jhansen Wijaya… akan selalu menarik perhatian para Jhansen Wijaya… Liat aja, gue yakin dengan pasti hal itu.”


“Apel merah ya? Gue tergila-gila dengan apel merah…”


Arnold tertawa. “Oh ya, gimana kabar Dara setelah peristiwa itu?”


Peristiwa yang dimaksud Arnold adalah peristiwa dimana Farel dan Diraz yang membuat Dara dikerjai di kampusnya. Dan yang paling parah, Farel malah menghina-hina Dara di depan kampus Dara, di hadapan mahasiswa yang lain, dan di hadapan Billy. Saat itu Billy tidak bisa melakukan apa-apa karena Diraz terus menahannya.


“Dara?” Billy tertawa sumbang, “Sejak peristiwa itu, dia ga mau ketemu gue. Dia minta putus dan bahkan menghina-hina gue dan fitnah gue… It means she’s not for me. Mungkin gue juga harus berterimakasih sama Farel dan Diraz yang sudah membuktikan hal itu.” Billy memundurkan mobilnya, “Tapi Lucy itu keliatannya tahan banting ya buat Jhansen Wijaya, beda dengan Dara.”

__ADS_1


“Ya… Lucy memang akan selalu berada di sekitar Jhansen Wijaya…”


Billy tersenyum. Mobil pun mulai melaju, meninggalkan Beauxbutton.


*****


Setelah pekan UAS selama 2 minggu, akhirnya liburan pun tiba. Selama UAS, Lucy jarang bertemu dengan Chris. Hanya saat UAS Kimia saja, mereka bertemu. Itu juga mengobrol sedikit, sekedar say hi. Justru Danil yang selama ini sering memperhatikan Lucy. Lucy sih tidak keberatan dan tidak berusaha untuk GR. But… gosh! Lama-lama Lucy merasa kalau Danil memang menyukainya. Hah? Lucy sampai memukul pipinya sendiri. Apa coba daya tarik seorang Lucy? Emang sih, dia lumayan cantik dan manis… tapi kan… yah ga setara dengan gadis ningrat yang berseliweran di sekitar Danil. Lucy tidak tau saja, penyakit love at the first sight-nya Danil.


Hari ini Lucy dan yang lainnya yang masuk dalam golongan ‘biasa’ masuk ke dalam bus yang menuju Jakarta. Mereka akan diantar meninggalkan Beauxbutton untuk liburan 2 minggu. Yeah! Lucy melirik ke luar jendela, melihat beberapa anak ningrat justru masuk ke dalam mobil pribadi mereka, tidak ikut dalam bus. Lucy juga jadi menyangka pasti para Jhansen Wijaya naik mobil masing-masing untuk pulang. Lucy jadi berpikir, bagaimana dengan Chris? Cowok itu kan tidak mempunyai mobil. Lucy hanya berharap yang terbaik untuk cowok itu.


Lucy menangis saat sampai di rumah, melihat orangtua dan Fara, adik perempuannya yang sudah kelas 2 SMP. Ada rasa rindu yang mendalam. Selama di Beauxbutton, mengalami penderitaan batin akan semua ulah Jhansen Wijaya, Lucy hanya bisa menangis sambil berharap memeluk keluarganya.


Malamnya, Chris menelepon membuat dada Lucy berdebar.


“Udahlah… dari tadi siang…” ucap Lucy sambil memainkan ujung baju.


Chris tertawa renyah. “Naik bus?”


“Iya… Kamu naik apa?”


“Aku bareng Farel.”


“Ha?” Lucy sampai menganga. Chris pulang bareng Farel? Apa selama di perjalanan Farel tidak menghina Chris?

__ADS_1


“Tenang dong, Lucy… Dia ga berbuat apa-apa kok… Justru dia berusaha ngajak ngobrol. Awalnya aku curiga, tapi keliatannya dia tulus, mau merubah sikapnya…”


Lucy benar-benar tak percaya. Sebenernya apa yang sudah terjadi sih dengan para sepupu Chris yang terkenal dengan sikap seenaknya dan anti sama rakyat jelata itu? Lucy jadi ingat dengan Diraz yang katanya juga mau berubah. Hah??


“Bagus kan?” tanya Chris karena Lucy diam saja.


“Iyalah… bagus banget… Aku ikut seneng, Chris.” ucap Lucy tulus.


Chris tersenyum. Dia ingat dengan pertemuannya dengan Arnold tadi saat di rumah. Entah kenapa para sepupu Jhansen Wijaya yang pria, mengadakan kumpul di rumahnya. Tidak melakukan atau membicarakan yang ‘aneh-aneh’, hanya makan, main music dan tanding basket. Seru sih. Dan Chris agak kecewa karena Arnold tidak mengatakan apapun seputar hubungannya dengan Lucy. Mereka hanya mengobrol ringan, membicarakan ujian kemarin.


“Chris… Besok kamu ada acara?” tanya Lucy tiba-tiba.


“Eh? Engga… Kenapa?”


“Main ke rumahku yuk? Mau ga?”


Chris tercengang namun langsung senang bukan kepalang. Dia diajak main ke rumah Lucy? “Bisa-bisa… Jam berapa?”


“Ya terserah kamu, asal jangan pagi-pagi aja. Tapi rumahku ga sebesar rumah Jhansen Wijaya..”


“Aku ga mikirin itu kok…” Chris terus-terusan tersenyum. Apa ini pertanda bahwa hubungannya dengan Lucy sedikit lebih maju ya?


__ADS_1


-billy


__ADS_2