
Cowok itu tersenyum. “Pagi… Moreno disini kan?”
Lucy benar-benar merasa bloon sekarang. “Kesini hanya untuk menjemput Chris? Tau rumah ini dari mana?”
Farel nyengir akrab. “Gampang. Gue tinggal nelepon Beauxbutton dan nanya alamat rumah Lucy Shiren Mochtar…”
Glek!
Lucy menelan ludah. Sekarang dia merasa para Jhansen Wijaya gila.
“Siapa, Lucy?” tanya Chris. Ucapannya terpotong saat melihat sendiri siapa tamu yang datang, membuat Lucy lama tidak balik ke ruang makan.
Farel kini tersenyum pada Chris. Dia mengalihakan pandangannya pada Lucy. “Lagi sarapan?”
Lucy mengangguk kaku.
Farel mengangkat bungkusan yang ia bawa. “Martabak dan buah-buahan?”
Lucy tersenyum gugup. Ia pun mempersilakan Farel untuk masuk, bergabung sarapan di ruang makan.
Sekarang Orangtua Lucy dan Fara hanya bisa terbengong melihat tamu lain, teman cowok Lucy lagi. Orangtua Lucy tak mengerti dengan anaknya. Apa di kampus Beauxbutton ia bergaul dengan kaum ningrat. dan tampan?
Sementara itu Farel tidak jaim sama sekali. Dia asyik mengobrol dengan ayah Lucy, membicarakan pertandingan bola. Mereka berdua ternyata menjagokan liga yang sama, Manchester United. Dia juga sesekali mengajak ibu Lucy mengobrol membicarakan kurs mata uang. Lucy dan Chris saling lirik. Mungkin memang tak salah lagi, Farel sudah berubah. Dia bahkan tidak anti dengan ‘orang biasa’ lagi.
__ADS_1
Setelah sarapan ayah Lucy dan Fara pamitan. Ayah Lucy hendak kerja sambil mengantarkan Fara ke sekolah. Sementara Lucy membantu ibunya beres-beres karena beliau juga akan berangkat kerja setengah jam lagi, Chris dan Farel mengobrol di ruang keluarga.
“Kenapa kesini?" tanya Chris terang-terangan.
“Ga boleh ya? Gue kan berniat baik… menjemput lo…” Farel melihat ke sekeliling. Awalnya terasa aneh karena baginya rumah Lucy begitu kecil, tapi lama-lama Farel mengabaikan hal itu.
Chris terdiam. Dalam hati seneng juga sih karena Farel bahkan tidak menggunakan kata ‘boneka’ lagi.
“Gue udah bicara sama bokap…” ucap Farel tiba-tiba.
“Eh?”
Farel tersenyum halus. “Bicarain lo… semuanya, tentang keluarga kita… Gue ampe bela-belain nunggu bokap selesai rapat supaya bisa ngobrol doang…”
“Gue minta ke bokap supaya dia merubah sikapnya ke lo… Yeah… you know kan…”
Chris benar-benar tercengang. Farel sampai melakukan itu? “Kenapa?”
“Apa harus ada alasan?” tanya Farel. “Awalnya kami berdebat dan akhirnya gue bilang kalo gue aja udah ngakuin lo sebagai bagian dari Jhansen Wijaya…”
Kali ini Chris bahkan sudah menganga. Lucy tersenyum. Ia kembali ke dapur, hendak membuat jus apel. Sepertinya keadaan mulai membaik ya?
“Tapi bukannya dulu lo…”
__ADS_1
Farel tersenyum tipis. “Seperti kata-kata seseorang… membuat orang menderita merupakan suatu kesalahan besar. Dan anggap aja gue lagi berusaha membayar semuanya…”
Chris terdiam. Ini beneran kan? Farel mau merubah sikapnya? Semudah itu?
“Kata-kata Arnold juga nyadarin gue dan yang lainnya…” Farel menyandarkan kepala di sofa dan memejamkan mata. “Dia sangat berani, menghajar mental kami dengan kata-katanya…”
Chris masih menatap abangnya. Mungkin memang tak ada maksud khusus di balik semua kebaikan Farel. Dia memang mau berubah.
“Jordan juga sampai ngirim SMS kalo generasi kita ga boleh kayak generasi di atas… Lo tau kan? Mereka main kotor, egois dan menghalalkan segala cara dengan uang. Tapi Jordan ingin semua kebiasaan jelek itu terhapus di generasi kita. Cool kan?”
Chris hanya bisa menahan nafas. Bahkan seorang Jordan pun mau berubah?? 'Sebenernya ada apa sih ini?'
Keheningan itu dipecah saat Lucy datang sambil membawa 3 gelas jus apel. “Asyik banget ngobrolnya…”
Farel membuka matanya dan memandang gelas yang berada di atas meja. “Itu jus apa?”
“Apel-lah…” jawab Lucy. Dia tidak bisa menahan senyumnya melihat abang adik ini sudah berbaikan. “Kalian penggemar berat apel kan?”
Chris dan Farel saling lirik dan nyengir.
“Yeah…” gumam Farel sambil mengambil gelasnya, “Semua Jhansen Wijaya menyukai apel merah…”
__ADS_1