
Sejak peristiwa itu, Lucy enggan berbicara dengan Chris. Cowok itu pun memilih untuk melakukan hal yang sama. Sedangkan Jack? Entah dia sudah tidak berulah lagi semenjak Chris memukulinya sampai sekarat.
Jadi di sinilah Lucy, menghabiskan waktunya di taman perpus dengan membaca buku. Dia merasa sudah tidak punya teman lagi. Yeni dan Wulan entah kemana, mungkin sudah melupakannya sebagai sahabat.
“Lucy Shiren?”
Lucy mendongak dari balik buku. Ia melihat seorang pria berkacamata yang sepertinya pernah ia temui deh. “Ya?”
“Ga ingat ya?” tanya cowok itu tersenyum manis, “Arnold Atlanta…”
Lucy duduk tegak. Dia mana lupa nama itu. Orang yang sempat membuat dadanya berdebar-debar kan?? “Hampir lupa soalnya kamu pake kacamata…”
Arnold tertawa. Ia melepas kacamatanya. Yahh, padahal bagi Lucy cowok itu terlihat imut dengan kaca mata. “Sering baca buku di sini?”
Lucy terdiam. “Ngga juga. Tapi lagi sumpek…”
Arnold tertegun, “Ke kafe yuk?”
Lucy pun menerima tawaran cowok itu. Baginya Arnold tidak seperti orang jahat atau bertopeng baik seperti Jack yang nyata-nyatanya senang sekali mencekik lehernya.
“Jadi-jadi… bagaimana ceritanya sampai pipimu lebam begini?” tanya Arnold setelah meminum kopi jahenya.
“Hah?” Lucy baru ngeuh kalau pipinya yang masih bengkak dan biru juga pelipisnya yang diplester. “Yahh… panjang…”
Arnold tersenyum. Senyum yang membuat Lucy tak tahan. “Yea, aku siap jadi pendengar kok…”
Lucy menghela nafas. “Tau Chris kan?”
Arnold mengernyit.
“Ah ya, maksudku Moreno Christopher! Siapa sih yang ga kenal dengan Jhansen Wijaya?!”
Arnold yang awalnya tercengang langsung tersenyum geli, “You’re right.”
Lucy menarik nafas, dia ingin menceritakan semua kekesalam hatinya ini. “Aku mengenalnya di mata kuliah Kimia, kami duduk bersebelahan. Yahh, awalnya kuanggap dia sebagai orang biasa, sebagai seorang teman…” Lucy memutar kedua bola matanya, “Dan… hubungan kami makin… yahh… lebih dari sekedar teman…” Lucy mengeluarkan suara seperti orang muntah apabila mengingat apalagi menceritakan semua ini.
Arnold hanya mengikik pelan. “Dan muncullah sepupunya yang menurutku harus dibawa ke psikiater!”
“Siapa?” tanya Arnold serius.
“Jack Putra Jhansen Wijaya. Ya, aku tau kamu pasti pernah mendengarnya karena di kalangan cewek dia diberi sebutan Prince Jack. Yaiks. Dan kamu tau? Pria itu sudah dua kali hampir membunuhku.”
“Apa?” Suara Arnold bahkan tak terdengar saking kagetnya.
“Dia pernah mencekikku sampai aku sakit leher selama dua hari. Ia meminta supaya aku menjauhi Chris, eh maksudku Moreno. Dan yang kedua kalinya lebih gila. Dia memukul pipiku dua kali dengan menggunakan buku tebal yang ada di kamarku. Liat saja mukaku sampai seperti ini.”
“Dia melakukan itu?” Wajah Arnold keliatan mengeras dan… marah.
Lucy hanya mendengus, “Dan selalu ia katakan bahwa aku harus menjauhi Chris, bahkan dia sampai menawariku uang.”
Arnold hanya bisa memandangi Lucy. Speechless.
“Dan untungnya, aku tidak tau ini kebetulan atau bukan, Chris datang dan ia langsung marah dan meninju muka Jack. Dan aku pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit.”
“Lalu?” tanya Arnold nanar.
“Paginya aku sudah berada di kamar Chris. Di sana sudah ada Lulu, sepupu Chris, perawat juga seorang lagi sepupunya yang tidur disofa, yang ga aku tahu namanya…” Muka Lucy langsung berubah jengkel, “Dan pada hari itu juga aku tau kalau Chris itu playboy cap papaya! Sani…aku rasa kamu pasti tau wanita ningrat yang cantik itudia datang dan mungkin jealous melihatku, ia langsung keluar dengan muka marah. Si Moreno itu langsung mengejarnya, membujuknya dengan rayuan gombal….” Lucy berhenti bicara. Capek juga kalau ngomong terus tanpa istirahat, apalagi bicara dengan hati mengkel. “Pokoknya aku muak padanya!”
Arnold masih tercengang dengan semua cerita Lucy. Untuk beberapa saat dia terdiam, namun akhirnya berkata, “Di dunia ini ada berbagai jenis karakter manusia… Ada yang polos dan lugu… Kurasa itu adalah kamu… Ada juga yang tidak mau peduli dengan urusan orang lain, yang ia pikirkan hanyalah kepentingan pribadi dan kelompok… Ada juga yang mau diperintah apa saja, mau diperlakukan apa saja….” Arnold menghela nafas saat sadar betul kalau orang itu ialah Moreno, sepupunya sendiri. “Tapi ada juga yang baik, peduli pada orang lain, tidak egois, bebas namun tetap mengikuti norma yang ada, bisa menjaga diri, tidak terbawa arus…” Arnold tersenyum, “Dan orang itu ada di hadapanmu sekarang.”
“Huuu…” Lucy menepuk lengan Arnold namun tertawa juga.
“Yang jelas, Lucy, tiap orang memiliki suatu ruang dan sisi yang sama sekali tidak kita ketahui. Kita mungkin menganggapnya brengsek namun siapa tau ternyata ada ruang yang selalu ia tutupi yang tidak ingin orang lain ketahui…”
Lucy tersenyum masam, “Kamu membela dia ya?”
Arnold langsung tertawa, “Siapa bilang? Aku bicara secara umum kok…”
Lucy tersenyum. Ia meminum coklat panasnya lagi. Hari ini dia merasa menemukan seorang teman bicara yang menyenangkan, nyambung dan bermoral.
*****
Sejak kejadian itu, Lucy dan Arnold semakin akrab. Mereka sering bertemu di siang bolong di taman depan perpustakaan.
Bahkan saat makan malam hari ini, Lucy yang sedang makan sendiri kaget saat Arnold Atlanta duduk di sampingnya dengan tersenyum.
“Kok makan di sini?” tanya Lucy agak terbata-bata. Pertanyaannya saja sampai aneh begitu.
“Lho? Ga boleh?”
“Ngga. Biasanya makan di meja mana? Jarang liat.”
“Yeah, makan dengan pria-prialah…” sahut Arnold sambol melahap makan malam yang ia bawa.
Lucy melirik cowok di sebelahnya yang makan dengan lahap itu. Lucy tersenyum, seneng juga akhirnya ia punya kenalan alias teman dekat yang bukan Jhansen Wijaya. (Lucy tidak tau kalau Arnold ini Jhansen Wijaya…….)
Saking senangnya, Lucy mengambil apel merah yang berada di pangkuannya dan meletakkannya di depan muka Arnold.
Arnold tercengang. “Kok tau aku suka apel merah?”
Lucy malah balik tercengang, “Aku ga tau kok. Cuma berniat memberi pencuci mulut.”
Arnold terkekeh. “Pokoknya inget baik-baik ya kalo aku tuh suka banget dengan apel merah…”
Mendengar kata-kata Arnold, Lucy jadi ingat dengan apel merah pemberian Chris saat Lucy yang memang belum sarapan. 'Kenapa dua pria ini ada kemiripan?'
“Enak ya kamu dapat apel merah sebagai pencuci mulutnya…” gumam Arnold sambil mengelus-elus buah apel. “Kalau meja kami diberi anggur atau pir. Yaiks.”
Lucy mengernyit, “Lho? Memangnya kamu di meja mana? Kok pencuci mulutnya bisa beda?”
Arnold tersenyum tipis. Dia malas membahas hal ini. “Kamu baru tau ya kalau kadang pencuci mulut tiap meja dibedakan?” Lebih tepatnya meja kaum ningrat dan bangsawan kan?
Lucy hanya mengangguk-angguk polos. “O gitu, baru tau…”
“Makanya kamu harus sering-sering bawain aku apel ya…”
__ADS_1
Lucy tersenyum, “Kalau soal itu sih gampang.”
*****
Siang ini seperti biasa setelah kuliahnya kelar, Lucy menunggu Arnold di taman depan perpustakaan dengan apel merah di pangkuannya. Lucy sih sudah biasa mengambil buah yang satu ini dari dapur kantin. Hehe. Makanya dia sering bikin Arnold senang dengan oleh-oleh mungil itu.
Lucy sedang duduk di bawah pohon, serius membaca buku ensiklopedia sambil menunggu Arnold datang.
Tiba-tiba seorang pria datang. Lucy sama sekali tidak menoleh saking asyik membaca. Spontan dia langsung memberi apel merah pada orang itu.
“Tau ya kalo aku suka apel merah?”
Lucy langsung tersentak. Dia tau suara itu bukan suara Arnold tapi suara… Chris!! Lucy memandang cowok yang berdiri di depannya itu.
Chris tersenyum dan langsung duduk di sebelah Lucy. Lucy merasa gagapnya kambuh. Dia ingin marah atau mencakar-cakar muka si playboy yang satu ini namun dia malah deg-degan.
“I feel different with you…” ucap Chris.
Lucy hanya bisa menelan ludah. Maksudnya apa neh pangeran yang satu ini??
“Rasanya sekarang beda…” lanjut Chris menatap kosong ke depan, “Sepertinya kita tidak seperti dulu…”
Lucy tersenyum hambar. 'Yang mengubah semuanya kan kamu!!'
“Memang seharusnya beda… Dunia kita berbeda… Dan aku…” Lucy menunduk, “… tidak pernah mau lagi berurusan dengan Jhansen Wijaya..”
Chris menelan patah hatinya dalam-dalam. “Yeah…” Chris ingin sekali mengobrak-abrik Beauxbutton saking kesalnya apabila ingat dengan sebutan para sepupunya terhadapnya yang menyebutkan ia sebagai boneka Papa. Dia ingin mengubah itu, tapi memang tak bisa, tidak tega pada ayahnya sendiri.
Chris menoleh, memandang pipi Lucy yang masih sedikit memar. “Luka kamu…” tangan Chris berusaha menyentuh pipi Lucy dengan lembut namun Lucy refleks menghindar beberapa senti, tidak mau disentuh.
“… sudah sembuh…?”
“Udah ga sakit lagi kok…” jawab Lucy pelan.
“Oh…” Chris kembali menerawang menatap pemandangan di hadapannya. “Kayaknya kamu lagi nunggu orang…”
“Ya…” Lucy berkata sejujur-jujurnya untuk membalas sakit hatinya tempo lalu, “Cowok… dan bukan Jhansen Wijaya…”
Chris tidak tersenyum sama sekali.
Lucy melirik cowok di sebelahnya yang terus terdiam. Lucy jadi berpikir seandainya Chris tidak playboy; mendekati dirinya sekaligus berpacaran dengan Sani, Lucy pasti sudah mau berteman makin dekat dengan Chris. 'Tapi kan… U-ugh!! Nyebelin!!' Mengingat ini Lucy jadi sakit hati.
Chris bangkit berdiri dengan apel merah di tangannya. “Good luck ya dengan pria itu…” Chris hanya tersenyum sekenanya lalu pergi meninggalkan Lucy. Cewek itu agak sedih juga, mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka, yang akhirnya kandas dengan kekesalan di pihak Lucy.
Lima menit kemudian, Arnold datang. “Hei!”
Lucy menoleh dan langsung tersenyum.
“Tadi di pintu Gedung E, tebak aku berpapasan dengan siapa?”
Lucy menahan nafas. Jangan sampai Arnold bilang….
“Moreno-mu itu…” sahut Arnold datar, “Tadi kalian mengobrol ya?”
“Ya… Tapi sudahlah tidak penting… Aku sebal kalau harus cerita lagi…”
Lucy berekpresi penuh rasa bersalah, “Maaf… Besok deh aku ambil dari dapur kantin, dua apel…”
Arnold tertawa. “Bercanda-bercanda. Bagaimana lukamu, Sweety?”
Kalau tadi Lucy menghindar saat pipinya mau disentuh Chris, kali ini ia membiarkan Arnold menyentuh pipinya. “Udah ga sakit lagi kok… tapi masih biru sih…”
“Bentar lagi pasti hilang…”
Lucy mengangguk. Ia ingat kalau ia ingin memamerkan buku yang sedang ia baca. “Liat deh, di buku ini pacuan kudanya keren banget kan?? Katanya sih kuda yang berkualitas saja bisa sampai satu Milyar!!”
Arnold memperhatikan Lucy yang masih terkagum-kagum itu. Dia heran memangnya cewek ini ga tau kalau di Beauxbutton juga ada pacuan kuda?? Arnold langsung ngeuh kalau tempat itu memang tidak terbuka untuk umum, hanya untuk kalangan ningrat papan atas yang punya golden member di Beauxbutton. Jadi pantas saja kalau Lucy tidak tau apa-apa. “Hei… mau kuajak ke tempat yang asyik tidak?”
Lucy mendongak. “Lho bukannya di luar hari libur kita dilarang keluar dari sekolah?”
Arnold terkekeh, “Sayangnya tempat asyik itu justru ada di sini, jadi tidak usah keluar. Mau?”
Lucy mengangguk-angguk, “Mau-mau…”
“Oke… tapi jangan sekarang ya… karena perutku sudah lapar…”
Lucy tersenyum. Dia juga memang lapar.
“Makan di aula yuk?” ajak Arnold. Lucy langsung mengangguk.
*****
Lucy menghela nafas sambil membuka lokernya dengan malas-malasan. Tadi saat kuliah Kimia, pikiran dan hatinya kacau beliau. Chris tidak bicara sedikit pun. Yah, seharusnya Lucy senang kan dengan hal ini? Bukannya dia mengharapkan adanya kerenggangan seolah tak kenal. Tapi entah kenapa Lucy malah makin sebal kalau Chris tidak peduli sedikit pun padanya. Tadi Lucy tidak bisa mengerjakan praktek hari ini namun ia malu meminta Chris mengajarkannya. Pokoknya Lucy menganggap Chris berubah, seolah menjauhinya atau apalah.tapi bisa saja kan cowok itu melakukannya karena kemarin Lucy yang bilang sendiri kalau ia tidak mau berurusan lagi dengan Jhansen Wijaya??
'Argh!! Kenapa jadi ruwet gini sih!'
Lucy yang bengong begitu langsung terperangah saat seseorang tiba-tiba menarik lengannya. Lucy menoleh. Ternyata Arnold.
Arnold tersenyum lebar, sedikit terengah-engah karena tadi berlari saat melihat Lucy. “Sekarang juga aku akan membawamu ke tempat yang asyik…”
“Ha?” Lucy hanya melongo.
“Ayo!!” Arnold sudah hendak menarik lengan Lucy namun cewek itu tahan.
“Eh tunggu, lokernya aku kunci dulu….” Cepat-cepat Lucy mengunci lokernya, tak jadi menyimpan buku seabrek yang saat ini ada dalam tasnya.
Arnold langsung menarik lengan Lucy, membawanya berlari meninggalkan lorong itu.
“Kita mau kemana?” tanya Lucy setengah teriak karena capek juga harus mengimbangi lari cepat cowok satu ini.
Arnold tak menjawab. Dia hanya menoleh dan tertawa. Dengan gesit, ia mengambil tas Lucy yang berat itu dan membawanya supaya Lucy tidak kerepotan saat berlari.
Lucy terengah-engah karena ternyata Arnold membawanya berlari dari Gedung C sampai Gedung G !! 'Oh my goodness…'
Arnold berhenti berlari saat sampai di depan pintu Gedung Ggedung yang sama sekali tidak pernah didatangi Lucy. “Nah… Welcome to…”
__ADS_1
Omongan Arnold yang sepotong itu hanya membuat Lucy bingung. Namun kemudian Arnold membuka pintu besar itu, yang ternyata di dalamnya ada lahan yang sangat luas dengan kuda-kuda sedang berlari ke sana kemari. Di tengah padang rumput itu ada kandnag besar yang terbuat dari papan jati, kuat, tidak lapuk.
Lucy menganga parah melihatnya. Ini seperti mimpi, dia meliihat pacuan kuda di…. Beauxbutton!! “Ini… punya sekolah kita??”
Arnold menahan tawa, “Iya… Ini milik sekolah kita…”
Lucy hanya tertawa senang. Dia baru tau, dan merasa sangat bodoh, kalau sekolah ini punya padang rumput luas dengan… uh-wow, ada banyak kuda yang cantik-cantik.
“Ayo…” Arnold menarik Lucy yang masih senyum sendiri itu untuk masuk ke padang rumput itu.
Saat mereka sudah lima belas meter dari pintu masuk, seorang petugas yang memakai perlengkapan berkuda datang menghampiri Arnold, sedikit menunduk, seolah memberi hormat. “Bersama dengan teman?”
Arnold mengangguk. “Ng… bisa tidak bawa dia ke tempat baju ganti untuk… yea, kau tau…”
Petugas itu tersenyum sopan dan mengangguk. Ia langsung beralih pada Lucy yang bengong. “Mari, Nona…”
Lucy melirik pada Arnold, antara cemas dan takut. Ini mau apa sih? Namun Arnold tersenyum dan mengangguk.
Setelah melihat Lucy sudah dibawa masuk ke dalam, Arnold ke tempat ganti pria untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian berkuda.
Dua puluh menit kemudian, Arnold sudah bersandar dip agar pacuan kuda, menunggu Lucy. Dan untungnya Lucy tidak terlalu lama. Dengan jalannya yang kaku dan setengah gugup, dia mendekati Arnold.
Arnold tersenyum puas melihat Lucy sudah memakai pakaian berkuda beserta kelengkapan keamanannya.
“Aku ga biasa pake baju beginian…” ucap Lucy jujur, menatap seragam putih, celana ¾ yang ketat di kaki juga sepatu boot setinggi celana, juga ‘pernak-pernik’ lain yang membuat Lucy risih.
“Lho? Kita kan mau berkuda jadi wajib memakai pakaian berkuda…”
“Hah? Kita mau berkuda?” tanya Lucy baru nyadar.
Arnold tersenyum halus. “Yuk…” Ia membimbing Lucy masuk ke dalam arena pacuan kuda. Ada beberapa orang yang sedang asyik berkuda dengan lambat sambil menikmati pemandangan dan sinar mentari yang hangat itu. “Mau lihat kudaku tidak?”
Lucy hanya angkat bahu. Terserah Arnold deh mau melakukan apa. Lucy sama sekali ga ngerti apa-apa.
Tiba-tiba Arnold bersiul nyaring. Beberapa detik kemudian, seekor kuda berwarna coklat bersih dengan ekor panjang berlari menghampiri Arnold. Lucy sampai mundur saking syoknya ngeliat ada kuda yang bisa dipanggil tuannya hanya dengan sebuah siulan.
“Lucy… kenalin… Symphony…”
Lucy tersenyum namun hanya diam tak bergerak, ngeri juga kalau liat kuda dari dekat ya…
Arnold menoleh, “Pegang aja, ga apa-apa kok…”
Lucy pun membelai punggung kuda itu dengan perlahan dan lembut. Merasakan pertamakalinya membelai kuda cantik, Lucy jadi tersenyum. Ternyata menyenangkan juga.
“Naik yuk?” ajak Arnold.
“Hah?”
“Udah ga pa-pa…” Arnold langsung mengangkat tubuh Lucy dan menaikkannya di atas punggung Symphony. Arnold tersenyum lebar, “Wahh.. sepertinya Symphony tidak merespon seperti biasa saat ditunggangi orang asing…”
“Apa?” Lucy langsung berwajah ngeri.
Arnold nyengir, “Biasanya dia langsung lari tunggang langgang, memaksa orang asing itu untuk enyah dari punggungnya…”
Lucy memelototi Arnold, minta dibawa turun.
“Tapi kayaknya kalau kamu yang naik, no problem buat dia…” Arnold tertawa pelan, “Ternyata dia mengerti perasaan tuannya…”
Arnold pun langsung naik ke atas kuda itu, tepat di belakang Lucy. “Nah sekarang, ayo kita berpacu…”
Dengan seruan nyaring, yang biasa didengar Lucy di film-film, Symphony pun langsung berlari tenang. Lucy hanya bisa berpegangan pada leher kuda itu saja, ngeri juga kalau naik kuda.
“Gimana? Sudah merasakan symphony-nya??” tanya Arnold yang nafasnya terasa di leher Lucy.
Lucy tersenyum geli. Jantungnya hampir melorot, entah deg-degan karna naik kuda atau karna naik kuda berdua dengan Arnold. Seperti putri dan pangeran dalam cerita kan?
“Aku sangat senang berkuda…” ujar Arnold masih fokus mengendalikan Symphony, “Kalau aku merasa sendirian, aku bermain dengan Symphony…”
Lucy hanya diam. Dia tidak tau kenapa Arnold juga merasa sendirian, sama seperti Chris yang ia anggap sangat kesepian.
Setelah puas berkeliling padang rumput bersama Symphony, Arnold turun namun tetap membiarkan Lucy di atas. Arnold mengendalikan Symphony untuk hanya berjalan pelan-pelan saja, sambil mengobrol dengan Lucy.
“Luka di pipimu sudah menghilang…” ucap Arnold.
“Oh ya…” Lucy memegang pipinya yang sudah tidak lebam lagi, pipi yang pernah didamprat Jack dengan buku tebal.
“Moreno… Apa kamu masih memikirkannya?”
Lucy terhenyak untuk sesaat. Kenapa Arnold doyan sekali bahas beginian? “Sedikit… Tadi saat kuliah kami sama sekali tidak berbicara satu sama lain…”
“Senang kan kalau seperti itu?” tanya Arnold datar.
Lucy tersenyum kecut. Dia tidak bisa jawab apa-apa. “Pria playboy sepertinya bisa kulupakan dalam waktu semalam…”
Arnold mengekeh, “Aku pikir dia bukan playboy.”
Lucy buang muka. “Sudahlah jangan bahas dia, bikin aku jengkel saja.”
“Oke-oke…” Arnold berdehem sesaat, “Kalau gitu, apa sekarang sudah tertarik dengan kuda?”
Lucy menoleh, memandang wajah Arnold yang tampan itu. “Sedikit… Symphony-mu ini menyenangkan…”
“Oh ya? Kalau gitu coba lagi ya…” Tanpa permisi atau apa, Arnold memukul pantat Symphony sehingga kuda itu langsung berlari kencang. Lucy saja hampir terjungkal saking kagetnya. Ia hanya bisa teriak-teriak saat kuda itu berlari kencang meninggalkan Arnold. Cowok ini malah tertawa mendengar Lucy yang sudah teriak seperti orang kesetanan.
Akhirnya karena tak tega juga, Arnold bersiul memanggil Symphony untuk kembali. Setelah turun dari kuda itu, yang Lucy lakukan pertama kali ialah langsung memukuli Arnold dengan kesal. Ga keras sih.
“Aku hampir mati saking takutnya tauk!” seru Lucy masih memukuli lengan Arnold.
“Iya-iya sorry deh…” ujar Arnold minta ampun, “Mendingan kita balik aja deh ke asrama.. Udah mulai sore…”
Lucy mengangguk “Tapi ganti baju dulu kan?” tanyanya sambil menatap pakaian ala berkudanya.
Arnold tertawa pelan. “Yep.”
__ADS_1
-arnold