Apel Merah

Apel Merah
Danil Marteen JW


__ADS_3


Esok siangnya betapa kagetnya Lucy saat melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya hari ini ialah…


“Danil?” Lucy bengong tak percaya. Dari mana pula ni anak dapat alamatnya? Menelepon Beauxbutton dan menanyakan alamat rumah Lucy Shiren?


Danil nyengir. “Ga berniat nanya aku tau alamat rumah kamu darimana?”


Lucy menggeleng lemah. “Ga ada yang mustahil kan buat Jhansen Wijaya? Aku ga ingin tau sama sekali kamu tau darimana.”


Danil terkekeh. “Tujuanku kesini untuk ngajak kamu main ke rumahku…”


“Ha?”


Danil mengangguk serius. “Makan siang di sana mungkin?”


Lucy merasa dia akan gegar otak sebentar lagi. “Di rumahku ga ada siapa-siapa, Danil.”


“Gampang. Kunci aja.”


Lucy memutar bola matanya. Memang sulit untuk membantah anak yang keras kepala yang satu ini. Lucy pun minta 5 menit untuk mengganti baju. Bener-bener, apa sih keinginan Danil darinya??


Sesampainya di rumah Danil─yang tak perlu diragukan lagi─sangat mewah, Lucy hanya berharap dia dimasukkan ke kandang ****** bulldog Danil daripada harus makan siang bersama dengan orangtua Danil yang KEBETULAN ada di rumah, plus DIRAZ yang juga ternyata di rumah.


'Oh my… ini mimpi buruk apa? Horor?'

__ADS_1


Setelah perkenalan yang singkat antara Lucy dan Papa Mama Danil yang untungnya ramah tamah, mereka semua makan di ruang makan yang serba perak itu.


“Jadi ini Lucy yang sering kamu ceritakan itu ya?” ucap ibu Danil tersenyum penuh arti membuat Lucy mual.


Lucy melirik Danil yang tersenyum sok malu itu. Tatapan Lucy seolah mengatakan : apa aja coba yang udah lo bilang ke nyokap lo soal gue? Tante!! I’m not his girlfriend!!


Diraz juga memicingkan mata pada adiknya. Kurang ajar juga adiknya yang satu ini masa mau melangkahi abangnya?


Danil mengekeh pelan, “Menurut Papa Mama gimana?”


Perlu diketahui, sebagai tambahan informasi, Danil memang yang paling manja di rumah kalau soal curhat tentang cewek. Walau orangtuanya sibuk sekalipun, Danil pasti mengirim SMS, email atau telepon langsung Mama atau Papanya untuk konsultasi soal cewek. Dan belakangan, Danil ga pernah absen ngomongin cewek yang ia suka yang bernama Lucy.


Ayahnya hanya tersenyum. “Terserah kalian aja… Kalau udah mantap, Papa bisa atur…”


Lucy terbelalak horror, sementara Danil berbisik ‘yes-yes’ sendiri. Diraz sudah hampir melempar muka adiknya dengan gelas malah.


Ibu Danil tertawa pelan. “Semua orang juga pasti akan ngomong gitu kan kalau pertama-tama? Tante ngerti kok kalo kalian malu… Ga usah buru-buru, kalian kan masih muda…”


Lucy menelan ludah. 'Apa orang kaya pikirannya korslet semua ya?' Lucy melirik Diraz, meminta pertolongan.


“Pa, Ma…” kata Diraz akhirnya, “Danil dan Lucy ga ada hubungan apa-apa… Si Danil mungkin yang ngebet tapi cuma sepihak.”


Hening.


Lucy hanya menunduk, benar-benar tak enak. 'Tau gini aku ga minta tolong Diraz! Euuhh!!'

__ADS_1


Sedangkan kakak beradik Diraz-Danil sudah adu tatapan tajam. Danil merasa dipermalukan dan dihina sedangkan Diraz cemburu total, tidak akan pernah terima kalau Lucy akan jadi adik iparnya (dia bahkan lebih ikhlas kalau Lucy dengan Arnold, tapi dengan Danil? No way!!)


Tawa menggelegar ayah mereka langsung memecahkan keheningan. “Oh gitu! Ya sudah tak apa-apa… Anak muda kan memang harus banyak berteman dulu, bergaul…”


Lucy hanya tertawa hambar.


Setelah makan siang, Danil menarik Lucy pergi (supaya tidak diganggu Diraz) ke sebuah ruangan yang berisi koleksi Liverpool, klub bola favorit Danil. Di ruangan itu ada kaos bola dengan nama-nama pemain Liverpool, bola, poster, bonekanya, dan berbagai barang yang bermotif atau berlogo Liverpool. Kumplit deh pokoknya. Lucy saja mengira ia masuk ke toko souvenir.


“Suka Liverpool ya?” tanya Lucy basa basi.


“Yap. Aku ga akan pernah melewatkan pertandingannya. Aku bener-bener sudah maniak.”


Lucy tersenyum tipis. “Suka main bola juga dong?”


Danil terdiam sesaat. “Ng, sebenernya engga… Aku ga bisa. Aku lebih jago main basket dibandingin main bola sepak.”


“Hah?" Lucy menahan tawa. Anak satu ini aneh juga.


Danil jadi gugup mendadak─sebenernya malu. “Mau jus ga?”


“Eh, ga usah. Tadi kan baru─”


“Aku ambilin ya!” potong Danil dan langsung ngacir gitu aja, saking malunya. Lucy terbengong namun langsung tertawa sendiri. Danil nyebelin sih, tapi kekanakkan banget.


Lucy hanya mondar-mandir melihat koleksi Danil yang lama-lama membuat mata Lucy agak perih. Samar-samar, Lucy mendengar suara petikan gitar yang syahdu dan merdu, entah darimana.

__ADS_1


“Diraz?”


__ADS_2