
Lucy sedang membuka lokernya ketika Yeni dan Wulan lewat, juga hendak membuka loker yang tak jauh dari loker Lucy. Lucy memperhatikan orang-orang yang pernah menjadi teman dekatnya itutapi dulu. Kini Lucy lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Arnold dan kemarin-kemarin ia berurusan dengan para Jhansen Wijaya (Chris, Patrick, Kevin hingga Jack). Lucy merasa ia tidak punya teman perempuan lagi disini.
Yeni dan Wulan memang tampak berbeda, lebih girly dan cenderung pura-pura tak mengenali Lucy. Ini yang membuat Lucy sebal. Apa Yeni masih menganggapnya sebagai maling? Bukankah dalam persahabatan selalu ada saling percaya?
Yeni membalas tatapan Lucy. Dia tersenyum tipis. “Aku liat kayanya kamu deket sama Arnold ya?”
Lucy mengernyit. Bagaimana mungkin Yeni tau tentang Arnold? Yah, Lucy gak tau aja kalau Arnold juga Jhansen Wijaya, termasuk pujaan hati Yeni selain Jack Putra, si psikopat.
Yeni membuang muka, angkuh. “Gatelnya mulai kelihatan…”
Wulan mengangguk pelan, sama sekali tidak mau melihat pada Lucy. Yeni menganggap kalau Lucy mendekati Arnold hanya untuk mengincar uangnya saja. Jhansen Wijaya kan kaya raya! Dan Yeni semakin illfeel pada Lucy, sebal karena justru pria yang ia sukai dekat dengan Lucy.
Lucy menganga impuls. “What?” Lucy hanya mendengus, cepat-cepat mengunci lokernya dan enyah dari tempat itu. Cukup sudah.
Lucy bergegas pergi ke taman perpustakaan. Ia akan menceritakan peristiwa menyedihkan ini pada Arnold.
****
“Dah, Arnold!!” ucap Lucy memasuki Gedung B, asramanya, berpisah jalan dengan Arnold yang akan ke Gedung A.
“Besok ketemuan di taman ya…”
Lucy mengangguk sambil tersenyum senang. Hari ini dia bahagia sekali. Dia dan Arnold di perpustakaan seharian membahas kuliah, buku ensiklopedi, buku kesukaan Arnold dan buku lainnya yang baru diketahui Lucy. Ternyata Arnold doyan baca juga.
Lucy berjalan riang memasuki asramanya.
Saat memasuki ruang rekreasi, dia terkejut melihat Chris duduk di sana. “Chris?”
Chris menoleh. Wajahnya terlihat lelah.
Lucy pun duduk di sofa, seberang sofa yang diduduki Chris. “Ada apa?”
Chris malah menghela nafas, “Kemana aja sih? Aku udah nunggu 3 jam.”
“Ta-tadi sama Arnold di perpus…”
Chris langsung terdiam mendengar jawaban itu. Dia menunjuk bungkusan besar yang berada di atas meja.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Lucy melihat bungkusan kado di atas meja.
“Untukmu. Buka aja…”
Lucy membuka kotak itu dan menemukan sebuah boneka Tazmania yang mungkin lebih tepatnya disebut bantal dengan boneka Tazmania. Lucy menatap Chris, “Ada…apa?”
Chris menghela nafas lagi, “Hari ini aku ulangtahun…”
Glek!
Lucy mana tau kalau hari ini Chris ulangtahun!! “Se-selamat kalau begitu… Tapi apa maksud boneka ini?”
Chris tersenyum tipis, “Anggap saja ini perayaan ulangtahunku…”
“Ha?” Lucy cengo dibuatnya. Orang aneh macam apa Chris ini?? 'Seharusnya kan aku yang memberikan hadiah, tapi kenapa dia yang memberikanku hadiah?? Lagian… aku kan… bukan siapa-siapanya!'
“Terima aja. Ga ada maksud apa-apa kok.”
Lucy jadinya hanya mengangguk.
Lucy diam-diam menatap cowok itu. 'Dia kenapa sih? Kalau ulangtahun ngapain kesini? Dan dia ketiduran di sofa?? Ya ampun, aku jadi merasa bersalah… Lho, tapi kan dia ga ngomong mau kesini!'
“Chris… kalau kamu ulangtahun kenapa ke sini?? Maksudku… Kan ada sepupu-sepupumu… dan…” Lucy tak melanjutkan kata-katanya, maunya nyebut nama Sani tapi entah kenapa dia tidak sanggup.
Chris tersenyum getir. “Tadi pagi banyak kok kado di depan tempat tidurku…” Dia ingat bahkan Sani datang pagi\-pagi membawakan kado besar. “Tapi… aku tetap merasa kesepian hari ini… Sepupu\-sepupuku sibuk… entah mengurus apa… Jadi aku kesini… Aku pikir kamu.. tidak ada acara… ternyata…” Chris tersenyum hambar.
Lucy menatap mata Chris,mata yang sepertinya penuh kehampaan dan kesepian. “Apa kamu selalu merasa seperti ini?”
Chris kaget juga dengan pertanyaan itu. Tapi mau tak mau dia hanya mengangguk.
Ada perasaan kasihan dalam diri Lucy saat melihat wajah Chris yang kelu. Entah kenapa Lucy ingin sekali menghapus kesedihan itu. Lusy tidak tau harus mengatakan apa lagi. Rasanya tidak enak jika harus menanyainya macam-macam apalagi yang berhubungan dengan hal yang paling sensitive.
Lucy bangkit berdiri. “Mau kubuatkan makanan tidak? Kamu pasti lapar kan?”
Chris terbengong.
“Emang sih aku ga terlalu pandai memasak, tapi bisalah…” Lucy tertawa pelan, “Tunggu di sini ya. Aku mau masak dulu. Yah paling sejam…”
__ADS_1
Chris sudah hendak bangkit berdiri mengikuti Lucy ke dapur asrama.
“Eits, aku aja…” tahan Lucy, “Kamu disini, ga boleh ke dapur juga. Deal?”
Chris hanya tersenyum bingung. “Ya deh…”
Lucy pun langsung ngacir ke dapur. Pertamanya bingung mau masak apa. Namun akhirnya, ia memasak telur orak arik, sup wortel, dan pembuka mulutnya jagung keju.
Lucy menyuguhkan semua yang ia masak itu di hadapan Chris. “Nah, dimakan ya. Walau seadanya… yah makan aja deh…”
Chris memperhatikan makanan di hadapannya. Heran dan merasa aneh dengan pemandangan masakan itu. Tapi Chris ingin sekali menghormati apa yang sudah dilakukan Lucy, jadi ia makan saja. Dan saat meresapi masakan itu, entah kenapa hati Chris terharu.
“Gimana?” tanya Lucy deg-degan karna cowok itu belum juga komentar.
Chris tersenyum dan mulai makan dengan semangat, “Enak…”
Lucy jadi ikut tersenyum. Tak menyangka kalau ia akan menjamu Jhansen Wijaya dengan masakan sederhana.
Chris merasa hatinya meleleh saat ini juga. Pada hari ulangtahunnya ada yang memasak untuknya! Dan yang paling special karena Lucy-lah yang melakukannya!! Tanpa disuruh.
“Kenapa kamu ngelakuin semua ini?” tanya Chris sambil menambah sup wortel.
Lucy langsung pongo. 'Iya ya, ngapain aku masak buat dia? Kok aku jadi bego gini sih??'
Chris memandang Lucy dan tertawa. “Apapun alasannya… Thanks ya…”
Lucy mengangguk. Ia merasa wajahnya panas. Lucy memperhatikan Chris yang makan dengan nikmat itu. Agak terharu, apalagi sebelumnya Chris baru saja bilang kalau ia merasa kesepian, entah karena apa, padahal sepupunya banyak kan di sekolah ini? Hartanya juga banyak, bisa beli ini itu, sekehendak hati.
“Chris… kalau kamu merasa kesepian lagi… main aja ke sini… Aku akan berusaha supaya rasa kesepian itu hilang…”
Chris menoleh, terkejut dengan kata-kata cewek itu. Padahal rasanya sebelumnya mereka berjauhan, tidak saling berbicara, tapi sekarang… rasanya kembali seperti dulu lagi. Chris tersenyum, “Iya…”
Lucy tidak menyadari dengan kata-kata yang barusan ia ucapkan. Ia sama sekali tidak ingat kalau dia pacaran dengan Arnold. Bodoh banget kan?
-lucy
__ADS_1