
Esoknya Arnold kembali mengajak Lucy ke pacuan kuda. Dengan senang hati Lucy menerima tawaran itu dnegan syarat Arnold tak boleh lagi membiarkannya naik kuda sendirian seperti kemarin.
Setelah puas hahahihi sambil berkuda, Arnold mengajak Lucy untuk masuk ke pondok yang berada dekat sana. Sebuah pondok yang terbuat dari kayu jati, terdiri dari dua tingkat, dan menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan para ningrat-ningrat golden member yang sedang berkuda. Wow asyiknya.
“Mau makan apa?” tanya Arnold enteng setelah mereka berdua duduk di sofa utama yang dekat jendela yang langsung menghadap padang rumput tempat kuda-kuda sedang berlari kesana kemari. “Belum makan siang kan?”
“Apa ya? Samain aja deh..” sahut Lucy agak kaku karena ternyata Arnold sepertinya bukan orang biasa sampai bisa masuk ke dalam pondok dan bebas memesan makanan.
Arnold menoleh dan berkata pada pelayan, “Dua steak panggang kecap… dan… dua jus jeruk… sama dua gelas capuccinno deh…”
Pelayan itu mengangguk lalu langsung pergi, hendak menyediakan pesanan.
Lucy hanya bisa menatap pria di sampingnya dengan penuh tanda tanya.
“Kenapa?” tanya Arnold menoleh, sadar dipandangi terus.
“Sebenarnya tempat ini bukan tempat untuk umum kan?”
Arnold langsung sadar dengan segala gaya hidupnya yang cenderung ‘beda’ bagi Lucy. “Iya… hanya orang-orang yang sudah menjadi anggota yang bisa masuk…” Arnold tidak berbohong. Memang ada benarnya bahwa hanya golden member alias ningrat atas yang bisa menikmati semua fasilitas ini.
“Maksudnya daftar?”
“Yeah semacam itu… Tapi agak ribet, ada penyaringannya segala..”
Lucy mengangguk-angguk. Arnold menahan senyum melihat kepolosan cewek yang satu ini. Dia sih tidak bermaksud berbohong tapi dia tetap tidak mau memberitahukan Lucy kalau dia adalah Jhansen Wijayahal yang dianggap Lucy orang-orang sok dan menyebalkan saat ini.
“Hari ini bertemu dengan dia?” tanya Arnold mengalihkan pembicaraan.
Lucy mengernyit masam. “Ngga. Jangan bahas dia terus dong…”
“Aku kan hanya memantau…” ucap Arnold tersenyum bersamaan dengan pesanan mereka yang baru saja datang.
“Arnold…” ucap Lucy pelan sementara Arnold sudah mulai makan steak. “Sebenernya… kamu dan dia mirip… Maksudku… mulai dari kesukaan kalian pada apel merah… dan beberapa hal lainnya yang tidak bisa aku ungkapin…”
Arnold hampir tersedak. Dia langsung meminum jus jeruknya. Keluarga Jhansen Wijaya memang menyukai apel merah, entah kenapa, sudah turun temurun. “Apel merah kan enak…”
“Yaa..” Lucy hanya tersenyum dan mulai makan.
Mereka pun makan dengan terus mengobroltidak membicarakan Christapi hal lainnya seperti masalah perkuliahan ataupun hobi.
Setelah makan dengan kenyang, masing-masing rasanya tidak mau beranjak dari sofa, nyaman dengan kekenyangan dan leha-leha ini.
Samar-samar terdengar dua orang pria sedang mengobrol di luar. Dari suara langkahnya, sepertinya akan masuk ke dalam ruangan itu. Firasat Arnold langsung tak enak. Dia merasa itu seperti suara salah satu sepupunya. Arnold langsung berbisik ke telinga Lucy, “Siapapun yang nanti masuk, jangan ngomong apa-apa...”
Lucy menatap Arnold bingung. Tapi pandangan Arnold sudah ke arah pintu yang terbukayang memang dimasuki dua sepupunya. Lengan Arnold langsung melingkar di bahu Lucy membuat Lucy makin heran. Lucy melihat yang dipandangi Arnold. Dua pria yang tidak ia kenal, masuk sambil mengobrolkan kuda. Pria yang pertama rambutnya agak gondrong. Tapi dia maskulin sekali. Tampan. Mungkin umurnya duapuluh. Namanya Diraz Pieter Jhansen Wijaya. Sedangkan pria yang satu lagi masih SMU kelas 3. Dia terlihat anak muda yang keren dan ganteng. Namanya Danil Marteen Jhansen Wijaya. Bagi Arnold, keduanya sulit ditebak. Namun yang paling ia waspadai ialah Diraz, yang kadang senang mencari masalah sekedar mencari hiburan dan tontonan.
Diraz menoleh ke arah sofa, melihat sepupunya, Arnold yang baginya kelihatan sedang bersama dengan seorang kekasih. Diraz hanya tersenyum sesaat. “Your girlfriend, huh?”
__ADS_1
Arnold hanya tersenyum, tidak menggeleng ataupun mengangguk. Sementara Lucy udah ngeri setengah mati. Dia hanya melihat ke arah lain, menuruti kata-kata Arnold untuk tidak bicara sedikit pun pada dua orang ini.
Danil ikut duduk bersama dengan Diraz di sofa. “Siapa? Dari keluarga mana?”
Lucy melirik sesaat. 'Keluarga? Dia menanyakan aku ningrat atau bukan ya?'
“Keluarga Darmayanto, kalian tau, keluarga kaya baru di Lampung…” ujar Arnold benar-benar ngasal namun tetap waspada.
Kali ini Lucy melirik Arnold tak percaya. 'Darmayanto? Orang kaya baru? Dia ngarang apa?'
“Oh…” ucap Diraz.
Danil tersenyum, agak ngiri pada Arnold. Dia langsung menyukai Lucy hanya dengan melihat wajahnya saja. Danil memang tipikal love at the first sight yang kentel banget.
Diraz bangkit berdiri, menarik adiknya ikut berdiri. “Ayo ganti baju… Katanya mau balapan kuda?”
Danil mengangguk dan mengikuti abangnya ke lantai bawah tanah tempat ganti baju para member juga ada restoran kecil sama seperti lantai dua.
Setelah orang-orang itu pergi, Lucy langsung mengivestigasi Arnold. “Mereka siapa? Kenapa kamu bilang aku dari keluarga orang kaya?”
Arnold tersenyum tipis. Dia tidak mungkin bilang kalau mereka adalah sepupunya kan? “Mereka dua bersaudara Jhansen Wijaya…”
Lucy tercengang. Sejujurnya dia belum pernah bertemu dengan dua orang itu. Pernah melap figura foto Jhansen Wijaya bukan berarti membuatnya hafal semua wajah JW kan?
Arnold menghela nafas. “Diraz, laki-laki yang rambutnya agak gondrong dan jarang senyum itu, dia paling anti pada rakyat jelata…”
Arnold sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Belum Lucy mencerna kejadian barusan, di luar terdengar orang yang mengobrol, pria dan wanita. Yang wanita kedengarannya merengek dan mengeluh, sementara suara si pria tidak terdengar karena pelan.
Arnold mencelos. Dia tau siapa orang-orang itu. Dan benar saja, pintu terbuka, Moreno Christopher dan Sani Aurora masuk ke dalam. Sani kedengarannya sedang mengeluhkan kuliahnya yang kurang berhasil.
Chris yang acuh tak acuh itu menoleh ke arah sofa, terkejut melihat Lucy dengan… sepupunya?!! Chris tidak mengerti. Lucy sendiri kan yang bilang kalau dia tidak mau lagi berurusan dengan Jhansen Wijaya? Lantas yang satu ini apa? Chris merasa dibohongi. Dia jadi merasa kalau Lucy hanya tidak mau lagi berurusan dengannya saja. Chris kecewa sekaligus patah hati. Lagi.
Lucy tidak tau harus senyum atau bagaimana. Yang jelas, ia melihat si playboy ini sedang jalan dengan pacarnya yang cantik dan menawan.
Arnold sendiri hanya berharap ia tidak disapa oleh dua orang itu, bisa ketahuan identitasnya di hadapan Lucy kalau dia Jhansen Wijaya. Arnold hanya berharap Chris yang memang tidak dekat dengannya, tidak memanggilnya ‘sepupu’. Dan kenapa hari ini ada tiga sepupunya yang kesini? Sial.
Sani juga melirik ke sofa. Ia sama terkejutnya juga melihat Lucy, cewek yang pernah ia anggap merebut Moreno, sekarang sedang duduk berdua dengan Arnold, sepupu Moreno sendiri?! Sani ingin tertawa. Dia senang karena ternyata Lucy dan Moreno tak ada hubungan apa-apa. Buktinya saja sudah ada di depan mata. Selain kalangan ningrat atas, tidak ada yang bisa masuk Gedung G ini, yeah selain diajak sebagai teman dekat.
Hmmm…
Sani tersenyum pada Lucysesuatu yang tak pernah Lucy minta. “Senang melihatmu dengannya, Arnold…”
Arnold hanya tersenyum sekenanya.
Chris masih memandang Lucy. Nanar dan kesal. Dia langsung buang muka dan menarik Sani untuk mengikutinya turun ke lantai bawah.
Lucy ingin sekali menjewer telinga Chris, yang benar-benar tidak mau menyapanya. Juga Sani, dia tersenyum?? 'Mungkin dia senang karena ternyata aku dan Chris tidak ada hubungan apa-apa… Huh.'
__ADS_1
Arnold menghela nafas, membuat Lucy tersadar dengan big questionnya. “Kamu kok bisa kenal Sani? Juga dua sepupu Chris sebelumnya?”
Arnold garuk-garuk kepala. “Ya aku kenal merekalah…”
'Wong mereka sepupuku…except Sani.'
“Mereka juga kan sering main ke sini…”
“Oo..”
“Keluar yuk?” ajak Arnold. Dia cemas kalau-kalau para sepupunya yang sudah ganti baju itu balik lagi, menanyainya macam-macam.
Mereka berdua pun keluar. Mood untuk berkuda hilang lantaran kejadian barusan. Lucy mana mau berkuda dengan Chris dan Sani ada di sekitarnya. Hih.
Jadi dua orang itu hanya berdiri di dekat pagar permbatas, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.
“Kalau sudah bertemu dengan orang-orang itu, rasanya jadi tidak mau berkuda…” ucap Arnold. Seriusan, dia ga punya masalah kok dengan Chris ataupun Sani, dia cuma tidak mau Lucy sampai jatuh ke perangkap Diraz. Diraz itu sebangsa dengan Jordan dan Farel kalau urusan maen. Mereka─yang termasuk senior di Jhansen Wijaya─juga paling tidak mau ada keluarganya yang bergaul dengan rakyat jelata. Farel Radian adalah abang dari Moreno Christopher. Jordan Alfa adalah abang dari Arnold, sedangkan Diraz adalah abang dari Danil Marteen.
Lucy mengangguk pelan, masih terbayang dengan apa yang ia lihat tadi. Chris menarik lengan Sani untuk menjauhinya?? 'Menyebalkan.'
Arnold melirik Lucy yang masih cemberut itu. Arnold langsung melingkarkan tangannya di bahu Lucy. “Lucy, mau tidak jadi pacarku?”
Lucy terbengong. Ia menoleh, melihat Arnold yang tersenyum menatap ke depan dengan angin yang memainkan rambutnya. Dengan semua hal yang Lucy lakukan bersama dengan Arnold, dia benar-benar senang, aman, dan berdebar-debar. Lucy juga memang menyukai Arnold. Cowok ini datang di saat yang tepat, mengobati luka hatinya. Tapi apa itu namanya cinta? Lucy tak mau tau, kalau Chris pacaran dengan Sani, kenapa dia tidak? Jadi Lucy mengangguk.
Arnold tersenyum makin lebar. “Jadi resmi ya?”
Lucy pun tak bisa menahan tawanya. “Iya…”
Bersamaan dengan itu, Chris dan Sani berjalan menuju pacuan kuda. Lagi-lagi Sani tersenyum manis pada Lucy sambil terus menggaet lengan Chris. Sedangkan cowok itu cuek bebek, tidak memandang Lucy ataupun Arnold.
“Hei, Moreno…” panggil Arnold tiba-tiba.
Chris menoleh, heran tumben-tumbennya Arnold mengajaknya berbicara. Perasaan, mereka ga akrab deh walaupun sepupu.
Arnold nyengir, “Gue ma Lucy udah jadian… Barusan.”
Chris melirik Lucy yang tidak mau melihatnya. Chris merasakan patah hati yang lebih menyakitkan lagi. Dia hanya tersenyum tipis. “Selamet deh…”
Sani malah tersenyum lebar, “Selamat ya untuk kalian… Terus langgeng!” Sani pergi karena lengannya yang ditarik Chris untuk meninggalkan 2 orang itu.
Arnold hanya tertawa sedangkan Lucy sudah malu setengah mati. Ia mencubit tangan Arnold. Arnold menoleh. “Kenapa?”
“Kok langsung dibilang-bilang sih?”
Arnold terdiam. Dia baru sadar, yang barusan adalah suatu kebodohan. Niatnya barusan sih hanya untuk mendeklarasikan pada Chris kalau Lucy memilihnya, sekalian juga untuk membuat Chris gondok. Tapi sekarang baru terpikir di benak Arnold, kalau yang barusan bisa saja senjata makan tuan baginya. Bagaimana kalau hal ini sampai ke telinga Jordan? Atau mungkin sepupunya yang lain macam Doni atau Surya yang tentunya akan langsung lapor pada Jordan, Farel ataupun Diraz, para pemimpin ‘permainan seru’.
__ADS_1
-chris