Apel Merah

Apel Merah
Lulu Syahrani JW


__ADS_3

“Gue mau ajak lo ke suatu tempat. Dan lo mesti ikut…”


“Kemana?’ Lucy kaget setengah mati. “Trus mereka gimana?”


“Mereka? Bukannya lo bilang ga peduli?” Farel langsung bangkit berdiri dan menarik Lucy. “Udah ikut aja… Lo ga punya pilihan…”


Lucy agak tegang juga sama cowok serem satu ini (pernah dilempar CD 2 kali soalnya + dihina habis-habisan), tapi berhubung Lucy yakin Farel udah berubah, dia mau aja deh diajak pergi abang Chris itu.


Karena selama di perjalanan tuan muda Jhansen Wijaya ini hanya terdiam dan sesekali bersiul, lidah Lucy jadi gatel juga. Sebenernya ini mau kemana sih? Lucy melihat keluar. 'Ini kan Jakarta Barat…'


“Kita mau kemana sih?” tanya Lucy.


Farel menoleh, terdiam sesaatmenimang, apakah langsung ia beritahukan atau tidak. “Ke rumah Lulu…”


“Lulu? Maksudnya Lulu Jhansen Wijaya?”


“Ya iyalah, masa Lulu adik Lupus?”


Lucy memonyongkan bibirnya. Selera humor Farel rendah sekali. “Ada apa? Gue kan bukan siapa-siapanya…”


Farel tersenyum tipis. “Nanti juga lo tau.”


Sementara Lucy berpikir-pikir, handphonenya bergetar. Panggilan masuk dari Chris. 'Apa dia sudah selesai berantem dengan Danil?'


Lucy masih jengkel, jadi dia sama sekali tak mau menganggkatnya. Dan kalaupun si Danil juga menelepon, Lucy juga takkan menjawabnya.


Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di rumah Lulu Syahrani Jhansen Wijaya, yeah tepatnya rumah orangtuanya. Lucy hanya bisa terkagum. Kalau ia berpikir, rumah Chris tipikal elegan minimalis, rumah Diraz tipikal elite, nah rumah yang satu ini menurut Lucy perpaduan tipe rumah Chris dan Diraz. Lucy yakin kalau para wanita yang tinggal di rumah ini sangat menyukai bunga. Buktinya di tamannya ada berbagai jenis bunga cantik berwarna-warni.


“Ayo masuk…” ajak Farel yang langsung jalan duluan.


Lucy mengikuti Farel masuk ke dalam rumah. Wah.. Lagi-lagi Lucy terkagum. 'Ruang tamunya luas sekali…'


Farel terus berjalan, masuk lebih dalam. Pada akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan, dekat ruang keluarga. Dan di sana, si cantik Lulu berada, duduk di atas sofa.


Lucy agak keki juga. Dia kan ga deket-deket amat sama cewek itu. Ya memang, Lucy masih sangat berterimakasih karena Lulu turut merawatnya saat ia pingsan karena dihajar Jack. 'Tapi kan… datang ke rumahnya? Hellow? Are you sure, Farel?'


Lulu yang tadinya melamun kosong, mendongak. Wanita yang berbalutkan long dress hijau marun, bangkit berdiri dan tersenyum. “Oh hai…”


Lucy tersenyum. Ia pun cipika cipiki dengan Lulu. Dalam hati dia agak heran juga. Sebenernya ini acara apa coba? Kok di dalam ruangan ini banyak makanan, minuman, dan apel? Trus kenapa Lulu berpakaian dan berdandan seolah-olah hendak ke sebuah pesta?


Farel duduk sambil menghela nafas. Ia memandang Lucy. “Sebenernya hari ini ulangtahun Lulu…”


Lucy gondok mendengarnya.


'Farel kurang ajar… Dia sengaja ngajak aku kesini supaya aku malu? Datang dengan tangan kosong dan baju main?'


Lucy menatap Lulu, merasa bersalah. “Selamat ulang tahun ya… Sorry, gue ga tau…”


Lulu tersenyum manis. “Ga apa-apa kok…” serunya girang, “Nyantai aja lagi… Gue seneng kok lo udah mau datang…”

__ADS_1


Lucy mendengus dalam hati. Yang mengajaknya kesini kan si Farel! Dan satu hal yang membuat Lucy sedikit heran, kenapa sikap Lulu hari ini lain?


'Ceria sih… Tapi kok kebangetan? Oh iya ya… kan lagi ulangtahun… wajar kan kalo seneng banget?'


Lucy duduk di sebelah Lulu. “Kok sepi? Yang lainnya mana?”


Sekilas tampang Lulu keliatan desperate, namun akhirnya ia berkata, “Bentar lagi pasti pada datang…”


“Ohh…”


Farel bangkit berdiri. Ia memilih untuk berdiri di dekat cerobong asap, sambil memperhatikan sepasang pedang yang terpajang di atasnya, hal yang tak pernah bosan dilakukannya.


Lucy jadi tegang sendiri. 'Kok pada diem gini sih?'


“Ng… keluarga lo mana? Kok kayak ga ada siapa-siapa?”


Lulu tersenyum tipis. “Bentar lagi mereka dateng kok…”


“Udah, Lu…” potong Farel tiba-tiba, “Bokap nyokap lo kan ada urusan kerja di Hongkong… Adik lo, si Patrick juga sibuk main basket sama klub barunya… Dan Fajar, abang lo yang tertua pasti lagi liburan di luar negeri sana…”


Lulu yang mendengar itu langsung menunduk. Semua pernyataan Farel benar. Hari ini hari ulangtahunnya… Tapi baru 2 orang yang mengucapkan selamat : Farel dan Lucy.


Mendadak Lucy jadi ga enak.


'Pasti Lulu sedih sekali.'


Lulu mengambil botol anggur dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia meminum seteguk, badannya langsung panas. Lulu mendengus, “Hebat banget kan? Keluarga gue memang yang paling peduli yang ada di dunia ini.”


Lulu meneguk minumannya lagi. “Lucy, lo tau ga? Kalau dalam Jhansen Wijaya, anak perempuan sama sekali ga berarti… Bener kan, Rel?”


Farel tidak menjawab.


“Bagi keluarga kami, anak lelaki adalah anak mas, anak keberuntungan, penerus nama besar Jhansen Wijaya…” Lulu terkekeh ga jelas, “Dan gue… Gue anak perempuan di Jhansen Wijaya! Minoritas, terabaikan, terlupakan, ga penting…”


“Lo ga boleh ngomong gitu…” ucap Farel akhirnya menimpali, “Lo tetep bagian keluarga… dan lo penting…”


Lulu tertawa hambar. “Penting? Kalo gitu kenapa cuma lo, sepupu gue yang inget kalo hari ini gue ulang tahun?!”


Lucy melonjak kaget mendengar ucapan Lulu yang kenceng itu. Jadi menakutkan.


“Mereka bisa aja kan sibuk?” Farel tidak mau membiarkan Lulu benar-benar sakit hati.


Lulu mendengus. Ia mengambil gelasnya, hendak meneguk minumannya lagi. Melihat itu Farel langsung mengambil gelas Lulu.


“Apa?” protes Lulu mendadak jengkel berat dengan sikap Farel yang sekonyong-konyong mengambil gelasnya.


“Lo udah terlalu banyak minum…” gumam Farel.


“Tapi itu cuma anggur. Anggur, Tuan Farel! Bukan vodka atau alkohol…”

__ADS_1


Farel menatap Lulu, dia pikir anggur tidak memabukkan?


Akhirnya Lulu mendengus dan menyenderkan kepalanya di sofa. “Hari ini benar-benar sialan…”


“Umur lo udah 21… Lo harus lebih dewasa dalam menghadapi kondisi. Jangan langsung lembek.”


Lulu tidak menghiraukan kata-kata sepupunya. Ia memilih memejamkan mata. Lucy dan Farel saling lirik.


“Gimana?” tanya Lucy tanpa suara.


Farel angkat bahu, dan berbalik, kembali berdiri di dekat cerobong asap.


Lucy jadi bingung sendiri. Akhirnya ia putuskan mengirim pesan pada Chris dan Danil, mengatakan kalau Lulu, sepupu mereka, hari ini berulangtahun; dan bahwa Lulu terlihat stress karena tak ada yang datang mengunjungi. Lucy juga menegaskan kalau 2 pria itu harus datang membawa kado spesial, yang tentunya disukai Lulu.


Merasa belum cukup, Lucy mengirim pesan ke Jhansen Wijaya yang lain yang ia tau nomornya. Tapi kalau dipikir-pikir, dia kan hanya punya nomor Chris, Danil dan Diraz. Lucy mengirim pesan pada Diraz untuk segera datang ke rumah Lulu yang berulang tahun, membawa kado spesial dan mengajak para sepupunya yang lain.


Lucy menghela nafas. Ia melirik ke sebelahnya. Mata Lulu sudah tidak terpejam lagi. “Lulu…” gumam Lucy pelan. Sebenernya ia berusaha menghibur, walau ga tau mesti ngomong apa. “Gue yakin… orangtua lo pasti sayang banget sama lo… Mungkin mereka lupa… Setiap manusia pernah lupa kan? Jangan biarin hari spesial lo ini rusak hanya karena pikiran lo yang macem-macem…”


Lulu tersenyum sekilas. “Yeah… Sebenernya gue jadi inget… Bokap nyokap pernah diem-diem ngajak ke Paris, tanpa sepengetahuan yang lain… Ngebiarin gue beli apapun yang gue mau di sana… Baju, berlian…” Lulu mengekeh pelan. “Padahal saat itu gue ga ulangtahun… Dan saat pulang, Patrick langsung teriak-teriak marah, sebel berat karena ga diajak…”


Lucy tersenyum.. “Nah kan? Jadi ga ada alasan kalo lo berpikir kalo lo ga penting di keluarga…”


“Tapi sepupu-sepupu gue…” Lulu memutar bola matanya, “Bener-bener kelewatan…”


Lucy tersenyum tipis. Dia melirik jam dinding, berharap orang-orang itu cepat datang sebelum kemarahan Lulu benar-benar melunjak. “Lulu, kadang kado spesial slalu disediakan di akhir… Selama belum berganti hari, lo harus yakin kalau sepupu lo pasti datang…”


Lulu bergumam ga jelas. Ia menawari Lucy apel. “Mau apel? Atau jusnya? Itu ada di kulkas…”


Lucy hanya mengangguk sekenanya.


'Bahkan Lulu juga tergila-gila dengan apel…'


Farel mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya. Sebuah kotak kaca bening… ia letakkan di atas meja, di hadapan Lulu.


“Apa itu?” tanya Lulu bingung.


Farel membuka tutupnya dan memencet tombolnya. “Ini kotak musik…”


Rasanya seperti kembali ke jaman SD. Di dalam kotak itu ada ballerina yang menari dengan boneka monyet. Rasanya konyol, tapi musiknya mengalun merdu. Kotaknya sih kecil tapi ternyata suaranya kenceng juga.


Lulu masih terpana menatap benda itu.


'Indah banget…'


“Sorry, gue ga sempet ngebungkus… Slamat ulangtahun, Sepupu…”


Akhirnya Lulu tersenyum lebar kembali. “Thanks… Bagus banget…”


__ADS_1


-lulu


__ADS_2