
Farel yang sudah melihat hal itu dari mobil, langsung keluar. Ia mendekati mereka dan berkata, “Dia punya gue.”
Si kepala gundul langsung tertawa mengejek. “Siapa elo? Kami yang duluan nemuin dia. Jangan ngaku-ngaku deh…”
Farel berjalan mendekat. Pandangan matanya yang menyeramkan membuat beberapa dari pria mesum itu mundur takut.
“Jangan sok deh…” tukas yang lain, berani.
Farel menatapnya benci, kenapa di jaman sekarang masih ada cowok mesum yang kurang kerjaan. Farel membuka jaketnya sedikit, menunjukkan sebuah pistol yang terselip di pinggangnya.
Empat cowok itu langsung ketakutan. Mereka langsung kabur meninggalkan Farel dan Lucy.
Lucy ga habis pikir, Farel bawa pistol? Buat apa? Menembak adiknya sendiri? Lucy kesal, ia membuang muka dan lantas melihat laut.
Farel berjalan mendekat, berdiri di samping Lucy. “Gue ga denger ucapan terimakasih…”
“Buat siapa? Buat orang yang bawa pistol kemana-mana?” sinis Lucy.
Farel malah tertawa. Ia mengambil pistol itu dan mengarahkannya ke pelipis Lucy. “Kalau begitu coba dulu baru ngomong…”
Lucy menahan nafas. Apa-apaan ini? Farel mau menembaknya mati?
__ADS_1
Farel tersenyum dan menarik pelatuknya membuat Lucy hanya bisa menutup mata. Tapi ternyata tak terjadi apa-apa. Lucy belum mati.
Perlahan Lucy membuka matanya, melihat cengiran Farel yang menyebalkan.
“Dor! Sebagai seorang penembak ternyata lo bego juga… Ini hanya pistol bohongan…”
Lucy mencelos. 'Pistol bohongan? Dan kenapa dia tau kalau aku juga bisa menembak??'
“Sengaja gue bawa kemana-mana…” ucapnya sambil menyelipkan pistol kembali ke pinggang. “Pertolongan pertama untuk kasus seperti tadi contohnya…”
Lucy malu sekali, tadi dia sudah menuduh Farel sebagai orang jahat, membawa pistol kemana-mana. “Maaf…”
Farel heran mendengar kata itu. Kenapa cewek ini begitu aneh ya? Tadi mencak-mencak dan ceramah tapi sekarang bisa minta maaf? Kenapa cewek ini tulus banget? Mengkhawatirkan dan mempedulikan Arnold dan bahkan menangisi penderitaan Moreno?
Farel tersenyum tipis, salut juga dengan kegigihan Chris yang selalu tahan banting selama ini. Mungkin Farel harus mengubah sikapnya… seperti apa yang sudah dikatakan Lucy…
.
.
Jam tiga lewat, Lucy dan Farel sampai di Beauxbutton. Farel langsung membawa Lucy ke pacuan kuda.
__ADS_1
Saat pintu terbuka betapa kagetnya Lucy disana tak hanya ada Jordan tapi juga beberapa lelaki yang pastinya sepupu Arnold juga. “Mana yang namanya Jordan?”
Farel melirik dan tersenyum senang. “Yang lagi jongkok di sana itu…”
Lucy langsung berlari meninggalkan Farel. Ia menghampiri cowok berparas latin itu. Jordan terkejut, langsung bangkit berdiri. Namun kemudian dia tersenyum senang, melirik Farel bangga, bisa membawa Lucy secepat ini. Di tempat itu juga ada Danil, yang datang karena khawatir pada kondisi Arnold yang katanya ga mau makan. Danil sampai maju selangkah saat melihat Lucy, yeah love at the first sight-nya sudah datang.
“Mana Arnold?” tanya Lucy beringas.
Jordan terkekeh, “Bagaimana liburannya? Menyenangkan?” Jordan memelankan suaranya, “Apa si ‘boneka’ itu udah buat lo senang?”
Lucy menggeram. “Jangan sebut dia ‘boneka’.”
Jordan tertawa keras. “Dia bahkan nyuri mobil Surya! Memalukan!!”
Lucy tidak peduli dengan urusan begituan. “Mana Arnold?”
Jordan berhenti tertawa. Ia mengamat-amati Lucy yang wajahnya sudah tidak ramah itu. “Arnold? Lo buta? Itu di tengah lapangan!!”
Badan Lucy berbalik. Benar saja, di tengah lapangan Arnold terikat kaki dan tangannya pada satu tiang. Dan cowok itu terlihat tak bergerak, entah pingsan atau tidur.
Lucy langsung berlari mendekati Arnold. Perasaannya kacau balau melihat Arnold yang bertelanjang dada itu yang sudah ada banyak bekas luka, bekas cambukan ikat pinggang. Ada juga luka yang berdarah tapi sudah kering. Lucy tidak peduli dengan seruan dan kekehan Jordan yang mengatakan, “Dia pingsan!! Emang lemah, loyo!!”
__ADS_1
Lucy setengah menangis, memegang lembut luka di dada Arnold. “Arnold…” Lucy sangat merasa bersalah. Terakhir mereka berjumpa, Lucy sudah sangat mengecewakan dan juga membohongi cowok ini. “Arnold, bangun…”