Apel Merah

Apel Merah
Patrick & Kevin JW


__ADS_3

Senangnya hari ini Beauxbutton Elite School mengadakan darmawisata ke gunung yang terletak di pulau itu. Katanya di gunung itu baru dibangun tempat cagar alam bagi tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Cagar alam itu juga memiliki beberapa lab biologi modern yang dijamin membuat murid Beauxbutton yang tertarik Biologi makin menyukai Biologi terutama dalam kepedulian keseimbangan lingkungan.


Lucy yang walaupun tidak terlalu menyukai Biologi namun akan memanfaatkan hari ini sebagai hari bermainnya dengan Yeni dan Wulan di luar gedung Beauxbutton. Makanya Lucy bangun pagi-pagi, memasak bekalnya sendiri supaya seenak mungkin. Lucy takan menyia-nyiakan waktu tamasyanya hari ini.


“Ga sabar ya pengen cepet nyampe gunung…” ujar Wulan girang.


Lucy mengangguk-angguk. “Nanti kita foto-foto ya…”


Yeni mengangguk semangat. “Aku bawa kamera! Tenang aja!”


Wulan dan Lucy tertawa bersama.


Namun tiba-tiba wangi parfum melati yang tak asing di hidung Lucy, terendus. Lucy reflex menoleh dan mendapati Madame Rosita tengah memandangnya. Dan…… Patrick dan Kevin, si bodoh nomor 1 & 2, hadir di situ, membuat Lucy merinding.


'Ada apa lagi sekarang??'


“Lucy Shiren Mochtar…” ucap Madame, “Dengan ini saya memutuskan… selama darmawisata hari ini kamu diwajibkan untuk menjaga Patrick dan Kevin…”


“Apa?” raung Lucy saking tak percayanya. Dilihatnya Patrick dan Kevin yang sudah terkekeh-kekeh. Lucy jadi ingat dengan kata-kata mereka yang mengatakan kalau dia ini mainan mereka!!


Madame Rosita hanya tersenyum tipis.


Wulan dan Yeni saling tatap. Bagi mereka keputusan itu sangat aneh. Lucy kan bukan baby sitter dua bocah nakal itu. Dia bahkan bukan saudara mereka!


“Saya tidak mau, Madame… Sa-saya sudah kuliah tingkat 1… La-lagipula saya sangat menyukai Biologi… dan saya tidak mungkin membiarkan diri saya tidak menikmati darmawisata hari ini… Saya… err… saya tidak mau nilai saya sampai jelek… Jadi saya menolak…” tutur Lucy panjang lebar.


Madame Rosita tersenyum manis. “Lucy… Saya sudah mengatakannya pada pihak penilai. Nilai kamu akan langsung A apabila kamu menerima tawaran saya…”


“Hah?” Wulan sampai cengo. Nilai A kan tidak mudah didapat di Beauxbutton!


“Tapi saya…” Lucy melirik teman-temannya. Dia benar-benar tidak mau menyia-nyiakan momen kebersamaan ini hanya untuk mengurus dua bocah tengil.


“Lagipula ini permintaan Patrick dan Kevin sendiri….” ujar Madame, “Jadi sayang kamu tidak bisa menolaknya…”


Lucy menganga parah. Ia melirik Patrick dan Kevin yang saling cekikikan dan berbisik itu. Lucy ingin sekali mencekik dua bocah bodoh yang tak tau diri itu.


'Aaarrrghhh!!!'


“Sudahlah… sekarang bawa barang-barang kamu…” ucap Madame, “Pindahkan ke bus eksklusif Jhansen Wijaya…”


“Wow…” Hanya itu komentar Yeni.


Dengan pasrah, seperti orang yang akan dipenjara, Lucy pergi membawa barang-barangnya, mengucapkan salam perpisahan pada Wulan dan Yeni.


'Ikut bus Jhansen Wijaya? Artinya aku akan dijaili Patrick dan Kevin habis-habisan? Dan… oh my… cowok bernama Farel itu…'


“Silakan kamu masuk, sebentar lagi bis ini akan berangkat…” ucap Madame, “Jaga mereka baik-baik ya…”


“Ya ya…” sahut Lucy asal dan masuk ke dalam bus yang ternyata 5 kali lipat lebih mewah dibandingkan bis lain!! Ada TV yang setara dengan TV layar datar bioskop di tiap bangkunya. Di tiap bangkunya juga ada discman, dan bangkunya yang Lucy anggap lebih nyaman dibandingkan sofa hotel. Mana di bus itu ada toilet yang luas!


Lucy hanya berdecak kagum. Ia memperhatikan sekeliling. Masing-masing Jhansen Wijaya sibuk dengan urusan sendiri. Ada yang main laptop, ada yang mengobrol, baca komik, dengerin musik ataupun ngemil. Tapi kalau dihitung-hitung tidak sampai sepuluh anak Jhansen Wijaya yang ikut dalam bus itu, bahkan rasanya hanya 8 orang saja.. padahal kan anak Jhansen Wijaya di Beauxbutton ada 15 orang.


Lucy langsung meletakkan tasnya di jok atas saat bus yang sudah melaju meninggalkan Beauxbutton.


Nah lho, dia duduk di mana?


Lucy bisa melihat jelas Farel duduk di paling belakang, mengawasinya dari balik koran yang ia baca. 'Sial, si bodoh nomor 3 ada di sini…'


Lucy berjalan pelan, memilih, sebaiknya duduk dimana. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sebelah bangku satu-satunya wanita Jhansen Wijaya.


“Apa boleh duduk di sini?” tanya Lucy sopan dan ramah.


Lulu Syahrani Jhansen Wijaya menoleh dengan matanya yang sedingin es batu. Ia melirik bangku sebelahnya. Di sana berbaring iphone dan Ipodnya. “Barang-barang gue ga bisa dipindah…”


Jantung Lucy tertohok. 'Barang mungil gituan aja dikasih tempat duduk. Dipegang juga bisa kan??'


Lucy berjalan lagi lebih ke dalam, walau agak takut dan ngeri karna tak ada yang dia kenal. Namun sebuah kaki lagi-lagi terjulur membuat dia terjatuh ke lantai. Pendaratannya makin sukses sakit apalagi karena mobil juga yang sedang melaju di jalan raya.


“Aww…” Lucy merasa hidungnya patah. Ia memegang batang hidungnya yang tergores dan mengeluarkan darah. Ia menoleh sekeliling. Siapakah yang tega-teganya membuat dia terjatuh seperti ini. 'Dasar cowok-cowok pengecut!!'


Lucy berusaha bangkit berdiri namun sebuah tangan yang kuat menariknya masuk ke tempat duduk dekat jendela, sebelah cowok itu.


“MoMoreno?” tanya Lucy, antara kagum dan tak percaya.


“You save in here…” ucap Moreno tersenyum.


Lucy merapikan duduknya. Wow. Ia belum percaya ini. Ia duduk di dekat jendela, sebelah Moreno. Mungkin kalau tak ada cowok ini, dia sudah dipermain-mainkan dalam bus itu seharian.


“Hidung kamu berdarah…” ucap Moreno dengan mata mengernyit.


“Oh ya-ya…” Lucy memegang hidungnya.

__ADS_1


Moreno mengambil sesuatu dari dalam tas pinggangnya. Sebuah plester bening, ia berikan pada Lucy. “Pakai…”


Setelah melap hidung dengan tisu, Lucy langsung memakai plester itu di batang hidungnya.


“Kok bisa naik bus ini?” tanya Moreno serius.


Lucy tergagap. Wajah cowok yang terkena cahaya matahari ini makin terlihat cerah dan raut mukanya yang tegas makin terlihat jelas. Tampan. “Madame Rosita… Ng, maksudku… Patrick dan Kevin yang minta ke Madame Rosita supaya aku ngejagain mereka selama darmawisata ini…”


“Hah?” Moreno mulai tertawa, “Itu konyol…”


“Tapi beneran tau.” rewel Lucy, “Aku juga heran… cowok-cowok Jhansen Wijaya kan banyak, salah satu dari kalian saja yang ngejaga Patrick dan Kevin atau kalau belum cukup ada juga kan wanita Jhansen Wijaya? Tapi kenapa harus aku sih!”


Moreno tertawa lebar. “Mungkin mereka menyukaimu…”


“Dasar gila. Yang ada juga mereka ingin mencincangku…”


Moreno tersenyum, “Yahh.. tapi beberapa Jhansen Wijaya sangat aneh dalam menunjukkan perasaan sayang…”


Lucy mengerang seperti orang muntah. 'Dua anak itu bahkan masih SMP… Mereka menyukaiku? Bodoh.'


Mereka berdua mengobrol hingga akhirnya keduanya tertidur pulas. Moreno bahkan bersandar ke bahu Lucy.


Doni Issac Jhansen Wijaya dan Surya Wildan Jhansen Wijaya yang duduk di depan bangku mereka mengabadikan momen itu dengan memotret mereka berdua.


“Kita lihat apa jadinya kalau Sani ngeliat foto ini…” gumam Doni, pelaku utama yang tadi sudah membuat Lucy jatuh, hampir membuat hidung Lucy patah.


Surya terkekeh, “Very interesting game absolutely…”


**


Lucy terbangun dan melihat Moreno sudah tak ada di sebelahnya. Mungkin cowok itu ke toilet. Lucy mengucek-ngucek matanya dan memandang ke luar jendela. Bus sedang melaju mendaki gunung ynag berkelok-kelok.


Lucy tersenyum lebar. 'Wahh… sepertinya sudah mau sampai ya…'


Dengan riang sambil membayangkan tamasyanya dengan Yeni dan Wulan akan sangat menyenangkan, Lucy bangkit berdiri, hendak mengambil tasnya. Namun……


Tasnya yang tadi ia simpan di jok atas sudah berada di lantai dengan isinya yang diacak-acak!


“Akh!”


Lucy bergegas membereskan tasnya yang benar-benar berantakan. Minyak kayu putih sudah tumpah, baju hangatnya yang keluar, peralatan lainnya yang tak kalah kacaunya.


Moreno yang baru dari toilet langsung membantu Lucy beres-beres.


Terdengar suara kekehan. Tak salah lagi itu pasti Patrick dan Kevin. Lucy mendongakkkan kepalanya ke bangku yang tak jauh darinya. Di sana Patrick dan Kevin sedang asyik memakan bekal Lucy yang dia masak dari pagi dan dengan segenap hati itu.


“Bekalku!!!”


Patrick dan Kevin menoleh kaget. Bekal Lucy sudah habis bersih mereka sikat.


Patrick nyengir. “Ini Kakak yang masak? Enak, Kak…”


Lucy bahkan tidak tersanjung sama sekali. Ia bener-benar kesal, menahan kenyataan kalau nanti dia tidak akan makan siang.


Moreno kembali membereskan barang-barang Lucy. “Udah ga apa-apa… kan tinggal beli di sana…”


Lucy menoleh sebal. 'Ngomong sih gampang… Aku sih mana punya uang!'


Moreno ngeri dengan tatapan nanar Lucy. Dia sendiri bingung, kenapa sih hanya masalah bekal, Lucy jadi semarah ini?


**


“Halo, lucky girl…” sapa Wulan saat bertemu dengan Lucy di gerbang cagar alam. “Hidung lo kenapa?”


Lucy mengacuhkan pertanyaan itu.


“Gimana perjalanan dengan Jhansen Wijaya?” Kali ini Yeni yang bertanya.


Tatapan Lucy kosong. “I hate Jhansen Wijaya…”


Wulan kaget mendramatisir.


Yeni menepuk-nepuk bahu Lucy. “Lupain aja oke? Sekarang ayo kita bersenang-senang…!”


Lucy mengangguk sekenanya. “Yeah, tapi maaf kalo aku kadang harus pergi kesana kemari, ngawasin Patrick ma Kevin…”


Yeni mengangguk. “Never mind.”


Murid-murid Beauxbutton pun dipandu berjalan menaiki tangga batu menuju cagar alam, tempat berbagai tanaman langka dilestarikan.


Yeni menatap ruang kaca besar yang di dalamnya ada Raflesia Arnoldi. Yeni berdecak kagum. “Wow…”

__ADS_1


Sementara Yeni dan Wulanyang memang menyukai Biologiasyik menikmati bunga bangkai itu, Lucy malah sibuk mengejar Patrick dan Kevin yang melempar-lempar ikat rambut Lucy.


“Liat bunga ini aku jadi ingat seseorang…” gumam Yeni pada Wulan.


Wulan juga mengangguk. “Yeah… Arnold kan? Si cakep Jhansen Wijaya… Sikapnya yang keliatan ramah ngebuat aku pengen temenan sama dia…”


Yeni mengangguk. “Jhansen Wijaya memang ga bisa bikin kita tidur…”


“Arnold… Dia ga ikut darmawisata ya?”


Yeni angkat bahu, kini memandang Lucy yang sedang dipermainkan Patrick dan Kevin.


“Argghh!! Nyebelin!!” seru Lucy setelah akhirnya tiba jam istirahat makan siang. “Ngurus 2 anak itu sama aja kayak ngurus kera tau ga. Mereka lari kesana kemari..”


“Cuekkin aja kalau emang ga mau repot…” sahut Wulan, ngaso di bawah pohon.


“Madame Rositaaa…” tukas Lucy, “Matanya kayak mau nelen aku kalau aku ga ngawasin Patrick ma Kevin.”


Yeni terkekeh. “Anggap aja itung-itung belajar rawat anak. Nilai Mulok kamu juga kan jadi A, bagus kan?”


Lucy mendengus.


“Lagian Patrick ma Kevin kan Jhansen Wijaya…” lanjut Wulan, “Siapa tau lewat hal ini kamu bisa deket sama salah satu sepupu mereka yang ganteng-ganteng itu.”


Lucy meleletkan lidah. Tapi dia jadi ingat Moreno, Jhansen Wijaya yang baik. Lucy jadi tersenyum sendiri, kesengsem kalau ingat Moreno yang justru memberikan dia tempat duduk di bus tadi. Wanita mana yang takkan senang dan berbunga-bunga?


“Ihh, kenapa ketawa sendiri?” Wulan menepuk bahu Lucy.


“Eh ngga apa-apa kok…” jawab Lucy jadi malu.


“Ya udah, kita makan siang aja yuk…” ajak Yeni.


Sementara Yeni dan Wulan sudah membuka bekal mereka masing-masing, Lucy masih tak bergerak, sedikit dongkol kalau ingat bekal makan siangnya diraup oleh Patrick dan Kevin.


“Ga makan, Lus?” tanya Wulan heran karena ia sendiri sudah mulai makan.


“Ngga. Bekalku dimakan Patrick sama Kevin waktu di bus tadi…” jawabnya agak kecut.


“Hah? Ya ampun…” Yeni agak prihatin, “Ya udah kita makan bareng-bareng aja…”


Lucy menggeleng, merasa ga enak. “Ngga usah. Kalian makan aja, aku… ga lapar kok…”


“Beneran? Kita darmawisata sampai sore lho…” kata Wulan.


“Iya ga apa-apa…” balas Lucy menahan perutnya yang keroncongan. Rasanya tenaganya terkuras habis hari ini, lari-lari ngejar Patrick dan Kevin yang kayak cacing kepanasan. 'Dasar anak SMP jaman sekarang, terlalu banyak protein apa?'


Sementara Yeni dan Wulan makan, Lucy memandang kantin darmawisata yang penuh. Kebanyakan anak ningrat dan orang kaya makan di sana. Walau tempat ini di gunung dan cagar alam, tapi masih ada kantin elit yang menjual berbagai makanan yang harganya level anak orang kaya.


Huh. Lucy hanya bisa menelan ludahnya. Seandainya ia bisa beli ini itu dengan mudah, tapi itu tidak mungkin. Lucy harus menabung untuk membeli alat-alat praktek Kimia.


Lucy menunduk dan memilih bermain games di handphonenyamencari hiburan dan pengalih perhatian dari perutnya yang keroncongan.


Tiba-tiba sebuah tangan yang memegang kotak makan siang terjulur di depan mukanya. Lucy mengernyit dan menengadah. Dia kaget melihat Moreno di hadapannya, memberikan kotak makan siang. Sementara Yeni dan Wulan udah nahan nafas, pertama kalinya liat Moreno dari dekat.


“A-apa?” tanya Lucy bingung dan salting juga.


“Makan siang…” ucap cowok itu. Ia meletakkannya di tangan Lucy, “Dimakan ya…” Cowok itu pun pergi begitu saja.


Lucy melongo sedangkan Yeni dan Wulan udah heboh-hebohan ga jelas.


“Dia ngasih kamu makan siang!!” seru Wulan, “Perhatian amat!”


“Enaknya kamu, Lus…” komentar Yeni sambil membuka kotak makan siang Lucy yang isinya sungguh menggiurkan.


Lucy menelan ludah. 'Moreno Christopher Jhansen Wijaya… kamu bikin aku melayang ga karuan sekarang.' Lucy merasa jantungnya tak karuan saat memulai makan siangnya yang nikmat. Tapi Lucy jadi ingat, dia bahkan belum mengucapkan terimakasih!! Astaga, kenapa aku bisa lupa?


Setelah jam istirahat siang, pemandu kembali mengajak murid-murid untuk melihat keseluruhan cagar alam sambil menuturkan ini-itu bahwa kita harus menjaga kelestarian alam, tidak merokok, meminimkan polusi ataupun tidak membuang sampah sembarangan.


Tak sengaja mata Lucy menangkap sosok Morenopria yang memakai T-shirt abusedang menatap pot tanaman anggrek. Dan dia sendirian.


Lucy memantapkan dirinya untuk menghampiri cowok itu. Yeah… mengucapkan terimakasih dan basa basi?


Baru Lucy berjalan beberapa langkah, seorang wanita seumurannya yang sangat cantik, berambut panjang dan memakai terusan anggun, mendekati Moreno dan menggaet lengan cowok itu.


“Ternyata kamu disini… Aku cariin…” Samar-samar Lucy bisa mendengar suara cewek itu. “Ke atas yuk…”


Moreno mengangguk dan menurut ditarik oleh Sani Aurora Elgenski.


Lucy membatu. Hatinya langsung miris. 'Oohh… jadi ternyata dia sudah punya pacar…' Lucy merasa hatinya langsung hancur lebur.


Lucy berbalik pergi. 'Dasar, Lucy bodoh, masa kamu GR dan langsung jatuh cinta pada dia? Lucy meremas tangannya sendiri. Jhansen Wijaya memang seperti itu kan? Seenaknya memainkan perasaan orang…'

__ADS_1



-patrick & kevin


__ADS_2