
Sore ini Lucy kaget karena Arnold meneleponnya.
“Halo?” Lucy wanti-wanti juga semoga ini memang Arnold bukan yang lain.
“Hei…” sapa dari seberang, suara renyah Arnold.
“Arnold!! Kamu dimana? Kamu baik-baik aja? Katanya kamu di rumah sakit Jakarta ya?”
“Op-op, satu-satu pertanyaannya ya… Iya, aku di rumah sakit, ngecek kondisi kesehatan..”
“Terus?”
“Aku ga kenapa-napa, Lucy Sayang… Cuma luka ringan, tapi emang disuntik berkali-kali gitu soalnya dua hari aku di luar dan diikat. Sore ini juga aku balik kok ke Beauxbutton… Kangen?”
“Tentu aja aku khawatir… Trus Jordan dan yang lainnya?”
Arnold mengekeh lama di seberang. “Ga nyangka, mereka mulai tobat…”
Lucy kira apa yang diucapkan Diraz tadi pagi kebohongan belaka tapi ternyata emang Jordan dan yang lainnya langsung pada nyadar ya?
“Tebak karena apa?”
“Ga tau.” sahut Lucy polos.
“Setelah dicambuk 10 kali, aku langsung teriak-teriak ke mereka, semua unek-unek dalam hati aku keluarin…” Arnold tertawa pelan, “Aku bilang kalau seharusnya mereka hidup ga egois dan seenaknya. Pokoknya mereka aku ceramahin deh…”
“Hah?” Lucy tercengang sambil tertawa. “Kamu ngomong gitu?”
“Yep. Dan untungnya mereka langsung nyadar. Bagus kan?”
__ADS_1
“Iya.” Lucy tersenyum lega.
Mereka berdua masih terus mengobrol di telepon sampai akhirnya Lulu menyuruh Arnold untuk berhenti menelepon karena akan di-rontgen.
*****
Esok paginya, saat keluar dari kamar, Lucy kaget karena melihat Arnold sudah duduk di sofa ruang rekreasi.
“Arnold?” pekik Lucy langsung duduk di sebelah cowok itu.
Arnold tersenyum. “See? Aku ga kenapa-napa kan?”
Lucy hanya bisa tersenyum, melihat keadaan Arnold yang memang seperti tidak pernah ‘disekap’.
“Aku sengaja datang ke sini…” gumam Arnold. Ia merapikan rambut yang berada di telinga Lucy dan tersenyum, “Senang ngeliat kamu masih pakai anting ini.”
Lucy tersenyum, “Kan apel…”
“Apa?”
“Setelah aku dibebasin, Jordan nyuruh aku untuk ninggalin Beauxbutton…”
“Kemana?” tanya Lucy syok.
“Ke ujung dunia…” Arnold tersenyum. “… sepertinya harus dalam jangka waktu yang lama… jadi…” Arnold menatap Lucy pekat. “Mengenai hubungan kita… aku minta putus…”
Lucy sampai menutup mulutnya sendiri. "A-apa maksud kamu..?"
“Aku ngerti kok…” Arnold membelai rambut Lucy, “Kamu ga pernah punya perasaan apa-apa padaku, just friend kan? Tapi aku seneng kok karena sudah bisa mencintai kamu…”
__ADS_1
“Arnold…”
“Lucy…” potong Arnold menggeleng, “Aku tau banget siapa yang kamu cintai… Moreno kan? Dia kan? Dan aku ga mau menjadi penghalang di antara kalian… karena sepertinya dia pun mencintai kamu…”
Lucy sangat merasa bersalah. Jadi selama ini Arnold menyadari kalau yang Lucy cintai…
Arnold bangkit berdiri. “Aku harus pergi, Billy udah nunggu di luar… Dia bakal nganterin aku ke bandara Soekarno Hatta…”
“Tapi kamu mau kemana?” Lucy memegang lengan Arnold sehingga cowok itu berhenti.
Arnold tersenyum. “Ke ujung dunia, Lucy, tempat yang sangat jauh…”
“Kenapa? Kenapa kamu harus pergi?” Mata Lucy mulai berkaca-kaca.
“Ini permintaan terakhir Jordan… Dia janji ga akan nyakitin kamu kalau aku mau pergi…”
“Tapi, Nold…”
“Cukup, Lucy… Aku terima semua ini kok… juga dengan hubungan kita…” Arnold menatap Lucy perih, “Kamu akan lebih bahagia bersama dengan Moreno dan dia pun pasti akan lebih banyak tersenyum…”
Arnold melepaskan tangannya dari Lucy dengan halus. Ia berjalan pergi.
Air mata Lucy mengalir. Kenapa jadinya seperti ini? Lucy sudah menganggap Arnold sebagai sahabatnya, orang yang selalu mengisi hari-harinya, mendengar curhatan dan isi hatinya, memberikan solusi dan hal-hal membangun lainnya. Tapi sekarang dia mau pergi?
Lucy berlari mendekati Arnold. “Minggu depan UAS, Nold!”
Arnold menoleh, tersenyum mengembang. “Bisa dikirim lewat email. Ga ada yang ga mungkin untuk Jhansen Wijaya.” Lucy berjalan mendekat namun langsung ditahan Arnold. “Ga usah antar aku ke depan… Kamu disini aja… Kita kan udah putus…”
“Arnold…” rengek Lucy putus asa.
__ADS_1
“Please, Lucy…” gumam Arnold serius. Dia ga akan tahan kalau Lucy mengantarnya walau hanya sampai tempat parkir. Arnold pasti langsung berubah pikiran untuk tinggal di Beauxbutton.
Arnold Atlanta pun pergi meninggalkan Lucy yang menangis tanpa suara, penyesalan dan rasa bersalah.