
Diraz tidak peduli. Dia memegang belakang leher Lucy dan hendak mencium bibir Lucy.
Danil bahkan sampai maju beberapa langkah, jengkel dengan sikap abangnya ini. Tangannya terkepal marah.
Lucy meronta berusaha menghindar namun Diraz tak mau melepaskan Lucy, tetap berusaha menciumnya.
Kini Arnold benar-benar tak tahan lagi. “JANGAN SENTUH LUCY! GUE BILANG JANGAN SENTUH DIA!!”
Diraz kelihatan tak peduli sementara Lucy berusaha sekuat tenaga menjauhi wajah Diraz. Jordan dan Farel hanya diam menonton, heran juga dengan sikap tiba-tiba Diraz yang tidak seperti biasanya. Bukannya Diraz anti dengan rakyat jelata?
“JAUHIN DIA!!” bentak Arnold. Badannya sudah meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari ikatan yang tetap saja akan sulit dilepaskan.
Lucy langsung menginjak kaki Diraz sekuat yang ia bisa. Diraz meringis kesakitan dan Lucy langsung menjauh, mendekat pada Arnold, takut dan ngeri dengan perbuatan Diraz.
Nafas Arnold sudah tidak beraturan. Dia takkan membiarkan seorang pun melakukan hal demikian pada Lucy. “Lo… Apa maksud lo, hah?”
__ADS_1
Diraz terdiam, menatap Lucy dan Arnold bergantian. Untung Jordan mendekatinya. Dia menepuk bahu Diraz. “Santai, bro…” Jordan mengernyit melihat ekspresi Diraz yang kelihatan serius seperti benar-benar menyukai Lucy. Jordan heran sendiri, apa karena kekalahan tadi Diraz justru jadi tertarik pada Lucy? Jordan kenal sepupunya ini, yang memiliki perasaan batu pada siapapun, tak pernah berurusan dengan cewek.
Jordan membiarkan Diraz berbalik pergi, berdiri di sebelah Farel. Farel juga sempat tak percaya dengan perbuatan Diraz barusan. Dan entah kenapa Farel tak suka.
“Oke… Permainan selesai…” ucap Jordan menatap Lucy dan Arnold. “Danil!”
Danil yang tadinya masih menatap abangnya dengan kesal, langsung menoleh saat dipanggil tiba-tiba oleh Jordan. Ia berlari mendekati sepupunya itu.
“Bawa cewek ini keluar…”
Lucy tercengang dengan perubahan janji Jordan. “Bukannya lo yang bilang kalo gue menang lo bakal ngebebasin Arnold?”
Jordan tersenyum tipis. “Sepuluh cambukan untuk Arnold.”
Amarah Lucy meledak. Ia meronta saat Danil berusaha menariknya pergi. “Kenapa lo mau nyambuk dia? Gue kan udah menang…”
__ADS_1
“That’s just a game, Lucy…” ucap Jordan mulai mengambil ikat pinggang yang tergeletak di rumput. Arnold sudah menduga semua ini. Ia hanya diam, mungkin lebih baik Lucy pergi. Kalau tadi Lucy tidak menang, cewek itu mungkin akan ikut diikat. “Bawa dia, Danil…” seru Jordan, “Sebelum gue berubah pikiran.”
Mendengar itu Danil makin menarik Lucy menjauh, menggenggamnya kuat-kuatala lelaki. Jordan mencambuk Arnold di bagian kaki. Arnold mengerang pelan. Lucy hampir pingsan melihat itu. Lucy hanya bisa meronta-ronta sementara ia terus teriak-teriak.
Doni dan Surya sebenernya masih ingin Lucy disini. Mereka ingin melihat permainan lainnya. Tapi sayang, entah kenapa Jordan tidak mau mempermainkan orang luar.
“Lo udah janji!!” seru Lucy. Itu adalah kata-kata terakhir yang bisa didengar Jordan dan yang lainnya karena Danil berhasil mengeluarkan Lucy dari sana dan mengunci Gedung G supaya Lucy tidak berusaha kembali ke tempat itu.
Lucy hanya bisa menangis, melihat dari jendela, dalam kegelapan Jordan mencambuki adiknya sendiri. “Aku harus kesana…” isaknya.
Danil sedih melihat Lucy menangis. “Ga bisa… Kalau kamu kesana keadaan justru makin gawat… Jordan mungkin akan memberikan permainan aneh lainnya yang selalu akan merugikan Arnold kalaupun kamu menang. Jadi… sebelum dia berubah pikiran, lebih baik kamu ga ada di sana…”
Lucy menangis makin hebat melihat Arnold dicambuk.
Danil mendekati Lucy. “Ayo kita pergi… Aku ga mau melihat Jordan kesini karena berubah pikiran…”
__ADS_1
Lucy hanya bisa pasrah, melihat Arnold untuk yang terakhir kalinya, sedang mengerang kesakitan. Danil tau Lucy belum makan apapun jadi Danil membawanya ke aula, tepat pada jam makan malam.