Apel Merah

Apel Merah
Farel Radian JW


__ADS_3

Tiga jam kemudian Chris berhasil membawa Lucy keluar meninggalkan pulau dengan menggunakan Ferry. Saat di Jakarta, Chris langsung mencari hotel untuk mereka beristirahat dan bersembunyi.


esampainya di hotel, Chris memesan 2 kamar namun yang bersebelahan jadi kalau ada apa-apa Chris bisa langsung melindungi Lucy.


Mereka makan siang di restoran hotel. Lucy kelihatan tidak nafsu makan. Dari tadi dia hanya melamun dan sedikit berbicara.


“Lucy…”


Lucy mendongak.


Chris menatap Lucy dalam-dalam. “Aku tau kamu mengkhawatirkan Arnold… tapi… kalaupun kamu kesana… permasalahannya tidak akan beres…”


“Tapi Arnold…” Lucy menunduk. Rasa bersalah makin menjalarinya. Dia merasa bersalah sejak semalam, sikapnya yang membuat Arnold tak nyaman. Dan sekarang, saat Arnold menderita, apa dia tidak bisa melakukan sesuatu? Yahh… setidaknya berusaha. “Aku ga tau keadaan dia sekarang… Aku cemas… dan takut.”


Chris merasakan hatinya yang mulai teriris-iris, melihat Lucy yang sangat mengkhawatirkan Arnold dan bahkan rela kembali ke Beauxbutton menghadapi para sepupunya. Chris menepuk tangan Lucy. “Aku tau kamu khawatir… Aku ngerti kok… Tapi ini masalah intern Jhansen Wijaya… Aku ga mau kamu disakiti, dilukai… Dan pastinya Arnold pun ingin seperti itu.”


Lucy langsung teringat dengan kata-kata Arnold di telepon tadi pagi bahwa Lucy jangan ke tempat pacuan kuda. “Yahh…” Wajah Lucy semakin sedih. Bagaimanapun juga ia tetap merasa sangat bersalah. Lucy menyentuh antingnya, merasakan rasa bersalah yang semakin besar.


Chris memperhatikan wajah Lucy. 'Dia masih mencintai Arnold…'


*****


Esok paginya Lucy terbengong di atas ranjang kamar mewahnya. Kemarin Chris mengajaknya ke butik, membelikannya beberapa pakaian karena saat mereka meninggalkan Beauxbutton, mereka tidak membawa apapun. Lucy hanya membawa handphone. Dan Chris berulang kali mengingatkan untuk tidak keluar sembarangan ataupun membukakan pintu selain padanya atau pada pelayan kamar.


Lucy menerawang. 'Sekarang hari Senin… Seharusnya aku kuliah…. Semoga Arnold baik-baik saja.'

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk 2 kali.


“Siapa?” tanya Lucy bangkit berdiri dengan tegang.


“Pelayan kamar…” sahut orang itu.


'Oh hanya pelayan kamar…' Lucy langsung membuka pintu dan betapa kagetnya ia saat melihat yang di hadapannya sekarang bukan pelayan kamar melainkan Farel Radian Jhansen Wijaya.


Farel tersenyumlebih pada menghina. “Halo…”


Lucy mundur perlahan. Hanya sanggup selangkah.


“Moreno memang bego. Dia malah bawa lo kesini, hotel keluarga Jhansen Wijaya…” Farel tertawa angkuh. “Picisan.”


“A-apa? Kamu mau apa?”


Lucy langsung terintimidasi. 'Arnold… sekarat…? Ya Tuhan…'


“Lo ikut gue dan jangan kasih tau Moreno.” Farel tersenyum picik dan pergi.


Lucy beku sesaat. Ia menoleh ke kamar Chris yang pintunya tertutup itu. Ga ada pilihan lain… Lucy langsung bergegas mengikuti Farel yang menuju tempat parkir.


.


.

__ADS_1


Farel kadang tertawa sendiri selama di perjalanan menuju pelabuhan.


“Arnold…” Lucy menelan ludah. “Gimana keadaannya?”


“Dia baik…” Tapi dari cengiran aneh Farel, Lucy tau ada apa-apanya.


“Tadi lo bilang dia sekarat?”


“Yeahh… Lo tau kan dari Sabtu malam kami iket dia di lapangan pacuan kuda. Jordan…” Farel mengekeh pelan, “Dia pukulin adiknya itu dengan ikat pinggang… Dikasih makan juga dia ga mau. Jordan sampai nyuruh Doni megangin mulutnya supaya Jordan bisa masukin makanan ke mulut Arnold. Arnold memang terkenal paling keras kepala dan pemberontak di keluarga besar. Dia ga pernah ikut ngumpul… Dan bahkan dia menolak tawaran bokapnya sendiri untuk bergabung di perusahaan. Tu anak emang aneh. Selalu membela kaum miskin, ikut organisasi sosial ini itu. Banci.”


Lucy menahan marahnya yang hampir mencuat. “Jordan mukulin Arnold dengan ikat pinggang…?”


Farel menoleh sesaat, menikmati perubahan wajah Lucy. “Tapi sayang… lo ga diikutsertakan. Kalo gue sih, gue hajar dua-duanya biar adil… Orang miskin memang ga pantas bersanding dengan kaum kami. Mereka pantasnya dibuat menderita.”


“Lo…” Amarah Lucy benar-benar meledak. “Lo pikir lo siapa? Apa yang ngebuat lo merasa lo berhak seenaknya sama orang lain? Harta? Memangnya harta keluarga lo itu hasil kerja keras lo? Inget, itu pemberian Yang Di Atas. Dan lo harusnya ga nyalahgunain semua itu!! Lo bahkan menganggap orang miskin pantas menderita? Heh! Lo harusnya mikir kalau semua kejahatan yang lo lakuin bakal lo bayar.”


Farel memandang Lucy geram. Sesaat kehilangan kata-kata karena hati kecilnya setuju dengan tiap kata Lucy. “Gue ga butuh ceramah lo! Lo liat aja, gue juga bakal kasih pelajaran ke Moreno.”


Lucy makin sebal. Sekarang kenapa Farel bawa-bawa Chris? “Lo juga kan yang buat Chris menderita?”


“Chris?” Farel terbahak mendengar panggilan kecil dari ibunya itu. “Dia cuma boneka.”


“Chris saudara lo! Dia berhak bahagia…”


“UDAH GUE BILANG DIA CUMA BONEKA!” bentak Farel sambil melempar salah satu keping CD-nya ke wajah Lucy. Untungnya tidak kena bagian yang tajam, Lucy hanya syok saja. “Dia ga pantas dapat apa-apa, tidak sepeser pun. Dia lebih pantas menjadi babu di keluarga, disuruh ini itu.”

__ADS_1



- farel


__ADS_2