
Seluruh waktu tersisa telah habis berduaan bersama suamiku, malam dingin ditemani hujan deras pun telah terlewati. Hari telah berganti, maju menuju rutinitasku selanjutnya.
Hari Selasa, kala sekolah kembali berlanjut, di pukul 12:05 siang hari nan cerah, awan putih dan awan abu nampak saling berdampingan, tetapi terik mentari tetap membentang siang ini, jam istirahat kedua, yang dimanfaatkan untuk makan siang bersama kawan-kawan, meski faktanya tidak semua makan siang.
Seperti aku yang tengah duduk manis di kursi mejaku. Meja kayu bernuansa putih di sekolah ini dikhususkan untuk perorangan, dengan atap meja yang mampu dibuka layaknya jendela, ruang kelas 12ku ini pun bernuansa putih biru, lantainya dari keramik yang nampak seputih sinar matahari di siang hari, dinding di belakang kelas dipenuhi foto-foto murid kelas 12, tahun ajaran sekarang, ditambah hiasan-hiasan unik yang menurut rakyat kota Artana itu adalah karya seni artistik tetapi menurutku pribadi, itu hanyalah sampah yang dianggap indah.
Aku tengah asyik bermain gim daring lewat ponsel, gim berjenis Role Playing Game (RPG) adalah gim yang paling aku gemari.
Tetapi aku tesentak dari konsentrasiku, saat sebuah ingatan menamparku. Mengingat kembali soal kejadian kemarin, tentang anehnya pertanyaan Guru Sukada, membuatku menaruh ponsel ke dalam saku rokku, hingga dorongan untuk bertanya pada temanku langsung membuatku bangkit dari duduk.
Aku celingak-celinguk sampai kuputar badan secara 180 derajat demi mencari tahu siapa saja yang hadir di kelas ini, hanya ada ada lima anak laki-laki yang mendiami kelas, itu pun mereka sibuk masing-masing dengan ponsel mereka.
Tapi aku tak gentar, aku hampiri satu persatu mereka untuk menanyakan, mengapa mereka kemarin mau membaca buku?
Orang pertama, di meja ketiga yang bersandar di dinding, ialah Elpan si laki-laki agak mesum, pria paling tampan di sekolah ini, aku berdiri di sampingnya untuk menyelidik.
“Ada apa sayang?” tanya Elpan dengan nada lembut sampai memasang muka agak aneh menurutku.
“Kenapa kamu kemarin mau membaca?” tanpa basa-basi aku gaungkan sebuah pertanyaan yang ternyata terkesan aneh.
Hingga kulihat kedua alis Elpan terangkat kebingungan, tetapi tak lama ia mengangguk-angguk mencerna pertanyaanku, seolah menimbang-nimbang kalimat apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan anehku.
Bola matanya sempat terarah ke depan dengan raut muka merenung sebelum akhirnya Elpan bicara.
“Penasaran, ya ... penasaran saja, kamu juga pasti penasaran kenapa buku-buku itu terpisah dan tersembunyi dari perpustakaan utama.”
Sungguh jawaban yang masuk akal, yang memang aku pun berpendapat begitu. Selanjutnya, adalah Anterta si laki-laki mabok yang menjadi sasaran keduaku.
Pertanyaan yang sama aku gaungkan, tetapi, jawabannya agak aneh, sehingga pergi darinya adalah hal yang tepat, lagi pula, inti jawaban si Anterta itu adalah penasaran juga. Orang ketiga pun aku datangi, dia Oteda, dan jawaban dari pertanyaanku juga sama saja seperti dua orang sebelumnya, yaitu penasaran, begitu pun dengan Loze serta Perto yang jawabannya adalah penasaran.
Tetapi aku belum selesai, aku melangkah keluar kelas untuk menemui satu persatu teman-temanku, ini semua dilakukan demi mendapatkan opini apa yang teman-temanku miliki hingga rela membaca buku.
Setiap detiknya aku lewati dalam pertanyaan demi pertanyaan, dan jawaban demi jawaban yang aku terima telah membuatku mengambil kesimpulan.
Ya, semua murid kelas 12 telah aku tanyai satu persatu, termasuk Anka. Dan dari seluruh jawaban yang aku terima, rasa penasaran yang tinggi adalah penyebab mereka rela untuk membaca, meski menurut mereka awalnya mereka enggan untuk membaca, hanya saja kala mengetahui ada ruangan rahasia, rasa ingin membaca pun muncul, tepatnya penasaran.
Kini aku dapat duduk di kursi kebangganku kembali, duduk tenang karena pertanyaan Guru Sukada telah terjawab, sampai aku tak merasa kalau waktu telah kuhabiskan sekitar 30 menit hanya untuk bertanya dan sekitar 10 menit lagi bel masuk akan segera berdering.
Selama sepuluh menit itu, aku habiskan waktu untuk melanjutkan gim favoritku, menikmati setiap keseruan yang dihadirkan oleh sebuah gim demi menguar keceriaanku hari ini, hingga aku acuh tak acuh pada suasana sekitar, membuatku terkaget, bahwa nyatanya bel masuk telah berdering. Pelajaran sekolah akan berlanjut kembali.
Ya, pelajaran kembali berlanjut, dan waktu kembali melakukan putarannya tanpa lelah, aku yang ceria hari ini pun tetap masih menghirup napas penuh syukur, tetapi meski terasa waktu sekolah hari ini telah aku habiskan, aku tak bisa langsung minggat, sebab di hari Selasa inilah Guru Sukada akan membantu atau tepatnya memeriksa penyakit fobia kelas 12.
Pukul 14:07 siang hari dengan cuaca terik, lengkap bersama awan putih yang bertengger di langit yang biru, kala seluruh murid diperbolehkan melenggang menuju tempat peraduan mereka.
Aku, Nuita, Tozka, Ovy, Loze, Cludy, Anka, serta Wisty, masih duduk di kursi masing-masing, berdiam di kelas hanya untuk pemeriksaan. Beberapa detik kemudian, Guru Sukada masuk ke dalam kelas, penampilan formalnya masih ia gunakan, ia juga menenteng koper nuansa hitam kebanggaannya. Lantas tanpa banyak membuang waktu beliau menarik kursi guru, menyeretnya menuju meja Anka. Guru Sukada akan langsung memeriksa Anka.
__ADS_1
Sementara Anka berkonsultasi, beberapa murid lainnya menyibukkan diri dengan ponsel pintarnya masing-masing, begitu pun denganku, aku melanjutkan gim daring di ponselku, memainkannya dengan sungguh-sungguh.
Hingga tak terasa, tiga puluh menit dihabiskan untuk Anka serta Cludy dalam pemeriksaan, dan tibalah giliranku untuk diperiksa. Guru Sukada telah duduk di depan mejaku, kopernya ia taruh di lantai, kami duduk saling berhadapan, dan hanya lima belas menit waktu yang aku punya untuk berkonsultasi, meski sebetulnya, aku menganggap ini hanya sebatas curhat.
Aku dan Guru Sukada saling bersirobok, di sana, kacamata berlensa persegi masih bertengger di wajah polos Guru Sukada, kesan pria culun masih terpampang kentara. Sedangkan aku hanya mengembangkan senyuman simpul padanya dengan bonus lesung pipiku yang melekuk untuknya.
“Jadi bagaimana perasaan kamu sekarang?” usut Guru Sukada dengan intonasi lembut ditambah senyuman damai demi memunjukkan aura kebaikannya.
“Ya ... saya baik-baik saja Pak, tapi memang fobia saya kayaknya tetap saja susah hilang.” jawabanku dengan selancar mungkin.
“Kan waktu itu bapak sudah bilang, bahwa semuanya memiliki kesempurnaannya masing-masing.” Guru Sukada mengingatkanku.
”Ya, cara itu tetap nggak berhasil, aku tetap saja merasa gemas dengan semua keganjilan, tetap saja yang cacat tetap cacat dan yang baik tetap baik,“ sanggahku.
”Hmmmm ... tapi, ada nggak sedikit perubahan yang kamu rasakan?“ Selidik Guru Sukada.
”Kayaknya nggak ada Pak, malah sama saja, mungkin malah jadi semakin parah,“ kataku terus terang.
”Tapi sebelum tidur semuanya baik-baik saja kan? Nggak ada kecemasan lagi?“ tanya Guru Sukada memastikan.
”Nggak Pak. Cuman memang kalau mengerjakan sesuatu yang nggak tuntas kadang suka kepikiran kalau itu nggak sempurna,“ jelasku.
Guru Sukada mengangguk-angguk merenungi perkataanku, lalu Guru Sukada duduk tegap sembari bersedekap menyilangkan tangan, tatapannya tertunduk, ia berkontemplasi. Dan aku terpegun menunggu kalimat apa lagi yang akan diutarakan Guru Sukada, sampai detik demi detik dalam senyap kami nikmati, senyap masih belum dipecahkan, kami tetap sengap, namun keheningan ini terbilang menjemukan.
”Guru, aku sudah mendapat jawaban atas pertanyaan guru waktu itu.“ dorongan kejenuhan berhasil membuat mulutku melayangkan pembicaraan.
Itu tak masalah, aku mendekus menerimanya.
”Begini Laisa ...“ Guru Sukada bicara dengan agak membungkuk mengusahakan agar suaranya hanya terfokus pada kedua kupingku.
”... apa sih kesempurnaan yang kamu cari?“ lanjutnya dengan pandangan tajam pada wajahku.
”Loh ... saya kan sudah pernah jawab?“ heranku dengan kedua alis terangkat.
”Nah, kalau begitu jawab lagi ...,“ pinta Guru Sukada.
Konyol memang, aku merasa jika itu membuang-buang energi saja, tetapi mau bagaimana lagi, aku tetap harus menjawabnya.
”Ya ... aku ingin semua berjalan sesuai rencana, semuanya baik-baik saja, dan tak ada kesalahan kalau bisa,“ jawabku dengan eksplisit.
”Nah ... sekarang begini, kenapa saat kamu dapat nilai sepuluh dalam mengerjakan soal jawab, kamu masih baik-baik saja? Apa jangan-jangan nilai rendah itu sudah sesuai rencana?“ Guru Sukada menyelidiki keanehanku.
”Aku nggak merasa itu rencana, tapi kan, aku mengerjakan soal karena perintah dari guru, ya ... walaupun kadang ada sih merasa kurang sempurna itu muncul, jadi kadang aku terus mencoba bukan karena pantang menyerah, justru karena fobia-ku aku berusaha berkali-kali demi meraih kesempurnaan,“ jawabku sejelas-jelasnya.
“Nah ... sebenarnya semua itu ada di pola pikirmu Laisa, tiga kali bapak tanya tentang sempurna yang kamu cari, kamu menjawab sama seperti waktu itu ...,” Guru Sukada merasa persepsinya benar dan seakan memaksaku harus menerimanya.
__ADS_1
“Eh, tapi kan semua orang juga begitu, nggak ada yang mau cacat.” aku membantah persepsi Guru Sukada dan merasa persepsiku adalah yang paling benar.
“Nah ... itu benar, tapi kalau sudah berlebihan, ketakutan sepertimu apa itu wajar?” balasan Guru Sukada yang berusaha membuka cara berpikirku.
“Ya, nggak juga sih ...,” aku bingung dan terpaksa menegaskan benarnya ucapan guru.
“Laisa, usahakan kali ini untuk berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, sempurna itu nggak perlu dituju, karena tanpa kesempurnaan semuanya masih baik-baik saja, kesempurnaan akan datang kalau kamu melakukannya dengan benar, bukan berarti berlebihan, jadi terimalah semua yang baik-baik, dengan begitu kesempurnaan akan datang sendiri.” Guru Sukada berusaha mengarahkan cara berpikirku.
“Ahk perkataan guru nggak memuaskan, tak ada yang baik-baik saja kalau tidak sempurna, kesempurnaan itu adalah yang dicita-cita, ketika ada manusia yang melakukan kesalahan, pasti ditegur.” tetapi aku merasa tak setuju dengan arahan guru, dan masih bersikukuh dengan cara berpikirku.
“Nah ... kita balik lagi keawal, bahwa jangan berlebihan, konteks kamu itu sudah termasuk penyakit, pola pikirmu yang pertama harus diubah ... itu saja dulu.” Guru Sukada meneguhkan kembali arahannya yang wajib aku taati.
Aku terdiam merenungi perkataan guru yang terdengar meyakinkan, lebih-lebih itu terasa ada benarnya.
“Nah ... kalau nanti perasaan takut itu muncul, ingat, semuanya akan baik-baik saja, asal kita tetap melakukan perbuatan benar dan nggak berlebihan ....” sekali lagi Guru Sukada menegaskan arahannya dan harus aku gugu.
“... dan jangan mempermainkan mental manusia,” imbuhnya serius.
Aku hanya sanggup manggut-manggut menerima saran guru tanpa komplain sedikit pun. Lalu di sana, di wajah culun nan polos Guru Sukada sebuah senyuman simpul mengembang hanya untukku, dan secara refleks senyuman balasan mengembang di wajah karismatikku, berharap juga senyumanku ini membawa pula lesung pipitku sebagai tanda baik-baik saja, ini hanyalah sebuah senyuman kesopanan karena guru sudah rela menyisikan waktu hidupnya demi membantu kesembuhanku.
Maka tanpa banyak memakan waktu lagi, beliau bangkit dari duduknya, kembali menyeret kursi dan menenteng kopernya, kini Guru Sukada melangkah menuju Wisty.
Karena semua aktivitasku di sekolah telah dikerjakan dengan sempurna, oleh sebab itu, aku serta Anka mulai bebenah diri untuk pulang ke rumah, sebenarnya Anka bisa saja minggat lebih dulu, tetapi sepertinya dia menungguku, atau mungkin dia ingin berlama-lama bincang-bincang hangat bersama Cludy, bukan tanpa sebab, sedari tadi netra-ku diperlihatkan bahwa Cludy juga senang-senang saja bicara bersama Anka, padahal dia juga bisa langsung pulang karena konselingnya sudah selesai, terlepas dari itu semua, pada akhirnya, aku, Anka dan Cludy pulang bersama.
Sedangkan Nuita, Tozka, Ovy serta Loze, masih harus menunggu dalam sabar untuk dapat pulang, memang sih mereka bisa pulang sesuka mereka, hanya saja, terlalu segan untuk pulang, apa lagi ini adalah perintah dari Guru Sukada demi kebaikan mental kami juga, malahan teman-temanku juga berharap penuh bisa sembuh dari fobia-nya. Pada dasarnya kegiatan ini pun telah disepakati oleh para orang tua, lebih dari itu, seluruh orang tua sangat bersyukur Guru Sukada rela membantu tanpa pamrih sedikit pun, benar, guru terbaik di sekolah ini melakukan konseling secara gratis, dan karena gratis itu pula teman-teman rela untuk diam di kelas lebih lama lagi.
Tetapi, kebersamaan aku, Anka serta Cludy harus lenyap di depan gerbang sekolah. Ya, Anka dan Cludy memiliki arah pulang yang sama -berbeda dengan arah pulangku yang bersinggungan- sehingga memungkinkan Cludy dan Anka untuk jalan bareng hingga salah satu dari mereka telah sampai di rumahnya.
'KRING-KRING'
Sore hari di udara yang segar, aku mengayuh sepedaku dengan santai menuju peraduanku, menikmati perjalanan pulang dengan damai.
Seperti semestinya, setiap aku tiba di rumahku, aku akan berleha-leha bersama suamiku, jika pun rasa malas tak mendekap tubuh kami, maka bersenang-senang adalah yang pasti kami lakukan. Tetapi untuk hari ini, kami hanya nonton TV berdua di ruang tengah, menikmati waktu saat-saat masih sanggup untuk berduaan, karena mau bagaimana pun, diwaktu yang akan datang seorang anak pasti akan didambakan oleh kami berdua dan sebelum itu terjadi, maka dari sekarang kami menikmati napas kami saat masih mampu berduaan.
Laisa kutitipkan nyawaku pada matamu
Laisa kutitipkan hatiku pada lidahmu
Laisa kutitipkan jiwaku pada hidungmu
Laisa kutitipkan rahasiaku pada telingamu
Tapi mengapa Laisa, mentari tak terbit lagi
Tapi mengapa Laisa udara tak tercium lagi
__ADS_1
Tapi mengapa Laisa perasaan ini tak hangat lagi
Tapi mengapa Laisa tubuhku tak terasa lagi